Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Reads
3.9K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
mr. boros vs mrs. perhitungan
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Penulis Ariny Nh

7. Bagai Tom And Jerry

I Hate Monday, itu yang dirasakan Radith. Pasalnya di hari Senin, minggu pertama bulan Februari, Radith sudah mulai bekerja di rumah Rani untuk membuat adiknya tertawa. Sebenarnya ia malas bekerja di rumah Rani, soalnya Rani musuh bebuyutannya dari SD. Tapi demi duit ia terpaksa menerima kerjaan itu.
Toh, ia kerja di rumah Rani cuma seminggu, itupun jam kerjanya satu jam. Sekitar jam sembilan pagi, Radith sudah tiba di rumah Rani. Eits, ia datang ke rumah tak sendirian, tapi bersama Tandy. Soalnya ia merasa tak sanggup jika melawak sendirian, ntar yang ada lawakannya jadi garing.
Begitu Radith memasuki rumah Rani, tiba-tiba matanya tertuju sama satu cewek cantik sekitar umur 18 tahun yang baru saja keluar dari kamarnya bersama Adelia. Wajah cewek itu cantik jelita, kulitnya putih, hidungnya mancung, bulu matanya lentik, dan bibirnya tipis agak kemerah-merahan. Pokoknya sempurna di matanya. Sayangnya cuma satu, bibirnya cemberut terus. Tapi hal itu tidak mengurangi kecantikannya. Seketika wajahnya mengalihkan duniaku, batin Radith. Cielah Afgan banget. *plak.
Rani mendekati cewek cantik itu. “Oh ya Dith… ini adek gue namanya Andhina. Gue harap lo bisa membuatnya tertawa hari ini.”
Radith mengangguk. “Oh, jadi ini toh adeknya Rani. Cantik juga, lebih cantik dari Rani. Pokoknya gue harus bisa bikin Andhina ketawa. Siapa tahu setelah gue berhasil bikin Andhina tertawa, Rani langsung mengangkat gue jadi adek iparnya. Hihihi” batin Radith senang.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Radith. Radith menoleh ke samping, si Tandy lagi cengengesan. Sudah pasti ia yang menampar Radith barusan. Awas aja ntar bakal gue balas dia tiga kali lipat.
“Lo lagi mikir yang macem-macem ya? Udah jangan kebanyakan mimpi, mendingan sekarang kita beraksi aja,” ujar Tandy berbisik di telinga Radith.
“Kamu tahu nggak nama Ibu Kartini?” tanya Radith sama Tandy mengawali banyolan.
“Nggak, siapa coba namanya?”
“Harum?”
“Kok bisa?”
“Coba deh kamu nyanyikan lagu Ibu Kita Kartini!”
“Ibu kita Kartini putri sejati. Putri Indonesia harum namanya.”
“Nah, berarti Harum kan namanya?”
“Oh iya gue lupa.”
Radith memandangi orang-orang di depannya. Orang-orang di depannya ada Rani, Adelia, satu orang asisten rumah tangga dan tentunya Andhina. Mereka bertiga hanya nyengir kuda, bahkan sama sekali tak nyengir.
Berarti banyolan gue yang pertama gagal. Gue berusaha beraksi membuat lelocon lagi agar Andhina bisa tertawa.
“Cewek gue yang baru keren tau. Dia anak rock, jauh lebih keren dari lo,” ujar Radith pada Tandy. Ceritanya sekarang Tandy jadi mantan Radith.
“Cowok gue yang baru juga keren. Lebih keren daripada lo. Dia anak boyband.”
“Keren dari mana?”
“Kita bisa tukeran make up.”
“Tetap kerenan cewek gue yang baru. Dia anak rock. Jadi gue dan dia bisa tukeran rok.”
“Hahaha…” kali ini terdengar tawa dari mulut asisten rumah tangga Rani. Alhamdullillah, berarti banyolan gue lumayan lucu.
Radith mengedarkan pandangan ke arah Andhina. Ia sama sekali tak tertawa. Jangankan tertawa, nyengir aja tidak, wajahnya tetap cemberut.
Radith menggaruk kepala yang nggak gatal. Asli, Radith bingung bikin Andhina ketawa. Tiba-tiba ia teringat kejadian tanggal 16 September 2010. Waktu itu Radith lagi ospek masuk kampus, nah ia disuruh senior menyanyikan lagu SM#SH judulnya cenat-cenut. Tapi huruf vokalnya diganti O semua. Orang-orang ada di kampus tersebut semuanya tertawa terbahak-bakak mendengarnya menyanyikan lagu itu.
Cling!
Bola lampu di otak Radith menyala. Akhirnya ide muncul juga. Idenya adalah memakai cara itu buat bikin Andhina ketawa. Siapa tahu berhasil. Ia menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Lalu mulai menyanyikan lagu tersebut.
Oko toho konopo hotoko conot conot
Mongkon soot Oto koo sodong kontot
Oko toho konopo koo jodo molo
Mongkon koo soloh, soloh poko bojo (bojo mortoo)
Ko toho konopo lodohmo kolo
Mongkon soot oto koo tolot monom soso.. mowww..
Oko toho konopo morondong bolo romomo
Mongkon do bolokongmo odo onok kontolonok
Bobormo dowor... Bobormo dowor.
Conot conot conot conot, koyok bodot koyok bodot
Kolo logo ngoroyo cowok
Lagi-lagi banyolan Radith gagal, Andhina sama sekali tak tertawa.
“Eh Radith, lo sebenarnya bisa melawak nggak sih? 3 banyolan lo itu garing semua. Jangankan bikin Andhina ketawa, bikin gue ketawa aja nggak!” seru Rani tersenyum meledek sinis ke arah Radith.
“Enak aja lo ngomong! Nih, ye asal lo tau, gue ini rajanya ngelawak.”
“Kalau lo rajanya ngelawak, kenapa coba dari tadi semua lawakan lo garing.”
“Itu karena ada lo di depan gue.”
“Apa hubungannya ma gue?”
“Lo kayak Mak Lampir makanya gue nggak bisa konsterasi mengeluarkan banyolan yang lucu.”
Tiba-tiba Rani melemparkan bantal sofa ke arah Radith. Bantal itu mendarat di kepala Radith. Ia mengusap kepalanya. “Lo apa-apaan sih sembarangan aja lempar-lempar bantal ke gue!”
“Lo tuh apa-apaan, gue cantik jelita mirip Dian Sastro masa dikatain Mak Lampir?”
“Kalau bukan Mak Lampir, apa coba namanya? Lo yang ketahuan nyontek eh malah nyolot, harusnya lo berterima kasih karena gue nggak ngaduin lo ke guru dulu.”
“Udah! Stop! Jangan berantem mulu! Kalian berantem malah bikin perkembangan Andhina semakin memburuk.”
Tandy melirik jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Dith, mending kita pulang deh. Waktu kita ngelawak hari ini sudah habis.”
“Ya udah deh. Gue pamit pulang dulu ya! Nggak betah gue lama-lama di rumah Mak Lampir.”
“Pulang sono, gue juga ogah lo berlama-lama di rumah gue!”
Rani mengangkat bantal lagi. Dari gelagatnya, Radith tau bahwa Rani bersiap melempar bantal ke arahnya. Sebelum hal itu terjadi, secepat kilat Radith ngacir dari rumah Rani.
“Ya, Tuhan… gini ya susahnya cari duit? Pengen dapet duit gede aja harus siap mental dulu menghadapi Mak Lampir,” batin Radith.
***
Hari kedua Radith kerja jadi badut untuk membuat Andhina tertawa lagi.
Hari ini Radith menghibur Andhina tidak di rumah Rani, melainkan di taman bermain. Kata Adelia, Andhina perlu dibawa keluar rumah biar fresh, dan taman bermainlah tempat yang dipilih Andhina.
Di taman bermain ini Radith tak mengajak Tandy ikut serta, soalnya Tandy katanya lagi sibuk UAS. Terpaksa deh Radith menghibur Andhina seorang diri. Ia memakai cara dengan mengenakan kostum badut, joget-joget tak jelas dan menyanyikan lagu potong bebek angsa.
Satu jam Radith joget-joget tak jelas sambil menyanyi lagu Potong Bebek Angsa hasilnya nihil. Andhina sama sekali tak tertawa, yang tertawa malah anak-anak kecil dan ibu-ibu yang ada di taman bermain ini.
Radith bingung sendiri harus memakai taktik apa lagi biar Andhina bisa tertawa lagi. “Dith, lo beliin ice cream yang di sana dong,” ujar Rani dengan menyerahkan uang dua ribuan.
Mata Radith melotot, “Emang lo kira gue babu lo bisa disuruh-suruh beli ice cream?”
“Saat lo memutuskan kerja sama gue, lo harus rela gue suruh-suruh. Buruan beliin ice cream buat gue!”
“Lo pelit banget sih jadi orang. Uang dua ribuan buat beli ice cream apa coba?”
“Gue bukannya pelit, tapi hemat. Segala sesuatu itu harus diperhitungkan. Pepatah mengatakan, berhematlah kamu sebelum masa miskinmu datang.”
Glek!
Radith menelan ludahnya. Apa yang dikatakan Rani barusan itu sangat menyindir Radith. Selama ia hidup di bumi ia tak pernah berhemat sedikitpun, makanya saat masa miskinnya datang tak punya tabungan sama sekali.
“Ye, malah bengong. Udah, buruan lo cari ice cream yang harga dua ribuan!” Rani menyambung ucapannya.
Radith memanyunkan bibir. Seumur hidupnya baru kali ini ia disuruh-suruh oleh orang lain. Tapi demi duit, Radith terpaksa menuruti permintaan Rani. Diambilnya duit dari Rani, lalu ia berjalan menuju tukang ice cream.
Sekitar lima menit, Radith kembali ke tempat di mana Rani duduk. “Nih, ice cream pesanan lo!”
“Makasih ya Dith,” ucap Rani tersenyum manis. Ini pertama kalinya Radith melihat Rani tersenyum manis. Entah mengapa Radith merasakan ada maksud terselubung di balik senyumannya itu.
“Dith, lo dari tadi kan berdiri mulu, lo pasti capek. Mending lo duduk di sini dulu!” Rani meminta Radith duduk di kursi panjang yang ada di taman. Radith melihat tingkah Rani, tumben-tumbenan Rani baik padanya. Saking linglungnya Radith menurut aja apa kata Rani.
Begitu Radith duduk di kursi panjang sesuai permintaan Rani, ia merasakan ada yang aneh dengan kursi dan pantatnya. Pasalnya pantatnya susah digerakin. Ia pun mencoba berdiri dari tempat duduk.
Breet!
Ya, celana Radith robek. Sadarlah Radith bahwa dirinya dikerjain Rani. Kursi panjang itu ternyata sudah dikasih lem oleh Rani.
“Hahahaha. Rasain. Itu baru lucu!” Rani tertawa terbahak-bahak. Muka Radith berubah jadi merah padam saking malunya.
Ia terbirit-birit sambil menutupi dengan tangan celana yang bagian pantatnya robek itu, “Awas lo Ran. Bakal gue balas tiga kali lipat!” gerutu Radith.
***
Hari ketiga Radith kerja jadi badut untuk membuat Andhina tertawa.
“Andhina dan Adelia mana? Tumben nggak keliatan?” tanya Radith ketika memasuki rumah Rani. Ia heran aja biasanya kalau Radith masuk ke rumah Rani, Adelia dan Andhina pasti sudah ada di ruang tamu.
“Dith, bikinin gue jus jeruk dong! Gue haus nih!” perintah Rani.
“Huft, baru aja gue nyampe di rumahnya udah disuruh-suruh,” Radith mengomel dalam hatinya.
Jika kemarin ia terpaksa melakukan perintah Rani, kali ini dengan senang hati ia memenuhinya. Pasalnya ia ingin balas dendam ke Rani melalui jus jeruk. Ia melangkahkan kaki ke dapur.
Di dapur ia membuat jus jeruk. Sekitar 10 menit jus sudah jadi, sebelum jus itu dikasih ke Rani, terlebih dahulu ia memasukkan obat tidur ke dalam jus.
“Nih, jus lo!” ujar Radith menyodorkan juz jeruk ke Rani.
Glek… glek… glek
Rani langsung menyeruput abis jus jeruk yang yang dibikin Radith. Begitu jusnya habis, Rani menguap lebar. “Huammm… kok gue jadi ngantuk ya?” gumam Rani.
Bruk!
Rani terjatuh, ia sudah berkelana di alam mimpi. Dengan cepat Radith membopong tubuh Rani dan meletakkannya di atas sofa. Kemudian Radith mengeluarkan spidol berwarna merah dari saku celananya.
Sebelum Adelia datang, tangannya dengan lincah mencoret-coret wajah Rani menggunakan spidol berwarna merah itu. Setelah puas coret-coret muka Rani, ia mengambil HP Tandy. Untuk mendapatkan HP itu ia harus merayu Tandy sampai satu jam dulu.
Radith teringat kehidupannya yang dulu-dulu sebelum jadi kere. Dulu dirinya hobi banget gonta-ganti gadget. Dari HP yang murah sampai HP paling mahal pasti dibeli. Jika HP-nya dikumpulin sekarang, pasti dirinya sudah bisa buka counter jual beli HP seken. Hidup memang terus berputar seperti roda, kenyataannya Radith yang sekarang untuk bisa megang HP smartphone aja ia harus merayu Tandy dulu.
Andai di hadapannya ada kotak tissue, ia pasti menghabiskan tissue satu kotak untuk meratapi kengenesan hidupnya sekarang. *plak. Untung ia cepat sadar, tujuannya meminjam HP Tandy bukan untuk meratapi nasibnya sekarang, melainkan untuk balas dendam ke Rani.
Click!
Ia memotret wajah Rani di HP Tandy. Radith tersenyum puas, apa yang direncanakannya tadi malam berjalan lancar. Ia sengaja memotret wajah Rani yang lagi penuh dengan coretan. Pasalnya foto itu nantinya akan dijadikan Radith sebagai senjata untuk mengancam Rani jika Rani macam-macam, ia akan menyebarkan foto itu di sosial media.
“Mampus lo, Ran. Jika kemarin-kemarin gue jadi babu lo, sekarang lo yang bakal jadi babu gue. Dengan foto ini gue yakin 100% lo nggak akan bisa nolak perintah gue! Hahaha…” hati Radith tertawa bahagia.
“Hoammm…” Radith juga menguap lebar. Rasa kantuk luar biasa kini menyerang mata Radith juga. Mungkin ini efek tadi malam tak tidur. Sebenarnya sejak tinggal di rumah Tandy, dirinya jarang tidur malam hari, soalnya nyamuk-nyamuk di rumah Tandy demen banget menciumi kulitnya.
“Berhubung Rani masih tidur. Gue juga mau tidur deh.”
Radith duduk di samping Rani. Dalam sekejap ia tertidur dengan posisi duduk.
Satu jam kemudian.
“Huwaaaaa… siapa yang coret-coret muka gue?” teriak Rani. Teriakan Rani langsung membuyarkan mimpi indah Radith. Saat membuka mata ia melihat Rani berada di depan cermin dengan ekspresi wajah kesal.
“Hahaha… rasain. Itulah balasan buat lo yang udah ngerjain gue kemarin,” sekarang giliran Radith menertawakan Rani.
Rani memasang wajah murka, wajahnya horor banget seperti harimau yang siap menerkam mangsanya. “Oh jadi lo yang coret-coret wajah gue…”
Rani melepas sandalnya. Dari gelagatnya Radith tahu bahwa sebentar lagi sandal itu akan melayang dan mengenai dirinya. Sebelum hal itu terjadi ia dengan cepat menangkis lemparan dari Rani.
“Eits, nggak kena. Weee…” Radith menjulurkan lidahnya ke Rani. Rani semakin murka.
Radith berlari di sekitar rumah untuk menghindari serangan Rani. Dan Rani pun tak mau kalah ia terus mengejar Radith. Maka terjadilah aksi kejar-kejaran.
Tiba-tiba pintu rumah Rani terbuka. “Astaga, kalian ini kayak Tom and Jerry aja main kejar-kejaran. Bisa nggak sih sehari aja kalian berdamai?” seru Adelia.
Seketika Rani dan Radith menghentikan aksi kejar-kejarannya. Mereka menoleh ke arah pintu rumah. “Gue berdamai ma cowok tengil macam dia? Cuih, ogah. Gue benci setengah mampus ma dia!” ujar Rani.
“Sama. Gue juga benci sama dia, ogah banget deh berdamai ama Mak Lampir,” Radith menimpali.
“Tunggu, kalian tadi saling benci… hati-hati, jangan terlalu benci seseorang, ntar lama-lama benci bilang cinta,” goda Adelia.
“Whats? Gue sama dia benci bilang cinta? No way!” ucap Radith kompakan dengan Rani.
“Tuh, kan… kalian itu emang jodoh. Buktinya kompakan gitu,” Adelia tersenyum jahil.
Rani hanya bisa tertegun memikirkan kata-kata Adelia. Benci jadi cinta? Hal itu bukan ada di film, lagu atau novel saja, banyak teman-temannya yang mengalami benci jadi cinta. Mungkinkah ia juga akan seperti itu?
Bayangan dirinya pacaran sama Radith terlintas di pikirannya, lalu ia diledekin Adelia kena karma. Ia mendesah napas berat. Sejenak menggelengkan kepala. “Hal itu nggak boleh terjadi. Gue nggak bakal jatuh cinta sama Radith!” tekad Rani bulat.
***

Other Stories
Kado Dari Dunia Lain

Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...

Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...

Keluarga Baru

Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Dua Bintang

Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...

Download Titik & Koma