8. Marry Me, Ika
Nyaris jantungku menggelinding begitu melihat sosoknya berdiri di depan pintu. Cukup lama tidak melihatnya berkeliaran di kantor, membuatnya tampak pangling. Atau aku saja yang merasa demikian. Meski aku menemukan senyum kelegaan di wajahnya.
“Rayhan?”
“Nggak kangen aku?” tanyanya dengan memasang wajah konyol. Ya Allah, dia mengesalkan dan menggemaskan pada waktu yang bersamaan.
“Kangen kamu? Ngapain? Kurang kerjaan,” sambutku sambil menyilangkan kedua lengan di depan dada.
“Bilang aja kalau kangen. Akhir-akhir ini kita jarang ketemu, ‘kan?” Sebelah matanya mengerling genit. Sangat gaya Rayhan. Dan entah bagaimana kali ini tidak membuatku kesal.
“Jangan kege-eran kamu!” tepisku keras. Bahkan aku saja tidak tahu apakah aku merindukan dia atau tidak.
“Dasar cewek! Mau ngaku rindu aja susah.” Rayhan bersiul-siul tidak jelas.
“Mau ngapain ke sini?” Aku mengembalikan topik pembicaraan.
“Mau ikut aku nggak?”
“Ke mana?”
“Udah, ikut aja. Aku punya kejutan buat kamu. Please!” Rayhan menangkupkan kedua tangan di depan dada, memasang ekspresi benar-benar mohon.
Kalimat Silla kembali terngiang.
“Kupikir, tidak ada salahnya mencoba menerima Rayhan sebagai laki-laki dalam hidupmu. Bukan sebagai bocah.”
Apa yang akan terjadi jika aku mulai melihatnya sebagai laki-laki seperti yang Silla katakan, bukan sebagai bocah yang selama ini biasa kulakukan?
“Ika?” Sebuah sentuhan lembut kurasakan di bahu. Ah, rupanya aku melamun.
“Tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu.”
Lima belas menit kemudian, aku sudah membonceng Rayhan yang entah akan ke mana. Oh, ternyata Rayhan mengarahkan motornya ke kantor. Eh? Ke kantor? Untuk apa ke sini?
“Ayo!” Rayhan menggenggam tanganku. Inginnya, sih, memberontak. Hanya saja percuma. Seperti yang sudah-sudah, seberapa pun aku menolak untuk dia genggam, dia akan tetap menggenggamnya. Ya, sudahlah.
Rayhan membawaku ke sebuah ruangan luas dengan banyak kursi, semacam bioskop mini. Ah, aku baru ingat. Ini Sabtu malam. Biasanya, di Sabtu malam, Rhayya Radio akan mengadakan nonton film bareng. Biasanya yang diputar film-film lama. Kadang juga film baru hasil download-an Mas Al. Ya, begitulah mereka. Ingin menonton, tapi bokek. Alhasil, cuma mengandalkan download-an.
Biasanya aku ikutan menonton. Hanya saja, karena aku tahu film apa yang akan diputar malam ini, aku urung ikutan. Sayangnya, bocah ini malah menarikku ke sini. Beberapa orang yang melihatku datang bersama Rayhan hanya tersenyum-senyum tidak jelas. Mungkin sudah maklum jika Ika dekat dengan Rayhan. Padahal sebenarnya, Rayhan yang mendekati Ika. Haks.
“Ikutan nonton dulu, ya, Ik?” tanyanya meminta pendapat. Terlambat kalau, nih, bocah minta pendapatku sekarang. Wong, sudah sampai sini, ya, masa mau balik lagi.
“Terserah. Lagian udah di sini, percuma kamu minta pendapatku.”
“Eh, iya, juga.” Ia terkekeh dengan menggaruk-garuk kepala. Dasar bocah!
Sekitar pukul setengah delapan malam, film diputar. Sebenarnya, aku tidak begitu menyukai menonton. Tapi, ya, apa boleh buat. Aku sudah terseret. Aku hanya melihat sambil lalu. Jika tidak salah, film yang diputar kali ini berjudul May. Kalau tidak salah, film itu rilis beberapa bulan lalu. Situs mana lagi yang Mas Al bobol sampai bisa mendapatkan film itu?
Namun, begitu film nyaris mencapai puncak, layar proyektor berubah gelap. Membuat sedikit kerusuhan yang menonton. Mas Al tampak mengecek in focus yang dipakai.
“Ray, bantuin, nih. Mas ndak ngerti!” panggil Mas Al.
“Tunggu sebentar,” sahut Rayhan.
Bocah itu melangkah ke depan, menghampiri Mas Al yang memasang wajah bingung. Oh, ya, aku dan Rayhan memilih duduk di barisan belakang di mana bentuk lantainya dibuat seperti stage dengan tinggi mungkin tiga jengkal. Jadi, meskipun di belakang tidak akan menghalangi pandangan ke depan.
Layar kembali menyala lima menit kemudian. Hanya saja, bukan film tadi yang kembali diputar. Melainkan sesuatu yang membuatku tercengang.
Sebaris tulisan bercahaya dengan background layar hitam menjadi satu-satunya fokusku kini, atau bahkan fokus kami yang memenuhi ruangan itu.
Will you marry me, Ika?
Itulah yang tertulis. Singkat, padat, jelas, dan membuatku tidak bisa berkata-kata. Tidak peduli beberapa orang mulai usil men-cie-cie kami.
Tidak salah lagi, itu ulah Rayhan. Aku sadar sekarang. Sudah sifatnya bocah itu untuk melakukan hal-hal nekat. Entah bagaimana wajahku saat ini, hanya saja aku merasakan panas. Tanpa sadar, buliran hangat justru menuruni pipi. Tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku memilih kabur dari ruangan tersebut. Malu sekaligus terharu. Entahlah. Rasanya bercampur aduk.
Kudengar langkah kaki lain menyusul di belakang. Aku yakin itu Rayhan. Bocah tengil! Memalukan saja.
“Ika, tunggu!” Langkahnya semakin mendekat ke arahku.
“Ika, tunggu! Aku mau jelasin sesuatu ke kamu.”
Tangannya berhasil mencekal lenganku. Mau tidak mau langkahku pun berhenti. Rayhan membalik tubuhku agar menghadapnya, meski wajahku masih tertunduk. Malu juga kalau ketahuan menangis. Aku baru sadar kalau bocah ini ternyata lebih tinggi dariku. Mungkin benar kata orang kalau anak laki-laki akan selalu terlihat lebih tinggi dari perempuan.
“Kok, lari?”
Wajahku terpaksa terangkat demi mendengar pertanyaannya. Kok, lari? Sesederhana itu dia menanggapi apa yang baru saja terjadi?
“Kamu nangis?” Kedua tangannya memegangi bahuku. “Hei, aku nggak maksud buat kamu sedih. Aku cuma ingin mengatakan apa yang ingin aku lakukan bersamamu, Ika. Sumpah, aku tidak berniat menyinggungmu.” Rayhan mengangkat sebelah tangannya, membentuk jarinya seperti huruf ‘V’.
Aku masih terdiam, lebih tepatnya sesenggukan. Aku tidak tahu mau ngomong apa. Semuanya blank. Semuanya bercampur aduk dalam dada. Semuanya saling bertabrakan. Benci, tapi aku suka cara Rayhan yang romantis. Kesal, tapi aku salut dengan keberanian Rayhan. Argh! Aku bahkan pusing dengan perasaanku sendiri saat ini. Inginnya pulang, tidur, dan berharap kejadian ini tidak pernah terjadi. Atau sekalian saja berharap tidak pernah bertemu Rayhan, tidak pernah bekerja di Rhayya Radio.
“Ika, yang kamu liat mungkin konyol. Kekonyolan bocah 15 tahun yang masih puber, yang masih nggak bisa membedakan cinta monyet atau cinta yang sebenarnya cinta. Tapi, Ika ...,” Rayhan mengangkat daguku agar menatapnya, “aku serius suka sama kamu. Aku nggak bohong untuk urusan perasaan. Aku nggak pernah main-main sama hati.”
“Aku .... Aku nggak tau harus jawab apa. Aku butuh waktu,” kataku setelah sekian menit membisu.
“Oke, nggak apa-apa. Aku juga nggak mau kamu ambil keputusan yang buru-buru.”
Aku mengangguk asal.
“Aku anterin kamu pulang, ya?”
Lagi-lagi aku hanya mengangguk. Apa lagi memangnya yang harus aku lakuin di saat syok begini? Berasa jadi orang bego seketika. []
Other Stories
The Unkindled Of The Broken Soil
Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...