Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Reads
4.3K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
mr. boros vs mrs. perhitungan
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Penulis Ariny Nh

17. Membuat Keputusan Untuk Kebahagiaan Semua

Hari Minggu yang cerah, namun tak secerah hatinya Radith. Radith lagi galau karena merindukan seseorang yang sangat dicintainya. Seorang itu bernama Rani. Padahal baru seminggu dirinya kencan dengan Rani, eh sudah kangen lagi.
Benar kata orang, yang namanya cinta bawaannya kangen mulu. 1 jam tak bertemu bagai 100 hari. Namun ia harus memendam rindu pada Rani, pasalnya Rani justru memintanya untuk berpacaran dengan Andhina Rosalia, yang notabenenya sebagai adik Rani sendiri. Gila kan?
Radith mengerti, sebagai seorang kakak tentu lebih mementingkan kebahagiaan adiknya di atas segalanya. Radith pun jika berada di posisi Rani tentu akan melakukan hal yang sama, berkorban perasaan. Rasa cintanya ke Rani terlalu dalam, sehingga apapun yang diminta Rani akan dipenuhinya, termasuk pura-pura mencintai Andhina.
“Ran, kamu lagi ngapain? Sama siapa?” beribu-ribu pertanyaan bersarang di hati Radith. Ia sangat menginginkan selalu berada di sisi Rani, tapi kenyataan tak bisa. Rani selama beberapa hari ini menghindar darinya, jarang pulang ke rumah. Mungkin Rani tak sanggup melihat kedekatannya dengan Andhina.
Tiba-tiba datanglah seorang gadis menghampirinya. Gadis itu cantik, tinggi, kulitnya putih mulus, dan pastinya berpakaian modis. Mata Radith berbinar melihat gadis itu. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Setidaknya gadis itu sedikit mengobati rasa rindunya pada Rani. Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Andhina.
Andhina dan Rani mempunyai kemiripan wajah yang sangat kental. Sama-sama cantik, sama-sama memiliki alis lentik, sama-sama memiliki hidung mancung. Tapi tetap mereka punya perbedaan di wajah. Perbedaan mereka terletak di bibir, Andina lebih murah senyum sedangkan Rani lebih sering manyun. Walaupun demikian hati Radith tetap mencintai Rani.
“Sayang, kamu lagi ngapain? Kok bengong?” tanya Andhina.
“Aku kan bengong karena mikirin kamu Sayang.”
“Ah, yang bener? Yakin mikirin aku? Nggak mikirin cewek lain gitu?”
“Kamulah satu-satunya wanita yang paling kucintai. Karena kamu adalah anugerah terindah yang kumiliki,” Radith sudah mulai mengeluarkan gombalan mautnya. Apa yang diucapkan Radith itu bohong besar. Yang dicintainya bukan Andhina, tapi Rani.
Pipi Andhina merah merona. Ya, namanya juga cewek, digombalin dikit aja pasti langsung tersipu malu dan hatinya melayang terbang ke langit.
“Sayang, kamu tumben ke sini? Bukannya kamu lagi syuting ya?”
Sejak Andhina dinyatakan sembuh total, ia kembali melakukan aktivitas seperti biasa yaitu menulis novel, tapi kadang-kadang syuting iklan.
“Ini kan sudah jam makan siang, aku mau makan siang bersama kekasih tercinta.”
Radith nyengir kuda, ia baru menyadari sekarang sudah jam makan siang. Abis dari tadi sibuk melamun aja.
“Yuk, kita makan! Kita makan di sana aja ya!” Radith menunjuk kursi yang lagi kosong.
Sekarang Radith sudah tak bekerja sebagai badut di PT. Lelucon lagi, ia kini bekerja sebagai manajer restoran. Dua hari yang lalu ia tiba-tiba ditawari oleh seorang lelaki untuk bekerja sebagai manajer di restorannya. Tentu saja Radith langsung menerima tawaran dari lelaki itu. Tawaran itu bisa membuat kehidupan Radith semakin membaik, setidaknya untuk mengisi perut ia tak perlu mengutang sana-sini lagi. Meskipun Radith manajer restoran ini, tapi dia lebih memilih makan di kursi yang sama dengan kursi pelanggan lainnya.
Andhina setuju dengan apa yang diusulkan Radith. Mereka lalu duduk. Radith mengangkat tangan kirinya untuk memanggil salah satu karyawannya.
Tak berapa lama pelayan datang, dia memberikan buku menu kepada Andhina. Mata Andhina sibuk memilih makanan yang ada di buku menu. Menu makanan yang tersedia di restoran ini adalah Jawa food, western Food, khas Timur tengah, dan Asia food. Seafood.
“Mbak, saya pesan nasi pecel dan es teh aja ya?” ujar Andhina pada pelayan restoran.
Meskipun nama Andhina itu agak kebule-bulean, tapi soal selera makanan, Andhina lebih menyukai makanan khas Indonesia, terutama nasi pecel. Baginya nasi pecel itu makanan menyehatkan.
“Kalau saya pesan cumi balado saus tiram teriyaki,” ujar Radith. Pelayan pun mencatat pesanan mereka berdua.
“Baik, saya akan siapkan makanannya segera!”
“Sayang, kamu kok pesan cumi-cumi sih? Cumi-cumi kan termasuk makanan yang mengandung kolesterol tinggi, nggak baik itu buat kesehatan. Mbak, untuk Radith siapin makanan yang sama seperti saya aja ya, nasi pecel dan es teh,” Andina meralat pesanan Radith
Pelayan mengangguk dan pergi menuju dapur.
Radith memandangi Andhina dengan tatapan ilfeel. “Tadinya gue kira Andhina itu gadis yang lembut, baik, dan penyayang, tapi ternyata setelah gue menjalin cinta dengannya, sifat aslinya kelihatan. Andhina lebih parah dari Rani, ia memiliki sifat suka mengatur cowok, termasuk soal makanan dan penampilan. Ah, gue paling nggak suka sama yang namanya diatur cewek. Haruskah gue mutusin Andhina?”
“What lo mau mutusin Andhina? Jangan gila deh lo. Lo itu cowok yang beruntung banget bisa dapetin Andhina, masa mau diputusin? Inget perjuangan lo saat menyatakan cinta sama Rani. Kalau lo mutusin Andhina, Rani bakal marah besar sama lo,” logika Radith mulai berbicara.
Tapi di lubuk hati terdalamnya mengatakan, “Jika kamu nggak nyaman sama hubungan ini, maka jangan ragu mengakhirinya. Orang yang mencintaimu adalah orang yang tak pernah memaksakan kehendak.”
Logika dan hati Radith berperang, tapi akhirnya Radith setuju apa yang dikatakan logikanya. Mendapatkan Rani itu susah, jadi sampai kapanpun dirinya akan tetap pura-pura mencintai Andhina agar Rani tak membenci dirinya.
Tak lama kemudian pelayan datang lagi dengan membawa nasi pecel pesanan Andhina.
Glek!
Radith menelan ludahnya ketika melihat nasi pecel di depan matanya. Ia merinding makan nasi pecel. Nasi pecel itu makanan yang paling tidak disukai Radith. Tapi pada akhirnya ia makan juga, alasannya demi cinta ke Rani. Cinta bisa mengubah segalanya.
***
Kak Rani dan Kak Adelia keluar dari kamar jam enam pagi. Mereka melongo, mungkin setengah tak percaya bahwa seorang Andhina Rosalia bisa bangun pagi dan menyiapkan makanan di meja makan.
“Loh kok malah bengong?” tanya Andhina. Mereka berjalan mendekati meja makan. Kak Adelia langsung duduk di kursi meja makan sedangkan kak Rani malah menyentuh jidatku.
“Ishh, Kak Rani apa-apaan sih? Ngapain nyentuh-nyentuh jidatku? Aku masih waras kali.”
“Abis kamu sih aneh, tumben-tumbenan menyiapkan sarapan pagi. Jangankan nyiapin sarapan, dibangunin pagi aja susah.”
“Nggak salah dong aku berbuat baik? Anggap aja ini terakhir kalinya aku berbuat baik sama kalian.”
Kak Rani dan kak Adelia saling berpandangan, “Maksudnya?” tanya bude mereka berdua secara bersamaan.
“Kali aja besok aku nikah sama Radith terus harus tinggal bersama Radith. Hahaha…”
Kak Rani terduduk lesu, wajahnya memancarkan sebuah kesedihan. Andhina jadi bingung sendiri kenapa kakaknya mendadak jadi sedih. “Kak… kok jadi sedih sih? Tadi aku cuma bercanda kok.”
“Oh kirain beneran. Aku sedih karena aku nggak mau kamu ninggalin aku, kamu itu satu-satunya keluarga yang aku miliki. Kalau kamu pergi, aku tinggal sama siapa?”
“Kakak, tenang aja. Walaupun nanti aku nikah, aku nggak akan ninggalin kakak. Kita akan tetap selalu sama-sama di rumah ini.”
“Andhina, kamu pergi ke sekolahnya naik apa? Mau aku anterin ke sekolah?” Adelia mengganti topik pembicaraan.
“Aku sih pengennya dianterin Radith. Bentar aku sms dia dulu.”
To : Radith sayang
Sayang, sekarang bisa gak datang ke rumah? Anterin aku ke sekolah.
Tak berapa lama ada sms masuk, Andhina lalu membacanya.
From : Radith Sayang
Sorry, aku nggak bisa cz ada meeting dadakan pagi ini.
Tersirat jelas kekecewaan di wajah Andhina. “Radith nggak mau nganterin kamu ke sekolah ya?” tebak Rani.
“Iya nih Kak. Katanya hari ini dia ada meeting dadakan.”
“Sini HP-mu! Aku mau nelepon Radith buat bujuk dia biar mau anterin kamu ke sekolah.”
Dengan semangat Andhina menyerahkan HP-nya pada Kak Rani. Kak Rani menjauh sebentar dari meja makan. Sembari menunggu Kak Rani kembali, Andhina melanjutkan sarapannya. Tak berapa lama kak Rani kembali.
“Gimana Kak, Radith mau dibujuk buat anterin aku ke sekolah?” tanya Andhina.
“Tentu mau dong. Sekarang makanmu sudah kelar kan, kamu siap-siap gih bentar lagi Radith datang jemput kamu.”
“Beneran, Kak? Wah, makasih banyak ya!”
Andhina sendiri penasaran kakaknya memakai jurus apa sehingga bisa membuat Radith berubah pikiran. Tapi hal itu tak terlalu ia pedulikan, sebab ia bahagia banget Radith akan mengantar ia ke sekolah.
***
Sepanjang perjalanan ke sekolah, Andhina tampak sangat bahagia, sedari tadi ia senyum-senyum sendiri. Siapa yang tak bahagia jika ke sekolah diantar oleh kekasih tercinta? Kebahagiaan Andhina tak berlaku bagi Radith, ia justru bête setengah mati mengantar Andhina ke sekolah. Kalau bukan karena permintaan Rani, ia tak mungkin melakukan hal itu.
Pikirannya melayang ingat dua hari yang lalu saat ia mengantar Andhina ke sekolah. Waktu itu dirinya dipamerkan ke teman-teman Andhina. Sialnya, teman-teman Andhina pada kecentilan dan tak bisa melihat cowok tampan. Langsung deh mereka pada ngedipin mata ke Radith atau bahkan tak sedikit teman-teman Andhina yang minta foto bareng dengan dirinya.
Radith bergidik ngeri membayangkan hal itu terulang lagi di hari ini. Ia berharap ketika sampai di sekolah, bel sudah berbunyi jadi teman-teman Andhina yang kecentilan itu tak ada waktu untuk merayunya atau sekadar foto dengan dirinya.
Setengah jam telah berlalu, tanpa terasa sampai juga di sekolah Andhina dengan selamat.
Teeet… teeet
Dari dalam mobil Radith dan Andhina bisa mendengar bel tanda pelajaran sudah mulai berbunyi. Radith sangat bersyukur karena apa yang diinginkannya terkabul. Yes, hari ini terbebas dari cewek-cewek centil. Batin Radith kegirangan.
“Kak Radith, makasih ya udah nganterin aku ke sekolah,” ujar Andhina.
“Iya, sama-sama. Kamu turun gih, tuh udah bunyi belnya. Ntar dimarahi guru kalau telat masuk kelas. Kamu belajar yang rajin ya biar cepet lulus.”
“Oke, Kak. Kakak juga jangan tebar-terbar pesona ke cewek lain ya!”
Usai berkata demikian, Andhina turun dari mobil Radith. Sejak jadi manajer restoran, Radith dikasih mobil sama bosnya. Makanya ia mengantar Andhina naik mobil. Jadwal Radith setelah mengantar Andhina ke sekolah, langsung ke restoran lagi. Ketika hendak tancap gas ia melihat ada seorang cowok sekitar umur 21 tahun berdiri di gerbang pintu sekolah Andhina.
Ciri-ciri cowok itu wajahnya lumayan daripada lumanyun, penampilannya rapi dengan mengenakan kemeja putih dan celana jeans panjang, ia juga memakai kacamata tipis. Entah kenapa tiba-tiba Radith merasa pernah ketemu cowok itu, tapi di mana ya? Radith mencoba mengingat-ingat lagi.
Lima menit Radith berusaha mengingat-ingat, namun otaknya tetap tak bisa menemukan jawabannya alias lupa. “Ya sudahlah. Ngapain juga gue ngingat-ingat cowok itu. Toh, nggak penting juga. Yang penting sekarang ke restoran biar nggak dimarahi bos.”
***
“Kak Rani! Kak Rani!” pulang dari sekolah bukannya mengucapkan salam, Andhina malah teriak-teriak memanggil kakaknya. Ia memanggil kakaknya karena ingin curhat, di sekolah tadi ia dipertemukan lagi dengan seseorang yang tidak diharapkan. Dengan seseorang itu membuat hati Andhina galau.
Maka dari itu Andhina ingin minta saran dari kakaknya. Namun Rani sedari tadi dipanggil sama sekali tak menyahut. Andhina bingung sendiri ke mana kakaknya? Biasanya saat dirinya pulang sekolah pasti ada di rumah, berangkat mengajar lagi sekitar jam empat sore.
“Kak Rani lagi tidur di kamar kali ya? Susulin ke kamar aja dehh.”
Langsung saja Andhina melangkahkan kakinya menuju kamar kakaknya. Kamar kakaknya ada di lantai 2. Namun sialnya ketika Andhina masuk ke kamar Rani, ia tak menemukan keberadaan Rani. Andhina semakin bingung ke mana kakaknya?
Tiba-tiba pandangan Andhina tertuju pada HP yang tergeletak di atas meja rias. Loh kak Rani pergi kok gak bawa HP? Entah mengapa terbersit di hati Andhina ingin membaca sms-sms yang ada di HP kakaknya itu. Siapa tau di folder sms ia bisa menemukan keberadaan kakaknya.
Andhina langsung menyambar HP itu dan membuka sms-smsnya. Mata Andhina terbelalak ketika melihat sms paling atas itu dari Radith. Ia penasaran apa yang diobrolin kakaknya dengan Radith di sms? Ia klik open.
Radith:
Malam, Rani Sayang. Kamu lagi apa? Hemmm… Andhina kan sudah sembuh total nih. Berati kamu sudah bisa pacaran sama aku dong ya?
Rani:
Maaf banget, aku nggak bisa pacaran sama kamu. Andhina naksir kamu, lebih baik kamu pacaran sama Andhina aja.
Radith:
Pacaran sama Andhina? Mana mungkin aku bisa melakukannya. Orang yang aku cintai itu kamu, bukan Andhina. Kamu jangan minta aku yang aneh2 deh.
Rani:
Radith, jika kamu mencintai aku, please… berusaha cintai Andhina. Aku nggak mau Andhina depresi lagi jika kamu nggak mau pacaran dengannya.
Air mata Andhina mengalir begitu saja, perih rasa hatinya saat membaca sms-sms dari Radith di HP kakaknya. “Pantes aja waktu minta Kak Rani deketin gue sama Radith dia keselek terus agak beda gitu. Nah, waktu Radith main ke rumah juga Kak Rani tiba-tiba pergi. Jadi ini toh jawabannya,” batin Andhina. Namun di sisi lain ia bahagia karena pertanyaan-pertanyaan mengganjal yang terselip di hatinya telah terjawab. Kak Rani dan Radith saling mencintai namun mereka harus berkorban perasaan karena tak ingin menyakiti hatinya.
Mendadak ia teringat ucapan Dhanu, tadi pagi di sekolah.
“Dhanu? Mau ngapain lagi lo ke sini?” tanya Andhina heran melihat Dhanu ada di gerbang sekolahnya.
“Aku datang ke sini karena ada sesuatu yang ingin aku omongin sama kamu.”
“Nggak ada yang perlu diomongin lagi.”
“Please, 5 menit aja.”
“Oke, fine lima menit aja. Cepetan sekarang ngomong.”
“Aku mau minta maaf sama kamu karena perbuatanku. Aku khilaf. Aku masih cinta banget sama kamu. Aku ingin hubungan kita kembali baik seperti dulu. Aku janji nggak akan mengulang kesalahan itu lagi.”
Seseorang yang bikin hati Andhina galau itu Dhanu. Sedari tadi teriak memanggil kakaknya karena ingin curhat masalah Dhanu. Pasalnya Dhanu tadi datang ke sekolahnya ingin minta balikan lagi. Dhanu juga berjanji tak akan menyakitinya lagi.
“Tadinya gue mau minta saran dari Kak Rani tentang permintaan Dhanu, tapi sepertinya gue berubah pikiran. Gue sekarang udah menemukan keputusan yang tepat. Keputusan yang bisa membuat semuanya bahagia.”
Andhina mengambil HP-nya dari saku seragamnya. Lalu ia mengetik sebuah sms.
Nanti malam kamu bisa datang ke rumahku jam 8 nggak? Ada sesuatu yang ingin aku bicaran. Penting!
Andhina mengirim sms itu ke nomor Radith, Dhanu dan Kak Adelia.
Andhina ingin menyampaikan keputusan yang tepat itu nanti malam dan disaksikan oleh mereka berempat, Radith, Kak Rani, Dhanu dan Kak Adelia.

Other Stories
Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Teka-teki Surat Merah

Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...

Way Back To Love

Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan  datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...

Bahagiakan Ibu

Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...

Download Titik & Koma