BAB 4: SUNYI
Hari-hari pertama di kota pesisir, Maheisa lebih banyak mengurung diri di rumah neneknya. Ada piano tua di ruang tengah—piano upright yang kayunya mulai kusam, senarnya agak karatan. Saat ia duduk dan mencoba memainkannya, denting yang keluar sumbang. Namun ia tahu, bukan semata piano itu yang bermasalah.
Jarinya bergerak pelan memainkan potongan Étude Op. 10 No. 3 milik Chopin, yang dulu jadi favoritnya. Tetapi beberapa nada terasa kosong, seakan hilang di tengah jalan. Ia berhenti, menatap jemarinya, lalu menghantam tuts dengan kasar.
Suara disonansi menggema, memotong udara.
Neneknya muncul dari dapur, membawa lap. “Heisa… sudah, Nak. Jangan sakiti dirimu sendiri.”
Ia tidak menjawab. Hanya menatap piano itu lama, lalu berdiri meninggalkannya.
—
Malam-malam ia sulit tidur. Angin laut masuk lewat jendela, membawa aroma asin yang menusuk. Ia duduk di beranda, menatap horizon hitam. Ombak berulang-ulang menghantam, tapi suaranya baginya terdengar ganjil, seperti rekaman rusak. Dunia memang belum benar-benar hening, tetapi lubang-lubang sunyi di telinganya makin melebar.
Kadang ia bertanya: kalau suatu hari nanti benar-benar tuli, masih pantaskah ia menyebut dirinya pianis?
—
Beberapa kali ia kembali ke dermaga. Awalnya hanya duduk sendirian, memperhatikan kapal nelayan yang pulang. Sesekali ia melihat Selia dari jauh—ia datang bersama tim kecilnya, membawa peralatan selam. Ada saat-saat Selia hanya duduk di tepi, melepas masker, lalu menatap laut dalam diam.
Hari pertama, Maheisa hanya melihat sekilas, lalu pergi.
Hari kedua, mereka sempat berpapasan. Tatap sebentar, tanpa kata.
Hari ketiga, barulah Selia yang lebih dulu menoleh, sekadar mengangguk singkat.
Sampai pada hari keempat, saat Maheisa duduk di bangku kayu dekat ujung dermaga, Selia yang baru selesai menyelam menghampiri untuk merapikan alat. Ia melirik ke arahnya.
“Kamu sering ke sini,” ucapnya singkat, suaranya agak serak setelah lama menahan napas di dalam laut.
Maheisa menoleh sebentar, lalu kembali memandang laut. “Lumayan.”
Selia mengangguk, tidak melanjutkan. Ada jeda panjang.
Mereka hanya duduk bersebelahan, dipisahkan beberapa langkah. Laut sore berkilau terkena matahari. Tidak ada percakapan lagi. Namun justru hening itu—aneh, tapi tidak menyesakkan.
Interaksi-interaksi kecil itu terus berulang. Bukan obrolan panjang, lebih sering hanya satu-dua kalimat. Tapi Maheisa mulai memperhatikan: setiap kali Selia selesai menyelam, ia punya ritual yang sama. Duduk, menutup mata, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Seakan ia tengah berdialog dengan dirinya sendiri.
Dan entah kenapa, setiap kali melihatnya, Maheisa merasa sedikit lebih tenang.
—
Suatu sore, saat Selia selesai menggulung tali pengikat, ia tiba-tiba berkata tanpa menoleh, “Orang datang ke dermaga biasanya karena dua alasan: ingin pergi, atau ingin pulang.”
Maheisa kaget. Pertanyaan itu menggantung di udara. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Selia berdiri, menepuk-nepuk pakaiannya, lalu melangkah pergi. Tinggal Maheisa yang duduk sendiri, dihantui kalimat itu.
Ingin pergi… atau ingin pulang? Ia sendiri tidak yakin.
—
Malam itu, ia kembali mencoba menyentuh piano tua di ruang neneknya. Tangannya gemetar, suara fals terdengar menusuk, dan amarahnya memuncak. Namun kemudian, kalimat Selia di dermaga berputar kembali.
Ia menutup piano perlahan. Kali ini tidak menghantam, tidak membanting. Hanya menutup. Lalu duduk lama di depannya, hening.
Entah bagaimana, ia mulai penasaran dengan dunia Selia—dunia laut yang sepi, tapi justru tampak memberinya ketenangan.
Dan tanpa ia sadari, rasa ingin tahu itu pelan-pelan menggantikan rasa putus asa.
Jarinya bergerak pelan memainkan potongan Étude Op. 10 No. 3 milik Chopin, yang dulu jadi favoritnya. Tetapi beberapa nada terasa kosong, seakan hilang di tengah jalan. Ia berhenti, menatap jemarinya, lalu menghantam tuts dengan kasar.
Suara disonansi menggema, memotong udara.
Neneknya muncul dari dapur, membawa lap. “Heisa… sudah, Nak. Jangan sakiti dirimu sendiri.”
Ia tidak menjawab. Hanya menatap piano itu lama, lalu berdiri meninggalkannya.
—
Malam-malam ia sulit tidur. Angin laut masuk lewat jendela, membawa aroma asin yang menusuk. Ia duduk di beranda, menatap horizon hitam. Ombak berulang-ulang menghantam, tapi suaranya baginya terdengar ganjil, seperti rekaman rusak. Dunia memang belum benar-benar hening, tetapi lubang-lubang sunyi di telinganya makin melebar.
Kadang ia bertanya: kalau suatu hari nanti benar-benar tuli, masih pantaskah ia menyebut dirinya pianis?
—
Beberapa kali ia kembali ke dermaga. Awalnya hanya duduk sendirian, memperhatikan kapal nelayan yang pulang. Sesekali ia melihat Selia dari jauh—ia datang bersama tim kecilnya, membawa peralatan selam. Ada saat-saat Selia hanya duduk di tepi, melepas masker, lalu menatap laut dalam diam.
Hari pertama, Maheisa hanya melihat sekilas, lalu pergi.
Hari kedua, mereka sempat berpapasan. Tatap sebentar, tanpa kata.
Hari ketiga, barulah Selia yang lebih dulu menoleh, sekadar mengangguk singkat.
Sampai pada hari keempat, saat Maheisa duduk di bangku kayu dekat ujung dermaga, Selia yang baru selesai menyelam menghampiri untuk merapikan alat. Ia melirik ke arahnya.
“Kamu sering ke sini,” ucapnya singkat, suaranya agak serak setelah lama menahan napas di dalam laut.
Maheisa menoleh sebentar, lalu kembali memandang laut. “Lumayan.”
Selia mengangguk, tidak melanjutkan. Ada jeda panjang.
Mereka hanya duduk bersebelahan, dipisahkan beberapa langkah. Laut sore berkilau terkena matahari. Tidak ada percakapan lagi. Namun justru hening itu—aneh, tapi tidak menyesakkan.
Interaksi-interaksi kecil itu terus berulang. Bukan obrolan panjang, lebih sering hanya satu-dua kalimat. Tapi Maheisa mulai memperhatikan: setiap kali Selia selesai menyelam, ia punya ritual yang sama. Duduk, menutup mata, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Seakan ia tengah berdialog dengan dirinya sendiri.
Dan entah kenapa, setiap kali melihatnya, Maheisa merasa sedikit lebih tenang.
—
Suatu sore, saat Selia selesai menggulung tali pengikat, ia tiba-tiba berkata tanpa menoleh, “Orang datang ke dermaga biasanya karena dua alasan: ingin pergi, atau ingin pulang.”
Maheisa kaget. Pertanyaan itu menggantung di udara. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Selia berdiri, menepuk-nepuk pakaiannya, lalu melangkah pergi. Tinggal Maheisa yang duduk sendiri, dihantui kalimat itu.
Ingin pergi… atau ingin pulang? Ia sendiri tidak yakin.
—
Malam itu, ia kembali mencoba menyentuh piano tua di ruang neneknya. Tangannya gemetar, suara fals terdengar menusuk, dan amarahnya memuncak. Namun kemudian, kalimat Selia di dermaga berputar kembali.
Ia menutup piano perlahan. Kali ini tidak menghantam, tidak membanting. Hanya menutup. Lalu duduk lama di depannya, hening.
Entah bagaimana, ia mulai penasaran dengan dunia Selia—dunia laut yang sepi, tapi justru tampak memberinya ketenangan.
Dan tanpa ia sadari, rasa ingin tahu itu pelan-pelan menggantikan rasa putus asa.
Other Stories
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...
Sumpah Cinta
Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...
Queen, The Last Dance
Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...
Don't Touch Me
Malam pukul 19.30 di Jakarta. Setelah melaksanakan salat isya dan tadarusan. Ken, Inaya, ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Sayonara ( Halusinada )
Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...