2. Mbarep Telu
Sepulang dari tempat audisi menemui Risma, Bastian langsung pulang ke rumah tanpa mampir di suatu tempat. Bastian tiba di rumahnya sekitar jam dua siang.
Ketika berada di depan pintu, hatinya sudah tak sabar masuk ke rumah dan memeluk mama. Cepat-cepat dia membuka pintu. Betapa kagetnya Bastian saat membuka pintu.
Seluruh keluarganya dari Tante Riana, Tante Rere, Mbak Suci, Ben sedang berkumpul di ruang tamu. Bahkan Natasya beserta kedua orang tuanya juga ada di sana. Hati Bastian makin bertanya-tanya ada apa sebenarnya? Kok semua keluarga berkumpul?
Mbak Suci itu kakak kedua Bastian. Dia sejak menikah dengan pria bule tinggal di Jerman. Ben itu adiknya Bastian, kuliah di Australia. Bastian yakin jika Mbak Suci dan Ben datang saat ini, berarti ada hal penting yang ingin disampaikan papanya. Dan hal penting itu berhubungan dengan Natasya.
Natasya sebenarnya teman Bastian waktu SMA dulu, dia sangat terobsesi mengejar cinta Bastian. Natasya tak kalah cantik dari Risma, malah Natasya keturunan Cina. Sayangnya Natasya centil, manja, kekanak-kanakan. Itu yang membuat Bastian tak suka padanya dan memilih Risma dijadikan kekasih hatinya.
“Loh, Natasya ngapain ke sini juga? Ada apa sih sebenarnya kok pada ngumpul gini?” tanya Bastian.
“Eh, Bastian sudah nyampe Jakarta. Ayo masuk!” ujar papanya.
Bastian memasuki rumah. Lalu duduk di sofa. “Bastian, sebenarnya Papa menyuruhmu pulang ke Indonesia karena ingin menyampaikan sesuatu yang penting sama kamu,” Papa Bastian mulai membuka pembicaraan.
“Sesuatu yang penting itu apa, Pa?” tanya Bastian.
“Sesuatu yang penting itu… Papa ingin menjodohkan kamu dengan Natasya. Papa tau kalian berdua akrab sejak SMA, Natasya juga anaknya cantik, pintar, sopan dan anak rekan bisnis Papa. Cocok banget jadi pendamping hidupmu.”
Bastian sudah tak heran lagi, memang sejak SMA papanya selalu mendesak dirinya pacaran sama Natasya. “Tapi Pa, cewek yang aku cintai sejak SMA itu Risma, bukan Natasya. Aku pun mau pulang ke Indonesia karena ingin segera menikahinya,” Bastian mencoba menolak perjodohan dengan halus sekaligus mengutarakan niatnya untuk segera melamar Risma.
“Papa nggak akan setuju kamu menikah dengan Risma.”
“Alasannya apa, Pa?”
“Risma itu anak pertama, sedangkan kamu anak ketiga. Kamu tentunya tahu di keluarga kita anak pertama tak boleh menikah dengan anak ketiga, begitupun sebaliknya.”
Bastian terlahir di tanah Jawa. Nenek dan kakeknya Bastian Jawa tulen. Seperti yang orang-orang bilang, tanah Jawa gudangnya mitos, apalagi mitos tentang pernikahan. Sebelum Bastian mengenalkan Risma kepada neneknya, nenek selalu mengatakan, “Kowe oleh mantenan kambek siapapun. Sing penting dudu’ anak nomor siji. Mbarep telu iku ndak oleh mantenan.”
“Papa, itu kan hanya mitos. Yang namanya mitos belum terbukti kebenarannya. Percayalah hanya pada Allah, sebab Allah yang mengatur segala yang ada di muka bumi ini. Jika Papa percaya dengan mitos itu, sama saja Papa mendahului ketetapan Allah.”
“Diam kamu! Kamu masih anak ingusan, belum tahu apa-apa tentang adat istiadat. Mitos itu bukan sembarang mitos dan sudah terbukti kebenarannya. Kamu masih ingat dengan kakak pertamamu? Dia meninggal karena menikahi anak nomor tiga. Papa nggak ingin hal yang sama terjadi lagi.”
Pandangan Bastian beralih menatap mama. Tatapan mata Bastian ke mamanya itu meminta mamanya untuk membujuk papa agar membatalkan perjodohan ini. Selama ini mamanya yang paling mengerti Bastian. “Pa, Bella meninggal karena sakit sudah lama, bukan karena mitos. Mitos ada karena keyakinan kita. Maka, olahlah firasat kita sebaik dan sebagus mungkin. Insya Allah Bastian tak kan terjadi apa-apa jika menikah dengan Risma,” kali ini mamanya Bastian yang mencoba membujuk papanya.
“Sekali tidak tetap tidak!”
Bastian mendengus kesal. Dia sudah tak tahu lagi bagaimana cara membujuk papanya. Papa ini wataknya keras dan teguh pendirian. Sekali bilang A, beliau takkan mudah mengubah ucapannya menjadi B.
“Nak Bastian pikirkanlah dulu perjodohan ini. Natasya sangat mencintai kamu, Om yakin kamu akan jauh lebih bahagia jika menikah bersama Natasya.”
“Gue setuju tuh sama perkataan Om Hendro. Lagian Mbak Natasya lebih cantik dari Mbak Risma, sayang kalau disia-siain. Kalau Mas Bastian ndak mau sama Mbak Natasya biar buat aku aja deh,” celetuk Ben.
Ben orangnya memang suka ceplas-ceplos. Kalau ngomong tak pernah dipikir dulu. Selain itu Ben juga tak bisa lihat cewek cantik dikit aja, sudah ingin diembat.
Mbak Suci mencubit lengan Ben. Ben pun manyun-manyunin bibir. “Apaan sih Mbak Suci main cubit-cubit tangan orang aja! Sakit tau,” keluh Ben.
“Biarin. Kamu sih asal jeplak aja kalau ngomong. Kamu itu kuliah dulu yang bener sampai lulus S1, baru mikirin nikah,” Ben kena omelan Mbak Suci.
Ben lalu menyengir kuda, memamerkan giginya yang dipenuhi pagar kawat alias behel. “Iya deh. Aku minta maaf ya semuanya. Omonganku jangan dimasukin ke hati. Aku ngomong kayak gitu biar suasana nggak panas aja kok.”
“Tapi Mbak setuju dengan apa yang dikatakan Om Hendro dan Ben, lebih baik perjodohan ini kamu pikirkan dulu. Jangan langsung bilang tidak, takutnya kamu menyesal di kemudian hari,” kini mbak Suci yang angkat bicara
“Oke deh, kasih aku waktu memikirkan perjodohan ini.”
Akhirnya Bastian mengalah. Dia capek ngotot-ngototan dengan papanya sendiri. Lagipula ada tiga orang yang meminta dirinya untuk memikirkan perihal perjodohan ini. Bastian merasa lebih baik sekarang menghindar ke kamar saja. Dirinya mau beristirahat. Baru pulang ke Indonesia malah berhadapan dengan situasi tak menyenangkan.
“Pa, dan semuanya… Bastian ke kamar dulu ya. Mau istirahat. Capek habis perjalanan dari London ke Indonesia.”
***
Bastian duduk di tepi ranjang, matanya terpaku pada sebuah foto gadis cantik yang ada di pigura yang sedang dipegangnya. Dia sangat mencintai gadis di foto itu. Gadis itu wajahnya cantik, kulitnya kuning langsat, matanya sipit, rambutnya hitam lurus panjang, berponi, dan memiliki lesung pipi yang manis.
Selain cantik rupanya, gadis itu juga cantik hatinya, bak malaikat. Pasalnya gadis itu mempunyai watak suka menolong sesama. Bukan hanya itu saja, si gadis yang dicintai Bastian sangatlah pintar, terutama dalam hal menasihati orang. Waktu SMA dulu gadis itu sering jadi tempat curhat teman-temannya.
Nasihat dari Risma yang terus melekat di otak Bastian, “Yang memang milikmu pasti akan jadi milikmu. Yang memang bukan milikmu pasti tidak akan pernah jadi milikmu. Jika kamu sudah mengetahui dia bukan milikmu, lebih baik lepaskanlah. Melepaskan orang yang kita cintai memang susah, tapi harus dilakukan demi kebahagiaannya.”
Bastian mengusap-usap foto yang dipegangnya. “Risma, kamu itu memang milikku kan? Aku takkan pernah sanggup melepaskanmu untuk kedua kalinya,” Bastian berdialog pada sebuah foto.
Tik…
Air mata Bastian jatuh dengan sendirinya mengenai foto Risma. Di London sana, Bastian dikenal sebagai atlet angkat besi. Sekuat apapun ototnya namun ketika dihadapkan dengan perpisahan, dia tak pernah kuasa menahan air mata.
Tok… tok… tok
Dia mendengar pintu kamarnya diketuk. “Siapa di sana?” tanya Bastian.
“Ini Mama, Nak. Boleh masuk?”
“Boleh, Ma. Masuk aja, pintu nggak dikunci.”
Bergegas Bastian mengusap air matanya menggunakan telapak tangan. Kemudian foto yang dipegangnya sejenak diletakkan di balik punggung. Dia tak ingin mamanya melihat dirinya lagi menangisi sebuah foto.
Pintu pun terbuka. Mamanya segera duduk di sebelah Bastian. “Bastian, Mama tahu banget apa yang kamu rasakan saat ini. Kamu pasti enggan kan menerima perjodohan yang diajukan Papamu?”
Bastian memandangi mamanya dengan tatapan penuh kasih sayang. Dia pun tanpa segan-segan merebahkan kepalanya di paha sang mama. Bastian memang sudah berumur dua puluh lima tahun, namun ketika berada di sebelah sang mama, dia berubah layaknya anak kecil yang masih suka dipangku oleh mamanya.
“Iya, Ma. Aku takkan pernah mau sama namanya perjodohan. Aku hanya ingin menikah dengan gadis yang aku cintai dan gadis itu adalah Risma, Ma. Tapi aku tahu sifat Papa, beliau orangnya pantang menyerah. Jika keinginan beliau belum terwujud, beliau takkan berhenti membujuk bahkan memaksaku agar menuruti keinginan beliau. Terus aku gimana, Ma?”
Bastian mulai mengeluarkan segala uneg-uneg yang ada di hatinya pada sang mama. Bagi Bastian, mamanya bukan sekadar seorang ibu, namun bisa menjadi teman curhat.
Mamanya membelai rambut Bastian. Dia bisa merasakan belaian mamanya itu sama persis dengan belaian ketika dirinya masih berusia lima tahun. “Ikutilah kata hatimu, Sayang. Hati tak akan pernah salah dalam memilih.”
“Oh iya, kamu sudah menemui sahabat-sahabatmu? Selama kamu di London mereka nyariin kamu terus loh. Coba deh temui mereka. Kangen-kangenan gitu, kan sudah enam tahun nggak ketemu. Terus sekalian kamu ceritain masalahmu ini ke mereka, siapa tahu di antara mereka ada yang punya solusi tepat mengatasi masalahmu.”
Mamanya mengalihkan pembicaraan. Tapi justru pengalihan pembicaraan itu membuat wajah Bastian berubah cerah lagi. “Curhat sama sahabat-sahabat? Ah, kenapa gue nggak kepikiran dari tadi?” Bastian menggetok kepalanya sendiri menggunakan tangannya.
Dia pun bangkit lalu memeluk mamanya. “Makasih ya Ma udah ngingetin aku tentang sahabat-sahabatku. Hampir aja aku melupakan mereka.”
“Iya, sama-sama, Sayang. Mama keluar dulu ya. Mau bikinin kopi buat papa.” Mama pun keluar dari kamar Bastian.
Bastian memiliki empat orang sahabat baik di antaranya Ferdian, Dimas, Revando dan Bima. Persahabatannya terjalin sejak tahun 2007, saat pertama kali dia menginjakkan kaki di SMA Bakti Nusa Solo. Empat orang sahabatnya itu memiliki karakter sifat yang berbeda-beda.
Ferdian tipe cowok cupu. Rambutnya selalu disisir rapi, ke mana-mana bawa buku, tapi dia asyik kalau diajakin ngobrol. Dan yang paling penting dia tak pelit ngasih contekan ke teman-temannya. Itulah yang membuat Bastian suka bersahabat dengannya.
Dimas tipe cowok overpede. Apalagi dalam hal mendekati wanita, tak ada kata minder atau grogi. Bastian sebelum nembak Risma, dia berguru sama Dimas dulu untuk minta tips pedekate dengan Risma.
Revando tipe cowok playboy. Setiap bulan dia empat kali ganti cewek. Di balik ke-playboy-annya, dia susah bangun pagi. Diguyur memakai air seember dulu baru bangun. Makanya dulu sering telat masuk sekolah.
Bima tipe cowok pendiam. Dia sangat ingin mempunyai bisnis di dunia kuliner, bisa memainkan semua alat musik dan paling bijak dalam menasihati teman-temannya jika berbuat salah.
Bastian mengacak-acak tempat tidurnya mencari smartphone kesayangannya, namun tak kunjung ditemukan. “Aduh, smartphone gue ngumpet di mana sih?”
Bastian mengingat-ingat di mana menaruh smartphone. “Oh, iya sejak masuk ke kamar kan gue nggak megang smartphone. Berarti smartphone masih ada di tas ransel.”
Kini Bastian membuka tas ranselnya. Ternyata benar smartphone kesayangannya ada di tas. Tanpa banyak membuang waktu, Bastian mengetik sebuah pesan.
Halo teman-teman… gue udah di Indonesia nih. Kita ngumpul yuk! Gue kangen nih sama kalian.
Dia mengirimkan pesan tersebut ke nomor empat sahabatnya. Dia berharap nomor mereka masih aktif.
Ting… tong
Smartphone-nya berbunyi. Tak lama kemudian bunyi itu tiga kali terdengar di telinganya. Diliriknya layar smartphone itu, di samping logo amplop ada angka 4 yang artinya ada 4 pesan masuk.
Ternyata pesan dari empat sahabatnya. Mereka kompakan kirim sms ke Bastian, isinya seperti ini, “Oke, kita ketemuan. Gue juga kangen banget sama lo. Di mana kita ketemu?”
Bastian mengetik balasan untuk mereka.
Kita ketemuan di tempat tongkrongan waktu SMA ya. Pada masih ingat kan? Oh iya jam lima kalian harus sudah ada di sana. Okey?
***
Bastian berdiri tegak di depan sebuah warung yang bertuliskan Warung Makan Sederhana Trisakti. Warung yang ada di depannya ini waktu SMA selalu menjadi tempat tongkrongan dirinya bersama empat orang sahabatnya.
Enam tahun telah berlalu, ada banyak perubahan yang terjadi pada warung ini. Perubahan yang paling menonjol adalah warung ini semakin besar, pengunjung dan karyawannya makin banyak. Bastian sangat menyukai perubahan itu karena warung makan sederhana Trisakti mengalami kemajuan pesat.
Ada tiga alasan mengapa Bastian suka sekali nongkrong di Warung Makan Sederhana Trisakti. Pertama Menu yang disediakan di sini itu hanya menjual masakan khas Jawa Tengah seperti sego liwet, sayur lodeh, sayur bayam, soto Solo, pecel urat, pecel lele dan sebagainya. Kedua karena tempatnya bersih dan pelayanannya ramah. Dan terakhir pastinya karena harga makanan di sini lebih murah dibanding yang lain.
Bastian celingak-celinguk mencari empat orang sahabatnya. Mereka sudah datang belum ya? Tiba-tiba wanita paruh baya menghampiri Bastian. Bastian pun melempar senyum padanya. Bastian dulu memanggil wanita paruh baya itu dengan sebutan Si Mbok. Si Mbok ini pemilik Warung Makan Sederhana Trisakti.
“Eh, ada Mas Bastian. Apa kabar? Sudah enam tahun ndak ke sini, ke mana aja sampean?” sapa si Mbok.
“Saya kemarin kuliah di London, baru sehari pulang di Indonesia.”
Si Mbok memandangi Bastian dari ujung kaki ke ujung kepala. Tatapan mata si Mbok memancarkan kekaguman yang luar biasa. “Wuih, Mas Bastian sekarang penampilannya makin keren dan ganteng. Pasti sudah jadi orang sukses.”
Bastian tersipu malu mendengar pujian si Mbok. “Ah, si Mbok bisa saja. Makasih pujiannya. Oh ya empat orang sahabatku sudah datang ke sini belum, Mbok?”
“Sudah. Tuh, mereka duduk di kursi biasa yang kalian tempati dulu.”
Bastian mengangguk, mengerti maksud kursi biasa yang dikatakan si Mbok itu kursi paling paling pojok sebelah kiri. “Ya udah saya samperin mereka dulu ya, Makasih, Mbok.”
Bastian melangkahkan kaki menghampiri empat sahabatnya yang tidak menyadari kedatangan Bastian. Tinggal beberapa langkah lagi sampailah di depan mereka.
“Gue sebenarnya mencintai Risma sejak sepuluh tahun yang lalu,” ucap salah satu sahabatnya Bastian.
Langkah Bastian terhenti. Bastian memang tak tahu pasti siapa sahabatnya yang mengucapkan kalimat itu, sebab dia duduk membelakangi Bastian. Tapi yang pasti hatinya sudah bisa menebak siapa sahabat yang mencintai kekasihnya. Ucapan sahabatnya itu sukses membuat tubuh Bastian kaku. Mendadak rasa nyeri bersarang di hatinya. Siapa yang tak sakit hati jika salah satu sahabat kita mencintai kekasih kita?
Ada hikmah di balik semua kejadian. Begitupun dengan ucapan sahabatnya itu, walaupun yang dikatakannya melukai hati Bastian, namun ucapannya mampu membuat Bastian tak bimbang lagi dalam mengambil keputusan tentang perjodohan yang ditawarkan papanya.
Hasrat buat mengobrol dan kangen-kangenan bersama empat orang sahabatnya lenyap seketika. Dia sudah tak mood lagi ngumpul bareng mereka. Dia pun membalikkan badan dan melangkahkan kaki menuju pintu keluar.
“Loh, Mas Bastian mau ke mana? Sampean nggak jadi makan di sini bareng teman-temannya?”
“Nggak jadi, Mbok. Mendadak saya ada urusan penting. Saya pamit dulu ya. Kapan-kapan saya mampir ke sini lagi kok,” jawab Bastian berbohong pada si Mbok.
Kemudian Bastian melanjutkan langkahnya. Sambil melangkah, Bastian mengetik sebuah pesan untuk papanya.
Pa, tolong undang Nastasya beserta orang tuanya untuk makan malam di rumah kita jam tujuh malam ini. Aku akan mengatakan jawaban tentang perjodohan yang papa tawarkan tepat saat makan malam nanti.
Sent to Papa.
***
Segala jenis makanan favorit Bastian seperti ayam goreng, sayur bening, ikan bakar dan sambel terasi tersaji di meja makan. Tentu saja semua makanan itu dimasak oleh mamanya sendiri.
Makan malam kali ini sangat spesial bagi Bastian, namun menegangkan bagi Natasya beserta kedua orang tuanya. Spesial bagi Bastian karena dia bisa makan malam bersama seluruh keluarga besarnya. Sudah lama sekali dia merindukan suasana kebersamaan seperti saat ini. Menegangkan bagi Natasya beserta kedua orang tuanya karena mereka menanti jawaban yang keluar dari mulut Bastian.
“Bas, cepatlah kamu katakan jawabanmu itu. Kami sudah tak sabar ingin mendengarnya,” Papa mulai pembicaraan.
“Iya nih, Mas Bastian lama banget ngomongnya. Aku udah nggak sabar, nggak sabar pengen cepet makan maksudnya. Hehehe …” celetuk Ben sambil cengengesan.
Bastian mendengus kesal. Di saat seperti ini adiknya yang satu itu masih saja bisa mengeluarkan candaan garing. “Baiklah jika kalian sudah tak sabar. Aku akan mengatakannya. Jawabanku sebenarnya simple, aku bersedia dijodohkan dengan Natasya.”
Jawaban dari Bastian sukses membuat seluruh orang di meja makan ini bengong. “Hah? Kamu serius mau menikah sama aku?” tanya Natasya heran.
Pertanyaan Natasya dijawab oleh Bastian hanya dengan satu anggukan kecil. “Nah, gitu dong . Itu baru anak Papa,” Papanya jika keinginan terwujud baru beliau memuji Bastian.
“Tapi ada satu syarat. Syaratnya hanya aku ajukan untuk Natasya.”
“Loh kok make syarat segala? Berarti kamu nggak ikhlas dong menerima perjodohan dengan Natasya?” Papanya Natasya mengeluarkan rasa keberatannya.
“Udah, nggak apa-apa, Pa. Aku siap kok melakukan syarat apapun dari Bastian, bagiku yang penting dia mau nikah sama aku,” Natasya membela Bastian. “Nah, sekarang kamu bilang apa syaratnya?”
“Syaratnya nggak susah, aku cuma minta sama kamu setelah kita menikah aku mohon kamu jangan pernah minta aku melupakan Risma. Dia akan selalu ada di hatiku. Tapi kamu tenang aja, aku akan berusaha mencintai kamu. Makanya tolong kamu buat aku jatuh cinta denganmu. Gimana, sanggup melakukan syarat itu?”
“Oke, aku sanggup.”
“Jika kedua calon mempelai sudah setuju dengan perjodohan ini, tunggu apa lagi? Ayo tentukan tanggal pernikahan!” ujar Papa Bastian begitu antusias ingin Bastian segera menikah dengan Natasya.
Tante Riana melirik ke arah Bastian dan Natasya “Kalau soal tanggal pernikahan lebih baik mereka sendiri yang menentukannya.”
Mamanya Bastian tersenyum jahil. “Kamu sendiri kapan ingin naik pelaminan dengan Natasya? Jangan lama-lama, ntar calonmu diembat si Ben loh.”
“Kalau aku sendiri soal tanggal pernikahan kalian saja yang mengaturnya. Kapanpun aku siap menikah dengan Natasya.”
“Kalau gitu gimana kalau 2 minggu lagi aja pernikahannya?”
“Boleh juga tuh. Semakin baik.”
Bastian bisa mendengar keluarganya dan keluarga Natasya saling merundingkan tanggal pernikahannya. Dia tak memedulikan hal itu. Malah Bastian tenggelam dalam lamunan. Tentunya lamunan masa-masa terindah bersama Risma.
“Risma, maafkan aku. Keputusanku ini membuatmu sakit hati. Perlu kamu ketahui keputusan ini karena aku tak ingin melukai hati sahabatku. Aku yakin sahabatku itu jauh lebih bisa membahagiakanmu. Cintanya ke kamu jauh lebih besar dibandingkan cintaku ke kamu. Kamu tenang saja, aku takkan meninggalkanmu begitu saja. Sebelum aku pergi untuk selamanya, aku akan memberikan kenangan terindah dulu kepadamu. Agar kenangan itu bisa melekat di sepanjang hidupmu,” batin Bastian pilu.
Other Stories
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Test
Test ...
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...