Berhasil Dapat Beasiswa Sekolah Di Jakarta
“Ambuu…!” teriak Nien sambil berlari dengan mengacungkan selembar kertas di tangannya. Wanita setengah baya itu tersentak dan ikut berlari kecil dari arah dapur.
“Ada apa Nien?” tanya Mak Entin, begitu panggilan akrab dari para pelanggan kuenya.
“Aku lolos seleksi di International High School!” teriaknya masih kegirangan.
“Lolos ? Lolos apa maksudnya, Ambu nggak ngerti?” tanya Mak Entin polos.
“Ambu ingat nggak, tiga bulan yang lalu aku ikut seleksi di sekolah? Itu Ambu yang buat sekolah di Jakarta, sekolahannya anak-anak orang kaya. Anak-anak berprestasi. Ambu ingat, kan?”
Mak Entin masih mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat kejadian tiga bulan silam. Alisnya yang tebal pun ikut mengerut.
“Ooo… iya iya, Ambu ingat sekarang! Waktu itu teh kamu minta photocopy kartu keluarga segala, kan?” jawab Mak Entin.
“Iya Ambu, sama kartu surat keterangan RT, RW, sampai kelurahan juga!” sambung Nien.
“Emang kenapa? Aya naon eta?” tanya Mak Entin masih tak mengerti.
“Si Ambu mah kumaha atuh? Dikirain sudah ngerti,” jawab Nien agak kesal melihat Mak Entin yang belum juga paham. “Nih, dengar ya Ambu! Anak Ambu yang cantik ini akan sekolah di Jakarta. Aku akan jadi anak Jakarta euy!” papar Nien dalam logat Sunda yang kental.
“Sekolah kamu di sini gimana atuh?” Mak Entin semakin bingung.
“Ya, aku pindah sekolah Ambu!”
“Lantas kamu mau tinggal sama siapa di Jakarta, Nien? Di sana kota besar, nggak ada yang kamu kenal?”
“Kan, ada Mang Didin, Ambu?” jawab Nien mengingatkan Ambunya.
“Tapi kan Mang Didin banyak anaknya, mana pada kecil-kecil. Rumahnya juga sempit.”
Nien terdiam. Apa yang dikatakan Ambunya memang benar. Satu-satunya orang yang dikenalnya di Jakarta cuma Mang Didin, sepupu Ambunya. Pekerjaannya cuma satpam kantor biasa. Anaknya empat, rumahnya cuma cukup buat tidur saja. Lalu di mana dia mau tidur nantinya?
“Inikan cuma sementara, Ambu?” jawab Nien menghibur diri.
“Nien, kamu kan tahu Ambu bukan orang kaya. Abah kamu juga nggak punya warisan yang ditinggalkan. Sedang Ambu hanya dagang kue keliling. Itu juga Alhamdulillah bisa buat sekolah adikmu sama makan sehari-hari.”
“Tapi Ambu, aku sudah berjuang keras untuk mewujudkan impianku,” sahut Nien agak lirih.
“Emang apa impianmu, Nien?” tanya Ambu. Nien hanya diam. Matanya menerawang ke langit-langit rumah. Ada genangan yang hampir keluar dari sudut matanya. Kertas yang tadi diacungkannya tergeletak di meja.
“Aku ingin jadi orang kaya. Aku ingin berhasil seperti orang-orang di Jakarta, Ambu,” jawab Nien seraya matanya berbinar.
“Kamu harus sadar Nien, asal kita ini dari mana? Apa yang kita punya? Bisa sekolah dan makan tiap hari pun sudah bersyukur, Nien.” Mak Entin mendekati Nien.
Anak sulungnya ini memang cantik. Matanya jeli dengan lentik di bulu matanya. Hidungnya yang bangir persis hidung Abahnya. Tubuhnya tinggi semampai dengan warna kulit yang putih membungkus tubuhnya. Nien juga anak yang cerdas, sejak kecil selalu mendapat beasiswa di sekolahnya.
“Ambu, apa pun yang terjadi aku harus tetap sekolah di Jakarta. Di sana ada cita-cita dan impianku. Soal tempat tinggal, untuk sementara aku akan numpang sama Mang Didin. Selanjutnya, aku akan cari kerja, Ambu!”
“Kamu mau kerja apa, Nien?” tanya Mak Entin cemas. Beliau tahu Nien keras jika sudah berkeinginan. Dan itu tak bisa dicegahnya.
“Kerja apa saja, Ambu!” jawab Nien singkat.
“Maksudnya kerja apa, Nien?”
“Aku belum tahu, tapi kita lihat saja nanti!” jawab Nien penuh keyakinan.
“Impianmu terlalu tinggi, Nien?” jawab Mak Entin penuh khawatir.
“Impian nggak bakal tercapai kalau kita hanya bermimpi, Ambu. Aku akan kejar impianku apa pun resikonya. Aku harus berhasil!”
Mak Entin geleng-geleng kepala melihat Nien yang berlalu meninggalkannya. Ada kecemasaan melihat tekad keras anak gadisnya itu. Apa yang akan terjadi jika Nien tinggal di Jakarta jauh darinya? Di Dusun Cikole yang kecil ini saja, Nien tak pernah jauh darinya. Ke kota saja selalu ditemani adik atau sahabatnya.
Mang Didin pasti tak selalu bisa mengawasinya. Jarak sekolahnya nanti dari rumah Mang Didin pasti jauh dan itu perlu biaya. Belum lagi uang jajan sekolah dan makan tiap harinya. Mang Didin hanya pegawai kecil yang tak selalu bisa memberinya uang. Mak Entin mendesah. Apa yang sebenarnya kamu cari, Nak? Tanya hatiya sedih.
******
Seminggu lagi Nien akan pindah sekolah di International High School, di Jakarta. Sebuah sekolah ternama di Jakarta khusus untuk anak berprestasi dan orang berada. Nien bangga, karena dialah satu-satunya siswa yang berhasil dari dusunnya.
“Nien, nanti kalau sudah di Jakarta jangan lupa sama saya, yah ?” pinta Titi, sahabatnya.
Nien hanya mengangguk dengan seulas senyum. Dirapikannya tumpukan buku yang berserakan di lantai kamarnya. Buku-buku ini pasti tak terpakai lagi. Pasti di sana pelajarannya lebih sulit dari di dusun. Ah, aku harus bisa. Aku akan kejar cita-cita dan impianku bagaimana pun caranya, tekad Nien dalam hati.
“Kamu nggak pamit dulu sama Kang Hendi, Nien?” tanya Titi tiba-tiba. Nien tersenyum. Hendi, anak kepala desa itu memang belum tahu kepergiannya.
“Buat apa pamit, Ti? Emang dia pacarku apa!” tanya Nien mengulum senyumnya.
“Kumaha atuh, Nien? Kang Hendi kan naksir kamu. Terus dia teh suka kasih kamu hadiah, ya kan?”
Nien malah tersenyum lebar. Memang benar Hendi selalu perhatian padanya. Bahkan sering kali memberinya hadiah. Tapi Nien menganggapnya biasa saja. Itu karena dia tak tertarik sedikit pun pada Hendi, walau cowok itu berwajah ganteng.
Nien melirik pada tas cantik yang tergantung di balik pintu kamarnya. Tas yang pastinya berharga mahal itu dibelikan oleh Hendi sewaktu cowok itu ke Jakarta. Itu hadiah ulang tahunnya tahun lalu. Lalu matanya tertuju pada kaos yang tergantung di pintu lemarinya. Itu juga pemberian Hendi, katanya kaos itu dibelinya di butik di Jakarta sebagai hadiah tahun baru. Hendi selalu mencoba menarik perhatiannya dengan segala pemberiannya untuk Nien.
“Sudah ah, Ti. Nanti di Jakarta banyak juga cowok ganteng lebih dari dia!” jawab Nien tersenyum lebar.
Titi bengong melihat sahabatnya itu tersenyum lebar. Entah apa yang ada di pikiran Nien saat ini. Padahal setahu dia, Hendi banyak dipuja gadis di dusunnya, termasuk dirinya. Namun sayangnya perhatian Hendi hanya tertuju pada Nien.
Nien berkaca di depan cermin. Rambut panjangnya disisir rapi. Ada seulas senyum di bibirnya sedari tadi. Aku nggak kalah cantik dengan gadis Jakarta, kan? bisiknya pada cermin. Bukan nggak mungkin aku akan menjadi bintang di sekolah nanti. Hemm… Jakarta, pasti begitu gemerlap di sana!
Nien begitu bersemangat mengejar impiannya. Kemegahan Jakarta terus membayang di benaknya. Meski belum sekalipun ia melihat Jakarta, tapi tekadnya telah bulat untuk bisa bertahan hidup di sana. Tak peduli pada Mak Entin yang belakangan ini banyak melamun karena berat melepas anak gadisnya ini pergi.
“Ambu, kunaon atuh melamun terus?” tanya Nien yang melihat Mak Entin melamun di sisi jendela. Pikiran wanita berkerudung ini entah ke mana. “Ambu!!” panggil Nien lagi yang melihat Ambunya hanya diam.
Mak Entin menarik napas dalam. Pandangan matanya sesaat melirik Nien. Gadis ini pun melirik Ambunya. Mereka hanya diam dalam pandangan. Sebelum Mak Entin akhirnya menarik napas dalam dan menghembuskanya perlahan.
“Ambu teh berat melepas kamu pergi, Nien?” jawab Mak Entin lirih. Matanya agak berkaca-kaca menatap wajah anak gadisnya itu.
“Kunaon atuh? Kan di sana aku tinggal sama Mang Didin. Aku bisa jaga diri, Ambu. Udah yah, Ambu nggak usah kuatir?” jawab Nien meyakinkan Mak Entin
Nien..,” panggil Mak Entin sambil mengusap kepala Nien. “Kamu teh anak sulung Ambu. Kamu juga anak gadis Ambu satu-satunya. Jakarta itu kota besar. Kata orang mah banyak orang culas di sana,” ucap Mak Entin sambil terus mengusap kepala Nien penuh kasih sayang.
“Ambu juga belum pernah ke Jakarta, cuma lihat di televisi aja. Kamu harus bisa jaga diri, yah! Jangan sampai terpengaruh pergaulan yang nggak baik. Apalagi sampai jadi orang yang nggak benar. Iissh… amit-amit, jangan sampai anak Ambu kayak gitu!” ucapnya seraya satu tangannya mengetuk meja.
Nien menatap wajah Mak Entin penuh keharuan. Ia sadar dan mengerti kalau Ambunya teramat sayang padanya. Sejak Abahnya meninggal lima tahun yang lalu, Ambu bekerja keras menghidupi keluarganya. Nien hanya bisa membantunya membuat kue. Sekarang pun di usianya yang baru menginjak tujuh belas tahun, ia tak bisa banyak membantu.
Itulah yang membuat Nien bertekad untuk sekolah di Jakarta. Ia ingin membahagiakan Ambu dan adiknya. Ingin jadi orang kaya dan punya uang yang banyak agar Ambu dan adiknya tak hidup sengsara. Membangun rumah yang bagus di dusun untuk keluarganya. Dengan bekal kepintarannya ia bertekad untuk mengejar impian. Aku memang bukan orang kaya, tapi aku punya kecerdasan yang bisa mengantarkan aku pada kesuksesan. Jakarta, tunggu aku! teriak Nien dalam hati.
******
Pagi ini Nien mematut diri di depan cermin. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan jepit di kedua sisinya. Dua hari yang lalu Hendi, anak kepala desa itu datang dan meminta izin Mak Entin untuk mengajak Nien pergi di hari Minggu ini. Sebenarnya Nien malas, tapi Ambu memaksanya untuk menerima ajakan Hendi.
Mak Entin berharap kalau Nien mau menerima Hendi jadi pacarnya. Nien terus mengelak dengan alasan kalau ia masih mau serius sekolah. Tapi Mak Entin terlalu polos untuk mengerti kalimat Nien yang sesungguhnya berupa penolakan.
“Aku masih mau serius sekolah, Ambu. Aku nggak mau terganggu dengan pacaran,” jawab Nien ketika Mak Entin menyinggung tentang Hendi.
“Tapi kamu kan nggak diminta nikah, Nien. Hanya pendekatan aja. Biar lebih akrab gitu?” jawab Mak Entin. Nien menggeleng. Ia tetap tak bisa menerima Hendi jadi pacarnya.
Tak ada yang bisa membuatnya untuk tertarik pada Hendi, sekali pun anak kepala desa itu sudah memberinya banyak hadiah. Bahkan sudah menjanjikan hidup yang bahagia jika Nien mau jadi istrinya kelak.
“Assalamualaikum…,” sapa suara di luar yang terdengar sayup ke kamar Nien. Mak Entin dan Nien beradu pandang.
“Biar Ambu saja yang lihat ke depan, kamu teruskan dandannya, yah.”
Wanita setengah baya ini berjalan cepat keluar untuk melihat siapa yang datang. Dari balik pintu yang tak tertutup rapat, ia dapat melihat Hendi berdiri membelakangi pintu.
“Waalaikumsalam… Hendi, ayo silakan masuk!” sahut Mak Entin mempersilakan Hendi masuk ke dalam. “Nien, ada Nak Hendi nih! Ayo cepat keluar!” teriak Mak Entin memanggil Nien.
Nien keluar kamar dan duduk di samping Ambunya. Diliriknya Hendi yang bertepatan dengan mata cowok itu melirik padaya. Pantas saja gadis sedusun ini naksir Hendi, emang dia kasep pisan! Tapi kenapa perasaanku biasa saja yah?
“Ini ada oleh-oleh buat Ambu,” kata Hendi seraya memberikan sebuah bungkusan kecil pada Mak Entin.
“Naon eta? Nak Hendi nggak usah repot-repot atuh. Ambu jadi Malu!” jawab Mak Entin sambil menerima bungkusan itu dari Hendi. Wajah Mak Entin sumringah.
“Nteu Nanaon Ambu, hanya sekedarnya. Kalau gitu saya pamit ajak Nien sebentar ya, Ambu ?”
“Ya… ya, silakan. Hati-hati di jalan ya!”
Mak Entin berdiri dan mengiringi langkah mereka keluar rumah. Ada satu harapan di hatinya melihat Hendi dan Nien berjalan beriringan. Harapan yang besar agar anaknya dapat menerima Hendi jadi pacarnya. Dan bersedia di peristri anak kepala desa itu. Ia tak Ingin Nien seperti dirinya. Hidup bekerja keras di usia senja hanya untuk menghidupi keluarganya.
Diperistri Hendi adalah jalan untuk mengeluarkan Nien dari kehidupan yang serba pas-pasan ini. Anak kepala desa itu sudah mapan. Pekerjaannya bagus dan sudah punya bekal untuk hidup berumah tangga.
Mak Entin tak mengerti dengan jalan pikiran Nien yang tak mau menerima Hendi. Kepala Nien sudah dipenuhi dengan angan-angannya untuk hidup di Jakarta. Sementara beribu ketakutan menjejali pikiran Mak Entin.
Jakarta yang seperti ia lihat di TV begitu banyak resikonya, apalagi untuk seorang gadis seperti Nien. Banyak sinetron TV yang menggambarkan pengaruh buruk. Pergaulan bebas pada remaja seusia Nien. Pengaruh narkoba. Bisa saja Nien terlibat di dalamnya atau bahkan terjebak! Dan hamil di luar Nikah!
Mak Entin menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bisa saja semua itu menimpa anak gadisnya. Nien yang masih lugu bukan tak mungkin menjadi makanan empuk orang-orang yang tak menyukainya. Apa yang di lihatnya di TV bukan tak mungkin terjadi pada anaknya. Bayangan pergaulan bebas remaja Jakarta yang sering ditontonnya di TV semakin membuatnya takut.
Di tariknya napas dalam-dalam. Ada penyesalan atas izinnya pada Nien untuk ikut seleksi di sekolahnya tempo hari. Saat itu yang ada dalam pikirannya cuma ingin melihat anaknya berprestasi di sekolah. Tak pernah terpikirkan kalau Nien punya tekad yang tak pernah Mak Entin tahu sebelumnya. Seandainya saja aku tak memberi izin Nien ke Jakarta. Atau seleksi di sekolah itu tak ada, pasti Nien tak akan punya pikiran untuk ke Jakarta. Abah… kalau saja Abah masih ada, tak mungkin aku sekhawatir ini, desahnya dalam hati.
Other Stories
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...
Sumpah Cinta
Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...