Sonata Laut

Reads
2.1K
Votes
0
Parts
17
Vote
Report
Penulis Ivoryfloome

BAB 8: TARIKAN NAFAS KEDUA

Mentari pagi sudah menampakkan diri. Kondisi dermaga sudah ramai lagi. Perahu-perahu nelayan berderet, burung camar menukik rendah, dan anak-anak kecil berlarian sambil tertawa. Di tengah riuh itu, Selia berdiri dengan tubuh tegap, rambutnya diikat seadanya, wajahnya penuh konsentrasi.

Di sampingnya, Maheisa kembali berdiri. Kedua kalinya ia berada di sini. Rasa gugup masih ada, tapi tidak sekuat kemarin. Setidaknya, kini ia sudah tahu apa yang akan dihadapi: laut, sunyi, dan tarikan napas terakhir.

Arman- salah satu rekan Selia dalam komunitas penyelam menghampiri dengan senyum lebar. “Eh, datang lagi, Bro? Kukira kemarin sudah kapok.”

Maheisa hanya tersenyum tipis. “Belum.”

Selia melirik sekilas, lalu berkata pada Arman, “Kamu pikir semua orang gampang menyerah?”

Arman mengangkat bahu sambil terkekeh. “Jarang ada orang luar yang tahan dua kali. Biasanya habis sekali coba, sudah tidak mau balik lagi.”

Anak-anak kecil yang kemarin menonton ikut mendekat, menyoraki Maheisa. “Mas, coba lebih lama, ya! Jangan buru-buru ke atas lagi!”

Selia menahan senyum, tapi ekspresinya tetap tegas. “Sudah, jangan ganggu. Biar dia fokus.”

Di tepi dermaga, mereka bersiap. Selia duduk bersila, memandang Maheisa yang sedang menarik napas panjang.

“Ingat latihan kemarin?” tanyanya.

Maheisa mengangguk. “Tenangkan tubuh. Fokus ke ritme jantung.”

“Bagus,” jawab Selia. “Hari ini kita turun sedikit lebih dalam. Jangan memaksa, tapi jangan juga cepat menyerah. Laut tidak suka orang ragu-ragu.”

Ia memberi contoh, menarik napas perlahan, menahan, lalu melepas. Gerakannya tenang, seolah tubuhnya sudah menyatu dengan udara dan air.

Maheisa menirukan. Tarikan napasnya masih kaku, tapi lebih terkendali daripada kemarin.

Mereka menyelam. Laut menyambut dengan dingin. Tubuh Selia meluncur anggun, sementara Maheisa mengikutinya dengan gerakan lebih mantap. Ia bisa merasakan paru-parunya memberontak, tapi kali ini ia tidak langsung panik.

Selia menoleh ke belakang, memberi tanda dengan tangan: tenang, teruskan.

Mereka melewati karang yang lebih dalam, ikan-ikan berenang di sekeliling. Waktu terasa memanjang, dunia menjadi hanya suara denyut nadi di telinga.
Akhirnya mereka naik ke permukaan. Maheisa menghirup udara keras, tapi kali ini tidak selelah kemarin.

“Hhhah—” ia terengah, tapi ada senyum samar di wajahnya.

Selia menatapnya sambil menahan senyum. “Lebih baik. Kamu bisa menahan lebih lama.”

Arman yang duduk di atas buoy bersiul. “Naik level, Bro. Lumayan!”

Anak-anak desa bertepuk tangan kecil-kecilan, seolah menonton atraksi.

“Mas kuat juga!”
“Besok harus lebih dalam lagi, ya!”

Maheisa mengusap wajah, setengah malu, setengah lega.

Mereka duduk di dermaga setelah latihan. Matahari sudah naik tinggi, laut berkilau seperti kaca.

Selia meneguk air dari botol, lalu menatap Maheisa. “Kamu tahu? Tidak semua orang bisa nyaman di dalam laut dalam waktu singkat. Ada yang butuh berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun.”

Maheisa menoleh. “Mungkin karena aku terbiasa menahan napas. Bermain piano, kadang rasanya juga begitu. Kamu harus menahan sebelum melepaskan, menunggu waktu yang tepat untuk masuk ke nada berikutnya.”

Selia memandangnya lama. Kata-kata itu membuatnya berpikir. Ada sesuatu yang tidak biasa dari pria ini. Bukan sekadar keras kepala, tapi juga ada kedalaman lain.

Ia tidak bertanya lebih jauh. Hanya berkata singkat, “Kalau begitu, jangan berhenti di sini. Besok kita coba lagi.”

Maheisa mengangguk pelan.

Keheningan di antara mereka bukan lagi canggung. Justru ada rasa tenang, seolah laut sudah menjadi bahasa yang sama—meski mereka belum benar-benar mengenal isi hati satu sama lain.

Other Stories
Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Rembulan Di Mata Syua

Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Penulis Misterius

Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...

Horor

horor ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Download Titik & Koma