3. What? Berondong?
Aku melihat Pak Waluyo di luar ruangan on air. Membuatku dag dig dug tidak karuan. Pasalnya, ini hari terakhir dari seminggu masa percobaan yang diminta direktur utama tersebut. Hidup dan matiku di sini sedang dipertaruhkan. Semoga, deh, Pak Waluyo puas dengan kinerjaku. Jika dipikir-pikir, sepanjang masa percobaan, Pak Waluyo tidak mengomplain apa pun terkait siaran yang kubawa.
Begitu siaran selesai, aku bergegas menemui Pak Waluyo. Alih-alih mengomentari atau apa, Pak Waluyo bertepuk tangan. Tidak lupa tertawa puas. Elah dalah, ini orang kenapa?
“Bagus, Ika. Siaran kamu oke. Saya memang tidak salah pilih,” katanya.
Aku bisa menangkap kalau Pak Waluyo puas. Artinya ....
“Kamu lulus uji coba. Artinya, kamu akan bekerja di sini.”
Whoa! Rasanya aku nge-fly. Akhirnya, impianku tercapai. Sayang, di sini banyak orang. Aku tidak bisa jingkrak-jingkrak. Tengsin, dong.
Setelah menyelamatiku dan menjelaskan jam kerja yang kupegang adalah setiap jam 9 pagi sampai 12 siang untuk hari Senin sampai Jumat dan jam 3 sore sampai 6 petang pada hari Sabtu, Pak Waluyo membolehkanku pulang.
Gerimis menyambut begitu langkahku keluar kantor. Terpaksa menunggu sampai sedikit reda. Beberapa orang pun bernasib sama; terjebak dan hanya bisa berdiri di teras kantor.
Lima belas menit berlalu. Bukannya reda, justru gerimis berubah hujan deras. Beberapa orang yang menunggu bersamaku memilih kembali masuk. Terang saja, di luar selain karena tempias hujan, udara pun beranjak dingin. Kalau di lobi, kan, lumayan hangat. Tapi, tidak denganku. Agaknya bagus juga berdiri di luar sini dengan memandangi hujan. Meski, ya, dinginnya mulai tidak bersahabat padaku yang hanya memakai blus berbahan ceruti.
Seseorang tiba-tiba saja mencekal tangan kananku.
“Nggak bagus berdiri di sini. Mending masuk,” katanya. Aku menatapnya tajam. Nih, orang siapa, sih? Seenaknya saja nyekal tangan cewek.
“Nggak apa-apa. Saya harus nunggu bus di sini.” Aku berusaha menolak. Sok kenal amat ini bocah.
Aku memerhatikan detail pemuda yang mencekal tanganku. Yang jelas, dia lebih muda dariku. Meski, ya, dandannya tidak bisa dikatakan dandanan bocah. Sangat stylist dengan kemeja putih panjang yang lengannya digulung hingga siku dan celana jeans hitam. Rambutnya terpangkas rapi. Hitam. Tidak dipungkiri dia keren. Cuma, dia ini siapa? Kok, sok kenal begini?
Senyum tipis terbit di wajahnya saat memergokiku sedang memerhatikan dirinya. Sial! Pakai ketahuan lagi.
Kupalingkan segera kepala ke arah lain, berharap dia tidak berpikiran macam-macam.
“Rayhan. Hafizaturrayhan.” Ia melepas cekalannya. Berganti dengan juluran tangan ke arahku. Eh? Jadi niat sebenarnya hanya ingin memperkenalkan diri? Dasar bocah!
Beberapa orang melintas dengan memerhatikan kami. Meski tidak berefek apa pun pada bocah bernama Rayhan ini. Seolah semua sudah sangat mengenal Rayhan. Jangan-jangan, bocah ini memang seseorang yang penting di sini? Waduh!
“Aku cuma ingin kenal Mbak lebih dekat. Apa ndak boleh?” tanyanya lagi, seolah memaksaku untuk menyambut uluran tangannya. Yang artinya menerima perkenalannya.
“Oke kalau cuma kenal. Dahliany Wiskasari,” kataku sembari menyambut uluran tangannya, “tapi panggil saja Ika.” Aku melanjutkan.
“Oke, Mbak Ika.”
Hujan makin deras. Otomatis aku tertahan lebih lama di kantor. Duh, padahal aku kelaparan. Berharap bisa segera pulang dan melahap sup buatan Mama. Nasibmu begitu mengenaskan, Ika.
“Laper, nggak?” tanyanya tiba-tiba. Membuatku justru terlongo. Pertanyaannya berbanding lurus dengan keadaanku. Tapi, apa etis aku bicara terang-terangan kalau lapar? Kok, rasanya gengsi, ya?
“Kenapa nanya-nanya begitu? Mau ngasih saya makan?” Ups! Tidak seharusnya aku menanggapi.
Kekehannya memenuhi lobi. Tidak peduli jika saat ini kami sedang menjadi perhatian. Sok kenal sok dekat banget, deh.
“Ayo makan. Aku yang traktir. Anggap aja sebagai tanda terima kasih karena kamu udah mau menerima perkenalan ini.”
Aku mengerutkan kening demi mendengar ajakannya. Tidak salah, ya? Mau mentraktirku? Uang dari mana? Pasti masih nadah dari orang tuanya.
“Nggak perlu, deh. Biar nanti makan di rumah aja,” tolakku sehalus mungkin.
“Nggak baik menunda-nunda makan. Bisa kena asam lambung.” Aku geli mendengar nada kalimatnya. Seperti sengaja menakut-nakutiku.
Hal paling memalukan pun terjadi. Perutku benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Tanpa tedeng aling-aling berbunyi, membuat Rayhan menahan senyum. Ya, ya, ya, aku tahu. Dari ekspresinya bisa kubaca jika dia merasa menang. Orang mana yang akan terus bertahan dengan rasa lapar di hari hujan seperti ini?
“Perutmu nggak bisa boong,” katanya dengan senyum meremehkan. “Makan sekarang yang artinya menerima ajakanku atau nanti tapi dengan konsekuensi kamu kelaparan sepanjang perjalanan pulang? Kita nggak tahu kapan hujannya berhenti. Nggak tahu juga kapan busnya datang.”
Ya, juga, sih. Bisa lebih malu-maluin kalau sepanjang di bus, nih perut bunyi terus. Apa boleh buat? Toh, cuma sekadar makan bareng. Ya, semoga saja tidak menimbulkan gosip berlebihan.
“Mau makan di mana?”
“Ada kantin biru di sebelah kantor. Kita ke sana aja.” Ia mengusulkan.
“Oke.”
Lima menit kemudian aku sudah duduk menyantap menu makanan favorit; nasih campur dengan gudeg, tumis krecek, dan teh manis hangat. Benar-benar cocok disantap saat hujan begini.
Sepanjang makan, tidak lupa ekor mataku memerhatikan Rayhan yang duduk tepat di depanku. Entah benar atau tidak, yang kutangkap adalah Rayhan memerhatikanku sepanjang bersantap. Bukan ge-er, tapi faktanya memang begitu. Aneh sekali bocah ini.
“Biar aku saja yang membayar,” katanya begitu aku ingin beranjak untuk membayar. Eh? Apa dia punya uang?
“Saya bayar sendiri aja.”
“Jangan menolak rezeki,” katanya keukeuh. Duh, ini bocah keras kepala amat, sih.
“Terserah, deh.” Aku pun mengalah. Malas saja gontok-gontokkan di tempat umum begini. Mana ramai pula.
Hujan benar-benar reda begitu kami keluar dari kantin biru. Kali ini aku menolaknya yang ingin mengantarku pulang. Tidak peduli paksaannya, aku menolak keras. Bukan apa-apa. Kenal juga baru, mana mungkin kubiarkan dia mengantar. Kalau Mama tahu aku pulang diantar pria—bocah lebih tepatnya, bisa diinterogasi habis-habisan.
Aku menemukan rasa tidak puas pada ekspresi wajahnya. Apa peduliku? Masa bodohh jika dia kesal karena penolakanku.
Sepanjang perjalanan pulang aku berbalas SMS dengan Mbak Kinar yang merupakan penyiar senior di Rhayya Radio. Seminggu bersama orang-orang Rhayya cukup membuatku tahu jika Mbak Kinar merupakan salah satu senior yang ramah, bahkan cukup humoris. Aku sering memerhatikan. Bahkan, dia duluan yang mengajakku berkenalan dan bertukar nomor ponsel untuk jaga-jaga jika ingin bertanya bagaimana Rhayya Radio. Selain humble, Mbak Kinar ini orang yang rajin. Meski jadwal siaran seringnya malam, dia selalu datang pagi-pagi. Bilangnya, sih, sumpek kalau di rumah.
Nah, karena sebagian besar waktu Mbak Kinar di radio, kupikir dia lebih banyak tahu tentang orang-orang di radio. Otomatis pasti tahu banyak tentang Rayhan. Instingku mengatakan kalau Rayhan bukan orang sembarangan.
Aku harap kamu nggak kaget kalau tahu umur Rayhan.
Aku mengerutkan dahi begitu menerima pesan balasan Mbak Kinar.
Dia itu keliatannya aja dewasa. Padahal, umurnya baru lima belas tahun. Garis bawahi bila perlu, Ka. Lima belas tahun, masih ingusan, ‘kan?
What? Lima belas tahun? Yang benar saja? Oh God, dia ternyata berondong.
Kayaknya, dia naksir kamu, Ka.
Aku menggeleng kepala berulang kali, menolak dugaan Mbak Kinar tidak mungkin sekali anak ingusan itu naksir padaku. Duh, duh, duh. Aku bukan tante-tante girang yang doyan berondong, ya.
Daripada berlanjut dengan pesan-pesan Mbak Kinar yang kelihatannya bermaksud menyudutkanku, kumasukkan ponsel ke tas. Membuang jauh-jauh penyataan Mbak Kinar.
Other Stories
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...
The Museum
Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...