2. Jadi Penulis? Hmmm Boleh Juga!
Brak!
Gue membanting pintu rumah dengan keras. Wajar lah ya orang lagi patah hati suka banting-banting barang. Toh, kalau pintu rusak gue bisa minta uang sama pengacara keluarga gue buat memperbaiki pintu. Ntar alasannya pintu rusak karena dibobol maling.
“Kakak, lo pulang-pulang kok wajahnya kusut kayak baju gue yang belum di setrika? Lo kenape? Lamaran lo ditolak Helena?” cerocos Vindy kayak wartawan gitu. Ya, gue tahu sih wartawan itu cita-cita Vindy yang nggak kesampaian tapi dia memberondong pertanyaan di saat yang nggak tepat. Bikin gue makin bad mood.
“Helena bukan jodoh gue. Dia memilih pria lain untuk mendampingi hidupnya,” jawab gue sekenanya. Habis berkata demikian gue ngeloyor masuk ke kamar. Bodo amat Vindy manyun karena gue cuekin. Yang terpenting saat ini adalah gue mau menangis di pelukan bantal guling. Mau menangis di pelukan siapa selain bantal dan guling? Vindy? Nggak akan pernah gue lakuin menangis di depan Vindy. Gue pengen jadi kakak yang tegar dan kuat di depan dia.
***
“Kakak! Bangun sudah pagi!” teriak Vindy sambil menggoyang-goyangkan tubuh gue. Sebenarnya mat ague sudah melek dari subuh tadi bahkan dari malam tadi. Ya, gue nggak tidur semalaman. Gue malas keluar kamar. Namanya juga lagi patah hati, bawaannya pengen nangis di kamar aja.
Gue jadi malu sama Vindy. Satu tahun yang lalu saat Vindy patah hati dan mewek seharian, gue bilang “Alah, cengeng lo. Patah hati aja nangis, cowok kayak dia nggak pantas ditangisi.” Dan sekarang gue baru merasakan betapa sakitnya patah hati. Gue melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Vindy.
Alhamdulillah, gue sama Vindy nggak ngelakuin macam-macam saat patah hati (BACA : BUNUH DIRI). Sesakit apapun kehidupan yang kami jalanin, kami haram melakukan perbuatan itu. Bunuh diri bukan menyelesaikan masalah tapi malah bikin sengsara di alam kubur.
Vindy menarik selimut yang menyelimuti tubuh gue. “Kakak, lo kenapa sih? Keadaan lo memprihatinkan banget!”
“Memprihatinkan kepala lo peyang! Gue kagak bunuh diri, kagak koma lo bilang gue memprihatinkan.”
“Iyasih lo kagak bunuh diri tapi …” ucapannya Vindy terhenti ntah karena apa. Yang jelas gue melihat Vindy sedang merogoh saku celananya. “Nih, lo liat sendiri wajah lo di cermin!” Vindy menyodorkan cermin yang ia ambil dari saku celananya. Gue menerima cermin itu.
Damn!
Mata gue terbelalak melihat bayangan wajah gue di cermin. Benar kata Vindy keadaan gue sangat memprihatinkan. Gue melihat mat ague merah, sembab, ada lingkaran hitam di bawah mata kayak mata panda gitu lebih parah lagi ada bekas ingus mengering yang belepotan di pipi dan bawah hidung.
Semua ini karena Helena, awas aja ntar kalau gue ketemu dia gue bakal minta pertanggungjawabannya.
“Kak, lo abis nangis semalaman ya?” Tanya Vindy. Gue mengangguk pasrah. Ya, habis mau gimana lagi percuma jug ague bohong sama Vindy. Dia nggak akan percaya apalagi buktinya sudah jelas terlihat di depan matanya.
“Kak, gue tahu sakitnya patah hati, tapi lo harus kuat. Kan lo pernah bilang ma gue orang yang menyatin hati itu nggak pantes ditangisi. Daripada lo mewek nggak jelas mending lo cari cara supaya Helena nyesel telah ninggalin lo.”
“Dari tadi malam gue juga mikir kayak gitu Vin. Tapi masalahnya gue sampai detik ini belum menemukan caranya. Lo ad aide gak?”
Vindy menepuk jidatnya, “Wah, dapet ilmu baru gue. Ternyata patah hati bikin otak orang jadi loading lama.” Vindy tersenyum simpul. Senyumannya bikin gue tambah manyun, senyum meledek.
Tangan Vindy nunjuk-nunjuk hidung itu artinya lagi berpikir keras. Beberapa saat kemudian wajah Vindy terlihat cerah. Pertanda dia telah menemukan ide cermelang. Gue idenya itu bukan ide jahil yang bisa bikin gue makin galau.
“Kak, gue nemuin ide bagus!”
“Tanpa lo bilang, gue dah tahu terlihat jelas dari senyum lo yang cerah.”
“Oh gitu ya kak. Ternyata selain mata senyuman juga nggak bisa bohong. Kakak bisa nebak nggak ide apa yang ada di kepala gue?”
“Kalau soal itu meneketehe, emang gue peramal? Sekarang lo bilang intinya ide lo itu apa?” Tanya gue ketus. Gue mulai jengah, si Vindy bertele-tele nggak jelas.
“Lo bisa bikin Helena nyesel ninggalin lo dengan cara lo jadi penulis terkenal kayak mbak Dee Lestari dan Andrea Hirata.”
Gue manggut-manggut. Idenya Vindy lumayan bagus. Gue jadi penulis terkenal? Hmmm …boleh juga. Gue memang sudah dari kecil hobi menulis puisi, cerpen bahkan di android ada 1 naskah novel tapi sayang semua naskah-naskah hanya mengendap di folder android doang. Gue minder, merasa naskah gue belum layak untuk dipublikasikan.
Gue pernah baca di blog penulis novel yang bernama Ariny NH. Nah, di sana tertulis perjuangannya dalam berkarya. Dia mengalami 25 kali penolakan penerbit. 2 tahun, baru deh novelnya bisa beredar di seluruh toko buku Indonesia. Hal itu bikin nyali gue ciut saat mencoba kirim naskah ke penerbit. Gue takut saat penerbit membaca karya gue mereka langsung menolaknya. Konon katanya penolakan penerbit 3 kali lebih nyesek daripada ditolak cewek.
Vindy mengibaskan tangannya di depan mat ague, “Woy, melamun aje! Gimana setuju nggak lo jadi penulis?”
“Gue sih setuju aja sama ide lo. Tapi gue merasa karya gue nggak layak diterbitkan. Karya gue pasti langsung ditolak penerbit.”
“Lo jangan pesimis dong! Masa lo kalah sebelum berperang? Lagian gue pernah baca naskah lo yang di android kalau nggak salah judulnya Kamu Adalah Cintaku, menurut gue tu naskah keren banget deh. Gaya bahasanya mirip sama gaya bahasa bukunya Bahdur Bonaforte.”
“Siapa lagi tuh Bahdur Bonaforte? Kok gue nggak pernah dengar penulis namanya Bahdur Bonaforte?”
“Dia penulis baru asal Banjarmasin.”
“Tapi Vin gue nggak tahu cara kirim naskah ke penerbit.”
“Kalau soal itu biar gue yang ngatur, gue bakal bantuin lo sampai karya lo terbit.”
“Ciyus? Enelan? Mi apah?” Tanya gue menirukan anak-anak alay zaman sekarang.
“Mie ayam hehehe… Eh, tapi …” ucapan Vindy terhenti. Kemudian dia menatap gue sambil menyengir kuda. Dari gelagat dan ekspresi wajahnya gue tahu apa yang ia maksud.
“Lo tenang aja kalau novel gue terbit 50% royaltinya buat lo deh dan lo gue angkat jadi manager gue! Gimana deal?” Gue mengulurkan tangan. Dengan semangat Vindy menjabat tangan gue, “Oke, deal! Mana naskah lo?”
Gue mengambil android tercinta yang ada di meja samping ranjang. Lalu gue membuka blutut android gue. “Vin, buka blutut android lo.” Ujar gue setelah android dalam genggaman gue.
Vindy kembali merogoh saku celananya untuk mengambil android. “Sudah siap!”
Langsung saja gue mengirim naskah berjudul Kamu Adalah Cintaku ke blutut Vindy. Nama blutut Vindy itu Vindy caem. Dalam beberapa detik, naskah tersebut berhasil terkirim ke android Vindy.
“Oke, sip! Kak, gue keluar dulu ya soalnya gue mau nonton drama Korea.”
Vindy melangkah kakinya keluar dari kamar gue. Begitu Vindy nggak terlihat lagi, gue kembali melanjutkan tidur. Mumpung hari ini libur kuliah jadi bisa tidur sampai siang. Gue sudah nggak terlalu galau lagi pasti bisa tidur dengan nyenyak.
Other Stories
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...
Kesempurnaan Cintamu
Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...