Sonata Laut

Reads
2.1K
Votes
0
Parts
17
Vote
Report
Penulis Ivoryfloome

BAB 12: NAFAS YANG SAMA

Pagi di desa pesisir selalu datang lebih cepat. Seakan-akan mentari sengaja menyalakan lampu lebih awal, lalu membiarkan bunyi ayam, jangkrik terakhir, dan desir angin asin jadi orkestra pengiringnya. Rumah nenek Maheisa pun ikut terbangun oleh ritme itu.

Neneknya sudah duduk di kursi rotan di teras, sibuk mengupas pisang yang nanti akan digoreng.

Sementara Maheisa keluar kamar dengan rambut masih berantakan, wajah separuh mengantuk.

“Bangun pagi, Nak?” ucap neneknya, lirih tapi hangat.

“Iya, Nek. Mau dibantu apa?”
“Bawa ini ke Bu Mirah di ujung gang, ya. Dia biasa titip jual pisang goreng di pasar.”

Maheisa menurut, mengangkat keranjang kecil berisi pisang. Jalan menuju rumah Bu Mirah sempit, tapi ramai. Ada nelayan yang sibuk menjemur jaring, ada anak-anak kecil yang berlari tanpa alas kaki, ada ibu-ibu yang baru pulang belanja sambil berceloteh.

Beberapa mata melirik ke arahnya. Mereka tahu, ini cucu dari Bu Raras yang baru kembali tinggal di sini.
“Eh, mirip ibunya waktu muda,” gumam seorang bapak nelayan sambil tersenyum.

Maheisa hanya mengangguk sopan, tidak pandai menjawab basa-basi.

Bu Mirah menyambutnya dengan antusias ketika ia tiba.

“Wah, kebetulan sekali! Terima kasih, Heisa. Aku baru saja kepikiran mau minta pisang ke rumah nenekmu.”

“Sama-sama, Bu,” balasnya singkat. Tapi tatapan hangat orang-orang membuatnya merasa sedikit lebih diterima.

Siang hari dermaga lebih ramai. Suara nelayan menurunkan ikan, anak-anak berteriak sambil loncat ke air, dan perahu-perahu kecil berderet bagai garis coretan di atas biru laut. Selia sudah menunggu, duduk di atas perahu kayu, sibuk menata perlengkapan freediving.

“Telat,” katanya datar begitu Maheisa mendekat.
“Bantu nenek dulu,” jawab Maheisa, meletakkan tas.
Selia hanya mengangguk. Tidak ada teguran panjang, tapi senyum samar sempat muncul di wajahnya.

Alih-alih langsung mengajak menyelam, Selia menarik lengan Maheisa untuk duduk di tepi dermaga. Kaki mereka menggantung, nyaris menyentuh permukaan air. Laut sore itu tenang, hanya riak kecil yang berlari ke arah bebatuan.

“Kamu tahu kenapa aku selalu suruh duduk begini dulu?” tanya Selia sambil menatap lurus ke horizon.

“Biar nggak panik?” tebak Maheisa.

Selia bergeleng pelan, “Bukan. Biar kamu belajar mendengar napasmu. Orang pikir freediving cuma soal tahan lama di dalam air. Padahal dasar segalanya ada di sini—” ia menepuk dadanya pelan, “—mengenali irama tubuh sendiri.”

Selia lalu memperlihatkan pola napas sederhana: hirup pelan, tahan, buang perlahan. Maheisa menirukan, sedikit kikuk.

“Mirip metronom,” gumamnya.

Selia menoleh. “Apa?”

“Di piano ada metronom. Alat kecil buat jaga tempo. Kalau temponya kacau, musik berantakan. Napas juga gitu ya?”

Butuh waktu bagi Selia untuk menjawab. Tatapannya lembut, lalu ia mengangguk. “Aku nggak pernah mikir sampai situ. Tapi iya, mirip sekali.”



Latihan berlangsung tidak buru-buru. Selia menyelam lebih dulu, memperlihatkan gerakan yang tenang, kemudian giliran Maheisa mencoba. Kali ini ia bisa bertahan sedikit lebih lama. Masih jauh dari sempurna, tapi setidaknya ada peningkatan.

Beberapa anak kecil menonton dari dermaga.
“Mas, bisa sampai dasar nggak?” tanya seorang bocah dengan mata berbinar.

“Belum,” jawab Maheisa sambil terengah.

“Semangat, Mas!” Mereka tertawa, lalu bertepuk tangan keras-keras.

Selia ikut tertawa kecil. Ada sesuatu di wajah Maheisa yang menarik perhatiannya: tatapan yang penuh upaya, seolah-olah ia sedang berusaha mendengar sesuatu yang sudah lama hilang.

Menjelang senja, mereka kembali duduk. Kali ini tanpa kata-kata lama. Ombak kecil berganti jadi pantulan cahaya jingga yang pecah di permukaan air. Riuh di desa pelan-pelan mereda, hanya suara jangkrik dan deburan laut yang tersisa.

“Kamu sebenarnya nyari apa di laut?” Selia memecah keheningan.

Maheisa menunduk, memainkan tali kecil di tangannya. “Aku nggak tahu. Mungkin jawaban. Atau cuma tempat buat lari.”

“Lari dari apa?” Netra Selia diarahkan tepat kearah wajah pemuda disampingnya, seolah— daripada mencari jawaban yang keluar dari mulut, netra itu lebih memilih melihat jawaban langsung dari jiwa pemuda itu.

Maheisa fokus menatap hamparan luas nan gelap, tanpa menyadari netra yang diam diam menelisik setiap inci dalam dirinya. Ia tenggelam dalam pikirannya, hingga akhirnya membuka suara,

“Diri sendiri, mungkin.”

Selia tidak segera menjawab. Tatapannya tetap lurus ke laut, suaranya lirih ketika berkata, “Kalau lari ke laut, jangan harap bisa sembunyi. Laut akan selalu bikin kita jujur. Begitu masuk, semua topeng hilang.”

Maheisa tersenyum tipis, tapi getir. “Itu yang paling kutakutkan, dan anehnya- yang paling kunantikan.”

Keheningan kembali datang. Tapi kali ini tidak terasa janggal. Hening itu justru seperti ruang aman, tempat dua orang asing perlahan menemukan ritme yang sama. Seperti napas yang pelan-pelan sinkron, tanpa disadari.





Other Stories
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap

Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Download Titik & Koma