11. Mulai Retak
Ada yang aneh denganku. Sejak bangun pagi tadi, perutku rasanya mual tidak ketulungan. Belum lagi pusing hebat menyerang kepala. Nyaris membuatku terjengkang jika saja tidak membentur dinding kamar mandi. Berkali-kali keluar masuk kamar mandi hanya untuk muntah.
Tatapanku tidak sengaja melihat kalender yang terpasang di dinding kamar mandi. Sudah dua bulan tidak ada tanggal yang kulingkari sebagai tanda datang bulan. Eh? Dua bulan tidak datang bulan? Selupa itukah sampai aku tidak merasakan ketidakdatangan tamu bulanan? Huf! Pikiranku tersita untuk memperbaiki hubungan dengan Rayhan yang rasanya makin hambar.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Rayhan yang muncul dari ruang keluarga.
“Nggak tahu. Badanku rasanya nggak enak, mual dari bangun pagi tadi, pusing juga.”
“Masuk angin kali?”
“Nggak tahu juga. Tapi, udah dua bulan aku nggak datang bulan.” Rayhan membantuku yang sempoyongan berjalan kembali ke ranjang. Mendudukkanku di tepinya.
“Ya, udah, nanti kita ke dokter. Untuk hari ini jangan siaran dulu. Biar nanti aku yang minta izin ke Pak Lik Waluyo.”
Aku hanya mengangguk, Rasanya kepalaku ingin meledak.
“Nanti kita ke dokter,” ulangnya. “Tapi, aku PS-an dulu.”
Aku melongo mendengar kalimat lanjutan dari mulutnya. PS-an? Main PS di saat istrinya sedang tidak sehat begini? Sadar atau tidak dia ini?
“Kamu mau main PS di saat istri kamu tepar kayak begini?” tanyaku, mencoba berbicara dengan nada normal. Sabar, Ika, sabar. Kontrol emosi kamu. “Nggak sayang aku?”
Rayhan mendekap bahuku, lantas menatap tepat kedua bola mataku.
“Aku sayang kamu, Sayang. Cuma ini penting buat saat ini. PS-ku nggak ada yang jaga. Kalau kemalingan, bagaimana? Nggak sedikit biaya untuk mendirikan itu,” katanya beralibi.
Kuhentak napas kesal. Mau bagaimana lagi?
“Terserahlah. Asal jangan lupa untuk pulang dan menemaniku ke dokter.” Aku mengultimatum.
“Oke, Sayang.” Rayhan mencium keningku sebelum pergi.
Entah harus senang atau kecewa melihat Rayhan seperti itu. Semenjak membuka usaha PS, Rayhan memang lebih banyak berkutat dengan benda aneh itu. Bahkan saat di rumah pun, nyaris waktunya dihabiskan untuk bermain PS. Lama-lama aku bingung, yang istrinya aku atau PS?
Kita lihat saja, benar akan pulang atau lupa seperti kemarin-kemarin.
* * *
Seharian aku menunggu, nyatanya Rayhan tidak muncul juga batang hidungnya. Entah apa yang dia pikirkan sampai melupakan janji pada istrinya sendiri. Apa PS begitu penting dari istrinya yang tepar dan butuh diantar ke dokter saat ini? Apa PS lebih menyenangkan dari kabar yang mungkin saja akan kami terima jika di rahimku ini sudah bertumbuh janin? Argh! Rayhan menyebalkan.
“Aku pulang!” Terdengar seruan dari luar. Masa bodoh. Aku mau ngambek saat ini. Bisa-bisanya dia baru pulang. Apa tidak memperhitungkan jika tempat praktik bidannya tutup? Nyebelin tingkat tinggi.
“Sayang, aku pulang,” katanya lagi saat masuk ke kamar. Kulihat ia membawa sesuatu di tangannya. Apa lagi itu?
“Apa itu?” tanyaku curiga.
“PlayStation,” katanya dengan wajah semringah.
“Buat apa?”
“Ya, buat mainlah. Buat apa lagi memangnya?” Tidak tampak sama sekali rasa bersalah di wajahnya.
“Kamu nggak inget sama janji tadi pagi?” tanyaku masih menatapnya curiga.
“Janji apa?”
Tuh, ‘kan? Otaknya sudah dipenuhi dengan PS, PS, dan PS. Benar-benar menyebalkan.
“Kamu asyik-asyikan beli PS baru, tapi kamu lupa kalau janji mau nganter aku ke dokter untuk periksa? Keterlaluan kamu,” sungutku. Rasanyan aku ingin menangis saat ini. Sebegitu tidak perhatiannya Rayhan padaku.
“Aha! Iya, aku lupa, Sayang. Maaf.” Tangannya menangkup di depan wajah.
“Nggak!” sahutku ketus. Maraih serampangan tas yang memang kupersiapkan sejak tadi lalu beranjak tanpa menghiraukan Rayhan. Bahkan dia tidak menyusulku. Suami macam apa itu? Ya Allah, sabarkan hatiku menghadapi tingkahnya.
Pada akhirnya aku pergi ke bidan tanpa Rayhan. Meski menahan dongkol sepanjang perjalanan, perasaan kesal itu luntur begitu bu bidan memberitahu hal paling membahagiakan bagi seorang wanita yang sudah menikah.
“Selamat, ya. Ibu positif hamil.”
Wanita mana yang tidak bahagia mendengarnya? Rasanya ingin jingkrak-jingkrak, tapi tentu tidak boleh. Sekarang aku sedang hamil. Bisa keguguran kalau sampai jingkrak-jingkrak.
“Berapa minggu, ya, Bu Bidan?”
“Memasuki minggu ke-6, Bu.”
Aku mengucap syukur. Alhamdulillah, Allah memberiku keturunan dengan cepat. Setelah mendapat beberapa obat dari bu bidan dan sedikit masukan-masukan perihal kehamilan, aku kembali mengendarai motor untuk pulang. Sesekali mengusap perut di mana buah cintaku dan Rayhan sedang bertumbuh.
Begitu sampai di rumah, aku menemukan Rayhan sedang asyik dengan playstation-nya. Kesalku kembali muncul. Bisa-bisanya dia sibuk bermain benda itu sementara istrinya susah payah menahan mual dan pusing untuk sampai ke tempat bidan? Dia sudah keterlaluan.
“Ya, ampun, Mas! Masih main PS juga?” Nadaku melengking tanpa sadar.
“Lagi seru, Sayang.” Rayhan menjawab singkat.
“Lagi seru sampe kamu nggak sadar aku pulang dengan banyak belanjaan? Suami macam apa, sih, kamu?” Habis kesabaranku dengannya.
“Nggak usah berisik, deh. Mending ambilin aku makanan. Lapar, nih,” katanya seenak jidat.
Oke, aku tahu perintahnya harus dituruti karena menuruti keinginan suami adalah jalan ke surga. Tapi, kalau suaminya saja tidak peduli dengan istri, apa masih harus aku hormati?
Tidak peduli bagaimana reaksi Rayhan, kucabut stop kontak yang seketika mematikan permainan tidak penting itu.
“Woy! Kenapa dimatiin?”
“Biar kamu tahu kalau hidup kamu saat ini bukan lagi buat main-main kayak begini,” kataku dengan sengit.
“Ya, nggak dimatiin kayak begitu juga. Lagi seru, tahu!” Rayhan setengah membentakku.
“Oh, jadi kamu lebih milih asyik main PS daripada nemenin istri kamu yang lagi hamil anak kamu? Iya, begitu? Suami macam apa kamu, hah?”
Kesalku mencapai ubun-ubun. Sudah kutahan untuk tidak berbicara keras pada Rayhan karena aku masih menghormatinya sebagai suami. Biar bagaimanapun, seorang suami adalah surga bagi istrinya. Tapi, kalau suaminya seperti Rayhan begini, apa masih bisa disebut surga?
“Tunggu,” sergah Rayhan kemudian. Menatapku dengan wajah serius. “Kamu bilang apa tadi? Anakku?”
“Iya, anak kamu. Anak siapa lagi memang? Yang berhasil menembus selaput dara dan menanamkan spermanya di rahimku, kan cuma kamu.” Aku gemas menghadapi pria satu ini.
“Kamu hamil? Serius? Jadi, aku bakalan jadi ayah?”
“Ya, iyalah.” Aku menjawab dengan mempertahankan nada ketus. Kesal.
“Wah, aku senang dengernya.” Rayhan memelukku. “Makasih, Sayang.”
Kecupannya mendarat di keningku.
“Laki-laki atau perempuan?”
“Belum ketahuan-lah. Masih juga enam minggu.” Aku menekuk bibir.
“Maaf, maaf. Aku janji akan lebih perhatian mulai sekarang.”
“Janji?”
“Janji.” Rayhan mengacungkan jari telunjuk dari jari tengah membentuk huruf ‘V’.
Aku memeluknya. Ya, dia tetap suamiku meski tingkahnya kadang kekanakan dan itu menyebalkan. Lagi pula, aku sudah memilihnya, maka aku harus menghadapinya. Mencoba bersabar menghadapinya.
“Aku mau anak laki-laki.”
“Kenapa? Laki-laki atau perempuan sama aja. Asal lahir dengan sehat dan nggak kurang suatu apa pun.”
“Aku mau anak laki-laki biar bisa main PS bareng,” katanya, kembali mengecup keningku. Dan sebelum aku meprotes keinginannya itu, ia pamit keluar. “Aku ada urusan sebentar. Aku pergi dulu. Dah.”
Aku hanya melongo melihat punggung Rayhan setengah berlari keluar.
“Kalau sampai anakku laki-laki, aku tidak akan mengajarkan PS padanya,” tekadku.
Other Stories
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...
Separuh Dzrah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...
Aruna Yang Terus Bertanya
Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )
(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...
Bayang Bayang
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...