3. Novel Gua Sudah Terbit?
3 Bulan kemudian
Toko buku, tempat gue berpijak saat ini. Nggak tahu kenapa setelah putusan sama Helena tempat nongkrong gue pindah ke toko buku. Selain nongkrong, gue juga lagi mencari bahan referensi buat bikin novel berikutnya. Gue sudah menetapkan jadi penulis novel. Malu dong penulis tapi nggak suka baca novel?
Tiba-tiba pandangan mat ague tertuju sama sebuah novel, covernya itu warna merah maroon dan gambarnya symbol hati warna oranye. Dari covernya aja sudah bikin gue tertarik untuk membeli novel. Gue mengambil novel itu. Gue terkejut bukan main saat melihat judul dan nama penulis yang tertera di novel ini.
Kamu adalah Cintaku, penulisnya Gibriel Alexander. Gue garuk-garuk kepala yang gatal. Sumpah bingung banget judul novelnya sama kayak judul naskah novel yang gue buat lebih membingungkannya lagi nama penulisnya sama kayak nama gue. Ini novel karya gue atau bukan ya? Kalau karya gue kok Vindy nggak ngasih tahu gue naskah di acc penerbit?
Untuk memastikan novel yang gue pegang ini karya gue atau bukan gue membalik novel, ingin melihat synopsis back cover novel ini. Dan tulisan yang ada di back cover.
Sampai detik ini aku masih belum merelakan kepergiannya. Kepergiannya membawa pergi seluruh hatiku. Hingga aku tak bisa lagi jatuh cinta. Bahkan aku tak mengerti apa itu cinta? Dia selalu bermain di setiap mimpi-mimpiku. Dan dia juga yang menghampakan hari-hari yang kulalui.
Aku tak sanggup terjaga lagi. Aku bagaikan seonggok jiwa tanpa raga. Melayang lemah di muka bumi ini. Penuh warna, tapi aku tak ingat siapa diriku? Yang kuingat hanyalah pelukan terakhirmu untukku.
Tuh, kan benar dugaan gue. Buktinya aja tulisan yang ada di back cover sama persis dengan kutipan yang ada di naskah novel. Gue nggak menyangka Vindy mau main curang, naskah gue di acc penerbit nggak bilang sama gue. Awas, aja ntar kalau gue sampai rumah. Habis tuh Vindy gue omelin.
Gue membawa membawa novel yang gue pegang ke kasir buat dibayar. Nggak apa-apa deh beli karya gue sendiri. Buku ini akan gue tunjukkin ke Vindy sebagai bukti yang kuat kalau dia nggak mau mengaku.
“Mbak, berapa novel ini?” Tanya gue sama penjaga kasir. Gue menujukkan novel berjudul Kamu Adalah Cintaku.
“Oh, itu 40 ribu, mas.”
Gue mengeluarkan uang lima puluh ribuan, lalu meyerahkan uang itu ke mbak kasir. “Uang kembaliannya buat mbak aja,” ujar gue. Gue hari ini lagi baik hati, makanya nggak pelit sama duit. Baik hati karena gue lagi bahagia, akhirnya novel gue terbit. Sayang, kebahagiaan gue ternoda oleh kebohongan Vindy. Habis membayar novel gue langsung pulang ke rumah.
***
“Vin … Vindy! Keluar lo gue mau ngomong penting!” teriak gue.
Vindy keluar dari kamar tidurnya memakai piyama yang artinya tadi dia sudah tidur pulas. “Ada apa sih kak teriak-teriak? Ganggu gue tidur aja?”
“Gue mau nanya seseuatu penting! Lo harus jawab yang jujur.”
“Nanya apa sih kak?”
“Sebenarnya novel gue sudah terbit kan?”
Wajah Vindy berubah jadi pucat. “Enggg … anu …” ucapan Vindy terbata-bata.
“Udah jawab aja novel gue sudah terbit kan?”
“Kok kakak tahu?”
“Tadi gue ke took buku terus gue lihat novel berjudul Kamu Adalah Cintaku, ada nama gue tercantum sebagai penulisnya.” Gue menghembuskan napas sejenak. “Vin, naskah gue di acc penerbit kok lo nggak ngasih tau gue? Sengaja mau mencurangi gue?”
Vindy ditanya malah mengeluarkan senjata utama seorang wanita. Apalagi coba selain air mata? Apa gue terlalu keras ya ngomongnya? Duh, jadi nggak tega lihat Vindy mewek.
“Kak, maafin Vindy ya! Gue nggak bermaksud mencurangi kakak, gue merahasiakan novel lo di acc penerbit karena gue pengen ngasih lo kejutan. Bentar lagi kan lo ultah, nah rencananya gue mau ngasih buku terbit dan DP novel lo tepat di hari ultah lo. Tapi ternyata lo dah tahu duluan. Jangan marah ma gue ya?”
Gue memeluk Vindy erat. Vindy ternyata perhatian banget sama gue, dia mau menyiapkan kejutan di hari ulang tahun gue. Gue jadi merasa bersalah sudah marah dan menuduh dia yang macam-macam. Gue membelai rambut Vindy. “Mana mungkin sih gue bisa marah sama lo? Lo kan adik kesayangan gue. Gue justru berterima kasih sama lo. Lo sudah bantuin gue jadi penulis novel.”
Gue mengecup Vindy. Beginilah gue sama Vindy, meskipun sering marahan tapi marahnya nggak bakal bisa lama. Dia satu-satunya orang yang gue sayang. Vindy, I love u full.
Other Stories
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...
Aroma Kebahagiaan Di Dapur
Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...