BAB 15: PERCAKAPAN DI MEJA SUDUT
Sebuah kafe kecil di tepi pantai sedang ramai sore itu. Musik akustik dari pengeras suara mengalun lembut, bercampur suara obrolan para pengunjung. Lampu-lampu gantung bernuansa tembaga mulai menyala, menebar cahaya kekuningan yang hangat. Dari jendela besar di sisi ruangan, laut tampak berkilau disapu cahaya matahari senja.
Selia duduk di meja sudut, tempat favoritnya bersama dua sahabat lama, Nayla dan Dira. Mereka bertiga sudah seperti keluarga; orang-orang yang mengenal Selia sebelum namanya tertera di majalah olahraga air, sebelum ia disebut ikon freediver muda Indonesia. Sebelum ia menjadi Selia Maris.
“Kamu akhir-akhir ini sibuk banget, Li.” Nayla memotong potongan cake di depannya, lalu melirik penuh curiga. “WhatsApp nggak dibalas, nelpon juga jarang diangkat. Kalau bukan karena aku maksa tadi siang, pasti kita nggak jadi ketemu.”
Selia tertawa pelan. “Aku kan memang lagi banyak latihan.”
“Latihan freediving, kan?” Dira meneguk kopinya, menatap Selia seolah membaca pikirannya. “Tapi biasanya, sesibuk apapun, kamu selalu sempat kabarin kita. Sekarang tiba-tiba menghilang. Jangan bilang kamu lagi punya kesibukan lain yang… spesial?”
Kalimat itu diakhiri dengan senyum penuh arti. Nayla langsung menyambar, “Aha! Jadi benar dugaanku! Ada sesuatu yang kamu sembunyikan.”
Selia hanya mengangkat bahu, menahan senyum. Ia tahu dua sahabatnya ini takkan berhenti sebelum mendapatkan jawaban. “Aku nggak sembunyi apa-apa. Aku Cuma ya, lagi banyak hal baru aja.”
“Hal baru?” Nayla menyipitkan mata. “Maksudmu orang baru?”
Selia menggulirkan gelas minumannya pelan, mencari kata-kata. “Kenapa kalian selalu mikirnya ke sana?”
Dira terkekeh. “Karena kita kenal kamu, Li. Kamu bukan tipe yang tiba-tiba jarang muncul tanpa alasan. Jadi kalau sekarang kamu sibuk dan tiba-tiba ada energi baru yah, tebakannya jelas: seseorang.”
Selia diam sejenak, lalu mendesah. “Kalian ini selalu lebih ribut daripada wartawan gosip.”
Namun Nayla dan Dira sudah saling pandang, merasa menang. “Jadi, siapa dia?” Nayla langsung menembak.
Selia menoleh keluar jendela, ke laut yang mulai menelan matahari. Ada jeda beberapa detik sebelum ia berkata, lirih, “Namanya Maheisa.”
Nama itu keluar begitu saja, membuat dua sahabatnya terdiam sepersekian detik.
“Hmm… belum pernah dengar.” Dira bersandar di kursi. “Dia freediver juga?”
Selia menggeleng. “Bukan. Justru itu yang bikin menarik. Dia punya dunia lain. Musik. Piano, tepatnya.”
“Pianis?” Nayla bersiul pelan. “Wow. Pantes kamu betah. Kamu kan selalu kagum sama orang yang hidupnya penuh dedikasi.”
“Eh tapi…” Dira mengerutkan kening. “Aku pernah lihat kamu jalan sama seorang cowok di dermaga beberapa minggu lalu. Jangan bilang itu dia?”
Wajah Selia berubah sekejap. Ia tidak menyangka ada yang memperhatikan saat itu.
“Benar kan?” Nayla langsung bersorak kecil. “Liat, mukanya langsung ketahuan!”
Selia mencoba menghindar. “Dia cuma temen latihan.”
“Latihan freedive sama pianis?” Nayla pura-pura heran. “Kamu ngajarin dia nahan napas, dia ngajarin kamu main piano? Aduh, novel banget, Li.”
Selia tertawa kecil, meski agak canggung. “Kalian kebanyakan baca fiksi.”
Percakapan sempat terhenti ketika pelayan datang membawa minuman tambahan. Kafe makin ramai, suara gitar dari musisi jalanan di luar terdengar samar-samar.
“Aku cuma ingin kamu hati-hati,” ujar Nayla setelah suasana sedikit reda. “Kamu itu publik figur, Li. Orang gampang salah paham. Sekali ada foto kamu bareng cowok asing tersebar, bisa jadi bahan gosip.”
Selia menatap kedua sahabatnya, lalu berkata tenang, “Aku tahu. Tapi aku juga nggak bisa terus-terusan hidup dengan perhitungan orang lain. Kalau aku selalu khawatir pada omongan orang, aku nggak akan pernah bisa tenang.”
Dira tersenyum tipis. “Itu jawaban khas kamu. Tapi semoga dia bukan cuma orang yang singgah sebentar.”
Selia menatap laut dari balik kaca, cahaya oranye senja terpantul di matanya. “Aku juga berharap begitu.”
“Jadi, dia orangnya yang bikin kamu jarang nongol akhir-akhir ini?” goda Nayla sambil menaikkan alis. Dira langsung tergelak, menyikut pelan bahunya.
“Cowok pianis itu, kan?” tambah Dira cepat, seolah-olah sudah menginvestigasi lebih dulu.
Selia menggeleng sambil tersenyum tipis, meraih cangkir cappuccino yang mulai mendingin. “Kalian selalu suka bikin cerita sendiri.”
“Tapi bener, kan?” Nayla mencondongkan badan dengan wajah penuh rasa ingin tahu. “Aku lihat postinganmu. Ada piano, ada laut. Kombinasi aneh tapi manis. Jarang-jarang kamu mau nunjukkin sesuatu.”
“Ya ampun, Nay,” Selia menghela napas. “Kalian ini suka sekali membesar-besarkan.”
Meski suaranya enteng, ada jeda kecil yang membuat Dira menatapnya lebih lama. Seolah-olah ada sesuatu yang tidak terucap dari cara Selia menundukkan kepala.
“Sel…” suara Nayla melembut, “aku cuma penasaran, susah nggak rasanya buat buka diri lagi?”
Pertanyaan itu menggantung. Selia menoleh perlahan, menatap dua sahabatnya. Ia mencoba tersenyum, tapi jelas senyum itu rapuh.
“Aku nggak tahu harus jawab apa,” katanya akhirnya. “Kadang rasanya gampang. Kadang rasanya seperti melawan arus.”
Dira menggigit bibir, lalu berkata hati-hati, “Kamu masih sering inget… dia?”
Selia tidak langsung menjawab. Ia menatap ke luar jendela, hujan tipis mulai jatuh, mengaburkan jalanan. Ada keheningan singkat sebelum ia menghela napas panjang.
“Kalian ingat dulu, waktu aku baru gabung komunitas? Laut terasa menyeramkan buatku. Dia yang pertama ngajarin aku biar nggak takut. Katanya: ‘anggap laut itu sahabat, bukan lawan.’”
Nayla dan Dira saling berpandangan. Mereka tahu persis siapa yang dimaksud, tapi tak ada yang menyebutkan nama.
Selia melanjutkan dengan suara lirih. “Aku percaya omongannya. Dan sejak itu laut benar-benar kembali menjadi bagian hidupku sepenuhnya.”
Hening. Hanya denting sendok dari meja lain yang terdengar.
“Aku pikir, orang seperti dia nggak mungkin hilang,” Selia menambahkan pelan, “tapi ternyata laut punya cara sendiri untuk menyimpan rahasia.”
Nayla refleks menggenggam tangan Selia. “Kamu nggak perlu nyalahin siapa-siapa.”
“Aku tahu,” Selia tersenyum tipis, menahan sesuatu di matanya. “Cuma sejak itu aku belajar. Laut itu bukan cuma tempat aku bebas. Laut juga tempat aku kehilangan.”
Dira mencondongkan tubuh, mencoba mencairkan suasana. “Terus, sekarang ada pianis dingin yang nongol tiba-tiba di hidupmu. Kamu yakin siap, Sel?”
Kali ini Selia tertawa, ringan tapi berbeda—ada ketegasan samar di sana. “Mungkin justru itu bedanya. Dia datang dari dunia yang lain. Dunia yang nggak ada hubungannya dengan laut.”
—
Hujan masih menitik ketika Selia melangkah keluar kafe, berpisah dengan Nayla dan Dira setelah pelukan singkat. Ia berjalan sendirian di trotoar, udara dingin menempel di kulitnya. Lampu jalan memantulkan cahaya ke genangan air.
Kata-kata sahabatnya terus bergema. Tentang keberanian membuka diri, tentang luka yang pernah ditinggalkan laut. Dan, tanpa bisa dicegah, bayangan Maheisa ikut muncul—senyum tipisnya, caranya menatap dengan tenang, juga suaranya yang rendah saat menjelaskan detail kecil tentang piano yang bahkan tak terpikirkan oleh orang awam.
Selia menarik napas panjang. Ada sesuatu yang berubah. Ia sadar, Maheisa bukan orang yang datang untuk menggantikan siapa pun. Dunia lelaki itu berbeda, begitu asing tapi anehnya membuatnya ingin memahami lebih jauh.
Malam itu, di bawah gerimis yang semakin rapat, Selia melangkah pulang dengan hati yang sedikit lebih berat, tapi juga sedikit lebih berani.
Selia duduk di meja sudut, tempat favoritnya bersama dua sahabat lama, Nayla dan Dira. Mereka bertiga sudah seperti keluarga; orang-orang yang mengenal Selia sebelum namanya tertera di majalah olahraga air, sebelum ia disebut ikon freediver muda Indonesia. Sebelum ia menjadi Selia Maris.
“Kamu akhir-akhir ini sibuk banget, Li.” Nayla memotong potongan cake di depannya, lalu melirik penuh curiga. “WhatsApp nggak dibalas, nelpon juga jarang diangkat. Kalau bukan karena aku maksa tadi siang, pasti kita nggak jadi ketemu.”
Selia tertawa pelan. “Aku kan memang lagi banyak latihan.”
“Latihan freediving, kan?” Dira meneguk kopinya, menatap Selia seolah membaca pikirannya. “Tapi biasanya, sesibuk apapun, kamu selalu sempat kabarin kita. Sekarang tiba-tiba menghilang. Jangan bilang kamu lagi punya kesibukan lain yang… spesial?”
Kalimat itu diakhiri dengan senyum penuh arti. Nayla langsung menyambar, “Aha! Jadi benar dugaanku! Ada sesuatu yang kamu sembunyikan.”
Selia hanya mengangkat bahu, menahan senyum. Ia tahu dua sahabatnya ini takkan berhenti sebelum mendapatkan jawaban. “Aku nggak sembunyi apa-apa. Aku Cuma ya, lagi banyak hal baru aja.”
“Hal baru?” Nayla menyipitkan mata. “Maksudmu orang baru?”
Selia menggulirkan gelas minumannya pelan, mencari kata-kata. “Kenapa kalian selalu mikirnya ke sana?”
Dira terkekeh. “Karena kita kenal kamu, Li. Kamu bukan tipe yang tiba-tiba jarang muncul tanpa alasan. Jadi kalau sekarang kamu sibuk dan tiba-tiba ada energi baru yah, tebakannya jelas: seseorang.”
Selia diam sejenak, lalu mendesah. “Kalian ini selalu lebih ribut daripada wartawan gosip.”
Namun Nayla dan Dira sudah saling pandang, merasa menang. “Jadi, siapa dia?” Nayla langsung menembak.
Selia menoleh keluar jendela, ke laut yang mulai menelan matahari. Ada jeda beberapa detik sebelum ia berkata, lirih, “Namanya Maheisa.”
Nama itu keluar begitu saja, membuat dua sahabatnya terdiam sepersekian detik.
“Hmm… belum pernah dengar.” Dira bersandar di kursi. “Dia freediver juga?”
Selia menggeleng. “Bukan. Justru itu yang bikin menarik. Dia punya dunia lain. Musik. Piano, tepatnya.”
“Pianis?” Nayla bersiul pelan. “Wow. Pantes kamu betah. Kamu kan selalu kagum sama orang yang hidupnya penuh dedikasi.”
“Eh tapi…” Dira mengerutkan kening. “Aku pernah lihat kamu jalan sama seorang cowok di dermaga beberapa minggu lalu. Jangan bilang itu dia?”
Wajah Selia berubah sekejap. Ia tidak menyangka ada yang memperhatikan saat itu.
“Benar kan?” Nayla langsung bersorak kecil. “Liat, mukanya langsung ketahuan!”
Selia mencoba menghindar. “Dia cuma temen latihan.”
“Latihan freedive sama pianis?” Nayla pura-pura heran. “Kamu ngajarin dia nahan napas, dia ngajarin kamu main piano? Aduh, novel banget, Li.”
Selia tertawa kecil, meski agak canggung. “Kalian kebanyakan baca fiksi.”
Percakapan sempat terhenti ketika pelayan datang membawa minuman tambahan. Kafe makin ramai, suara gitar dari musisi jalanan di luar terdengar samar-samar.
“Aku cuma ingin kamu hati-hati,” ujar Nayla setelah suasana sedikit reda. “Kamu itu publik figur, Li. Orang gampang salah paham. Sekali ada foto kamu bareng cowok asing tersebar, bisa jadi bahan gosip.”
Selia menatap kedua sahabatnya, lalu berkata tenang, “Aku tahu. Tapi aku juga nggak bisa terus-terusan hidup dengan perhitungan orang lain. Kalau aku selalu khawatir pada omongan orang, aku nggak akan pernah bisa tenang.”
Dira tersenyum tipis. “Itu jawaban khas kamu. Tapi semoga dia bukan cuma orang yang singgah sebentar.”
Selia menatap laut dari balik kaca, cahaya oranye senja terpantul di matanya. “Aku juga berharap begitu.”
“Jadi, dia orangnya yang bikin kamu jarang nongol akhir-akhir ini?” goda Nayla sambil menaikkan alis. Dira langsung tergelak, menyikut pelan bahunya.
“Cowok pianis itu, kan?” tambah Dira cepat, seolah-olah sudah menginvestigasi lebih dulu.
Selia menggeleng sambil tersenyum tipis, meraih cangkir cappuccino yang mulai mendingin. “Kalian selalu suka bikin cerita sendiri.”
“Tapi bener, kan?” Nayla mencondongkan badan dengan wajah penuh rasa ingin tahu. “Aku lihat postinganmu. Ada piano, ada laut. Kombinasi aneh tapi manis. Jarang-jarang kamu mau nunjukkin sesuatu.”
“Ya ampun, Nay,” Selia menghela napas. “Kalian ini suka sekali membesar-besarkan.”
Meski suaranya enteng, ada jeda kecil yang membuat Dira menatapnya lebih lama. Seolah-olah ada sesuatu yang tidak terucap dari cara Selia menundukkan kepala.
“Sel…” suara Nayla melembut, “aku cuma penasaran, susah nggak rasanya buat buka diri lagi?”
Pertanyaan itu menggantung. Selia menoleh perlahan, menatap dua sahabatnya. Ia mencoba tersenyum, tapi jelas senyum itu rapuh.
“Aku nggak tahu harus jawab apa,” katanya akhirnya. “Kadang rasanya gampang. Kadang rasanya seperti melawan arus.”
Dira menggigit bibir, lalu berkata hati-hati, “Kamu masih sering inget… dia?”
Selia tidak langsung menjawab. Ia menatap ke luar jendela, hujan tipis mulai jatuh, mengaburkan jalanan. Ada keheningan singkat sebelum ia menghela napas panjang.
“Kalian ingat dulu, waktu aku baru gabung komunitas? Laut terasa menyeramkan buatku. Dia yang pertama ngajarin aku biar nggak takut. Katanya: ‘anggap laut itu sahabat, bukan lawan.’”
Nayla dan Dira saling berpandangan. Mereka tahu persis siapa yang dimaksud, tapi tak ada yang menyebutkan nama.
Selia melanjutkan dengan suara lirih. “Aku percaya omongannya. Dan sejak itu laut benar-benar kembali menjadi bagian hidupku sepenuhnya.”
Hening. Hanya denting sendok dari meja lain yang terdengar.
“Aku pikir, orang seperti dia nggak mungkin hilang,” Selia menambahkan pelan, “tapi ternyata laut punya cara sendiri untuk menyimpan rahasia.”
Nayla refleks menggenggam tangan Selia. “Kamu nggak perlu nyalahin siapa-siapa.”
“Aku tahu,” Selia tersenyum tipis, menahan sesuatu di matanya. “Cuma sejak itu aku belajar. Laut itu bukan cuma tempat aku bebas. Laut juga tempat aku kehilangan.”
Dira mencondongkan tubuh, mencoba mencairkan suasana. “Terus, sekarang ada pianis dingin yang nongol tiba-tiba di hidupmu. Kamu yakin siap, Sel?”
Kali ini Selia tertawa, ringan tapi berbeda—ada ketegasan samar di sana. “Mungkin justru itu bedanya. Dia datang dari dunia yang lain. Dunia yang nggak ada hubungannya dengan laut.”
—
Hujan masih menitik ketika Selia melangkah keluar kafe, berpisah dengan Nayla dan Dira setelah pelukan singkat. Ia berjalan sendirian di trotoar, udara dingin menempel di kulitnya. Lampu jalan memantulkan cahaya ke genangan air.
Kata-kata sahabatnya terus bergema. Tentang keberanian membuka diri, tentang luka yang pernah ditinggalkan laut. Dan, tanpa bisa dicegah, bayangan Maheisa ikut muncul—senyum tipisnya, caranya menatap dengan tenang, juga suaranya yang rendah saat menjelaskan detail kecil tentang piano yang bahkan tak terpikirkan oleh orang awam.
Selia menarik napas panjang. Ada sesuatu yang berubah. Ia sadar, Maheisa bukan orang yang datang untuk menggantikan siapa pun. Dunia lelaki itu berbeda, begitu asing tapi anehnya membuatnya ingin memahami lebih jauh.
Malam itu, di bawah gerimis yang semakin rapat, Selia melangkah pulang dengan hati yang sedikit lebih berat, tapi juga sedikit lebih berani.
Other Stories
Reuni
Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...