Pantaskah Aku Mencintainya?

Reads
4.8K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
pantaskah aku mencintainya?
Pantaskah Aku Mencintainya?
Penulis Rha Azhar

18. Hijrah Ke Pesantren

Jika aku diundang ke pesantren, artinya aku tidak boleh sembarangan memakai pakaian. Setidaknya aku harus memakai kerudung. By the way, aku tidak punya kerudung. Jangankan penutup kepala itu, baju berlengan panjang saja tidak. Ditambah, aku juga tidak punya uang. Ada, sih. Tapi, itu uang bayaran dari hasil melacurku beberapa hari lalu yang berhasil kubawa sebelum terazia. Masa, iya, aku pakai uang haram untuk membeli baju takwa? Tapi, cuma uang itu yang kupunya.
Mau bagaimana lagi? Semoga Allah mengampuniku yang menggunakan uang haram ini karena terpaksa.
Aku tidak tahu seperti apa aturan yang berlaku di pesantren tempat tinggal Ustaz Arizal. Kerudung dan baju seperti apa yang boleh dipakai, aku juga tidak tahu. Karena bingung, aku memilih asal kerudung dan baju. Selain demi meminimalisir pengeluaran dengan uang haram, maka yang kubeli hanya kerudung biasa yang kebanyakan orang pakai zaman ini. Yang mudah dimodel ini dan itu. Hm, aku jadi ingin mencoba model yang sering dipakai Fatin Shidqia Lubis itu. Tidak terlalu ribet, tapi cukup modis.
Aku ternganga begitu sampai di depan bangunan megah dengan plang besi lebar yang bertuliskan ‘Pondok Pesantren Al Azhar’. Mendadak aku ragu apakah benar-benar akan masuk atau tidak. Tapi, jika tidak masuk, mungkin aku kehilangan satu-satunya kesempatan untuk bekerja di sini. Selain itu, mungkin dengan berada di lingkungan pesantren, aku bisa memperbanyak ilmu agama. Belajar menjadi wanita muslimah yang baik.
Aku melihat seseorang berdiri di depan pintu gerbang. Semakin dekat ke arahnya, aku sadar jika itu Ustaz Arizal. Wah, apakah ustaz ganteng itu sengaja menunggu kedatanganku? Padahal, aku tidak menghubunginya sama sekali sebelum ke sini. Lagi pula, mana aku punya nomot ponsel atau teleponnya. Dalam kartu nama yang dia berikan tidak tercantum nomor kontak apa pun.
“Assalamu’alaikum, Ustaz.” Aku menyapa lebih dulu sebagai tanda kedatangan.
“Wa’alaikumsalam. Sudah saya duga kalau kamu akan datang. Mari masuk.” Ustaz Arizal melangkah mendahului.
Apa yang kudapati begitu masuk adalah sebuah kemegahan sekaligus kesejukan. Bangunan-bangunan di lingkungan pesantren ini pun banyak dan besar. Wah, benar-benar menakjubkan. Ustaz Arizal membawaku ke salah satu bangunan dari tiga bangunan yang tampak mendominasi lingkungan pesantren ini.
“Ini asrama guru. Di sini kamu akan tinggal.” Begitu kata Ustaz Arizal. Seketika aku bingung. Asrama guru? Kok, aku tinggal di sini? Bukannya kalau tinggal di sini artinya ....
“Kamu akan menjadi pengajar salah satu mata pelajaran di sini. Kebetulan, kursi untuk guru Bahasa Indonesia sedang kosong. Kamu yang akan mengisinya.” Kembali penjelasan Ustaz Arizal memotong ketidakmengertianku.
Aku diajak bertemu dengan pengurus senior pesantren di sini. Namanya Ustaz Abdullah. Beliau juga menjelaskan jika aku harus mengganti gaya berpakaian. Tidak boleh mengenakan celana dan kerudung yang dengan model-model tidak jelas, Minimalnya memakai rok atau gamis, lalu khimar minimal sebatas perut. Aku melihat beberapa guru justru memakai khimar sebatas lutut. Subhanallah, mereka tampak sejuk sekali saat dipandang.
“Kamu juga bisa membawa anakmu ke sini. Insya Allah, di sini ada pengobatan alternatif untuk menyembuhkan kanker. Dan berhubung kamu pengajar di pesantren, maka biaya digratiskan.” Ustaz Abdullah menjelaskan.
Aku hanya terlongo mendengarkan tawaran tersebut. Sudah diterima di sini sebagai pengajar saja untung, dan sekarang anakku bisa gratis berobat. Allahu Akbar, Allah memang tidak pernah tidur akan kesusahan hamba-Nya.
Selesai menemui Ustaz Abdullah, aku diantarkan Ustaz Arizal ke kamar yang akan menjadi tempat tinggal tetap selama di sini.
“Terima kasih, Ustaz. Berkat bantuan Ustaz, anakku memiliki peluang untuk sembuh.”
“Berterima kasihlah pada Allah, karena Dia-lah Yang Maha Penolong. Saya dan pihak pesantren hanyalah perantara.”
Aku tersenyum mendengar jawaban Ustaz Arizal. Selalu saja rendah hati. Kadang, aku melihatnya seperti melihat Arizal, cinta pertama di masa lalu. Ah, entahlah Arizal siapa dia ini. Aku tidak ingin berharap banyak. Terlalu berharap terkadang membuat kita lupa akan kenyataan sesungguhnya.
Begitu Ustaz Arizal undur diri, aku menelepon Silla untuk memberitahu kabar bahagia ini. Tersenyum saat mendengar lagu Noah Band—dulu namanya Peterpan, mengalun sebagai ringback tone. Lagu favorit Silla.
“Halo, Silla,” sapaku begitu panggilan terjawab.
“Hei, Ik. Bagaimana? Kamu baik-baik aja di sana, ‘kan?”
“Ya, aku baik, kok. Sil, aku menemukan solusi untuk pengobatan Sofiyah.”
“Oh, ya? Apa?”
“Pokoknya, kamu bawa Sofiyah dulu ke sini. Nanti aku kirim lewat SMS alamatnya, ya,” kataku setengah menyembunyikan. Aku akan menceritakan kejadian sebenarnya pada Silla saat dia datang nanti.
“Oh, oke, oke. Tapi, kamu beneran baik-baik aja?”
“Ya, aku baik-baik aja. Baik banget malah. Aku sekarang kerja di pesantren.”
“Sama Mbak Mariska?”
“Nggak. Nanti, deh, lengkapnya aku ceritain. Sekarang, mana Sofiyah? Aku mau ngomong sama dia.”
“Bentar. Dia abis aku suapin tadi. Lagi main di halaman belakang.”
Aku tersenyum mendengarnya. Aku selalu percaya Silla. Dia sahabat terbaikku. Dia seperti ibu kedua buat Sofiyah. Sayang, sampai saat ini Silla belum dikaruniai momongan. Itulah yang membuatnya sangat menyayangi Sofiyah.
“Halo, Mama?”
“Halo, Sayang. Abis makan, ya?” tanyaku. Tanpa sadar air mata menetes. Mendengar suara Sofiyah bagiku adalah penegar. Karena dia aku harus menjadi wanita lebih kuat. Berkat adanya Sofiyah dalam hidupku, aku belajar menjadi wanita yang tegar dan tabah. Melupakan bagaimana sakitnya saat Rayhan lebih memilih PS daripada memerhatikanku. Hah! Kenapa tiba-tiba saja mengingat bocah tengil itu.
“Iya, tadi Budhe Silla yang nyuapin. Enak, loh, Ma masakan Budhe Silla. Tapi, lebih enak masakan Mama, kok.”
“Hm, ngomongnya begitu, ya. Oke, nanti nggak Budhe masakin lagi, loh.” Kudengar sahutan Silla karena ocehan Sofi. Sementara Sofiyah justru terkekeh, berhasil menggoda budhenya.
“Sofi, nanti Sofi ke sini, ya, dianter sama Budhe Silla. Sofi berobat di sini.” Aku memberitahu agar Sofiya tidak kaget.
“Oh, ya, Ma? Di situ enak, nggak? Rame nggak, Ma? Katanya, Jakarta panas. Nggak kayak Yogya.” Sofiyah memberondong.
“Nggak, Sayang. Kita tinggal di lingkungan pesantren. Jadi, nggak akan panas. Insya Allah, di sini adem. Sofiyah mau, ‘kan?”
“Iya, deh, iya. Sofi mau asal sama-sama sama Mama. Sofiyah kangen Mama.” Ada nada sedih yang kutangkap.
“Mama juga kangen Sofi. Kangen meluk anak Mama yang cerewet ini,” kataku. Air mata mengalir deras menuruni pipi. Sangat tidak ingin membayangkan bagaimana kalau Spfiyah tahu Mamanya pernah melacur hanya karena ingin memenuhi pengobatannya. Semoga Allah menyembunyikan aib itu dari Sofiyah.
“Sofi nggak kangen Mama,” celetuknya yang aku yakin hanya becandaan.
“Nggak boleh boong, loh.”
“Iya, aku nggak kangen Mama. Tapi, kangen bangetttttt.” Senyumku mengembang mendengar kalimat Sofiyah yang dipanjangkan di bagian ‘banget’. Anak ini tahu saja cara menggoda Mamanya.
“Ya, udah. Pokoknya Mama tunggu Sofi ke sini. Sekarang, kasiin teleponnya ke Budhe Silla.”
“Iya, Mama. Budhe, ini Mama mau ngomong lagi.” Sofiyah berseru. Mungkin Silla sedang di ruangan lain. Aku mendengar langkah berlarian ke arah lain. Setidaknya, Sofiyah masih baik-baik saja sampai sekarang.
“Halo, Ik?’
“Sill, apa Sofiyah sering kambuh?”
“Beberapa hari lalu dia mimisan. Mungkin juga kecapean. Dia nggak mau diem banget anaknya. Tapi, sekarang udah baik-baik aja, kok,” kata Silla.
“Alhamdulillah, aku lega dengernya. Kapan kamu bawa Sofiyah ke sini? Kalau bisa secepetnya, ya.”
“Lusa aku berangkat. Biar Mas nanti anterin kita.”
“Okelah kalau begitu. Udah dulu, ya, Sill. Aku mau beres-beres.”
“Ya. Jaga kesehatan, Ik.”
“Ya. Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Sambungan pun berakhir.
Aku menatap kamar yang cukup luas jika dihuni dua orang. Setidaknya, selama di sini Sofiyah akan tidur dengan nyaman. Baiklah, mari kita bereskan!

Other Stories
Mak Comblang Jatuh Cinta

“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...

Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Kating Modus!

Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...

Mozarella (bukan Cinderella)

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...

Love Falls With The Rain In Mentaya

Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...

Download Titik & Koma