Senja Yang Direnggut Ibu Kota
Seperti senja yang meninggalkan jingga saat kelabu mulai memaku langit ibu kota. Sorotnya pudar, terganti dengan hitam yang menyelimuti sudut-sudutnya.
Ada yang berbisik di telinga, saat rembulan mulai mengambil alih keelokan senja. Ini bukan soal mau atau tidak mau untuk berjuang. Tapi lebih dari itu, rasa ini selebih-lebihnya hujan yang akan berakhir badai jika terus dipelihara.
Dia menungguku di pintu dengan baju yang basah kuyup. Bibirnya mulai bergetar, sedangkan wajahnya pucat pasi menatapku.
“Harusnya tidak kemari,” kulepas jaketku dan membiarkan dia mengenakannya, walau itu tidak membantu.
“Kamu bisa ucapkan terima kasih.”
Aku tersenyum dingin.
“Maumu apa?”
“Aku mau teh hangat.”
“Baiklah mari masuk dan silakan duduk.”
Dia masih menekuk kedua tangan did adanya. Iris matanya sepucat langit yang dihujani kenangan pahit sisa semalam.
“Apa maumu ke sini.”
Other Stories
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Liburan kelulusan SMA membawa Cakra Abiyoga dan sahabat-sahabatnya ke Pantai Parangtritis. ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Pulang Tanpa Diikuti
Sekar menghabiskan liburan panjang di rumah neneknya, sebuah rumah tua di desa yang menyim ...