Pantaskah Aku Mencintainya?

Reads
4.7K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
pantaskah aku mencintainya?
Pantaskah Aku Mencintainya?
Penulis Rha Azhar

9. Jawaban

Aku menatap kotak berlapis beludru berwarna merah di atas meja yang beberapa saat lalu dikirim seorang kurir. Bukan kotaknya yang membuatku tercengang, melainkan isinya. Bayangkan saja, sebuah cincin dengan bentuk bulan sabit di tengahnya dikirim seseorang. Dan orang itu tidak lain adalah Rayhan.
Aku tahu mungkin kamu masih syok. Tapi, aku nggak pernah main-main, asal kamu tahu. Dan cincin itu sebagai bukti keseriusan aku ke kamu. Hasil kerjaku sekaligus pembuktian kalau aku bisa memenuhi tantangan kamu.
Dari yang mencintaimu,
Rayhan.
Begitulah pesan singkat dalam kartu ucapan yang terkirim bersamaan dengan kotak berlapis beludru itu. Bukannya mencerahkan, justru membuat otakku makin butek. Cincin itu, aku yakin tidak murah. Cukup memberi bukti jika Rayhan memang tidak main-main. Tapi ....
“Sill, apa jodohku emang anak kecil?” tanyaku pada Silla lewat sambungan telepon.
“Jodoh kita bisa siapa saja. Kalau emang Tuhan menakdirkan Rayhan buat kamu, ya, artinya dia jodoh kamu.”
“Tapi, masa sama bocah, sih. Tengil lagi,” eluhku.
“Tapi, dia sayang kamu, ‘kan? Kalau nggak beneran sayang, nggak akan dia nyanggupin tantangan itu.”
“Ya, juga, sih. Ah, tau, ah. Bingung.”
“Coba pikir baik-baik. Apa pun keputusanmu, aku dukung.”
Jadi, begini, ya rasanya memutuskan untuk menerima atau tidak sebuah lamaran. Andai aja usia kita nggak terpaut jauh, mungkin tanpa pikir panjang aku menerimanya. Hanya saja, kenapa kamu terlahir lebih muda dariku, sih?
“Cobalah untuk tidak berpikiran sempit, Ika. Jangan hanya melihat dari sisi usianya, tapi dari bagaimana ia bersungguh-sungguh untukmu.”
Pesan terakhir Silla dalam sambungan telepon tadi terus terngiang. Oh Allah, aku harus apa?
* * *
Berhari-hari memikirkannya, sudah kuputuskan jawaban yang semoga saja jawaban terbaik untuk kami. Aku meminta Rayhan menemuiku di Angkringan Cafe. Rasanya dag-dig-dug tidak karuan selama menunggu kedatangan Rayhan. Membuatku berkali-kali ke toilet. Gugup membuatku mudah sekali buang air kecil.
“Kelamaan nunggu, ya?” Rayhan tiba dengan senyum semringah. Membuatku justru semakin kacau. Oh Allah, rasanya ingin tenggelam saja di Laut Mati.
Aku menggeleng. Entah kenapa semua kata yang ingin kuucapkan teras blur dari otak.
Rayhan duduk di hadapanku. Menunggu. Sementara aku berusaha menyusun kalimat yang setidaknya tidak terdengar seperti cicitan tikus terjepit pintu. Kuserahkan lebih dulu kotak berbalut beludru berwarna merah ke arah Rayhan.
“Kamu nolak aku?” Rayhan memburu. Sial banget ini bocah. Tidak sabaran. Tidak tahukah jika aku sedang menyusun kata-kata manis untuknya?
“Nggak ada pengantin perempuan yang masang cincinnya sendiri, ‘kan?” Akhirnya aku balik bertanya. Salah satu cara cerdas bagi seseorang yang kehilangan kata untuk menjawab pertanyaan adalah balik bertanya.
“Jadi, maksudmu?”
Aku menyodorkan tangan kiri ke arahnya. “Mau pasangin nggak?”
“Iyalah.” Rayhan meraih kotak tersebut; membukanya lantas mengeluarkan isinya. Memasag cincin tersebut di jari tengah tangan kiriku. Tanpa kusangka, Rayhan meraih tanganku itu dan mengecupnya lembut. Aku rasa memang ada kesalahan sama Rayhan. Mungkin sebenarnya dia sosok dewasa yang terjebak di dalam tubuh anak kecil. Ya, mungkin seperti itu.
“Terima kasih, Ika.”
Aku kehabisan kata, jadi hanya tersenyum menanggapi kalimat Rayhan.
Dan siapa sangka, beberapa hari kemudian, dia datang ke rumah untuk melamarku. Membuat Mama heran, apalagi saat aku langsung menerima lamaran Rayhan. Mempertanyakan sekali lagi apakah yakin menikahi Rayhan adalah keputusan yang tepat, sementara perbedaan usia kami terpaut jauh?
Aku mencoba meyakinkan Mama jika aku menerimanya setelah memikirkan masak-masak. Aku sudah melihat bagaimana Rayhan berjuang untuk tidak memanfaatkan uang orang tuanya. Dan itu cukup bagiku untuk memandang Rayhan sebagai seorang yang bertanggung jawab.
* * *
“Saya terima nikah dan kawinnya Dahliany Wiskasari binti Mustafa dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai.”
“Sah?”
“Sah!”
Aku menahan tangis saat Rayhan mengucapkan ijab qabul tersebut. Rasanya nano-nano. Tidak menyangka jika aku akan diperistri oleh bocah 15 tahun. Zaman ini, menikah di usia muda perkara sudah biasa. Bahkan ada yang menikah lebih muda dari usia Rayhan. Apalagi di daerah tempatku tinggal. Jadi, tidak akan ada yang menyiyiri kami sebagai pasangan muda.
Rayhan tampan, itu tidak diragukan. Lebih tampan lagi saat dia memakai baju jas pengantin seperti itu. Rasanya, di sinilah aku yang beruntung. Belum lagi, dia orang yang romantis. Rasanya, aku seperti menjadi wanita paling beruntung saat di sampingnya. Semoga pilihanku memang tepat.
“Tidak ada yang lebih indah dari kamu, Ika. Aku berjanji akan menjaga kamu, menyayangi kamu, melindungi kamu sampai akhir hayat nanti. Aku pastikan kalo usia buka halangan untuk orang yang saling mencintai.” Rayhan mengecup keningku seusai acara ijab qabul. Membimbingku duduk bersamanya di pelaminan.
Aku membalas dengan senyum. Terlalu bahagia untuk membalas ucapan Rayhan.
Hal paling mengejutkan terjadi malam kemudian. Aku menyerahkan seluruhnya kepada Rayhan. Di dalam kamar berhiaskan bunga krisan sepanjang dinding dan mahkota mawar yang bertaburan di atas ranjang bersprei putih, Rayhan mengambil kehormatanku. Menjadikan penyatuan kami sebagai bukti jika kini aku dan Rayhan satu jiwa,
Siapa yang sangka jika bocah tengil ini begitu lihai di atas ranjang. Oh God, dia tidak tampak seperti bocah saat membimbingku menuju puncak kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang sudah sah. Nyaris saja aku kewalahan melayani Rayhan. Dia benar-benar laki-laki.
“Ngapain ngeliatin aku kayak begitu?” tanyanya di pagi berikutnya. Tidak tampak sama sekali jika dia kelelahan padahal malam tadi melewati beberapa kali pencapaian puncak. Gila juga suamiku.
“Emangnya nggak boleh ngeliatin suami sendiri? Yang nggak boleh itu ngeliatin suami orang,” balasku lalu menjulurkan lidah. Kok, ya, aku yang seperti bocah jika di hadapan dia.
“Eh, jangan melet-melet,” katanya seraya mendekatkan diri padaku. Maksudnya, semakin dekat padaku. Dapat kurasakan kulit tubuhnya bersentuhan langsung dengan tubuhku. Membuat merinding seketika.
“Kenapa?”
Bukan jawaban yang kudapat melainkan serangan bibirnya ke bibirku. Wah, bisa lanjut ronde tambahan kalau begini.
“Aku mau mandi. Badanku lengket semua, nih,” kataku dengan bibir masih terkunci.
“Nanti aja.”
“Nggak enak. Bau.”
Ia menatapku sejenak, lalu beranjak ke sisi lain dengan masih menatapku.
“Mandi bareng kalau begitu.”
Rayhan beranjak lebih dulu lantas membopongku menuju kamar mandi.

Other Stories
The Museum

Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

The Truth

Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...

Rahasia Ikal

Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...

Romance Reloaded

Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...

Download Titik & Koma