Epilog
Pukul 12.00
Letnan Arief tiba di rumah Lena. Ia datang tidak seorang diri, melainkan bersama Detektif Tiga Serangkai dan banyak polisi.
Ting… Tong
Bel berbunyi. Tak lama kemudian Lena membuka pintu. Wajahnya seperti ketakutan dan bingung. Jelas saja ia bingung, pagi-pagi rumahnya sudah didatangi banyak polisi.
“Eh, Detektif Tiga Serangkai dan Letnan Arief, tumben pagi-pagi kalian sudah ke sini, bawa polisi pula? Ada apa? Emang pembunuh Nindy sudah ditemukan?” tanya Lena bertubi-tubi.
Taufiq memandangi wajah Lena dengan tatapan sinis. Ia muak dengan pertanyaan-pertanyaan yang diucapkan Lena barusan. Lena masih saja berpura-pura tidak tahu siapa pembunuh Nindy.
“Ya, pembunuh Nindy sudah ditemukan.”
“Siapa orangnya? Tolong dong pertemukan aku dengan pelakunya!”
“Pembunuhnya ada di rumah ini kok. Dan orangnya adalah kamu sendiri.”
“Maksudnya apa? Aku sahabatnya Nindy. Aku nggak mungkin membunuh Nindy.”
“Udahlah, nggak usah pura-pura lagi. Kami sudah menemukan barang bukti bahwa Anda-lah pembunuh Nindy,” kali ini Taufiq yang angkat bicara.
Taufiq mengedarkan pandangan ke Letnan Arief, alisnya terangkat sebelah. Letnan Arief mengerti apa yang dimaksud Taufiq. Ia pun mengeluarkan buku diary Lena dari saku jaketnya. Wajah Lena mendadak berubah jadi pucat.
“Di… di mana Anda menemukan buku diary itu?” tanya Lena, gugup.
“Anda tidak perlu tahu di mana kami menemukan buku ini. Yang jelas buku ini milik Anda kan? Semua rencana busuk Anda ke Nindy tertulis di buku diary ini.”
Lena melangkah mundur. Taufiq mencium gelagat Lena hendak kabur. “Let, kayaknya Lena mau kabur.”
“Kamu tenang aja, aku sudah siap siaga kok.”
Letnan Arief mengeluarkan pistol dari saku jaketnya.
Benar saja apa yang dikatakan Taufiq, Lena membalikkan badan dan mulai berlari. Detik itu juga Letnan Arief memuntahkan isi pistolnya. Dan bidikan Letnan Arief tepat sasaran, peluru mendarat di kaki Lena. Lena tersungkur di lantai. Bergegas polisi yang lain meringkusnya.
Lena diborgol dan dibawa ke mobil polisi. Pak polisi yang paling tua menjabat tangan Letnan Arief. “Letnan Arief, saya benar-benar berterima kasih karena Anda telah berhasil mengungkap pembunuh Nindy yang dari awal kami kira kematian Nindy karena kecelakaan.”
“Iya, sama-sama, kami juga senang membantu Anda.”
Polisi itu pun pergi. Detektif Tiga Serangkai dan Letnan Arief tos bareng-bareng. “Yee… pecah lagi.”
Taufiq tersenyum puas, akhirnya pembunuh Nindy tertangkap juga. Ia masih tidak percaya bahwa Lena adalah pembunuh Nindy, sebab Lena adalah sahabat Nindy, Lena pulalah yang mengundang mereka ke Jakarta. Secara logika masa seorang pembunuh minta detektif untuk menyelidiki pembunuh? Namun yang namanya pembunuh itu biasanya orang yang sama sekali tidak dicurigai.
Meskipun pembunuh Nindy sudah tertangkap, tapi masih ada beberapa pertanyaan yang megganjal hati Taufiq. Siapa orang yang menaruh buku diary Lena di teras rumah lama Lena? Apakah orang itu terlibat juga dalam pembunuhan Nindy? Taufiq sangat penasaran dan ingin sekali bertemu dengan orangnya. Lebih tepatnya ia ingin berterima kasih, karena orang itu, kebenaran terungkap. Ya, sudahlah. Biar Tuhan saja yang membalas jasanya.
“Fiq, sayang banget ya, Lena itu cantik, masih muda, seksi, eh ternyata pembunuh,” ujar Hambali.
“Kenapa? Lo naksir sama dia?”
“Dikit sih.”
“Ya udah lo pacarin aja dia. Palingan nasib lo sama kayak Nindy.”
Hambali manyun, Taufiq makin tertawa. Kini kasus sudah terungkap jadi besok mereka sudah bisa kembali ke Martapura.
--THE END--
Other Stories
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...