BAB 1 (PROLOG): DENTING YANG HILANG
Ruang konser malam itu penuh sesak. Orang-orang berdandan rapi, duduk tegak, menunggu dengan sabar. Lampu gantung kristal di langit-langit berkilau, memantulkan cahaya ke segala sudut. Semua mata tertuju pada satu sosok di panggung: Maheisa Mahatma.
Pianis muda jenius.
Harapan banyak orang.
Kebanggaan keluarganya.
Maheisa duduk di depan grand piano hitam yang mengilap. Permukaannya berkilau seperti cermin, memantulkan bayangan wajahnya yang tegang.
Tangannya bertumpu di atas tuts. Ia menunduk sejenak, seperti berdoa.
Partitur di depannya sebenarnya tidak lagi ia butuhkan. Ia sudah menghafalnya di luar kepala. Setiap allegro, setiap adagio, setiap crescendo dan diminuendo telah tertanam dalam tubuhnya.
Maheisa menarik napas panjang. Jantungnya berdegup cepat, presto—lebih cepat daripada biasanya. Ia mengangkat sedikit kepalanya, sekilas melihat ke barisan depan. Ibunya ada di sana. Senyum hangatnya masih sama—senyum yang dulu menemaninya saat pertama kali bisa memainkan lagu sederhana di usia enam tahun.
Dan ketika jemarinya bergerak, dunia seolah berhenti.
Nada pembuka mengalun pelan, pianissimo. Lembut, jernih, memenuhi ruang besar itu. Orang-orang menahan napas, takut mengganggu harmoni. Maheisa larut. Tangannya menari, kadang lembut, kadang menghantam keras—forte—mengikuti alur komposisi.
Ia menekan pedal sustain dengan kaki, membuat nada menggema lebih panjang. Tubuhnya bergerak mengikuti arus, bahunya menunduk, kepalanya bergoyang kecil. Seperti ada tarian yang hanya dipahami oleh dirinya dan piano.
Namun, di tengah permainan—
ada yang salah.
Satu nada terdengar sumbang. Fals.
Maheisa terhenti sepersekian detik. Matanya terbuka. Ia menekan ulang, mencoba menutupinya dengan tempo rubato—sedikit menarik dan mendorong tempo agar seolah-olah itu bagian dari improvisasi.
Tapi tidak.
Suara itu kabur. Samar.
Seperti mendengar dari balik air.
Ia menekan lebih keras. Jemarinya berlari, mencoba mengejar fortissimo. Semakin cepat, semakin kuat. Tapi hasilnya hanya semakin kacau.
Peluh dingin merembes di pelipis. Dadanya sesak.
Jemarinya yang biasanya patuh kini terasa asing.
Penonton tetap hening, beberapa bahkan mengira Maheisa sedang memberi interpretasi pribadi. Tetapi Maheisa tahu: ini bukan interpretasi. Ini bencana.
Ia memaksa menuntaskan lagu. Saat mencapai bagian akhir, ia mencoba memberikan sentuhan lembut, diminuendo, menurunkan intensitas sedikit demi sedikit. Namun, baginya semua terasa hambar.
Lagu itu selesai.
Maheisa berdiri. Membungkuk kaku.
Tepuk tangan membahana.
Sorak sorai menggelegar.
Namun bagi Maheisa, semua itu hanya bayangan.
Ia tidak benar-benar mendengar.
Hanya getaran samar yang menusuk gendang telinga.
Di ruang ganti, ia duduk di depan cermin. Wajahnya masih tampan. Jasnya masih sempurna. Tapi matanya kosong. Seperti rumah yang ditinggalkan pemiliknya.
Telepon berdering. Manajernya.
“Keren, Sa! Kamu juara! Media sudah menunggu!”
Maheisa menatap telepon. “Aku tidak bisa mendengar kamu.”
“Hah? Suaranya kurang jelas?”
“Aku tidak bisa mendengar,” ulang Maheisa. “Aku tidak bisa mendengar apa-apa.”
Ada jeda. Lama.
“Dokter,” kata manajernya akhirnya. “Sekarang.”
Di rumah sakit, lampu-lampu putih menyala terlalu terang. Mesin berdengung pelan. Dokter muda itu membaca hasil audiometri dengan wajah serius.
“Kamu mengalami sensorineural hearing loss, tipe progresif. Kerusakan pada saraf auditori. Bisa disebabkan oleh stres, genetik, atau paparan suara tinggi dalam waktu lama dan bisa membuat kemampuan mendengarmu hilang total. Sayangnya, tidak bisa disembuhkan.”
Hilang total.
Kata-kata itu menggema di kepala Maheisa.
Dokter masih melanjutkan penjelasan panjang lebar: terapi, alat bantu dengar, kemungkinan operasi koklea. Tetapi suara itu bagai glissando yang menghilang—meluncur cepat lalu lenyap tanpa jejak.
Bagaimana mungkin seorang pianis kehilangan telinga?
Apa gunanya pemusik tanpa pendengaran?
—
Di rumah, grand piano hitamnya berdiri anggun di ruang tamu. Diam. Menatapnya.
Maheisa mendekat. Menyentuh permukaan mengilap itu. Jemarinya bergetar. Ia membuka penutup tuts perlahan. Duduk. Menekan satu nada.
“Pling.”
Suara itu ada. Tapi pudar. Samar. Tidak lagi jernih.
Ia menekan nada lain. Sama.
Nada lain. Sama.
Semua terdengar seperti bunyi dari mimpi yang hampir hilang.
Maheisa menggertakkan gigi. Lalu, tiba-tiba, ia menghantam tuts dengan keras, memainkan sembarang nada tanpa harmoni.
Braak!
Bunyi kacau, bukan sonata, bukan etude, bukan apa-apa.
Air matanya jatuh. Satu tetes. Dua tetes.
Pianis muda yang dikagumi banyak orang itu duduk terpuruk di depan instrumen yang dulu menjadi rumahnya. Dunia yang penuh harmoni, yang ia bangun sejak kecil, kini berubah jadi penjara sunyi.
Malam itu, Maheisa berbaring di ranjang. Lampu kamar dimatikan. Hanya gelap. Hanya sepi.
Ia menutup telinga dengan kedua tangan. Aneh. Tidak ada bedanya. Tetap sama. Sunyi.
“Kenapa harus aku?” bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Langit-langit kamar terasa menekan dadanya. Nafasnya berat.
Ia menutup mata, berharap bisa tidur. Tapi justru bayangan panggung tadi malam muncul. Tepuk tangan penonton. Sorakan. Dan dirinya yang berdiri sendirian, tidak mendengar apa pun.
Lalu kenangan masa kecil menyusul.
Piano tua peninggalan kakeknya. Malam hujan deras. Lilin kecil yang menyala. Ibunya tersenyum ketika ia memainkan lagu sederhana dengan tempo andante—pelan, hati-hati.
Waktu itu ibunya bertepuk tangan keras. “Kamu berbakat, Nak.”
Momen sederhana itu dulu membuatnya jatuh cinta pada musik.
Cinta yang kini direbut begitu saja.
Maheisa menggenggam bantal erat-erat. Air matanya mengalir lagi.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Maheisa benar-benar merasa kehilangan.
Bukan kehilangan benda.
Bukan kehilangan orang.
Tapi kehilangan dirinya sendiri.
Pianis muda jenius.
Harapan banyak orang.
Kebanggaan keluarganya.
Maheisa duduk di depan grand piano hitam yang mengilap. Permukaannya berkilau seperti cermin, memantulkan bayangan wajahnya yang tegang.
Tangannya bertumpu di atas tuts. Ia menunduk sejenak, seperti berdoa.
Partitur di depannya sebenarnya tidak lagi ia butuhkan. Ia sudah menghafalnya di luar kepala. Setiap allegro, setiap adagio, setiap crescendo dan diminuendo telah tertanam dalam tubuhnya.
Maheisa menarik napas panjang. Jantungnya berdegup cepat, presto—lebih cepat daripada biasanya. Ia mengangkat sedikit kepalanya, sekilas melihat ke barisan depan. Ibunya ada di sana. Senyum hangatnya masih sama—senyum yang dulu menemaninya saat pertama kali bisa memainkan lagu sederhana di usia enam tahun.
Dan ketika jemarinya bergerak, dunia seolah berhenti.
Nada pembuka mengalun pelan, pianissimo. Lembut, jernih, memenuhi ruang besar itu. Orang-orang menahan napas, takut mengganggu harmoni. Maheisa larut. Tangannya menari, kadang lembut, kadang menghantam keras—forte—mengikuti alur komposisi.
Ia menekan pedal sustain dengan kaki, membuat nada menggema lebih panjang. Tubuhnya bergerak mengikuti arus, bahunya menunduk, kepalanya bergoyang kecil. Seperti ada tarian yang hanya dipahami oleh dirinya dan piano.
Namun, di tengah permainan—
ada yang salah.
Satu nada terdengar sumbang. Fals.
Maheisa terhenti sepersekian detik. Matanya terbuka. Ia menekan ulang, mencoba menutupinya dengan tempo rubato—sedikit menarik dan mendorong tempo agar seolah-olah itu bagian dari improvisasi.
Tapi tidak.
Suara itu kabur. Samar.
Seperti mendengar dari balik air.
Ia menekan lebih keras. Jemarinya berlari, mencoba mengejar fortissimo. Semakin cepat, semakin kuat. Tapi hasilnya hanya semakin kacau.
Peluh dingin merembes di pelipis. Dadanya sesak.
Jemarinya yang biasanya patuh kini terasa asing.
Penonton tetap hening, beberapa bahkan mengira Maheisa sedang memberi interpretasi pribadi. Tetapi Maheisa tahu: ini bukan interpretasi. Ini bencana.
Ia memaksa menuntaskan lagu. Saat mencapai bagian akhir, ia mencoba memberikan sentuhan lembut, diminuendo, menurunkan intensitas sedikit demi sedikit. Namun, baginya semua terasa hambar.
Lagu itu selesai.
Maheisa berdiri. Membungkuk kaku.
Tepuk tangan membahana.
Sorak sorai menggelegar.
Namun bagi Maheisa, semua itu hanya bayangan.
Ia tidak benar-benar mendengar.
Hanya getaran samar yang menusuk gendang telinga.
Di ruang ganti, ia duduk di depan cermin. Wajahnya masih tampan. Jasnya masih sempurna. Tapi matanya kosong. Seperti rumah yang ditinggalkan pemiliknya.
Telepon berdering. Manajernya.
“Keren, Sa! Kamu juara! Media sudah menunggu!”
Maheisa menatap telepon. “Aku tidak bisa mendengar kamu.”
“Hah? Suaranya kurang jelas?”
“Aku tidak bisa mendengar,” ulang Maheisa. “Aku tidak bisa mendengar apa-apa.”
Ada jeda. Lama.
“Dokter,” kata manajernya akhirnya. “Sekarang.”
Di rumah sakit, lampu-lampu putih menyala terlalu terang. Mesin berdengung pelan. Dokter muda itu membaca hasil audiometri dengan wajah serius.
“Kamu mengalami sensorineural hearing loss, tipe progresif. Kerusakan pada saraf auditori. Bisa disebabkan oleh stres, genetik, atau paparan suara tinggi dalam waktu lama dan bisa membuat kemampuan mendengarmu hilang total. Sayangnya, tidak bisa disembuhkan.”
Hilang total.
Kata-kata itu menggema di kepala Maheisa.
Dokter masih melanjutkan penjelasan panjang lebar: terapi, alat bantu dengar, kemungkinan operasi koklea. Tetapi suara itu bagai glissando yang menghilang—meluncur cepat lalu lenyap tanpa jejak.
Bagaimana mungkin seorang pianis kehilangan telinga?
Apa gunanya pemusik tanpa pendengaran?
—
Di rumah, grand piano hitamnya berdiri anggun di ruang tamu. Diam. Menatapnya.
Maheisa mendekat. Menyentuh permukaan mengilap itu. Jemarinya bergetar. Ia membuka penutup tuts perlahan. Duduk. Menekan satu nada.
“Pling.”
Suara itu ada. Tapi pudar. Samar. Tidak lagi jernih.
Ia menekan nada lain. Sama.
Nada lain. Sama.
Semua terdengar seperti bunyi dari mimpi yang hampir hilang.
Maheisa menggertakkan gigi. Lalu, tiba-tiba, ia menghantam tuts dengan keras, memainkan sembarang nada tanpa harmoni.
Braak!
Bunyi kacau, bukan sonata, bukan etude, bukan apa-apa.
Air matanya jatuh. Satu tetes. Dua tetes.
Pianis muda yang dikagumi banyak orang itu duduk terpuruk di depan instrumen yang dulu menjadi rumahnya. Dunia yang penuh harmoni, yang ia bangun sejak kecil, kini berubah jadi penjara sunyi.
Malam itu, Maheisa berbaring di ranjang. Lampu kamar dimatikan. Hanya gelap. Hanya sepi.
Ia menutup telinga dengan kedua tangan. Aneh. Tidak ada bedanya. Tetap sama. Sunyi.
“Kenapa harus aku?” bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Langit-langit kamar terasa menekan dadanya. Nafasnya berat.
Ia menutup mata, berharap bisa tidur. Tapi justru bayangan panggung tadi malam muncul. Tepuk tangan penonton. Sorakan. Dan dirinya yang berdiri sendirian, tidak mendengar apa pun.
Lalu kenangan masa kecil menyusul.
Piano tua peninggalan kakeknya. Malam hujan deras. Lilin kecil yang menyala. Ibunya tersenyum ketika ia memainkan lagu sederhana dengan tempo andante—pelan, hati-hati.
Waktu itu ibunya bertepuk tangan keras. “Kamu berbakat, Nak.”
Momen sederhana itu dulu membuatnya jatuh cinta pada musik.
Cinta yang kini direbut begitu saja.
Maheisa menggenggam bantal erat-erat. Air matanya mengalir lagi.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Maheisa benar-benar merasa kehilangan.
Bukan kehilangan benda.
Bukan kehilangan orang.
Tapi kehilangan dirinya sendiri.
Denting yang hilang. Dunia yang runtuh. Hidup yang tiba-tiba jadi sunyi.
Other Stories
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Rahasia Ikal
Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
The Unkindled Of The Broken Soil
Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...