12. Keputusan Berat
Namun, janji tinggallah janji. Laki-laki memang sering memberikan harapan palsu pada wanita. Rayhan tidak benar-benar memenuhi janji itu. Bahkan, kegilaannya pada PS semakin menjadi yang membuatku semakin diabaikan.
Seperti hari ini, aku berpesan padanya saat pulang nanti untuk membelikan mangga. Akhir-akhir ini aku sering menginginkan ini dan itu, yang sayangnya harus kupenuhi sendiri karena Rayhan sibuk dengan kesibukannya. Ya, sibuk main PS pastinya. Lama-lama posisiku tergantikan oleh benda sialan itu.
Aku sangat berharap kali ini Rayhan memenuhi permintaanku. Aku benar-benar menginginkan mangga itu. Namun, apa? Yang Rayhan bawa pulang bukan plastik berisi buah yang aku idamkan. Sesuatu yang lain, yang membuat emosi memuncak setelah sekian lama mencoba dipendam.
PS baru. Yaks! Rayhan benar-benar lebih mencintai benda sialan tidak bermanfaat itu daripada keinginan istrinya yang sedang hamil.
“Mana mangga yang aku minta kamu beli?” tanyaku langsung menodong Rayhan begitu ia sampai.
“Ya, ampun, Sayang. Aku lupa.”
Lupa? Untuk membeli mangga dia lupa, sedangkan untuk membeli benda itu dia ingat? Keterlaluan!
“Mas, kamu lupain pesananku dan justru beli benda ini?”
“Maaf, maaf. Aku cuma ingat PS terbaru ini limited edition, jadi harus segera dibeli,” katanya membela diri.
Cuma gara-gara PS limited edition dia melupakan pesanan istrinya yang sangat dinantikan? Keterlaluan.
Kurampas tanpa ampun benda itu dari tangannya. Melemparnya hingga membentur tembok. Aku tidak peduli jika benda itu hancur berantakan. Ada yang lebih berantakan dari PS sialan itu. Hatiku. Perasaanku. Kepercayaanku.
“PS gue!” Rayhan memunguti benda itu. “Aapa-apaan, sih, lo? Gue keluarin banyak uang buat bisa dapetin ini, tapi lo lemparin gitu aja? Lo itu kenapa, sih?”
Bagus! Bahkan Rayhan sudah berani mengganti panggilan dengan lo-gue.
“Lo bela-belain beli tuh benda sialan sementara lo lupain pesenan gue? Yang minta mangga bukan gue, tapi anak lo. Anak lo yanga ada di rahim gue.”
“Ya, terus? Gue cuma lupa. Gue bisa berangkat lagi buat nyari permintaan lo itu, tapi bukan berarti barang gue lo rusakin begini.”
“Setimpal sama kelakuan lo yang udah bikin gue marah.”
Tidak peduli pembelaan apa lagi yang dilontarkan Rayhan, aku menghambur keluar. Menahan tangis, meski rasa perih mengoyak pertahanan.
Aku kabur ke tempat Mama. Masa bodoh dengan Rayhan. Dia sudah membuatku sakit. Bair saja dia hidup dengan PS-PS sialan itu. aku tidak peduli. Tidak akan lagi pernah peduli.
“Mama sudah bilang, bukan, waktu itu ke kamu? Pikirkan baik-baik menikahi seorang laki-laki yang lebih muda darimu. Biar bagaimanapun, jiwa Rayhan jiwa remaja yang masih labil. Yang masih suka main-main daripada pusing-pusing mikirin rumah tangga.” Nasihat Mama sepanjang aku tinggal di sana.
Ya, seharusnya aku mendengar nasihat orang tua. Aku lebih memilih menyalurkan nafsuku tanpa berpikir panjang akan seperti apa ke depannya jika menikahi bocah seperti Rayhan. Aku lebih mementingkan ego daripada nalar. Beginilah jika pernikahan hanya didasari pada perasaan tanpa memakai logika mendalam.
Aku tidak bisa hidup dengan laki-laki seperti itu. Hanya akan makan hati setiap hari. Tidak bagus untuk perkembangan janinku. Aku harus memilih. Demi kehidupanku di masa depan. Demi kebaikan bayiku di masa depan.
Aku mulai berpikir untuk mengakhiri semuanya dengan Rayhan. Lagi pula, aku sudah melihat bagaimana Rayhan tidak bisa menjaga janji-janjinya. Terlalu sakit untuk kembali percaya pada kebohongan yang selalu berulang.
“Yakin, Nduk, sama keputusanmu?” tanya Mama saat kuutarakan niatku.
“Nggih, Ma. Yakin. Ika nggak bisa hidup dengan orang seperti itu.”
“Yo, wis. Mama selalu berdoa yang terbaik untukmu.”
Aku memeluknya. Tidak ada yang lebih hangat memang dari pelukan Mama.
Gugatan cerai benar-benar kulayangkan. Aku tidak peduli seberapa pun Rayhan memohon untuk tidak bercerai. Sekali aku memutuskan A, maka itulah keputusan terbulatku. Meski nyatanya aku harus menunggu keputusan akhir dari gugatan itu setelah melahirkan. Karena, dalam agama dilarang keras bercerai saat seorang istri sedang mengandung. Haram hukumnya. Dosa.
Apa boleh buat, aku hanya mengikuti ketentuan yang berlaku. Maka, selama menunggu keputusan itu dikabulkan, aku tinggal bersama Mama. Memindahkan semua barangku dari rumah Rayhan. Menghapus semua yang berhubungan dengan bocah tengil itu—meski tidak benar-benar bisa menghapusnya karena keberadaan buah cinta kami.
Sepuluh bulan kemudian, permohonan dikabulkan. Aku resmi bercerai dengan Rayhan. Jangan bertanya padaku bagaimana rasanya. Campur aduk, tidak karuan, sedikit merasa bodoh, konyol, dan menyedihkan.
“Titip anakku, Ika. Aku yakin kamu bisa menjaga dia dengan baik,” katanya saat berkunjung ke rumah demi melihat putrinya.
Oh, ya. Aku melahirkan bayi perempuan yang kuberi nama Sofiyah. Dia sangat cantik dengan kulitnya yang putih. Entah akan mirip siapa dia saat besar nanti.
“Itu pasti,” jawabku ala kadarnya.
Dan setelah hari itu, kami tidak lagi saling bertemu. Entah ke mana Rayhan. Aku tidak memedulikannya. Kuputuskan juga untuk resign dari Rhayya Radio. Terlalu banyak kenangan tentang Rayhan di sana.
Other Stories
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Padang Kuyang
Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...
Breast Beneath The Spotlight
Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...
2r
Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...