Jatuh Untuk Tumbuh

Reads
3.6K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Hana Larasati

Percikan Kembang Api

Tahun lalu, pada jam yang sama seperti hari ini. Kita masih sibuk bercerita tentang kembang api dan gema takbir di kota kita masing-masing. Namun, tahun ini kenapa aku hanya bisa merasakan ledakannya saja?
Entah siapa yang harus bertanggung jawab dengan kondisi setelahnya, yang kutahu hanya kau yang terduduk lesu di depan pintu dengan mata sayu. Kau bilang aku tak boleh pergi.
Kau berkata bahwa aku salah. Jika ingin membahagiakan, bukan begini caranya. Kau bilang aku hanya manusia, tidak semua hal bisa aku buat bahagia, terlebih jika itu membuat perasaanku terluka.
Kau terus bersikeras aku tak boleh lepas. Aku hanya tertawa miris melihat sikap kekanak-kanakanmu hari itu. Bagaimanapun juga, kau tampak lucu. Dengan badan tegapmu, matamu nanar menatapku sambil merengek supaya aku tetap di sisimu.
“Haruskah?” nada suaramu bergetar.
“Iya, harus,” ucapku sambil mengembangkan senyum.
“Apa salahku? Apa aku sudah tidak baik lagi di matamu?”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
Aku hanya terdiam.
“Seseorang yang memutuskan untuk pergi pasti mengganggap bahwa tidak ada lagi alasan untuk menetap karena yang lama ditinggali sudah tidak baik lagi.”
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Dia memang selalu lucu. Bahkan jika sedang marah atau merajuk seperti hari ini.
“Kenapa jadi puitis gini sih? Kan aku penulisnya,” ledekku sambil terus menatap dua bola matanya yang berbinar.
“Aku gak mau kamu pergi.”
“Banyak hati yang harus kujaga.”
“Bagaimana dengan hatiku?”
“Dia pasti menemukan pemiliknya yang lebih baik dariku.”
“Bagaimana kau bisa berpersepsi seperti itu, kau tau apa tentang isi hati seseorang?” sekarang suaranya mulai meninggi.
“Aku hanya ingin kau menetap, apa itu permintaan yang berat?” lanjutnya.
“Tidak, Andromeda Ghifakhri. Aku tidak bisa menetap di hati seseorang yang masih bingung dengan hatinya sendiri.”
Dia terdiam. Namun air mukanya mengisyaratkan penolakan akan keputusan. Aku masih tersenyum menatapnya. Bukan bahagia melihat keadaannya, namun kata orang, sesakit apapun perasaanmu, dengan tersenyum semuanya akan lebih mudah untuk dijalankan.

Other Stories
Love Falls With The Rain In Mentaya

Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...

Ritual Tanam Benih

Selama dua tahun menikah, Tedi tak pernah meragukan Bulan. Namun sejak pindah ke desa, ist ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...

Jodoh Nyasar Alina

Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Download Titik & Koma