9. Getaran Cinta
Rani sekarang berada di depan gudang yang ada di Kasih Bunda Hospital. Ia tak habis pikir, dari sekian banyak tempat yang ada di Jakarta, entah mengapa sahabatnya itu memilih gudang ini untuk dijadikan tempat diskusi mengenai kesembuhan Andhina.
“Sorry, gue telat datang. Tadi gue ketiduran,” Rani mendengar suara cowok di sebelahnya. Dari suaranya sudah tak sing lagi di telinga Rani. Sepertinya pemilik suara itu tak lain dan tak bukan adalah Radith. Ia pun menoleh ke samping. Dan ternyata dugaannya benar.
“Dith, lo ngapain ke sini?”
“Gue ke sini disuruh Adel, katanya ada yang mau dibicarain ke gue tentang kesembuhan Andhina.”
Rani mendengus kesal. Lagi-lagi ia harus berhadapan dengan Radith. “Gue heran ma Adel, udah tau gue benci setengah mampus sama Radith, eh sekarang dia ngundang Radith juga. Apa sih yang bakal diomongin Adel?”
“Sekarang Adel-nya mana?” tanya Radith.
“Nah, gue sendiri juga nggak tau di mana Adel. Soalnya dari tadi gue nggak liat batang hidungnya sama sekali.”
Untuk memastikan di mana keberadaan Adelia, Rani mengambil HP dari dalam tas. Ia pun mengetik sebuah SMS.
Del, lo ada di mana? Gue sama Radith sudah ada di depan gudang yang ada di Kasih Bunda Hospital nih!
“Apa Adel sudah ada di dalam gudang ini untuk menunggu kedatangan kita ya?” tanya Radith lagi.
“Hmmm… bisa jadi sih. Coba lo buka pintu gudangnya!”
Radith membuka kenop pintu gudang. Lalu melangkah maju memasuki gudang. Tak lama kemudian Rani mengikuti langkah Radith memasuki gudang ini, “Del, lo ada di dalam kan? Gue sama Radith udah datang nih,” ucap Rani.
Hening, sama sekali tak ada jawaban dari Adelia. “Aneh, Adelia ke mana sih? Dia yang minta gue datang ke sini, masa sekarang dia nggak ada di tempat? Atau jangan-jangan Adel pingsan di gudang ini makanya dia nggak bisa menjawab pertanyaan gue.”
Pikiran buruk mulai bersarang di otak Rani. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu Rani terus melangkah maju, mencari keberadaan Adelia. Di sebelah Rani ada Radith yang mendampinginya mencari Adelia. Namun tiba-tiba…
Brak!
Pintu gudang tertutup dengan sendirinya. Rani dan Radith berlari menghampiri pintu gudang, lalu tangan mereka menggedor-gedor pintu gudang. “Woy, siapa di luar? Iseng banget sih ngunciin gue di gudang! Cepetan bukain dong!” teriak Radith.
“Iya nih. Siapa pun yang ada di luar tolong bukain pintunya dong! Gue takut gelap nih!” Rani juga ikut berteriak.
Lima belas menit mereka teriak minta tolong, namun hasilnya nihil. Pintu gudang tetap tak terbuka. Air mata di pelupuk mata Rani mulai mengucur deras. Sepanjang hidupnya hari ini merupakan hari paling menyeramkan.
Ia paling takut sama yang namanya gelap. “Aduh, sampai kapan gue ada di sini? Satu hari? Satu minggu? Satu bulan? Atau seumur hidup?”
Ia bergidik ngeri membayangkan dirinya terkunci di gudang ini berbulan-bulan. “Ah, gue nggak mau mati di tempat ini. Nggak keren banget mati di gudang, bersama orang paling menyebalkan pula. Huwaaa…” teriak Rani lagi.
“Ran, lo bisa nggak sih nggak usah teriak-teriak gitu? Berisik tau! Yang harus lo pikirkan adalah gimana caranya kita bisa keluar dari gudang ini! Gue nggak mau mati bareng lo!
Rani memanyunkan bibirnya. “Radith, bukannya nenangin gue malah ngomelin gue!”
Rani sadar apa yang dikatakan Radith ada benarnya. Teriak-teriak doang takkan bisa membuat pintu gudang ini terbuka. Ia pun mulai berpikir keras, mencari cara agar pintu terbuka. Tapi nyatanya otaknya sama sekali tak bisa digunakan berpikir dalam situasi seperti ini.
Satu-satunya cara ialah dengan berdoa. Rani mengangkat kedua tangannya. “Ya, Allah tolong aku! Buatlah pintu gudang ini terbuka. Aku tak mau mati di tempat ini!” Rani berdoa dalam hatinya.
Mendadak Rani merasakan kakinya dikerubuti oleh sesuatu, ia pun menundukkan kepala ingin melihat apa yang mengerubuti kakinya itu. “Huwaaa… tikus dan kecoa! Tidak!” Rani berteriak sekencang-kencangnya ketika di sekitar kakinya penuh dengan tikus dan kecoa.
Selain takut ruangan gelap, Rani juga sangat takut dengan makhluk yang bernama tikus dan kecoa. Tanpa aba-aba lagi Rani mengambil langkah seribu untuk menghindari makhluk menyebalkan itu.
Sialnya dua makhluk itu malah mengikuti langkah Rani. “Radith, tolongin gue dong! Lo singkirin tikus dan kecoa itu dari hadapan gue!”
“Yee… gimana gue mau nyingkirin tikus-tikus itu, gue sendiri aja bingung gimana cara nyingkirin kodok-kodok menjijikkan yang ada di depan gue ini.”
“Ah, sial. Ternyata Radith takut kodok. Dia juga lagi sibuk menghindari kodok-kodok itu.”
Namun tiba-tiba bola lampu di kepala Rani menyala. Ia berhasil menemukan ide cemerlang. “Gimana kalau kita saling membantu? Gue bantuin lo nyingkirin kodok, dan lo bantuin gue nyingkirin tikus dan kecoa.”
“Wah, boleh juga ide lo. Oke, deal. Gue setuju.”
Rani dan Radith mencari-cari plastik atau karung di sekitar gudang. Mereka ingin memasukkan binatang-binatang itu ke dalam karung. Beruntung akhirnya mereka segera menemukannya. Tanpa banyak buang waktu, Rani bergegas menangkap kodok-kodok lalu ia memasukkan kodok-kodok itu ke karung yang dipegangnya.
Begitu pula dengan Radith, ia sibuk menangkapi tikus dan kecoa yang berkeliaran untuk dimasukkan ke karung yang dipegangnya juga.
Tak terasa satu jam telah berlalu, akhirnya mereka selesai memasukkan binatang-binatang yang berkeliaran ke karung. Sekarang gudang bersih dari binatang menjijikkan. Rani dan Radith terduduk lemas di sudut gudang.
Rani mengusap peluh yang membanjiri jidatnya. “Huft, capek juga ya menangkap binatang-binatang menjijikkan itu.”
Tak ada sahutan dari Radith. Entah mengapa perasaan Rani jadi tak enak. Ia menoleh ke samping. Detik itu juga ia melihat Radith pucat, memegangi dada dan sulit bernapas. “Dith, lo kenapa? Lo baik-baik aja kan?” tanya Rani dengan nada panik.
“Pe… nyakit asma gue kambuh…” Radith menjawab pertanyaan Rani dengan napas yang tersengal-sengal.
“Aduh, gimana nih?” Rani semakin panik. Otaknya berpikir keras bagaimana cara mengobati penyakit asma dengan sederhana.
“Cara sederhana mengobati penyakit asma adalah menghirup aroma minyak kaya putih dan jangan panik.”
Kata-kata ibu guru waktu di SMP kembali terngiang di telinganya. “Ah, untung tadi pagi gue bawa minyak kayu putih. Bentar gue ambil dulu!”
Cepat-cepat Rani mengambil minyak kayu putih dari tasnya. Lalu ia memberikan minyak kayu putih itu kepada Radith. “Nah, sekarang lo tenangin diri. Jangan panik! Lo perlahan menghirup oksigen dari hidung serta menghembuskan napas melewati mulut,” Rani mencoba menangkan Radith.
Radith mengikuti apa yang dikatakan Rani. “Gimana udah agak mendingan.”
“Ya, lumayanlah. Thanks ya, Ran.”
“Iya, sama-sama. Sekarang lo istirahat gih.”
“Boleh gue minta izin sama lo?”
“Minta izin apa?”
“Gue cuma mau minta izin buat menyandarkan kepala gue di bahu lo.”
“Ya, udah deh. Boleh.”
Radith menyandarkan kepalanya di bahu Rani. Diliriknya Radith, ia sudah tertidur pulas. Bisa jadi Radith kelelahan menangkap binatang-binatang berkeliaran itu makanya tidurnya cepat. Entah mengapa duduk berdekatan dengan Radith, Rani merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya.
Dag… dig… dug
Sesuatu yang aneh itu terletak di jantungnya. Ya, bergetar hebat. “Ya Tuhan… getaran apa ini? Getaran ini belum pernah muncul saat gue berdekatan dengan cowok. Apakah ini yang namanya cinta?”
Tiba-tiba Rani merasakan sakit perut yang luar biasa. Rani sadar sakit perutnya itu bukan sakit perut biasa, melainkan sakit maagh-nya kambuh. Pagi ia tadi belum sarapan. Ia mengubek-ubek isi tasnya, mencari obat maagh. Namun apa yang dicarinya tak kunjung ditemukan.
“Ah, sial. Gue lupa bawa obat maagh,” gerutu Rani.
Jalan satu-satunya adalah Rani mengusap minyak kayu putih ke bagian perutnya. Tapi itu tak mempan, justru rasa sakit semakin menjadi-jadi. Akhirnya dalam sekejap Rani tak sadarkan diri.
***
Saat Rani membuka mata, remang-remang dan buram pun menjadi dasar warna penglihatannya. Bau obat menusuk indra penciumannya. Tak salah lagi ini di rumah sakit. Kok aku bisa ada di rumah sakit? Terakhir yang aku ingat, aku nggak sadarkan diri ketika penyakit maaghku kambuh saat terkunci dalam gudang bersama Radith.
Orang pertama yang dilihat Rani saat membuka mata adalah Adelia. Rani hendak bangun namun dicegah Adelia.
“Adel, lo ke mana aja? Tadi gue terkunci dalam gudang sama Radith gara-gara nyari lo. Gue pikir lo pingsan dalam gudang, makanya kami masuk ke gudang.”
“Maafin gue ya. Tadi gue nungguin kalian di depan gudang tapi kalian nggak datang-datang. Terus gue ditelepon nyokap, pulang sebentar gue. Pas gue balik ke gudang, eh nemuin lo pingsan di dalam gudang.”
Otaknya Rani tiba-tiba teringat Radith. “Radith mana? Dia nggak apa-apa kan? Gue benar-benar mengkhawatirkannya, takut terjadi apa-apa sama Radith.”
“Hah? Gue nggak salah denger nih? Lo mengkhawatirkan Radith? Bukannya lo benci setengah mampus sama Radith? Jangan-jangan lo dah mulai jatuh cinta sama Radith?” tanya Adelia bertubi-tubi.
“Tapi lo tenang aja, Radith ada di sebelah lo tuh!” sambung Adelia.
Rani menoleh ke sampingnya. Benar, Radith ada di sebelahnya. Radith terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Hati Rani sedikit tenang, setidaknya Radith sudah mendapat pertolongan dari dokter.
“Woy, kok malah bengong? Pertanyaan gue tadi juga belum dijawab, lo dah mulai jatuh cinta sama Radith?” Adelia mengulang pertanyaannya.
Rani tersipu malu. Mungkin pipinya sudah merah merona, ia berusaha menutupi hal itu dari Adelia. “Gue jatuh cinta sama Radith? No way! Gue itu khawatir karena tadi dia dekat gue, nah kalau dia mati pas di samping gue kan bisa berabe. Ntar gue tertuduh membunuh Radith,” Rani mencoba ngeles dari Adelia. Padahal di lubuk hatinya ia membenarkan apa yang dikatakan Adelia.
“Ya, sepertinya gue memang sudah jatuh cinta sama Radith.”
Other Stories
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Kesempurnaan Cintamu
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...
315 Kilometer [end]
Yatra, seorang pegawai kantoran di Surabaya, yang merasa jenuh dengan kehidupan serba hedo ...
Cahaya Di Ujung Mihrab
Amara adalah seorang wanita yang terjebak dalam gemerlap dunia malam yang hampa, hingga se ...
Rei Kazama
Sebuah helm retak. Sebuah arwah yang tak bisa pergi. Dan seorang gadis yang bisa mendengar ...