Pantaskah Aku Mencintainya?

Reads
4.7K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
pantaskah aku mencintainya?
Pantaskah Aku Mencintainya?
Penulis Rha Azhar

13. Sofiyah Sakit

Yogyakarta, 2017
“Aduh!” Erangan Sofiyah membuyarkan lamunan. Aku bergegas menghampirinya yang tengah tiduran di sofa sambil memegangi kepala. Suara radio yang kami putar tadi sudah berhenti.
“Sofiyah kenapa, Sayang?” tanyaku seraya menyentuh dahinya dengan punggung tangan. Barangkali ia demam sehingga membuatnya pusing kepala.
“Kepala Sofiyah sakit, Ma,” katanya. Wajahnya benar-benar kesakitan. Memang, beberapa waktu belakangan Sofiyah sering sakit. Tapi, kupikir itu hanya sakit anak-anak biasa karena terlalu aktifnya mereka.
Setelah kesentuh dahinya, memang terasa sedikit demam.
“Tunggu, ya, Nak. Mama cari termometer dulu. Kayaknya kamu demam lagi. Kamu tadi hujan-hujanan, ya?” tanyaku sembari berjalan ke arah nakas yang terletak di dekat dapur. Biasanya aku menaruh termometer di sana.
“Nggak, Ma. Budhe Silla marahin Sofi kalau Sofi hujan-hujanan,” adunya. Aku nyengir. Memang itu yang kupesankan pada Silla setiap kali menitipkan Sofiyah padanya. Silla boleh melakukan apa pun pada anakku, karena aku memang membiarkannya menganggap Sofiyah seperti anak sendiri. Aku percaya Silla akan melakukan yang terbaik untuk Sofiyah.
“Aduh, sakit, Ma!” Eluhan Sofiyah kembali terdengar. Membuatku justru panik.
“Iya, Sayang. Tunggu, Mama lagi nyari termemoternya.”
Di mana aku meletakkan benda itu, sih? Begini, nih, hidup. Barang kalau lagi dibutuhin, dicari sampai ke ujung dunia pun tidak ditemukan.
Sampai akhirnya aku menemukan benda mungil itu di dalam laci sendok-sendok. Heran, siapa meletakkan benda ini di laci perabotan makan? Kurang waras agaknya.
Aku kembali ke ruang tengah, bermaksud memeriksa Sofiyah agar segera memberikan penanganan yang tepat. Hanya saja, aku justru mendapati Sofiyah tergeletak begitu saja dengan hidung mimisan.
“Ya Allah, Sofiyah!’ Aku memekik khawatir seraya memeriksanya.
Panik, begitulah keadaanku. Harus apa aku? Aku meraih ponsel, hendak menghubungi Rayhan. Eh, kok, jadi dia yang mau kuhubungi? Mana dia peduli sama anaknya. Selama ini saja tidak pernah menjenguk Sofiyah sejak hari perceraian itu. Lagian, apa dia ada di Yogyakarta?
Melihat kondisi Sofiyah, akhirnya aku menghubungi Silla. Kebetulan suaminya punya mobil. Barangkali bisa sekalian pinjam.
Tidak berapa lama, Silla dan suaminya datang. Aku segera menggendong Sofiya lantas masuk ke mobil. tidak henti memanjatkan doa sepanjang jalan. Aku tidak ingin Sofiya kenapa-kenapa. Aku tidak bisa membayangkan jika sampai Sofiya mengalami hal yang berat.
Selama pemeriksaan Sofiyah, aku dan Silla menunggu di depan ruang IGD. Setelah kepergian Mama beberapa tahun lalu, hanya Silla satu-satunya orang terdekatku saat ini. Kepada Silla biasanya kubagi segala cerita. Entah itu suka ataupun duka.
“Tenang, Ika. Sofiyah nggak akan kenapa-kenapa.” Silla mencoba menenangkanku.
“Aku takut, Sill. Belakangan, Sofiyah sering mengeluh sakit kepala. Kupikir cuma sakit kepala biasa. Tapi, setelah liat tadi, aku jadi berpikiran aneh-aneh.”
Silla menepuk-nepuk pelan bahuku. “Jangan berpikiran yang nggak-nggak.”
Dan kekhawatiranku bertambah saat dokter yang menangani Sofiyah meminta untuk melakukan CT Scan. Siapa pun orangnya akan berpikiran macam-macam jika mendengar kata itu. Artinya, ada sesuatu dalam organ dalam Sofiyah, ‘kan?
Perlu beberapa waktu menunggu sampai hasil CT Scan itu keluar. Dokter memanggilku untuk menjelaskan kondisi yang terjadi kepada Sofiya.
“Apa yang terjadi pada Sofiyah, Dokter?” Aku bertanya lebih dulu setelah memasuki ruangan dokter tersebut dengan ditemani Silla. Aku bersyukur karena Silla bersedia menemaniku menunggui Sofiyah. Agaknya, Silla perlu mendapatkan medali penghargaan sebagai sahabat paling setia sepanjang usia.
“Ada kanker di otak Sofiyah. Stadium lanjut.” Dokter itu menjawab singkat, tapi cukup membuatku tersambar petir malam itu.
“Kanker, Dokter?”
“Ya, Nyonya.”
Ya Allah, cobaan macam apa ini? Kenapa harus Sofiyah? Dia masih kecil, tidak seharusnya dia menanggung sakit seberat ini. Dia tidak boleh sakit, Ya Allah. Tidak. Limpahkan saja sakit itu padaku, jangan Sofiyah.
Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menangis di bahu Silla setelah keluar dari ruangan dokter. Rasanya begitu sakit mendengar Sofiyah menderita kanker. Lebih sakit dari segala sakit yang pernah aku alami. Bahkan, lebih sakit dari saat Rayhan lebih mencintai PS daripada memerhatikanku yang sedang hamil.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Jelas pengobatan Sofiyah memerlukan banyak uang. Pekerjaanku saat ini tidak akan mencukupi kebutuhan pengobatan Sofiyah. Berutang? Tidak, tidak. Dampaknya akan berat di kemudian hari. Memangnya, siapa yang mau memberikan utang sebanyak itu? Mustahil sekali di zaman sekarang. Tidak mungkin juga meminjam pada Silla. Aku tahu bagaimana kondisi keuangannya.
Rayhan? Mungkin aku bisa menghubunginya. Ehm, tidak! Selama ini saja dia tidak pernah mencariku. Aku tidak akan mengemis apa pun padanya. Tapi, bagaimana Sofiyah?
“Apa yang harus aku lakukan, Sill? Dari mana uang sebanyak itu?” eluhku sembari menyusut air mata. Silla kembali menepuk-nepuk bahuku.
“Kita akan cari cara sama-sama. Kamu jangan nyerah. Kamu harus kuat biar Sofiyah juga kuat.” Kata-kata Silla menyejukkan. Memang, satu-satunya yang paling mengerti aku selain Mama adalah Silla.
Dokter bilang, Sofiyah harus menjalani kemoterapi untuk—setidaknya—menghambat pertumbuhan sel kanker otaknya. Siapa yang tidak tahu kalau kemoterapi itu butuh banyak uang? Fiuh! Kenapa cobaan begitu berat untukku dan Sofiyah?
“Kenapa harus Sofiyah, sih? Kenapa nggak aku aja? Sofiyah masih kecil, Sill. Nggak seharusnya dia sakit begini. Harusnya, dia itu main-main, belajar ini dan itu. Nggak kayak begini. Terbaring di ranjang rumah sakit yang ngebosenin.” Kutumpahkan keluhan yang entah keberapa kalinya. Silla hanya menepuk-nepuk bahu. Mungkin bingung juga menghadapiku yang seperti ini.
“Maaf.” Seorang perempuan berpakaian modis yang terlihat sangat cantik menegur kami. Aku menatapnya takjub. Perempuan itu benar-benar cantik dengan rambut kemerahan sepunggung yang sangat lurus, berwajah mulus seperti tidak pernah ditumbuhi jerawat, berbulu mata lentik—yang kupikir hasil olesan maskara, bergincu pink terang yang membuat bibirnya sangat seksi. Mengundang untuk dicium.
“Kenapa, ya?” tanyaku dengan suara parau.
“Sepertinya, Anda punya masalah dengan keuangan.”
Aku mengerutkan dahi. Dari mana dia tahu?
“Saya tidak sengaja mendengarnya tadi,” katanya seolah tahu apa yang kupikirkan.
“Ya, saya sedang membutuhkan banyak uang untuk pengobatan kanker anak saya.”
Kepala perempuan itu mengangguk-angguk.
“Oh, ya, perkenalkan nama saya Mariska.” Tangannya terjulur ke arahku. Mau tidak mau, sebagai tanda kesopanan, aku menyambutnya. “Kalau kamu mau, kamu bisa kerja sama saya ....”
Belum pula mbak-mbak yang memperkenalkan diri bernama Mariska ini menyelesaikan penjelasannya, dering ponsel entah milik siapa menyela. Mbak Mariska merogoh tas tangannya, mengeluarkan benda elektronik berbentuk kotak itu. Ah, ponselnya yang berdering.
“Sebentar.” Mbak Mariska menyingkir ke sisi lain koridor, sementara aku bersitatap dengan Silla.
Beberapa menit kemudian, Mbak Mariska kembali.
“Saya sedang buru-buru,” katanya sambil merogoh tas tangan. “Ini kartu nama saya. Kalau kamu bersedia, kamu bisa hubungi saya di nomor itu. Kamu bisa mendapatkan bayaran besar nantinya.”
Aku menerima kartu nama itu. membacanya sekilas untuk tahu apa yang tertera di dalamnya.
Mariska Permata
Jln. Vania III No. 15, Cluster Vania Permata
Bintaro sektor 9, Tanggerang Selatan
No. HP 087728700235
Berbalas tatap kemudian dengan Silla. Meski sahabatku sendiri sama bingungnya.
“Saya permisi kalau begitu.”
Mbak Mariska pun undur diri dengan meninggalkan pertanyaan-pertanyaan dalam kepalaku. Aku menatap punggung Mbak Mariska yang kian menjauh. Dari gaya berbusananya, aku yakin dia bukan orang sembarangan. Mungkinkah model? Atau aktris sinetron? Bisa saja, ‘kan? Melihat betapa cantik dan modisnya perempuan itu.
Kutatap lekat-lekat kartu nama tersebut.
Tanggerang Selatan? Bukankah ini dekat Jakarta? Artinya, jika aku bersedia menerima pekerjaan darinya, ada kemungkinan aku stay di sana. Bagaimana dengan Sofiya kalau begitu? Argh! Memusingkan.
Tapi, dilihat dari cara berpakaian Mbak Mariska, aku yakin dia bukan orang sembarangan. Kalau dia aktris atau model, pekerjaan apa yang memungkinkan untukku? Asisten pribadinya? Atau, jangan-jangan aku mau dijadikan model atau aktris juga. Wah, bisa jadi seleb ibu kota aku.
“Pikirkan dulu baik-baik, Ika.” Silla menyarankan.

Other Stories
Relung

Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...

Air Susu Dibalas Madu

Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...

Cinta Dua Rasa

Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...

Pertemuan Di Ujung Kopi

Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...

My Love

Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...

Nestapa

Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...

Download Titik & Koma