Jatuh Untuk Tumbuh

Reads
3.5K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Hana Larasati

Pernahkah Kau Belajar Selepas Hari ?

Pernahkah kau belajar selepas hari itu?
Saat tatap mataku tak lagi terarah padamu.
Lalu senyumku memudar, dan tawa rasanya hambar.
Harusnya dari situ kau tau.
Bahwa maaf tak pernah sepaket dengan lupa.
Dan luka dengan tak sengaja mengakar menumbuhkan lara.
Namun aku rasa kau masih belum memahami.
Jadi, bagaimana jika kita tukar saja kondisinya?
Kau yang jadi aku untuk satu waktu.
Dimana harus bertahan dengan luka yang seenaknya dibuka berulang kali.
Menyebabkan robek yang sakitnya harus aku tanggung sendiri.
Semoga kau sudah belajar selepas hari itu.
Bahwa tidak baik bermain dengan luka.
Terlebih aku masih manusia yang mempunyai hati di dalam raganya.
10 September 2018
-Hana Larasati
Di bawah rintik hujan yang membasahi awal September, dia menggenggam erat kertas puisiku. Matanya nanar melihat mataku yang sayu. Aku terdiam di depan pintu. Ingin masuk, namun aku melihat akan ada ledakan darinya karena sikapku. Jadi kuputuskan untuk diam dan menggenggam gagang pintu.
Dia berjalan pelan ke arahku. Wajahnya kini tepat di depan wajahku, dengan tenang dia mengisyaratkan aku untuk ikut duduk di bangku dekat jendela ruang tamu.
Kukira dia akan murka, dia memperlakukanku seolah aku ini putri raja. Entah ini benar dari hatinya atau semacam cara agar aku tidak pergi dari hidupnya. Pada saat ini, dia terlalu licik untuk kusebut baik.
“Benarkah ini puisimu?” dia bertanya hal yang sudah ia tahu jawabannya.
“Jika benar, ternyata separah itu aku melukaimu,” dia tersenyum getir pada udara kosong di sebelahnya. Aku masih terdiam dan menyimak setiap kata yang keluar dari mulutnya.
“Tak pernah ada di pikiranmu kan, bahwa apa yang kau lakukan ternyata merusak separah itu? Aku berharap semoga kau belajar selepas hari itu,” ucapku yang kali ini membuat sorot matanya beku.

Other Stories
Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Cinta Koma

Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...

Cicak Di Dinding ( Halusinada )

Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...

Filosofi Sampah (catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Sonata Laut

Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Download Titik & Koma