Pantaskah Aku Mencintainya?

Reads
4.7K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
pantaskah aku mencintainya?
Pantaskah Aku Mencintainya?
Penulis Rha Azhar

Prolog

Besoknya, aku benar-benar menemui Rayhan di Kafe Langit Biru. Cukup mengejutkan penampilan Rayhan sekarang. Nyaris sembilan tahun tidak pernah melihatnya, cukup membuatku pangling. Rayhan menjelma pria dewasa — atau pemuda dewasa, yang tidak lagi tampak kekanakan. Dia memakai setelan jas yang sangat rapi dan licin saat ini. Meski melihatnya dari kejauhan, aku dapat dengan jelas menangkap garis wajahnya yang kian tegas.
Dia sudah bukan anak kecil. Meski mungkin masih menjadi laki-laki yang tengil. Entahlah.
Dia melambai begitu tatapannya menemukanku memasuki kafe. Tanpa melambai pun aku sudah tahu letaknya. Tanpa basa-basi langsung duduk. Aku ingin pembicaraan yang ingin dibicarakan Rayhan segera berakhir.
Untuk beberapa saat, Rayhan bengong melihatku. Aku tahu dia akan seperti itu. Penampilanku yang jauh berbeda dari 9 tahun lalu pasti membuatnya bertanya-tanya.
“Ika, kamu ....”
“Langsung aja, Rayhan. Kamu mau ngomong apa sama aku?”
Rayhan tampak salah tingkah. Menggaruk sebentar kepalanya, lantas membenahi posisi duduknya. Menatapku lebih serius.
“Aku kaget liat penampilan kamu.”
“Memang beginilah seharusnya penampilan seorang muslimah,” kataku menanggapi.
“Ya, kamu benar.” Rayhan terdiam beberapa detik, lalu, “Ika, aku mau ngajakin kamu rujuk.”
Aku diam beberapa saat. Mencerna ucapan yang dilontarkan Rayhan. Apa katanya? Rujuk? Dia mengajakku rujuk setelah sembilan tahun berlalu? Bukankah itu lucu?
“Kenapa kamu tiba-tiba mau rujuk sama aku?”
“Aku sadar, apa yang aku lakuin ke kamu sembilan tahun lalu itu jahat. Nggak seharusnya seorang suami kayak begitu. Aku memikirkan semuanya selama ini, Ika. Aku ingin kita balik. Aku ingin menjadi suamimu yang baik, ayah yang baik untuk anak kita, memperbaiki semuanya. Kamu nggak mau liat Sofiyah pergi sekolah diantar papanya?”
Telat banget sadarnya. Ngapain saja selama sembilan tahun baru sekarang? Bah! Jangan kira semudah itu mengembalikan kaca yang sudah pecah.
Tiba-tiba saja Rayhan beranjak, menghampiri posisiku lalu memelukku dari belakang. Eleh, eleh, apa-apaan ini?
“Aku tahu aku salah. Aku mau memperbaiki semuanya, Ika. Tolong, kasih kesempatan kedua ke aku,” katanya di telinga.
Enak saja dia main peluk-peluk. Kami sudah bercerai. Pasangan yang bercerai bukan lagi mahram, ‘kan?
“Rayhan, tolong lepasin pelukan kamu. Kita bukan mahram, nggak seharusnya pelukan. Apalagi di tempat umum,” pintaku.
“Oh, maaf, Ika. Aku lupa.”
Lupa apa sengaja? Dasar tengil!
Rayhan kembali duduk, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Menyodorkannya ke hadapanku.
“Itu cincin nikah kita dulu. Kalau kamu setuju kita rujuk, pake itu. Kalau nggak, ya, terserah kamu mau apain.”
Aku melirik arloji di tangan kanan. Tidak boleh lebih lama dari ini
“Aku nggak bisa kasih jawaban sekarang.”
“Kenapa?”
“Ada urusan lain yang harus segera aku tunaikan.”
Rayhan menghela napas frustrasi.
“Oke. Kamu bawa aja cincin itu. Kalau kamu udah mutusin jawabannya, kamu kasih tau aku.”
Kembali aku terdiam, memikirkan usulan Rayhan. Aku bahkan masih tidak tahu jawaban apa yang akan kuberikan pada Rayhan. Oke, hanya membawanya agar Rayhan tidak bawel sepertinya tidak masalah.
“Aku tidak bisa menjanjikan kapan memberimu jawaban. Akan kuhubungi jika aku sudah memutuskan.”
“Aku berharap yang terbaik, Ika.”
Aku mengangguk lalu pamit. Sebenarnya, aku sedikit berbohong. Aku hanya tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan Rayhan. Entah bagaimana membuatku kembali teringat masa lalu. Dinomorduakan dari PS, sakitnya melebihi apa pun menurutku. Konyol, tapi sakit.
“Sofi, Mama pulang.” Aku berseru begitu sampai rumah. Hanya saja tidak ada sahutan dari Sofi. Panik langsung menyerang, takut penyakit Sofiyah kembali.
Kuperiksa setiap ruangan. Bernapasa lega begitu menemukan Sofiyah berbalut mukena di ruang salat.
“Ya Allah, Sofiyah ingin punya ayah. Sofiyah ingin seperti teman-teman yang diantar-jemput setiap sekolah. Ingin jalan-jalan kalau liburan. Biar Mama juga nggak kerja keras kayak gini lagi. Entah Papa Rayhan kembali atau Mama menikah lagi, Sofiyah bakalan seneng banget, Ya Allah.”
Air mata berjatuhan tanpa sadar. Ya Allah, apa ini? Mungkinkah ini tanda dari-Mu jika aku harus menerima Rayhan kembali? Apakah begitu yang Kau inginkan? Tapi, apakah Rayhan sudah benar-benar berubah? Entah kenapa hatiku tidak yakin.
Sepanjang malam aku terjaga, meminta petunjuk lebih akurat untuk menentukan pilihan. Tetapi, hingga ayam berkokok dan matahari terbangun, keputusan yang benar-benar bulat belum kudapatkan.
Demi Sofiyah. Ya, hanya demi Sofiyah aku melakukan ini. Demi kebahagiaannya, kuruntuhkan ego.
“Halo, Rayhan?” Kuhubungi dia siang itu.
“Ya, Ika?”
“Kamu bisa datang malam ini? Aku akan memberikan jawabannya,” kataku memberitahu.
“Oke, oke. Aku akan datang.”         

Other Stories
Deska

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Hanya Ibu

Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...

Awan Favorit Mamah

Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...

Melupakan

Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...

Download Titik & Koma