4. Gara-gara Novel
Huft, akhirnya aku selesai jug abaca novel karya Gibriel Alexander yang berjudul Kamu Adalah Cintaku. Novel ini tebalnya 268 hal, mampu aku baca hanya dalam waktu 45 menit. Cepat kan? Jelaslah cepat novelnya keren banget. Gaya bahasanya ringan, mudah dipahami, dan paling penting jalan ceritanya bagus. Pokoknya bisa bikin pembaca betah membaca novel itu.
Penasaran kan sama jalan cerita novel Kamu Adalah Cintaku? Nih, aku kasih tahu sinopsisnya.
Aku adalah Tantrini Aditya Putri, anak dari pasangan Aditya Putra dan Ariny Susanti. Papaku pemilik radio terbesar di Indonesia, bahkan memiliki cabang di luar negeri. Hal inilah yang membuatku selalu dikejar-kejar cowok. Dan tiap hari aku mendapat kiriman bunga mawar dari pengagum rahasiaku.
Lebih dari 10 cowok cintanya aku tolak mentah-mentah. Sampai detik ini aku belum tertarik oleh cinta. Bukan karena aku nggak normal, tapi karena aku merasa tidak memerlukan cinta. Setiap saat aku menghabiskan waktu bersama 4 sahabatku, Helena, Iqbal Revalina, dan Revando. Selain itu cowok-cowok yang pernah menyatakan cinta padaku, bukan termasuk type cowok idamanku. Aku mendambakan cowok seperti Robert Pattison, itu lho pemeran Edward Cullen di film Twiligth.
Sebenarnya ada sih pria yang aku taksir. Dia adalah Pak Lucas, dosenku sendiri. Dia berumur 38 tahun, masih single dan penampilannya cool sama seperti Edward Cullen.
Suatu hari aku disuruh papa pindah ke Thailand untuk mengurus perusahaan di sana. Aku pergi ke sana bersama Edward. Edward pria berumur 37 tahun, matanya berwarna biru, kulitnya putih pucat sama kayak Edward Cullen, dia orang kepercayaan papa. Aku benci setengah mati dengannya karena seluruh keuanganku selama di Thailand dipegang Edward. Jadi kalau aku mau shopping, harus dengan ijin Edward.
Di Thailand, aku dan Edward seperti tom and Jerry. Tiap hari kerjaannya bertengkar. Dibalik sifat Edward yang dingin, galak dan menyebalkan Edward sosok pria yang setia. Di usianya yang ke 37 tahun, ia memilih single. Karena Edward menjaga kesetiaannya untuk Reisha, kekasihnya yang meninggal 20 tahun silam. Tapi lama kelamaan benci berubah jadi cinta. Kota Bangkok menjadi saksi berseminya cintaku dengan Edward.
Membaca novel ini aku jadi ingin seperti tokoh utama wanitanya, Tantrini Aditya Putri yang berhasil menemukan seorang pangeran tampan dan kesetiaannya patut diacungi jempol. Harus kuakui, sudah 1 tahun lebih aku mencari pria yang setia namun kenyataannya tak kunjung kutemukan. Hari gini mana ada cowok yang setia?
Mendadak pikiranku melayang ke masa tahun 2011, saat di mana aku masih merasakan indahnya cinta bersama Aldi. Namun sayang cintaku kandas karena sebuah pengkhianatan tepat saat hendak melangsungkan pernikahan.
***
1 Desember 2012.
“Wah, nggak kerasa sekarang sudah masuk tanggal 1 Desember. Semakin mendekati hari pernikahanku dengan Aldi,” ucapku ketika melihat tanggal yang tertera di layar HP. Ya, kurang lebih 1 bulan lagi aku melangsungkan hari pernikahan.
Seharusnya sih aku bahagia tapi ntah mengapa hatiku sedih. Mana Aldy sekarang nggak pernah menghubungi aku lagi, jangan menghubungi membalas sms-ku aja dia nggak pernah lagi. Aku menghawatirkannya, takut terjadi apa-apa dengannya.
Sekilas tentang Aldy. Aku mengenalnya sekitar 3 tahun yang lalu, saat itu aku masih berseragam putih abu-abu alias anak SMA sedang Aldy seorang guru olah raga di sekolahku. Aldy, termasuk guru favorit di kalangan siswi di sekolahku secara Aldy kan masih muda, baru berumur 25 tahun, ganteng, alisnya tebal, kulitnya putih, tinggi, dan bodinya ‘waw’ diibaratkan artis Aldy itu mirip Attalarik Syah. Bukan hanya siswi-siswi yang naksir Aldy, Bu guru yang masih single pun juga naksir berat sama Aldy.
Tepat di hari kelulusan, Aldy menyatakan cinta padaku. Aku sebagai wanita jelas merasa sangat beruntung. Dari sekian banyak wanita yang naksir dia, dia memilih aku untuk jadi cintanya. Dan tanpa piker panjang, kuterima menerima cinta Aldy. Alhamdulillah, mamaku merestui hubunganku dengan Aldy.
Bila kita mencintai yang lain
Mungkinkah hati ini akan tegar
Sebisa mungkin tak akan pernah sayangku akan hilang
Lagu Acha dan Irwan Syah berjudul my Heart mengalun indah dari HP-ku. Dengan semangat aku meraih HP. Siapa tahu orang yang SMS adalah Aldy. Buka kuncian HP. Di layar HP tertulis 1 pesan diterima. Langsung deh kuklik open.
From : My Love Aldy.
Pagi cintaku, ayo bangun! Aku tunggu kamu jam delapan tepat di taman kota. Ada yang mau dibicarakan penting!
Aku tersenyum membaca dari SMS Aldy. Pucuk dicintai ulampun tiba. Setelah sekian lama ditunggu, akhirnya Aldy da SMS juga. Tapi aku merasa ada yang aneh d isms Aldy. Dia mengajak ketemuan di taman kota, katanya sih ada yang mau dibicarakan penting! Penting apa coba? Pertanyaan yang menggeliat di kepalaku hanya kusampaikan dalam balasan SMS.
To : My Love Aldy
Ada apa? Bisa, kok. Tunggu di sana ya!
Hatiku masih bertanya-tanya, “Ada apa gerangan dengan Aldy? Tumben-tumbenan ngajakin ketemuan? Biasanya kalau mau ketemu aku dia langsung dating ke rumah.”
Ah, nggak penting lah. Aku kangen banget sama Aldy, yang harus kulakukan sekarang adalah mandi. Aku beranjak dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi.
15 menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dengan berpakaian rapi. Lemari pakaianku ditaruh di kamar mandi. Aneh, kan? Mamaku yang puny aide kayak gitu.
Aku menyempatkan diri untuk berdandan dulu. Aku hari ini mengenakan kemeja pink selaras dengan rok panjang yang juga warna pink. Rambut panjangku dibiarkan terurai biar makin kelihatan cantik. Untuk mempercantik penampilanku, aku mengenakan bando warna pink juga. Aku tersenyum puas ketika melihat diriku di depan cermin sudah kelihatan cantik.
Semua sudah beres, sekarang aku tinggal berangkat menemui Aldy. Saking bersemangatnya aku sampai lupa pamitan sama mama dan juga lupa bahwa aku dan Aldy lagi dipingit nggak boleh ketemu dulu.
***
Sesampai di taman kota aku langsung menemukan sosok Aldy. Dia lagi duduk di bangku panjang yang letaknya di bawah pohon. Aku pun menghampiri Aldy.
“Hal, Al. Maaf lama nunggu maklum cewek dandannya lama.”
“Enggak apa kok.”
Aku memerhatikan wajah Aldy dengan saksama. Dahiku berkerut, wajahn Aldy kusut seperti baju yang belum di setrika. Aldy pasti lagi ada masalah. Karena penasaran tingkat dewa, aku memberanikan diri bertanya padanya, “Al, kok mukamu kelihatan sedih?”
“Res, duduklah dulu! Kalau bicara sambil dudukkan enak.” Aku mengangguk dan duduk di sebelah Aldy.
“Res, maafkan aku. Sebenarnya …,”
“Maaf kenapa? Ada apa yang sebenarnya?” Tanyaku bertubi-tubi.
“Sebenarnya hari ini adalah hari terakhir kita bertemu. Cinta kita cukup sampai di sini.”
Kata-kata yang keluar dari mulut Aldy sangat menyakitkan hatiku. Seketika air mata mengalir deras di pipiku. “Jadi untuk apa 2 tahun kita menjalani ini? Kenapa kamu tiba-tiba memutuskan hubungan tanpa alasan?” tanyaku dengan nada tinggi.
Aku memandang Aldy sengit. Lelaki yang aku cintai tega memutuskan hubungan tanpa alasan. Tak ingatkah dia 1 bulan lagi kita akan menikah? Gedung, catering, fiting baju, bahkan foto pra-wedding sudah beres. Hanya undangan saja yang masih dalam tahap cetak dan belum disebarluaskan.
“Al, 1 bulan lagi kita akan menikah masa kamu tega membatalkan pernikahan?” ucapku mengingatkan hal itu pada Aldy.
“Maaf Res, aku tak bisa meneruskan pernikahan kita,” Aldy terduduk, tak berani menatapku.
Aku menggeleng cepat, “Aku nggak butuh permintaan maaf darimu yang aku butuhkan adalah sebuah penjelasan! Penjelasan kenapa kamu tiba-tiba membatalkan pernikahan kita!”
Aldy ditanya malah diam aja. Aku jadi sebel deh. “Kenapa kamu diam aja Al? Katakan sesuatu dong?” kumengguncang tangan Aldy.
Aldy tetap diam, sama sekali tak menjawab pertanyaanku. Aku menatap Aldy tajam. Kepalanya tertunduk. Ia terlihat begitu berat dan lemas seakan ribuan ton rantai mengalungi lehernya. “Sekarang aku benar-benar tidak mengenalmu lagi. Kamu bukan Aldy-ku yang dulu kukenal.”
“Res, semua orang pasti akan berubah termasuk aku dan kamu.” Akhirnya Aldy berhasil mengeluarkan suaranya.
“Perasaanku sama kamu nggak akan berubah. Aku tetap mencintaimu.”
“Aku juga sangat mencintaimu Res, tapi perpisahan adalah yang terbaik untuk kita.”
“Al, tatap mataku! Bilang padaku bahwa apa yang kamu ucapkan hanya bercanda!” Aldy tak menggubris perkataanku. Dia bukannya menatapku malah menghambur pergi. Melewatiku seolah aku adalah sebuah bayangan. Bayangan semu yang tidak penting dan harus dihapus.
Hancur hatiku berkeping-keping. Tapi ya sudahlah. Intinya aku sama Aldy nggak jodoh. Aku pun beranjak meninggalkan taman.
***
Setelah pulang dari taman. Aku terduduk lemas di sofa. Mataku lurus menatap layar televise yang menayangkan drama Korea.
Tingtong …!
Terdengar bel pintu berbunyi. Bergegas kubangun dan menyeret langkah menuju pintu. Aku membukakan pintu dengan memasang senyum paling manis. Mama selalu mengajariku, sepahit apapun yang kita rasakan harus tetap tersenyum sama tamu.
“Maaf apa benar ini rumah mbak Restyani?” Tanya seorang wanita gendut yang berdiri di depan pintu dengan menggandeng anak laki-laki sekitar umur 3 atau 4 tahun.
“Iya benar. Saya Restyani, mbak siapa?”
“Oh, jadi ini yang namanya Restyani? Dasar wanita gatal, berani-beraninya merebut suami gue.”ujar wanita gendut itu dengan nada tinggi. Aku mengenyit, tak paham dengan apa yang diucapkan wanita gendut itu. Wanita gendut itu melotot, ia mendorong tubuhku. Ajaib, tubuhku terpental di atas sofa.
“Eh, apa maksud anda? Emang anda siapa seenaknya aja mengatakan bahwa saya merebut suami anda?” tanyaku dengan nada tak kalah tinggi. Wajah wanita gendut itu semakin memerah. Ia menduduki tubuhku dan menjambak rambutku tanpa ampun.
Ia terus melontarkan seribu kata sumpah serapah yang mampu mematikan rasa. Aku berusaha membebaskan diri dari wanita gendut yang tengah duduk santai di atas perutku. Meskipun tubuhku jauh lebih kurus tapi aku nggak boleh menyerah. Kalau nggak dilawan aku bakal mati di tangannya.
“Bismillahhirrahmanirrahim, huwaaaa ….!” Teriakku histeris. Sekuat tenaga kumencoba menepis tubuh baja yang telah mendudukiku. Wanita gendut itu pun terhempas. Perutnya yang gendut terbentur pojok meja. Ia meringis kesakitan.
Aku menarik tangan wanita gendut dan menghempaskannya ke lantai. Aku beringsut ke wanita gendut yang tergeletak di lantai. Sekarang giliranku untuk beraksi. Kududuki perut wanita gendut kemudia kujambak-jambak rambutnya dan menampari pipi tembemnya tanpa ampun seperti halnya yang dilakukan wanita gendutr terhadapku tadi.
“Lepasin gue ! Lepasin gue!” teriak wanita gendut. Aku tak memedulikan teriakannya. Aku terus menganiayanya sampai dia minta maaf sama aku.
Belum puas dengan apa yang kulakukan terhadapnya, dengan cepat aku menyeret tubuh wanita gendut menuju kamar mandi. Tubuhnya berat sekali tapi tak tahu kenapa aku malah bersemangat menyiksa dia. Sesampai di kamar mandi aku mengambil air seember, lalu menyiram air itu ke tubuh wanita gendut yang lunglai.
“Huwaaaa …!” teriakan kembali terdengar dari mulut wanita gendut. Ia berusaha bangkit dan kembali melawanku. Namun sebelum ia mampu sempurna berdiri aku terlebih dahulu menutup kepalanya dengan ember yang masih ada di tanganku.
Setelah 30 menit beradu tenaga dan main air tubuhku dan tubuh wanita gendut itu lunglai, terkapar di lantai.
“Dasar pelacur!” umpat wanita gendut itu lagi. Mataku terbelalak mendengar ucapannya yang membuat telingaku panas. Meskipun tubuhnya sudah lemas tapi mulutnya masih tajam.
“Eh, gendut jangan asal ngomong lo! Sembarangan aja ngatain gue pelacur!” ujarku dengan napas terengah. Aku mengambil sikat toilet yang ada di belakangku. “Kalau mulut lo masih berani ngatain gue yang macem-macem gue sumpal mulut lo sama sikat toilet!” ancamku padanya. Wanita gendut itu hanya tersenyum sinis. Namun perlahan butiran air bening menetes dari sudut matanya.
Hah? Dia menangis? Aku mengerjap mata, seolah tak percaya dengan apa yang kulihat. Wanita gendut yang kayak moster ternyata bisa menangis juga.
“Bunda…!” suara halus itu terdengar dari balik pintu kamar mandi. Empat pasang mata yang bersemayam di kamar mandi sontak menoleh kea rah sumber suara.
Nampak sosok anak kecil berumur 3 tahun. Wajahnya tampan rupawan. Kupandangi wajahnya dengan saksama. Paras wajahnya sangat familiar di mataku.
“Siapa ya?” tanyaku dalam hati. Aku berusaha berpikir keras untuk mengingat paras yang menyerupai anak tersebut.
“Dia anak semata wayang, Aldy,” ujar wanita gendut datar.
“Apa?” mataku melotot, saking terkejutnya mendengar ucapan wanita gendut itu. “Bohong, eh gendut jangan mengada-ada lo!” teriakku mengelak ucapannya.
“Kalau lo nggak percaya, lo Tanya sendiri sama si kecil!” timpal wanita gendut itu.
“Nggak mungkin! Lo pasti bohong. Eh, gendut tutup mulut lo sebelum siket toilet ini menyumpal mutut lo!” cerocosku sambil mengacungkan sikat toilet ke wajah wanita gendut itu.
Anak kecil yang tadi berdiri di depan pintu toilet, sekarang dia telah duduk di pangkuan ibunya. “Pandangi wajah anak kecil ini lekat-lekat. Adakah sesuatu di wajahnya yang mirip atau bahkan sama dengan Aldy?” ujar wanita gendut menambahkan perkataanya.
Aku merasa taka sing dengan paras wajah anak kecil itu. Tiba-tiba aku teringat Aldy. Ya, wajah anak itu mirip dengan Aldy. Hidungnya, matanya, bibirnya bahkan rambutnya sama persis dengan Aldy. Aku mengerjap mata tak percaya. Bagaimana mungkin anak kecil ini mirip sekali dengan Aldy? Benarkah apa yang diucapkan wanita gendut itu bahkan anak kecil ini anaknya Aldy?
“Jad… jadi anak ini beneran anak Aldy?” tanyaku tak percaya.
“Iya, ini anak Aldy . Aldy ninggalin gue waktu umur 1 tahun. Katanya dia pergi karena mau kerja tapi nyatanya dia nggak balik-balik. 2 tahun kemudian gue dengar Aldy mau nikah sama lo makanya gue langsung nyamperin lo!” jelas wanita gendut panjang lebar.
“Bunda, kapan dedek ketemu ayah Aldy?” anak kecil itu merengek di depan wanita gendut.
“Hiks,” Aku kembali terduduk lesu. Meratapi nasib yang belum berpihak padaku. Aku membanting sikat toilet yang kupegang ke lantai lalu menjerit. Sekarang aku tahu alasan yang pasti kenapa Aldy memutuskan hubungan saat menjelang pernikahan. Ternyata dia sudah berkeluarga. Saat Aldy menyatakan cinta padaku, ia mengaku belum menikah.
Dalam isak tangis yang mengiris hati yang mengiris hatiaku mengucapkan beribu maaf pada wanita gendut yang merupakan istri sah Aldy. Maaf karena telah menghancurkan mahligai rumah tangga wanita lain. Aku jadi iba melihat anak kecil ini, dia pasti merindukan dekapan kasih sayang seorang ayah.
“Maafkan gue juga ya langsung nyerang lo aja! Oh iya nama gue Neni,” katanya sambil mengulurkan tangan. Aku membalas uluran tangannya. Wanita gendut melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Wah, nggak terasa sudah jam 6 sore. Bentar lagi mau magrib, kayaknya gue dan anak gue langsung pulang deh! Oh ya kalau lo ketemu Aldy suruh dia pulang!” katanya.
“Iya, mbak. Kalau gue ketemu Aldy pasti gue suruh pulang!” wanita gendut serta anaknya melangkah kaki keluar rumahku.
***
Tes!
Air mataku jatuh tepat mengenai punggung tangan kananku seketika aku tersadar dari lamunanku. Astaga, aku menangis lagi! Kuhapus air mata yang di pipi. Aku memang tak pernah kuasa menahan air mata kala ingat keajadian itu.
Gara-gara baca novel Gibriel, aku jadi ingat Aldy lagi. Aku jadi penasaran sama Gibriel, dia bikin novel cetar membahana. Kubuka halaman paling akhir, ternyata di sana ada biodata Gibriel. Ada fotonya pula. Subhanallah, fotonya Gibriel ganteng banget. Wajahnya bulat, alisnya tebal, hidungnya mancung dan bibirnya agak kemerah-merahan. Kalau dilihat dari foto wajahnya Gibriel itu kayak orang blasteran Jerman dan Arab gitu. Kubaca baik-baik biodata Gibriel
Gibriel Alexander merupakan nama pena dari pria tampan nan rupawan yang bernama Muhammad Gibriel Axander. Ia anak pertama dari dua bersaudara. Lahir Di Solo tanggal 16 september 1991, Tanggal lahirnya bertepatan dengan tanggal lahir Ariel Noah. Penulis satu ini sangat bercita-cita jadi penyiar radio. Ia juga sangat mengidolakan Citra Kirana. Bisa dihubungi di nomor handphone 085654910277, akun facebooknya “Gibriel Alexander”, akun twitter @gibriel_Alexander, blognya www.gibrielalexander.blogspot.com. Emailnya gibrielganteng@ymail.com
Wuih, di luar dugaanku si Gibriel mencantumkan akun fesbuk, twitter, blog bahkan nomor HP-nya di biodata belakang novel. Hatiku tertarik buat kenalan sama Gibriel, kan asyik berteman sama penulis. Siapa tahu Gibriel berkenan mengajarkan aku jadi penulis. Berhubung ini sudah malam, dan malas online jadi aku kenalannya lewat sms aja.
Kumeraih HP yang tergeletak diatas meja. Selama satu tahun, setelah putusan sama Aldy aku jarang megang HP, abis HP-ku sepi senyap kayak kuburan sama sekali nggak ada yang nelpon atau SMS. Jari-jariku mulai mengetik sebuah pesan.
To : 085654910277
Hai, Gibriel. Boleh kenalan nggak? Aku baru aja selesai baca novelmu. Wuih, novelmu kece badai bin cetar membahana. Aku suka banget.
By Restyani.
Klik send. Dalam hitungan detik pesan terkirim dan laporan terkirimnya mendarat dengan selamat di HP-ku.
30 menit menit kemudian.
“Hoaam …!” aku menguap lebar. Mataku daritadi mengantuk banget. Setengah jam nungguin balasan sms dari Gibriel, tapi balasannya tak kunjung dating. Kumelirik jam yang menempel di dinding. Astaga! Sudah jam setengah satu dini hari. Pantas saja si Gibriel tak membalas sms dariku, sudah dipastikan dia lagi ada di alam mimpi alias sudah tidur.
Ya, sudahlah. Aku juga mau tidur. Semoga ntar aku bisa ketemu Gibriel di alam mimpi hihihi.
Other Stories
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...
Testing
testing ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...
Kehidupan Yang Sebelumnya
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...
Dear Zalina
Zalina,murid baru yang menggemparkan satu sekolah karena pesona nya,tidak sedikit cowok ya ...