Sonata Laut

Reads
2.1K
Votes
0
Parts
17
Vote
Report
Penulis Ivoryfloome

BAB 7: NADA YANG TAK PERNAH DIDENGAR

Senja itu, dermaga kecil tampak lebih ramai dari biasanya. Anak-anak berlarian, melempar kerikil ke laut. Beberapa nelayan menata jaring yang baru diangkat dari perahu. Aroma asin dan amis bercampur dengan wangi kayu basah yang terkena sinar matahari sore.

Selia duduk di ujung dermaga, kakinya menjuntai, sesekali mengayun pelan. Rambutnya masih basah karena penyelaman siang tadi. Ia menyibukkan diri dengan mengeringkan masker dan snorkel, tapi sesungguhnya pikirannya melayang pada sosok yang baru saja dikenalnya lebih dekat.

Di belakangnya, langkah pelan terdengar. Maheisa datang, membawa sebuah tas kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ia tidak terbiasa berbicara lebih dulu, tapi kehadirannya mudah dikenali.

“Kamu tadi cepat belajar,” ucap Selia, masih menatap laut.

Maheisa duduk di sampingnya, agak kaku. “Bukan cepat, mungkin aku hanya terlalu ingin tahu.”

Selia menoleh sebentar, matanya berkilat. “Rasa ingin tahu itu bagus. Sama seperti ketika aku pertama kali mencoba freediving. Semua orang mengira aku akan menyerah. Tapi justru rasa penasaran yang membuatku bertahan.”

Hening beberapa saat. Ombak kecil memukul tiang kayu, menciptakan suara ritmis.

Selia menatap tas kecil di pangkuan Maheisa. “Kamu selalu bawa itu. Apa isinya?”

Maheisa terdiam. Jemarinya menyentuh resleting tas, ragu. Lalu ia membuka perlahan, memperlihatkan sebuah buku catatan lusuh. Halaman-halamannya penuh dengan garis-garis notasi musik, sebagian tercoret, sebagian ditandai dengan huruf-huruf kecil.

Selia mencondongkan tubuh, matanya berbinar. “Ini… partitur?”

“Ya,” jawab Maheisa pelan. “Beberapa laguku. Beberapa gagal. Sisanya belum selesai.”

Selia meraih buku itu dengan hati-hati, seolah sedang memegang sesuatu yang rapuh. Ia membaca sekilas, meski tidak terlalu paham simbol-simbol musik. “Aku tidak mengerti banyak tentang notasi. Tapi aku bisa lihat, ini ditulis dengan berbagai paduan emosi.”

Maheisa menunduk. “Musik itu satu-satunya cara bagiku untuk bicara, ketika kata-kata gagal.”

Kata-kata itu membuat Selia terdiam cukup lama. Ia mengembalikan buku itu, lalu berbisik, “Kamu tahu? Rasanya mirip dengan apa yang aku rasakan saat menyelam. Tidak ada kata, tidak ada teriakan, tidak ada penonton. Hanya tubuhku dan laut.”

Maheisa menatapnya. Untuk pertama kali, ia merasa ada orang lain yang benar-benar mengerti caranya memaknai dunia.

Beberapa menit kemudian, Selia tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. “Aku ingin sekali mendengar kamu bermain. Tapi, aku tahu kamu mungkin tidak nyaman.”

Maheisa tersenyum samar. “Aku bisa coba. Tapi jangan harap sempurna. Pendengaranku tidak lagi utuh.”

“Tidak perlu sempurna,” balas Selia. “Aku hanya ingin tahu, bagaimana suara laut dalam versimu.”



Di hari yang sama, di rumah kayu sederhana tempat Selia tinggal sementara, Maheisa duduk di depan piano tua yang entah bagaimana ada di sudut ruang tamu. Kayunya sedikit retak, beberapa tuts menguning, tapi masih berfungsi.

Selia duduk di kursi rotan, memperhatikan dengan penuh konsentrasi.

Maheisa menarik napas, menutup mata, lalu jemarinya mulai menekan tuts. Nada pertama terdengar, pelan, hampir ragu. Tapi kemudian mengalir, berubah menjadi rangkaian melodi yang tidak asing bagi dirinya, tapi baru bagi Selia.

Selia menutup mata. Ia merasakan sesuatu yang berbeda. Musik itu bukan sekadar bunyi. Ada kesunyian yang ikut bicara, ada luka masa lalu yang menyelinap di sela nada, ada kerinduan yang tak pernah selesai.

Ketika musik berhenti, ruangan tetap sunyi. Selia membuka mata perlahan, lalu berkata lirih, “Sekarang aku mengerti.”

Maheisa menoleh, alisnya terangkat samar. “Mengerti apa?”

Selia tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. “Bahwa sunyi itu tidak selalu kosong. Kadang sunyi adalah ruang bagi kita untuk benar-benar mendengar.”

Mereka saling menatap. Tidak ada kalimat lanjut. Tidak ada deklarasi besar. Hanya keheningan yang terasa penuh, seolah laut dan musik baru saja bersekongkol mempertemukan dua jiwa yang sama-sama mencari tempat pulang.

Other Stories
Hati Yang Beku

Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...

Adam & Hawa

Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...

FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Dari Luka Menjadi Cahaya

Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...

Mauren Lupakan Masa Lalu

Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...

Download Titik & Koma