Jatuh Untuk Tumbuh

Reads
3.6K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
Penulis Hana Larasati

Tidak Semua Bisa Kau Bahagiakan

Senja itu masih terasa kelabu dalam nadiku. Dalam raga dan asa yang mulai meronta untuk segera berhenti mencintai. Dia dan air matanya masih berdiri di depan pintu dalam suara sunyi. Matanya yang bulat semakin nanar menatapku yang sedang berkemas untuk pergi.
“Apa salahku?” dia berkata dengan nada sayu.
Seperti tak peduli, aku masih terus merapikan kepingan hati. Lalu dia berjalan mendekat. Semakin dekat, hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya.
“Menetaplah,” ringiknya, sambil menaruh satu per satu kepingan yang sudah kurapikan.
“Di mana yang menurutmu salah?” dia masih menatapku dengan bulat mata nanarnya.
Sekarang air matanya benar-benar jatuh, mengenai tanganku dan semakin melukai hatiku. Aku masih bertahan dalam keterdiaman yang panjang. Seberapa keras pun usahanya, tak akan meruntuhkan niatku untuk berkemas dari hatinya.
“Bisakah kau mendengarkanku kali ini?!” dia berteriak tepat di depan mukaku. Aku hanya mengangkat kepalaku yang dari tadi tertunduk untuk merapikan beberapa hal berserakan yang pada waktu itu aku bersukarela membawanya sekedar berbagi bahagia dengannya.
Kuhentikan aktivitasku dan kuarahkan fokusku padanya. Iris mataku menatap penuh mata yang dari tadi sudah basah dengan air mata.
“Aku mohon,” dia masih bersuara mengiba.
“Jangan memohon, aku bukan Tuhan,” datarku.
“Jangan pergi.”
“Beri aku alasan.”
“Aku tidak ingin kehilanganmu.”
“Mungkin maksudmu kau tidak ingin kehilangan pengemar.”
“Bukan seperti itu.”
“Lantas? Apa namanya jika mempertahankan tanpa ada tujuan? Aku hanya salah satu dari sekian banyak orang yang kau simpan di hatimu. Yang akan kau pilih jika kau bosan dengan salah satu yang kau mau.”
Dia terdiam. Kata-kataku sepertinya benar-benar membuatnya bungkam. Tanpa banyak bicara dia memelukku kali ini. Suara tangis yang terisak dan lelehan air mata, terasa di telinga.
“Maafkan aku. Kumohon jangan pergi.”
“Apa pun yang sudah hancur tidak akan bisa diperbaiki.”
“Jadi aku harus apa?”
“Mulailah dengan menentukan pilihan.”
“Jika aku memilih maka akan banyak yang tersakiti,” ucapnya
“Disakiti dengan kejujuran masih lebih menyenangkan daripada dibahagiakan dengan pengharapan yang berujung kebohongan.”
“Aku hanya takut, akan banyak yang tidak bahagia.”
Senyumku mulai terkembang, dia terlalu lugu atau aku yang kembali tertipu. Namun, hatinya masih kukategorikan sebagai orang baik yang memikirkan perasaan-perasaan di luar sana. Kutepuk tiga kali ujung pundaknya seraya berkata.
“Tidak semua hati bisa kau bahagiakan!

Other Stories
Wajah Tak Dikenal

Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...

Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Sepuluh tahun setelah kepergian ibunya saat melahirkan Ale, Khalil tumbuh dengan luka yang ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Melodi Nada

Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...

Nestapa

Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...

Bangkit Dari Luka

Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...

Download Titik & Koma