16. Terjebak
Tidak ada jalan lain, aku harus menerima tawaran Mbak Mariska. Aku sudah menghubunginya untuk tahu lebh lanjut jenis pekerjaan apa yang akan kulakukan. Dan dia bilang pekerjaan yang pastinya mendatangkan bayaran besar dalam waktu singkat. Situasi yang benar-benar aku perlukan. Meski masih menerka-nerka pekerjaan yang akan diberikan. Ya, sudahlah. Aku kepepet. Tidak ada jalan lain. Sofiyah harus segera mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Kutitipkan Sofiyah pada Silla selama aku ke Jakarta. Butuh sekitar 9 jam dengan kereta untuk sampai. Dengan berbekal kartu nama yang diberikan Mbak Mariska, aku siap berjuang di bawah atap ibu kota. Demi Sofiyah, demi kesembuhannya.
“Ini benar alamatnya, Pak?” tanyaku pada supir taksi yang mengantar.
“Benar, Mbak. Ini memang alamatnya.”
Aku hanya bisa percaya. Ya, mau bagaimana lagi, ‘kan? Tahu juga tidak sebelumnya. Baiklah, aku siap untuk melakukan apa pun.
Aku membunyikan bel yang menempel di gerbang. Sebelumnya aku sudah menghubungi Mbak Mariska kalau akan datang. Tidak butuh lama, gerbang terbuka. Seorang perempuan yang agaknya lebih muda dariku, berpenampilan seksi dengan hanya menggunakan tank top dan celana jeans yang pendeknya minta ampun—yang pasti di atas lutut. Belum lagi rambutnya yang merah kecokelatan. Anak gaul, mungkin.
“Tamunya Mami?” tanyanya.
Mami? Untuk beberapa saat aku mengerutkan dahi. Ah, mungkin di sini Mbak Mariska dipanggil mami.
“Ya.”
“Masuk.”
Aku mengekor langkahnya. Perempuan ini punya tubuh yang bagus. Perawatannya pasti mahal. Tapi, kenapa perasaanku mendadak aneh begini, ya? Ah, sudahlah. Nanti juga terbiasa.
Aku dipersilakan duduk untuk menunggu Mbak Mariska. Sepuluh menit kemudian, barulah kutemui wajah Mbak Mariska. Senyumnya mengembang lebar. Dia seperti baru saja mendapatkan bongkahan emas 24 karat. Aih, kenapa begitu?
“Apa yang kamu putuskan sudah benar, Ika,” katanya.
“Omong-omong, pekerjaan apa yang akan saya kerjakan, Mbak?”
“Nanti juga kamu tahu. Sekarang, mending kamu istirahat. Setelah bangun, kita akan pergi ke suatu tempat.”
Mbak Mariska mengantarku ke sebuah kamar. Yang kulihat, rumah ini cukup mewah dengan banyak kamar. Setiap kamar dihuni oleh seorang perempuan muda. Mungkin karyawan-karyawan Mbak Mariska.
Karena benar-benar lelah, aku langsung merebahkan diri. Tidak lama kemudian, aku sudah tepar ke alam mimpi.
* * *
Begitu bangun, Mbak Mariska langsung memintaku untuk ikut dengannya. Tidak mengerti apa pun, aku hanya manut.[1]Mbak Mariska membawaku ke sebuah salon. Meminta seorang karyawan untuk mengurusku. Pekerjaan apa, sih, sampai-sampai aku harus mendapatkan perawatan semacam ini? Luluran, mandi susu, spa rempah-rempah, meni-pedi, creambath, dan tetek bengek lainnya yang tidak aku mengerti.
“Wow!” Mbak Mariska terpekik begitu aku menyelesaikan serangkaian perawatan itu. “Gue nggak salah bawa lo,” katanya tersenyum penuh kemenangan.
“Memangnya, saya mau dikasih pekerjaan apa, Mbak?” Aku kembali menanyakan hal yang sama.
“Udah, lo tenang aja. Gue yakin lo nggak akan nyesel karena bakalan dapet duit banyak dari ini. Lo butuh buat pengobatan anak lo, ‘kan?”
Aku hanya mengangguk. Memang, aku memberitahu Mbak Marisak tentang kondisi putriku.
Selesai dari salon, Mbak Mariska membawaku ke salah satu butik yang katanya milik kenalannya. Lagi-lagi aku hanya manut. Terserah, deh, Mbak Mariska mau ngasih kerjaan apa buatku. Yang penting aku segera mendapatkan uang untuk Sofiyah.
Mbak Mariska memintaku mencoba sebuah dress yang dia pilih. Dress di atas lutut yang sangat seksi, berwarna peach dengan V-neck berbelahan dada rendah. Sangat ketat, sampai-sampai aku tidak merasakan sedang memakai baju.
“Sempurna,” katanya begitu melihatku. “Kamu sangat cantik, Ika.”
Aku hanya tersenyum canggung atas pujiannya. Ya, bukannya ge-er. Setelah make over habis-habisan ini, aku melihat diriku yang baru. Yang lebih wangi dan cantik, tidak seperti beberapa jam lalu. Hm, bagaimana, ya, tanggapan Rayhan jika bertemu denganku dalam kondisi seperti ini?
Hush! Kenapa jadi memikirkan bocah tengil itu?
Begitu sampai di rumah, seorang tamu Mbak Mariska sudah menunggu. Seorang bapak-bapak dengan perut buncit, berkumis, berkepala setengah botak, membuatku teringat akan sosok laki-laki hidung belang dalam sinetron-sinetron.
“Hai, Om Chan,” sapa Mbak Mariska, disusul cipika-cipiki dengan bapak-bapak yang dipanggil Om Chand itu.
“Hai, Cantik. Bagaimana? Pesananku ada?” tanyanya disertai kerlingan mata nakal.
“Ada, dong.” Mbak Mariska melirik ke arahku. “Tuh!”
Om Chand segera mengarahkan tatapannya padaku. Aku tidak mengerti kenapa Mbak Mariska menyebutku sebagai pesanan. Lah, memangnya aku barang apa?
“Kamu memang yang terbaik, Mariska.” Om Chand mengecup pipi Mbak Mariska. Entah kenapa aku melihatnya merasa geli.
“Tentu, dong. Jadi, berani berapa buat dia? Barang baru, masih fresh, nih.”
“Sepuluh juta?”
Mbak Mariska tampak menggeleng, tidak setuju.
“Oke, sebutkan berapa maumu?”
Mbak Mariska tersenyum penuh kemenangan. Ia menghampiriku yang masih berdiri di sisi lain ruangan. “Berapa yang lo butuh buat pengobatan anak lo?”
“Dua puluh juta, Mbak.”
“Oke.” Mbak Mariska kembali pada Om Chand itu. Kok, nanyain biaya pengobatan Sofiyah?
“Om Chand harus membayarnya dua puluh juta. Kalau untukku, Om sudah tahu tentunya berapa yang harus ditransfer.” Mbak Mariska kembali mengerling genit.
“Oke. Tidak masalah. Tapi, Om mau pakai langsung untuk malam ini.”
“Terserah.”
Mbak Mariska kembali menghampiriku. “Lo harus nemenin Om Chand malam ini.”
“Menemani bagaimana maksudnya?” Perasaanku mulai tidak enak.
“Lo ngertilah apa yang gue maksud. Pokoknya bikin dia puas. Lo bisa dapet tambahan kalo servis memuaskan.”
“Maksudnya .... Nggak, aku nggak mau. Itu zina, Mbak. Dosa.” Aku menolak. Baru kusadari untuk apa semua yang kulalui hari ini. Mempersiapkanku menjadi kupu-kupu malam.
“Nggak usah sok suci saat ini. Lo butuh duit banyak buat anak lo yang sakit itu. Gue bantuin lo biar bisa dapet duit cepet. Lo mau anak lo cepet sembuh juga, ‘kan?”
Perasaanku tersentak. Kembali teringat wajah Sofiyah saat kutinggalkan dia. Ya Allah, apa hanya dengan cara ini aku bisa mendapatkan uang banyak?
Aku tidak bisa kabur. Aku terjebak dalam muslihat Mbak Mariska. Aku sudah terjerumus ke dalam permainannya. Aku tidak bisa lari.
Malam itu, dengan menahan tangis dan malu, aku melayani Om Chand. Bukan saja ia mengobrak-abrik kewanitaanku, tapi juga harga diriku. Aku pezina sekarang. Aku pendosa paling hina. Ya Allah, semoga Engkau mau mengampuni hamba. Sungguh, aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.
Permainan berakhir saat kokok ayam terdengar. Aku hanya bisu sepanjang Om Chand menjelajah tubuhku. Aku merasa kerdil sekarang. Benar-benar memalukan. Dering ponsel menyadarkan lamunanku. Tidak lagi kulihat si tua buncit itu. Entah sejak kapan dia pergi.
“Mama? Ini Sofi.” Sebuah sapaan begitu ceriah seketika melemparkanku kembali ke dunia—setelah sesaat lalu rasanya berada di neraka.
“Ya, Sayang. Ini Mama. Kenapa nelepon Mama? Kamu nggak apa-apa, ‘kan?” Sebersit ketakutan timbul. Oh Allah, semoga tidak terjadi hal buruk dengan Sofiyah.
“Nggap apa-apa, kok, Ma. Sofiyah baik-baik aja. Ada Budhe Silla, kok, yang jagain Sofi.”
Aku mengembus napas lega. Benar-benar takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Sofiyah.
“Mama lagi apa? Kerjaan di sana gimana? Enak, Ma?”
Aku menelan ludah. Getir. Bagaiamana aku mengatakan jika Mamanya terjebak dalam dunia terlarang di sini? Bagaimana kalau Sofiyah tahu Mamanya jadi pelacur demi pengobatannya? Tidak, tidak. Biarkan Sofiyah berpikir yang baik-baik saja.
“Seru, menyenangkan, dan sibuk.” Kutahan sekuat tenaga untuk tidak menangis.
“Bagus, deh. Sofiyah senang mendengarnya. Sofiyah kangen Mama,” katanya yang semakin menjebol pertahanan mataku.
“Mama juga kangen Sofi. Sofi baik-baik di sana, ya. Jangan nakal dan nurut sama Budhe Silla.”
“Ya, Mama. Ehm, Mama kerja apa, sih di sana?”
Ya Allah, bagaimana ini? Kujawab jujur apa bohong?
“Mama menjaga butik di sini, Sayang.” Kudengar Sofiyah ber-oh.
Panggilan berakhir satu jam kemudian. Setelahnya, kutumpahkan air mata sejadi-jadinya. Allah, beginikah jalan yang harus kutempuh?
* * *
[1]Nurut
Other Stories
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...
2r
Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...