14. Akhirnya Penembakan Lancar
Sekitar jam sembilan pagi, Radith telah berada di sebuah tempat. Nama tempatnya itu Tanah Tingal. Di tempat inilah Radith ingin menyatakan cinta pada Rani. Tempat ini sangat strategis, lokasinya di Jl. Mepati Raya no.32B Desa Sawah Baru, Jombang-Ciputat, Tangerang, tak jauh dari rumah Tandy dan bimbingan belajar tempat Rani mengajar. Selain itu, hari ini Rani akan mengajar matematika di tempat ini, katanya sih cari suasana baru, biar gak bosan
Radith berdecak kagum memandangi Tanah Tingal ini. Jelas jadi tempat ini matanya langsung disejukkan oleh hamparan pohon hijau dan jajaran pohon kelapa. Bisa dibilang selain keindahan alamnya, daya tarik wisata seluas 9 hektar ini juga terletak pada program petualangan keluarga yang ditawarkan, seperti flying fox, kano, meniti jembatan tali, melihat burung, melukis dengan cat alami.
Setengah jam telah berlalu. Dahi Radith berkerut sebab sedari tadi ia berada di tempat ini, ia sama sekali tidak melihat keberadaan Tandy bersama timnya. Ke mana mereka? Bukankah ia tadi malam sudah bilang ke Tandy bahwa harus tiba di lokasi penembakan tepat jam 9 pagi?
Radith meraih HP dari saku celananya. Ia ingin menelepon Tandy untuk menanyakan keberadaan Tandy.
Tuuuut… tuuut
Sambungan belum juga tersambung. Hingga akhirnya terdengar jawaban, “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.” Radith langsung mematikan sambungan telepon, lalu ia mencoba menghubungi Tandy lagi. Ternyata hasilnya sama aja.
Ia pun mengetik sebuah pesan singkat untuk Tandy.
To : Tandy
Bro, lo lagi ada di mana? Gue udah ada di lokasi penembakan nih. Lo cepet ke sini ya?
Namun sial, sms yang ia kirim tidak terkirim. Radith jadi gelisah tak menentu. Hati kecilnya mengatakan terjadi sesuatu yang nggak beres dengan Tandy.
“Apa gue datangin Tandy ke rumahnya aja ya? Siapa tau dia lupa.”
Setelah berpikir lama akhirnya Radith memutuskan mendatangi rumah Tandy. Toh, rumah Tandy tak jauh dari tempat ini.
***
Tak perlu waktu lama, cukup 10 menit saja Radith telah sampai di depan kosan. Begitu turun dari ojek ia melihat pintu rumah kosan terbuka lebar. Selain itu ia juga melihat ada 4 orang cowok berbadan gede semua.
“Mungkin mereka teman-teman Tandy yang membantu aksi penembakan gue ke Rani,” pikir Radith.
Radith bergegas masuk ke rumah Tandy. Ia tak sabar ingin mengetahui alasan Tandy sampai jam segini belum berangkat juga ke lokasi penembakan.
“Tan, gimana jadi nggak kita bantuin teman lo itu nembak cewek yang namanya Rani?” tanya orang yang berambut gondrong.
“Ngapain kita capek-capek bantuin Radith nembak Rani? Gue malah berharap penembakannya itu gagal total.”
“Kok gitu Tan? Bukannya lo tadi malam menyetujui tawaran Radith?”
“Gue nggak rela Radith mendapatkan cinta Rani. Gue yang lebih dulu mencintai Rani. Kalau soal tadi malam itu cuma pura-pura aja. Jika gue nggak gitu ntar Radith bakal nyuruh orang lain buat melancarkan aksi penembakannya.”
Langkah Radith terhenti. Tubuhnya terpaku, mulutnya tak bisa berkata lagi. Ia tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Tandy yang sudah ia anggap saudara ternyata tak lebih dari bangkai. Tandy tega menusuknya dari belakang.
“Gue nggak nyangka, Tan lo berbuat gitu sama gue. Gue nyesel banget sahabatan ma lo.”
Usai berkata demikian Radith langsung pergi dari rumah Tandy. Buat apa juga ia lama-lama di rumah pengkhianat itu.
Di dalam mobil Radith meraih HP, ia ingin menelepon sahabatnya yang anak band. Ia ingin meminta bantuan sahabatnya itu dalam melancarkan aksinya menembak Rani. Ada atau tanpa bantuan Tandy, penembakan harus tetap berjalan.
“Hai bro, apa kabar? Tumben lo nelepon.”
“Lo masih jadi anak band kan?”
“Masih dong, emang ada apa?”
“Boleh nggak gue minta bantuin lo?”
“Bantuan apa?”
“Gini… gue sekarang mau nembak cewek. Gue ingin lo sama band lo itu nyanyiin lagu romantis saat penembakan. Gimana, bisa nggak? Berapa pun gue bayar deh.”
“Bisa sih, tapi masalahnya band gue vokalisnya lagi sakit, terus gimana dong?”
“Kalau soal itu gampang. Gue cuma perlu orang yang bisa main alat musik. Gue pengen nembak dia dengan baca puisi diiringi musik romantis.
“Oke, kami bisa kok. Ketebulan band gue lagi sepi job. Di mana lokasi penembakannya?”
“Di Tanah Tingal. Lo tau kan tempatnya?”
“Tau dong. Oke, sekarang juga kami ke sana ya?”
Tuuuutt… tuuut
Radith memutuskan sambungan telepon. Ia benapas lega, akhirnya ada juga yang mau membantunya dalam melancarkan aksi penembakannya pada Rani. Tanpa banyak cincong Radith langsung jalan ke lokasi penembakan.
****
Setengah jam kemudian Radith kembali lagi ke tanah tingal. Suasana di tempat ini sudah berubah, tidak seperti pagi tadi. Sekarang makin penuh dengan banyak orang dan ditambah penuh kamera-kamera.
“Hemmm… pasti Rani sudah datang dan di sini ada yang lagi syuting FTV. Inilah saat yang tepat untuk menyatakan cinta. Gue ingin semua orang di tempat ini menjadi saksi cinta gue sama Rani,” gumam Radith.
Sebelum melakukan aksi penembakan, ia terlebih dulu mengirimkan sebuah pesan kepada temannya yang anak band.
To : Reyzandi.
Bro, lo dan band lo sudah ada di tempat penembakan lum?
Baru beberapa menit terkirim, HP Radith berbunyi lagi. Di layar HP-nya tertulis 1 pesan diterima. Cepat-cepat Radith klik open.
From : Reyzandi
Iya, nih kita dah sampai di tempat penembakan. Lo dah nyampe? Kapan nih kita mulai main band-nya.
Radith langsung membalas pesan dari temannya itu.
To : Reyzandi
Iya, gue sudah ada di lokasi kok. Mulai main sekarang juga. Lagu yang dimainin itu lagu Ungu “Saat Indah Bersamamu” versi akustik ya.
Tak lama kemudian terdengar intro alunan musik lagu Ungu, sesuai yang Radith inginkan. Radith mengambil kertas yang berisi puisi andalannya dari saku celana.
Dag… Dig… Dug
Jantung Radith berdebar-debar. Ini kali ya rasanya ingin menyatakan cinta pada cewek. Soalnya kemarin-kemarin cewek yang menyatakan cinta padanya. Radith mencoba menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya secara perlahan. Setelah sudah agak tenang, baru deh Radith mulai membacakan puisi untuk Rani.
Rani….
Wajah cantikmu adalah cahayaku
Cahaya yang selalu menerangi hatiku
Kubahagia karena telah mengenalmu
Kau membuat hidupku lebih berwarna dan sempurna
Ketika selesai membaca puisi, ia telah berada di depan Rani. Ya, tadi dia baca puisi sambil berjalan. Radith pun berlutut di depan Rani sambil memegang tangannya. Rani hanya bengong dengan dahi berkerut. Entah ia kaget dengan kedatangan Radith atau ia tak suka Radith hadir di tempat ini.
“Radith, lo apa-apaan sih? Malu tau, apalagi di depan anak-anak.”
“Malu tapi mau kan?” goda Radith.
Alunan musik yang dimainkan band Reyzandi sudah sampai bagian reff. Radith menyanyikan lagu Ungu itu di depan Rani. Ia tak peduli dengan orang-orang sekitar.
Harus kuakui aku sayang kamu
Aku cinta kamu
Oh hanya pada dirimu
Kuingin kau mampu terima hatiku
Terima akan cintaku.
“Ran, detik ini juga maukah kamu jadi pacarku?” tanya Radith dengan mimik wajah serius. Rani tampak garuk-garuk kepala.
“Hemmm… gimana ya?”
Radith mengeluarkan dua tangkai bunga dari saku jaket. “Jika kamu menerima cintaku, ambillah setangkai bunga mawar putih ini. Namun jika kamu menolakku, ambillah setangkai bunga mawar merah,” ucap Radith.
Rani memandangi orang-orang sekitar, nampak dia sedang bingung dan meminta saran dari mereka.
Terima… Terima… Terima
Sorak-sorai orang-orang sekitar meminta Rani menerima cinta Radith. Tangan Rani mulai bergerak hendak mengambil setangkai bunga yang dipegang Radith. Jantung Radith makin berdegup kencang. Ia pun menutup kedua matanya, ia takut Rani akan mengambil setangkai bunga mawar mewah yang artinya Rani menolak cintanya.
Jlep!
Ia merasakan setangkai bunga mawar sudah hilang dari tangannya. Namun tak lama kemudian ia juga merasakan setangkai mawar hilang dari tangan satunya lagi. Ia perlahan membuka mata. Seketika dirinya mendapati wajah Rani tersenyum manis sambil memegang setangkai mawar putih dan mawar merah.
Radith menaikkan satu alisnya. “Itu artinya? Kamu menggantung cintaku, Ran?”
“Iya, Radith aku menerima cintamu. Tapi aku nggak mau pacaran sebelum adikku sembuh,” ucap Rani.
Radith terpaku tak percaya dengan jawaban Rani. “Rani menerima cinta gue? Mimpikah ini?” batin Radith.
Plak!
Radith menampar pipinya sendiri. Yang ia rasakan perih di pipinya. Berarti ini bukan mimpi. Radith melonjak kegirangan dan langsung menggendong Rani.
Meskipun tadi sempat ada halangan kecil saat melaksanakan aksi penembakan, namun pada akhirnya penembakan berjalan lancar. Bahkan Rani menerima cinta Radith. Walaupun pacarannya ditunda dulu sampai adiknya Rani sembuh. Itu tak masalah bagi Radith, yang penting baginya, cintanya ke Rani tak bertepuk sebelah tangan.
“Rani, I Love U.” Radith berbisik di telinga Rani.
“I love you to, tapi kamu harus janji kamu bakal bikin adikku sembuh?”
“Oke, aku janji. Tapi gimana caranya? Kamu kan mempekerjakan aku sebagai badut Andhina hanya seminggu. Hari ini kan terakhir.”
“Masa kerjamu aku perpanjang lagi sampai adikku sembuh total.”
“Asyik, berarti aku bisa dekat denganmu terus.”
“Tentu.”
“Hore… cinta gue diterima. Woy, semua yang ada di tempat ini, berhubung gue lagi berbahagia, kalian semua boleh makan bakso gratis!” teriak Radith girang.
Saking bahagianya, Radith tak segan-segan mentraktir orang banyak untuk makan bakso gratis. Ia tak peduli berapa kerugiannya hari ini. Inilah cinta, bisa membuat lupa segalanya.
***
Seorang cowok mondar-mandir tak jelas di kamarnya. Hatinya benar-benar gelisah. “Aduh, kenapa jadi kayak gini sih? Kenapa coba gue pake jatuh cinta segala sama cewek itu? Dia itu tambang emas gue, kalau dia nggak ada, gue nggak bakal dapet duit lagi deh. Terus gue ngatain apa coba sama wanita yang gue temui tiga bulan yang lalu?” gerutunya sambil menjambak rambut sendiri.
Ting!
Cowok itu melirik layar smartphone-nya. Ia mendengus kesal. “Baru aja diomongin, eh wanita itu malah nge-bbm gue.”
Hey, gimana kabar dia? Udah lama kamu nggak laporan sama saya.
“Tuh, kan. Gue mesti bales apa nih?” otaknya berpikir keras mencari alasan yang tepat.
Berbohong? Percuma. Wanita itu super tajir, ia bisa dengan mudahnya mendapatkan info kebenaran. Mau tak mau dirinya harus jujur pada wanita itu.
Maaf, mulai detik ini saya nggak bisa lagi menjalankan tugas dari Anda. Saya dan dia berantem hebat dan kami miss komunikasi.
Other Stories
O
o ...
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Haura
Apa aku hidup sendiri? Ke mana orang-orang? Apa mereka pergi, atau aku yang sudah berbe ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...