1. Stop Suka Berondong Ganteng
Yogyakarta, 2017
Rasanya seperti padang yang bertahun-tahun gersang, terus hujan lebat turun. Adem. Sejuk. Itulah yang kurasakan saat melihatnya bersandar pada motor gede di depan kios. Tampilannya anak muda banget. Jaket kulit warna hitam plus jeans belel tampak benar-benar serasi. Ya Allah, asli dia keren. Siapa dia, ya? Kok, tidakmasuk ke kios? Aku yakin dia lagi nunggu seseorang dari kios ini. Jangan-jangan nungguin pacarnya? Alamak! Kok, ngebayangin dia say hay sama cewek lain agak nyesek, ya?
“Ada yang terpesona, nih.” Tahu-tahu seorang gadis berdiri di sampingku. Gerak tangan yang sejak tadi membersihkan kaca jendela pun turut berhenti.
“Sok tahu kamu,” cibirku mencoba berkilah.
“Nggak usah ngelak begitu. Keliatan dari muka lo.”
“Kenapa emang sama mukaku? Kayaknya baik-baik aja.” Maling mana ada yang mau ngaku, ‘kan?
“Kebaca, Mbak Ika. Kebaca.”
“Apanya?”
“Ya, lo terpesona sama keberadaan abang gue,” katanya tidak mau kalah.
Tunggu. Dia bilang apa tadi? Abangnya? Jadi, cowok keren yang senderan di motor itu abangnya si Alesha ini? Wow! Nih, anak kenapa tidak bilang-bilang kalau punya abang sekeren itu? Dikenalin boleh kali, ya.
“Kamu serius cowok itu abangmu? Kok, nggak mirip?” Aku sengaja menggodanya.
“Ya, kali. Kakak-adik nggak harus mirip, dong. Yang kembar aja kadang nggak mirip,” balasnya sedikit bersungut. Aku kembali melanjutkan pekerjaan. Jam kios berdentang delapan kali seiring gelap di luar sana. Lime belas menit lagi saatnya untukku pulang.
“Kenapa dia nggak masuk?” tanyaku setelah beberapa saat diam.
“Mana gue tahu. Lagian, tumben amat dia jemput. Sehat kayaknya, tuh orang.” Dengan santainya gadis yang lima tahun lebih muda dariku itu berujar. Tampak tidak menaruh hormat pada kakak laki-lakinya itu. Aneh.
“Bagus, dong, kalau dia jemput kamu. Artinya dia sayang sama adiknya.”
Alesha terkekeh, sebelum kemudian menjawab, “Ada maksud tertentu pasti.”
“Jangan suudzon sama kakak sendiri.” Aku mengingatkan.
Hanya cebikan yang kudengar darinya.
“Tapi, kakak gue emang keren, ‘kan?” Alesha kembali bertanya.
Cuma orang bodohh yang bilang kalau cowok itu tidak keren. Atau cuma cewek tidak normal yang bilang kalau kakak Alesha tidak keren. Berhubung aku normal, ya, tentu saja dia keren.
“Cuma orang nggak normal yang bilang dia nggak keren,” pungkasku bersamaan selesainya tugas.
“Sayangnya, abang gue yang nggak normal.”
Aku menoleh demi melihat Alesha yang kini menyilangkan kedua lengan di depan dada. Ucapan yang dia katakan seolah tidak membuatnya merasa berdosa.
“Maksudnya?”
“Ya, nggak normal. Abang gue gay.” Tanpa tedeng aling-aling Alesha mengatakan.
“Hah? Jangan bercanda, Le!” Asli, ini anak bercandaannya nggak banget. Masa’ kakak sendiri dibilang gay. Menjatuhkan banget, ‘kan?
Alesha mengangkat bahu tidak peduli. Dari raut wajahnya, sih, dia tidak main-main sama ucapannya. Heh? Masa sekeren itu gay? Ck, ck, ck, cowok zaman now begitu, ya? Banyak yang suka sama sesama jenis. Jangan-jangan lagi trend lagi. Wah, bahaya. Dunia makin tua namanya.
“Apa namanya bukan gay kalau tiap digrepe-grepe sama cowok jadi-jadian mau?” Alesha melayangkan tatapannya. Digrepe-grepe bagaimana, sih?
Aku kembali melayangkan tatapan pada cowok itu yang kini sibuk dengan ponselnya. Menelisik lebih dalam, barangkali menemukan sesuatu yang cocok untuk membuktikan kalau kakak Alesha ini gay. Lagipula, gay atau bukan memangnya bisa dideteksi cuma dengan dilihat? Fiuh! Konyol sekali kamu, Ka.
“Mbak Ika?”
“Hem?”
“Lo kalau naksir abang gue bilang, ya. Biar gue jodohin. Kali aja kalau dikenalin sama cewek cantik penyakitnya bisa sembuh.” Alesha menyengir.
“Eh?”
“Ya, biarpun dia gay, tampangnya nggak malu-maluinlah kalau dibawa kondangan.” Kekehannya semakin lebar. Nih, anak tidak ada sopannya sama kakak sendiri.
Alesha pamit lima menit kemudian. Menitipkan kunci kios padaku karena akulah orang terakhir yang pulang.
Gerimis mulai turun begitu aku menunggu trans Yogya di halte yang tidak jauh dari kios. Tampak jalanan Malioboro basah. Beberapa orang berteduh, entah di angkringan ataupun di selasar kios-kios yang kebanyakan sudah tutup. Beberapa pengamen jalanan melagukan beberapa lagu. Sayup terdengar lagu keroncong dari angkringan yang tidak jauh dari halte tempatku menunggu.
Trans Yogya membawaku ke Kotagede, tempat di mana aku tinggal. Daerah yang sering disebut-sebut sebagai kota perak ini sama sekali tidak terlihat sepi meski jam menunjuk pukul sembilan malam. Terlebih dulu aku mampir ke salah satu toko kerajinan yang masih tampak ramai, tidak peduli gerimis berubah deras. Tujuanku bukan untuk membeli sesuatu dari toko ini, melainkan menjemput Sofiyah.
Aku mendapati bocah perempuan itu duduk tenang sembari mendengar penjelasan seorang wanita seusiaku. Entah apa yang sedang dijelaskannya.
“Sofiyah?” panggilku. Kepala mungil itu menoleh, lantas merekah senyum. Berlarian ia menghampiriku.
“Kangen Mama,” katanya seraya mengalungkan lengan ke leher. Tidak lupa mendaratkan ciuman di pipi.
“Sama. Mama juga kangen Sofiyah.” Kuciumi rambutnya, kedua matanya, pipinya, hidungnya, juga dahinya. Satu-satunya hal terbaik yang ditinggalkan Rayhan untukku.
“Pulang sekarang, Ma?” tanyanya. Aku membalas dengan anggukan lalu menggendongnya.
“Dia nggak nakal, ‘kan, Sil?” tanyaku pada wanita yang tadi mengobrol seru dengan Sofiyah.
“Nggak. Sofiyah nggak nakal. Dia nurut, kok. Ya, ‘kan, Sofi?” Wanita itu menjawil pipi Sofiyah. Bocah perempuan itu mengangguk mantap.
“Anak pintar.” Aku mengelus lembut kepala Sofiyah. “Makasih, ya, Sil. Maaf, selalu ngerepotin kamu.”
“Santai aja.” Silla menepuk lembut bahuku. “Aku udah nganggep Sofiyah kayak anak sendiri. Nggak keberatan sama sekali kalau dia di sini. Sofiyah akan selalu diterima di sini.”
“Makasih. Aku percaya kalau Sofiyah bakalan aman sama kamu.”
“Percayain sama aku.” Silla menepuk dadanya bangga.
Setelah berpamitan dengan suami Silla dan beberapa karyawan di sana, aku mengajak Sofiyah untuk pulang. Antara rumahku dengan toko kerajinan Silla tidak begitu jauh. Jadi, aku memilih berjalan kaki dari toko tersebut.
Sepanjang perjalanan, Sofiyah menceritakan kegiatan apa saja yang ia lakukan di toko. Aku senang mendengar kecakapannya bercerita. Seolah, tidak membiarkan satu bagian pun terlewatkan. Aku sadar jika Sofiyah memiliki ingatan yang bagus. Satu hal lagi yang ditinggalkan Rayhan untuknya.
Begitu sampai—seperti kebiasaan selama ini, Sofiyah bergegas ke kamar mandi. Mencuci tangan dan kaki, serta menggosok gigi. Hanya saja, tidak bersegera tidur. Justru menyalakan radio. Aku tidak tahu saluran mana yang dipilih Sofiyah. Hanya saja, bukan siaran lagu-lagu seperti kebanyakan anak zaman now yang dipilih, melainkan siaran ceramah. Wah, nih, anak mau jadi ustazah apa, ya?
“Suaranya adem, ya, Ma,” katanya dengan bersender di sofa.
Kudengarkan dengan saksama suara tersebut. Setuju dengan Sofiyah. Suara penceramahnya adem.
“Kok, anak Mama tahu ada siaran ceramah?” Bukan apa-apa. Aku saja tidak tahu ada ceramah dengan suara seadem itu. Omong-omong, penceramahnya siapa, ya?
“Tadi siang, nggak sengaja Sofi denger ceramah yang sama di kiosnya Mbah Ali. Terus, kata Mbah Ali kalau mau dengerin lagi setel aja radio ini di jam setengah sepuluh malam.” Penjelasan Sofiyah membuatku manggut-manggut.
Kali ini Sofiyah berbaring, sementara aku menyalakan laptop. Pekerjaanku bukan hanya sebagai penjaga kios kerajinan tangan, tapi juga sebagai editor dan penulis novel. Profesi yang bertahu-tahun ini kujalani.
Sembari mendengarkan siaran ceramah, aku membuka email. Mendapatkan satu pemberitahuan inbox yang mana berisi file novel yang harus kuedit. Lumayan, rezeki tambahan.
“Sofiyah tahu siapa nama penceramah itu?” Iseng saja aku tanya. Mungkin, Mbah Ali sekalian memberitahunya, ‘kan?
“Ehm .... Ustaz Arizal, kalau nggak salah.”
Deg!
Ustaz siapa? Arizal? Mungkinkah ...?
* * *
“Thanks, Beb.” Seraya mengecup pipi gue. Beranjak dari ranjang yang cukup berantakan setelah pertarungan semalam. Meraih serampangan pakaian yang terserak di lantai, memakainya lantas beranjak dari kamar ini. Meninggalkan gue yang cuma bisa bengong kayak orang bego di sisi ranjang. Merasa mual dengan yang gue lakuin. Malaikat pencatat amal buruk mungkin kehabisan kertas catatan buat nulis setiap keburukan gue yang hampir tiap malam gue lakuin di kamar ini. Sial!
Gue pun beranjak ke kamar mandi. Mengguyur badan yang lengket kayaknya lebih baik sebelum balik ke rumah. Meski tetap saja nggak akan ngaruh buat dosa-dosa gue. Air model begitu nggak akan menghapus dosa paling hitam.
Kalau saja ayah nggak pergi secepat itu, gue nggak akan kayak begini. Melangkah di jalan yang salah, yang sama sekali nggak gue inginkan. Ngebayangin untuk jadi diri gue yang sekarang aja nggak pernah.
Tapi, siapa yang bisa menebak jalan hidup seseorang, ‘kan? Cuma Tuhan yang kuasa atas hidup gue. Mungkin nggak, ya, suatu waktu nanti gue keluar dari lingkaran hitam ini? Walau bagaimana juga, gue nggak mau terus jatuh ke lubang dosa. Api neraka panasnya nggak kayak api kompor. Sekali tenggelam ke sana—ini kata pak ustaz zaman gue SMP dulu, hancur lebur tubuh lo.
Fiuh!
Apa mau dikata? Nggak bisa juga gue minta ayah dibalikin buat ngembaliin keadaan, ‘kan? Gila aja. Bangkit dari kubur apa nggak horor? Semoga Tuhan masih berbaik hati kelak. Ngasih kesempatan buat gue keluar dari jalur nggak lurus ini.
Other Stories
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Hafidz Cerdik
Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Coincidence Twist
Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...