Pantaskah Aku Mencintainya?

Reads
4.8K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
pantaskah aku mencintainya?
Pantaskah Aku Mencintainya?
Penulis Rha Azhar

4. Pdkt

Aku hampir tersedak begitu mendapati Rayhan berdiri di depan pintu. Untung Mama sedang keluar, jadi aku tidak harus menghadapi rasa ingin tahunya dengan kehadiran seorang remaja tanggung dengan sepeda motor keluaran terbaru; berdandan begitu rapi persis cowok-cowok ABG yang akan mengajak kencan pacarnya.
\"Ngapain kamu di sini?” Kubiarkan tanyaku bernada ketus. Aku tidak yakin apa motif yang sebenarnya dari bocah ini di sini. Hanya saja aku bukan anak ingusan yang tidak tahu gelagat cowok-cowok macam Rayhan sekarang. Bukan ge-er, sih. Hanya saja instingku berbicara seperti itu. Kalau Rayhan sedang berusaha mendekatiku.
Haks. Yang benar saja! Apa anak ini tidak sadar diri siapa gadis yang sedang dia pedekate-in?
“Jemput kamu. Ada siaran pagi ini, ‘kan?” Tanpa dosa dia menjawab.
Bah! Betul-betul perlu diperiksa kewarasannya. Bagaimana bisa dia yang lebih muda cuma memanggil ‘kamu’ padaku? Benar-benar anak zaman sekarang beraninya di luar batas.
“Aku nggak minta kamu jemput aku,” kataku masih mempertahankan nada sedikit ketus.
“Memang nggak. Aku yang sengaja mau jemput kamu. Nggak boleh?” Ia memiringkan sedikit kepala, menarik sudur-sudut bibir membentuk senyuman sok manis, serta memasang wajah innocent. Ya Allah, benar-benar tidak sadar umur.
Nggak boleh! Ingin kuteriakkan jawaban itu. Hanya saja, dua kata itu tercekal di tenggorokan.
Sebagai gantinya aku hanya menatap sebal cowok ABG di depanku ini. Mendengus samar, berharap hanya dengan melihat bahasa tubuhku dia mengerti jika perbuatannya tidak menyenangkan.
“Nggak disuruh duduk, nih, tamunya?” Kedua lengan ia silangkan di depan dada. Tampak cool, sih. Yaks! Ingat, Ika. Dia cuma remaja tanggung yang sedang menggodamu. Jangan terjerat pesona yang belum matang begitu.
“Mandi sana. Kamu pasti belum mandi, ‘kan?” katanya lagi yang kali ini sembari menatapiku dari kepala sampai ujung kaki.
“Sok tahu,” dengusku.
“Tahu, dong. Baumu kecium, kok.” Sebelah matanya mengerling.
Sialan! Terang-terangan sekali bocah ini.
“Mandiku lama. Terserah kamu mau nungguin atau nggak. Tapi, kalau kamu mau nunggu kamu bisa duduk di situ.” Aku menunjuk kursi rotan yang tersedia di teras.
“Selama apa pun, aku bakalan nungguin kamu, Cantik.”
Astaga! Modusnya terang-terangan.
“Terserah, deh.”
Dengan sedikit menghentak, kulangkahkan kaki kembali masuk. Bergegas mandi agar aku bisa segera membawa makhluk ABG itu pergi dari sini. Jangan sampai Mama tahu kalau anaknya sedang di-pedekate-in ABG. Bisa tertawa tujuh hari tujuh malam nanti.
Tiga puluh menit kemudian aku sudah berada di kantor. Beberapa orang yang berpapasan dengan kami tampak menatap ingin tahu. Jelas saja. Mungkin mereka mulai menebak-nebak bagaimana bisa perempuan dewasa sepertiku datang bersama dengan bocah ingusan 15 tahun. Yang menarik perhatian adalah tangan si perempuan yang terus dipegangi. Alamak! Bisa jadi bahan gosip terhangat aku ini.
“Rayhan, lepasain tangan kamu, dong,” pintaku entah untuk yang keberapa.
“Nggak mau. Kalau kamu hilang bagaimana?” Jawaban konyol yang membuatku ingin melempari bocah ini dengan paku.
“Ya, ampun, Rayhan. Kita ini di kantor. Bagaimana mungkin aku hilang, sih? Jangan ngaco!” sergahku. Nih, anak perlu diperiksa jiwa kedewasaannya. Jangan-jangan sebuah kelainan gen membuatnya dewasa sebelum waktunya.
“Bukan begitu. Bagaimana kalau kamu hilang karena diambil orang? Nggak liat bagaimana karyawan cowok di sini suka liatin kamu sampe nyureng,” katanya melakukan pembelaan.
Ingin rasanya aku tertawa. Apa masalahnya kalau aku dibawa kabur oleh cowok-cowok itu?
“Rayhan, kamu lucu ....”
“Aku emang udah lucu dari lahir.” Ia memotong.
“Bukan begitu.”
“Terus apa?”
Aku menghentikan langkah yang membuat Rayhan juga menghentikan langkahnya. Posisi kami tepat di depan lift saat ini.
“Yang kamu lakuin ke saya itu lucu. Seolah-olah kamu pacar saya.” Agaknya aku perlu bicara serius dengannya.
“Nah, kalau begitu kamu jadi pacar aku mulai sekarang.” Ia menukas dengan kerlingan sebelah matanya.
Yang benar saja. Jadi pacarnya? Hah?
“Lucu sekali.” Aku mencebik.
“Kok, lucu. Aku serius. Aku suka kamu sejak liat kamu di lift waktu itu,” katanya bergaya sungguh-sungguh. Berapa lama bocah ini melatih ucapan meyakinkan begitu?
“Kamu sadar sama apa yang kamu omongin itu?”
“Sadar banget.” Ia meringis sembari menggaruk cuping hidungnya.
Denting lift menjeda percakapan kami. Beberapa orang keluar dari sana. Begitu lift kosong, kami masuk. Rayhan menekan tombol angka untuk menuju lantai dua.
“Aku beneran suka sama kamu, Ika,” katanya memecah keterdiaman kami.
“Jangan bercanda.” Aku menukas. Anak ini perlu disadarkan di mana posisinya. Gampang betul mulutnya mengatakan suka.
“Loh, aku nggak bercanda. Aku beneran suka sama kamu.” Kali ini nada suaranya tegas. Usahanya untuk terdengar meyakinkan.
“Rayhan, Rayhan. Jangan ngegombalin saya. Kamu sadar berapa umur saya? Nyaris 20 tahun yang artinya saya ini kakak kamu. Bahkan seharusnya kamu panggil saya ‘kak’, bukan ‘kamu-kamu’ begitu,” jelasku.
“Aku nggak gombal. Aku serius.” Rayhan mengarahkan tatapannya padaku. Menyorot tajam seolah aku mangsa paling empuk yang bisa memuaskan kelaparannya.
“Apa?”
“Kenapa kamu nggak percaya kalau aku suka kamu?”
“Karena kamu masih kecil.” O, o. Telak banget, sih, aku. Eh, bagus, sih. Kali saja dengan begitu si bocah tengil ini berhenti menyukaiku. Ampun, deh. Lima belas tahun itu masih SMP. Eh, kemarin Mbak Kinar bilang apa, ya? Si tengil ini masih sekolah apa tidak, ya?
Dengusa kesal terdengar darinya. Memang dia anak kecil, ‘kan? Aku tidak salah, dong.
“Jangan memandang usia sebagai patokan kedewasaan. Aku bakal nunjukkin ke kamu kalau aku nggak main-main dengan ini.”
Seringain licik timbul di wajahnya. Aish! Apa maksudnya ini?
Lift kembali berdenting. Aku buru-buru keluar begitu pintu terbuka. Jangan sampai orang-orang di lantai ini juga tahu bagaimana perilaku karyawan mereka yang sedang dikuntit bocah lima belas tahun.
***
Aku bersyukur tidak menemukan bocah tengil itu ketika siaranku selesai. Yang kutemui justru Mbak Kinar dengan segelas kopi mengepul di tangannya. Seingatku, untuk hari ini, Mbak Kinar mendapat siaran malam.
“Udah selesai, Ka?” tanyanya seraya menghentikan langkah di depanku yang masih berdiri di ambang pintu ruang on air.
“Udah, Mbak,” kataku sebagai jawaban. “Mbak Kinar, kok, di sini? Bukannya siaran baru nanti malam, ya?”
“Males aja kalau di rumah. Mending di sini. Ngobrol sama banyak orang sampai lupa waktu.”
Aku menganggu-angguk paham. Memang terlihat kalau Mbak Kinar suka keramaian.
“Bagaimana kemarin?” tanyanya kemudian. Memasang wajah antara ingin tahu dan menggoda.
“Apanya?”
“Si Rayhan. Diapain aja kamu sama dia sampe-sampe nanyain tentang dia?”
Sumpah! Pertanyaan Mbak Kinar membuatku ingin menenggelamkan diri di Laut Karibia. Kesannya, aku mendapat perlakuan bejat dari si Rayhan.
“Apaan, sih, Mbak? Diapa-apaain macam apa pula?”
Mbak Kinar melepaskan tawa, meski aku tidak mengerti kenapa wanita satu itu tertawa.
“Yang aku lihat, ya, Ka. Si Rayhan ini beneran suka sama kamu.” Mbak Kinar menaikturunkan alisnya. Apa-apaan coba pernyataannya itu?
“Jangan bercanda, Mbak. Dia masih kecil. SMP juga entah lulus atau belum,” kataku beranjak dari ambang pintu menuju dua kursi kosong yang berhadapan dengan meja bulat memisahkan keduanya.
“Eh, jangan salah kamu.” Mbak Kinar tergopoh-gopoh menuju kursi satunya. Duduk, meletakkan begitu saja gelas kopinya. Mencampakkannya dan memilih membahas Rayhan.
“Salahnya?”
“Kamu nggak tahu, ya? Rayhan itu jenius. Biar kata dia tengil begitu, otaknya nggak bisa diragukan. Umurnya memang baru 15 tahun, tapi dia udah kuliah.” Mbak Kinar bercerita dengan sedikit menggebu-gebu. Aku sampai mengernyit dibuatnya.
“Ya, tetap aja, Mbak. Tetap umurnya masih 15 tahun. Masih bocah ingusan yang suka main-main.”
Well, jujur saja. Aku tidak sedang mencari seseorang yang hanya main-main denganku. Usiaku sudah nyaris 20 tahun. Bagiku, bukan saatnya untuk bermain-main dengan cinta. Saatnya serius membicarakan pernikahan. Ya, mungkin terdengar terlalu dini. Namun, bagiku usia segitu bukan untuk main-main lagi. Tidak.
Mbak Kinar menatapku penuh tanya, meski tidak satu kalimat tanya yang terlontar dari bibir tipis bergincu merah menyala itu. Kembali diraihnya gelas kopi lantas beranjak. Menuju sebuah ruangan yang biasa digunakan saat makan siang bagi para penyiar.[]

Other Stories
Bangkit Dari Luka

Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...

Saat Cinta Itu Hadir

Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...

Menantimu

“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...

Pintu Dunia Lain

Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...

Petualangan Di Negri Awan

seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...

Kala Cinta Di Dermaga

Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...

Download Titik & Koma