Pantaskah Aku Mencintainya?

Reads
4.7K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
pantaskah aku mencintainya?
Pantaskah Aku Mencintainya?
Penulis Rha Azhar

17. Ustad Arizal

Tidak ada malam tanpa melayani para hidung belang. Selentingan, aku mendengar jika aku menjadi favorit mereka. Memangnya aku makanan sampai difavoritkan seperti itu? Rasanya, aku benar-benar tidak lagi punya harga diri. Aku benar-benar laknat.
“She’s extremely beautiful and hot. I love her curvy body, I’ll pay expensive for her.”Adel berbincang dengan seorang bule, yang kemungkinan membahasku. Pantas saja mucikari yang satu itu pandai berbahasa inggris. Kliennya pun orang bule.
“Yeah, she’s a newbie here, you can making love with her as long as you want. She will make you feel right,” balas Adel.
Seperti yang kuduga, bule itu menginginkanku di ranjangnya malam ini. Maafkan Mama, Sofi.
Dia mencumbuku dengan ganas, yang sayangnya tidak aku balas dengan antusias. Ya, kali ada yang antusias melakukan dosa. Biar bagaimanapun, neraka seketika membayang di pelupuk mata.
Tiba-tiba saja, kudengar jeritan-jeritan di luar. Sebuah kerusuhan sepertinya sedang terjadi. Kerusuhan? Jangan-jangan .... Aku mendorong dengan paksa si bule ini dari atas tubuhku. Meraih serampangan baju yang terserak di lantai, memakainya dengan cepat. Namun, naas bagiku. Sebelum aku berhasil kabur, petugas razia hiburan malam sudah merangsek masuk ke kamar. Untung saja aku sudah berpakaian.
Aku digelandang ke kantor polisi bersama beberapa orang lainnya. Meski sudah beberapa hari aku tinggal dengan Mbak Mariska, aku tidak cukup kenal banyak orang. Seumur-umur, baru kali ini aku masuk kantor polisi. Digelandang pula. Memalukan sekali. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini kelak di akhirat? Hidup sungguh melelahkan sekaligus menyakitkan.
“Dahliany Wiskasari dari Yogyakarta. Datang ke sini karena diajak Mariska dan dijadikan PSK?” Aku hanya mengangguk saat seorang petugas Satpol PP menginterogasiku. “Kamu kumpul dengan yang lain dulu. Sebentar lagi shalat subuh berjamaah, lalu mendengarkan pengajian singkat sebagai pembinaan PSK.”
“Gue, sih, nggak masalah berkali-kali kena razia,” ujar salah satu di antara kami yang kupikir masih berusia 20-an awal. Tampak tidak keberatan mendekam di sel ini.
“Kenapa?” tanyaku. Baru kali ini aku mendengar orang ikhlas digelandang.
“Gue bisa liat ustaz ganteng pas tausiyah nanti,” katanya begitu santai.
“Emang udah berapa kali lo dirazia?” tanyaku penasaran.
“Sering, lah pokoknya.” Senyumnya penuh rahasia.
Aku mengangguk sebagai tanggapan.
Seganteng apa, sih, ustaz yang biasa memberi tausiyah di sini? Terus, kok, bisa tahan banting lihat cewek-cewek molek yang menjadi sebagian besar jamaah kuliah subuhnya.
“Asyik kali, ya, kalau ngajakin ustaz ganteng bercinta,” celetuk gadis tadi. Aku cuma menggeleng mendengar kalimatnya. Mesumnya udah stadium akhir, nih, anak.
“Tuh, ustaz namanya siapa emang?” tanyaku lagi. Kalau sering berarti tahu, dong siapa nama si ustaz.
“Ehm, kalau nggak salah namanya Ustaz Arizal.”
Aku tercengang untuk sesaat. Arizal? Namanya mirip dengan cinta pertamaku, ya? Ah, tidak mungkin orang yang sama. Nama Arizal di dunia tidak mungkin hanya satu. Arizal yang lain. Ya, ini Arizal yang lain.
Aku tenggelam dalam untaian doa-doa, meminta pengampunan dari Sang Pencipta atas dosa yang kulakukan. Masa bodoh dengan mukena musala yang basah kuyup oleh air mataku. Aku sangat menyesal. Benar-benar menyesali apa yang sudah kuperbuat. Demi apa pun, aku tidak akan mengulangi hal paling kotor ini. Aku takut akan karma yang katanya masih berlaku di dunia. Aku punya anak perempuan. Dan katanya, apa yang kita lakukan bisa terulang kepada anak kita, Aku tidak ingin Sofiyah menanggung akibat dari dosa yang kuperbuat. Tidak akan aku gunakan uang hasil melacur itu, tidak peduli berapa besarnya, aku tidak ingin darah Sofiyah terkotori uang haram.
Sayang, sepanjang tausiyah aku mendengarkan dari barisan paling belakang. Jadi, tidak memberiku ruang yang cukup untuk melihat bagaimana sosok Ustaz Arizal yang banyak difavoritkan kalangan PSK. Meski begitu, dari suaranya yang begitu sejuk, jernih, dan menenangkan, mungkin benar dia ustaz yang ganteng. Hanya saja, kenapa namanya Arizal? Jadi mengingatkanku dengan Arizal-ku, cinta pertamaku.
Arizal Ridwan Maulana, begitulah si ustaz menyebutkan nama lengkapnya. Nama yang benar-benar mirip dengan Arizal pada masa laluku.
“Dicabut cahaya (nur) keimanan di dalam zina dan adzabnya di akhirat yang akan membawa para penzina terpanggang di dalam neraka.”
Begitu kalimat terakhir yang disampaikan Ustaz Arizal selesai, air mata meleleh tak tertahankan. Rasanya sangat mengena sekali terjemahan ayat yang disampaikannya itu. Neraka, tempat bagi para pezina terpanggang. Dan aku mungkin akan menjadi salah satu di antara yang terpanggang tersebut.
Aku masih takzim mencermati isi ceramah beberapa saat lalu saat yang lain memilih bubar. Rasanya, duduk bersimpuh di musala ini membuatku tenteram. Sembari memikirkan, akan ke mana setelah ini. Jelas aku tidak akan kembali ke rumah itu. Mungkin, aku akan kembali ke Yogyakarta. Mencari pekerjaan lebih di sana untuk pengobatan Sofiyah.
“Masih ada orang, ya, di sini?” Aku mengangkat wajah yang sejak tadi tenggelam dalam balutan mukena. Mendapati seorang laki-laki yang mungkin seusia denganku. Suaranya sama persis dengan yang ceramah tadi. Jangan-jangan ....
Kuperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki laki-laki itu. Wajahnya memang tampan, tapi lebih dari itu, yang kulihat bukan sekadar tampan. Aku seolah melihat cahaya yang menyejukkan dari wajahnya. Masya Allah, pantas saja para PSK yang terjaring sangat mengagumi dia.
Tapi, kok, dia bawa tongkat? Eh, apa mungkin dia tuna netra? Hush! Jangan suuzon, Ika! Mungkin saja itu tongkat untuk mengusir tikus di rumahnya yang tidak sengaja dia bawa. Ya, mungkin saja.
“Sepertinya, ada yang terpesona dengan kegantengan saya, ya?” Pertanyaan yang disusul dengan kekehan. Aku malah nyaris tersedak mendengar dugaannya yang sangat tepat. Wah, apa jangan-jangan dia juga punya bakat cenayang? Jangan ngaco, Ika!
“Kok, Ustaz tau saya terpesona sama Ustaz? Eh?” Mati aku. Kenapa malah keceplosan nanya? Bodoh amat, sih, kamu Ika! Aku menepuk jidat atas kelakukan memalukan yang muncul tanpa dimau.
“Saat yang lahir dimatikan, maka yang batin akan dibangkitkan.”
Aku mengernyitkan dahi, tidak mengerti apa yang dibicarakan Ustaz Arizal. Dia ngomong apa, sih? Peribahasanya, kok, njlimet amat. Aku yang penulis saja tidak paham.
Tapi, ada yang aneh dengan Ustaz Arizal. Dari tadi tatapannya tidak mengarah padaku. Rasa penasaran membuatku terpaksa melakukan hal kurang sopan ini. Kulambai-lambaikan tangan di depan wajahnya, tapi tidak ada reaksi. Benar dugaanku jika Ustaz Arizal ini buta. Hm, membuatku yakin jika dia bukan Arizal-ku.
Aku kembali duduk. Mengejutkan, Ustaz Arizal pun ikut duduk. Meski tetap memberi jarak yang lumayan lebar di antara kami. Hebat sekali ustaz ganteng ini bisa mengukur lebar yang cukup memisahkan antara dua orang bukan mahram.
“Kamu mau ke mana setelah ini?” tanyanya tiba-tiba. Eh, dia sengaja mengajakku ngobrol?
“Tidak tahu. Mungkin kembali ke Yogya dan mencari pekerjaan tambahan di sana.” Wajah Sofiyah kembali terbayang. Air mata kembali meleleh jika wajah bidadariku itu memenuhi seluruh perhatian. Maafkan Mama, Sofi.
“Kenapa kamu bekerja sebagai PSK?”
Aku menghela napas terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Ustaz Arizal.
“Aku tidak tahu jika pekerjaan yang ditawarkan Mbak Mariska adalah menjadi PSK. Dia hanya bilang, pekerjaan ini akan menghasilkan uang banyak dalam waktu singkat. Karena aku sedang membutuhkan banyak uang, maka aku menerima pekerjaan ini. Tidak sangka, aku disuruh menjadi PSK.” Rasa perih kembali mengguyur hati. Sakit, malu, dan beragam rasa teraduk dalam dada. Entah bagaimana saat Sofiyah tahu jika ibu kebanggaannya justru menjadi budak cinta para hidung belang.
“Sebelumnya, kamu pernah bekerja apa?” kembali Ustaz Arizal bertanya.
“Aku seorang penulis, editor, dan penjaga kios kerajinan di Malioboro.”
“Kenapa kamu sampai mau menerima tawaran Mariska itu?”
Cerita tidak, ya, kalau anakku sedang sakit kanker? Aku tidak mau dikasihani. Kalau masih mampu bekerja sendiri, aku akan bekerja bukan dengan menerima begitu saja bantuan orang lain.
“Pasti terjadi sesuatu yang berat yang membuatmu harus mencari uang sebanyak itu. Apa anakmu sakit? Umur berapa?”
Whoa! Bagaimana dia bisa tahu? Wah, benar apa kata orang jika indera penglihatan tidak berfungsi dengan baik, maka Allah akan menggantinya dengan penglihatan batin yang lebih tajam. Mungkin, Ustaz Arizal pun begitu.
“Sebenarnya, anakku sakit kanker. Dia harus segera melakukan kemoterapi untuk menghambat pertumbuhan sel kanker dalam otaknya. Dan itu membutuhkan banyak biaya.” Yeah, jadi curhat, deh.
Ustaz Arizal menganggukkan kepala, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku baju kokonya. Sebuah dompet ia buka lantas mengambil selembar kartu nama yang diberikan padaku.
“Datanglah ke tempat ini. Insya Allah, kamu akan mendapatkan pekerjaan.”
Aku menerimanya dan membacanya sekilas,
“Saya permisi dulu. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” balasku dengan tatapan menyertai kepergiannya.
Kembali kulihat kartu nama milik Ustaz Arizal. Keren sekali seorang ustaz memiliki kartu nama. Tatapanku fokus ke bagian alamat. Pondok Pesantren Al Azhar? Oh, jadi Ustaz Arizal tinggal di pesantren. Tapi, pekerjaan apa yang pantas dikerjakan oleh mantan pelacur sepertiku? Tidak mungkin guru ngaji, ‘kan? Ah, entahlah.[]

Other Stories
Autumn's Journey

Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

My Love

Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...

Hikayat Cinta

Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...

First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Download Titik & Koma