7. Jomblo Seumur Hidup? No Way!
Gue menjatuhkan pantat ke kursi. Kedua siku tangan gue menyentuh meja, terus telapak tangan gue menyentuh dagu. Untuk memperkomplit penampilan gue memanyunkan bibir 5 centi. Bisa ditebak kan kalau orang kayak gini lagi ngapain? Ya, benar banget orang kalau lagi kayak gini berarti lagi bête. Baru sampai kampus sudah ada aja yang bikin gue bête.
Sebelum gue memasuki ruang kuliah, gue sempat ditabrak cewek. Untungnya itu cewek nggak menabrak gue memakai mobil. Sebenarnya cewek itu lumayan cantik sih. Wajahnya oval, matanya sipit, kulitnya putih mulus dan paling penting bibirnya tipis agak kemerah-merahan gitu. Kekurangan cewek itu Cuma 1, dia nggak bisa menjaga mulutnya. Masa gue nggak mau kenalan sama dia eh dia malah doain gue yang nggak baik. Doanya itu gini, “Gue doain nggak ada cewek yang mau sama lo dan lo bakal jomblo seumur hidup!”
Merinding gue ingat doa dari cewek itu. Amit-amit jabang bayi. Jomblo seumur hidup? No way! Gue nggak akan biarin doa cewek itu terkabul. Tapi gimana caranya? Satu-satunya cara supaya gue nggak jadi jomblo seumur hidup adalah mencari pengganti Helena. Gue kan sudah bersumpah untuk tidak akan jatuh cinta sama yang namanya cewek. Nah, sebuah hubungan tanpa ada cinta itu sama aja kayak makan sop tanpa garam. Rasanya hambar dan nggak enak.
“Arrrghh … sumpah cinta terkutuk itu bikin gue tersiksa!” jerit gue dalam hati.
Tiba-tiba gue merasakan tangan lembut seorang cewek menyentuh pundak gue. “Hai, kamu Gibriel Alexander penulis Kamu Adalah Cintaku itu kan?” terdengar suara cewek. Sumber suaranya sih kayak di belakang gue. Gue menoleh ke belakang.
Glek!
Gue menelan ludah. Ada 15 cewek lagi berjejer rapi seperti orang yang lagi antri buat beli tiket menonton bola. “Eh, jawab dong. Kamu Gibriel Alexander penulis Kamu Adalah Cintaku itu kan?” cewek yang memakai baju pink mengulang pertanyaannya. Cantik sih, tapi bodinya kayak Pretty Asmara.
“I-iya… Gue Gibriel Alexander.” Ujar gue terbata.
“Wah, gue baru aja beli novel lo. Novel lo keren. Gue minta tanda tangan dan foto bareng sama lo dong!” ujar cewek mengenakan kaos warna biru muda.
“Iya, gue juga minta tanda tangan dan foto bareng lo,” sahut ke empat belas cewek secara bersamaan.
Gue menyengir kuda. Bangkit dari tempat duduk dan mulai mengitung. Dalam hitungan ketiga, gue ngacir ke luar ruangan. Sumpah, mereka horror banget lebih horror dari kata-kata cewek yang tadi pagi menabrak gue.
15 Menit kemudian
Gue merasa mulai aman. Aman dari kejaran cewek-cewek centil. “Hosh … Hosh!” gue mengatur napas yang terengah. Keringat pun mulai bercucuran. Sekarang gue merasakan rasanya jadi orang terkenal. Sumpah, capek banget dikejar-kejar orang. Padahal baru jadi penulis dan dikejar cewek yang mau minta tanda tangan plus foto bareng gimana ntar kalau dikejar paparazzi? Tahu jadinya kayak gini gue nggak bakal kirim naskah ke penerbit.
Eh, tunggu gue sekarang ada di mana ya? Gue mencoba mengamati barangbarang di sekitar. Di depan gue ada 4 pintu bercat putih dan di sebelah kanan gue ada wastafel plus kaca besar. Nggak salah lagi gue sekarang lagi ada di toilet kampus. Gue bersyukur Allah menuntut gue masuk ke toilet ini. Toilet ini satu-satunya tempat paling aman dari kejaran cewek centil. Mereka mana berani masuk toilet cowok.
Tiba-tiba mat ague mengakap sebuah benda yang ada di wetafel Benda itu sangat menarik perhatian gue. Karen ague penasaran, gue mendekati benda itu. Ternyata benda itu hanya berupa topi, kaca mata, rambut palsu dan kumis palsu.
Wajah gue berubah cerah. Gue baru aja menemukan ide cemerlang. Ide memanfaatkan ke empat benda yang ada di westafel buat menghindari cewek-cewek centil. Mumpung toilet lagi sepi cepat-cepat gue mengenakan ke empat benda itu ke tubuh gue. Dalam sekejab penampilan gue berubah total.
Gue geli sendiri, melihat wajah gue yang baru di cermin. Sumpah, wajah gue jadi jelek lucu banget. Tapi nggak apa-apa deh jadi jelek yang penting hidup gue tenang tanpa kejaran cewek.
Gue keluar dari toilet dengan santai. Banyak mata yang menatap gue dengan tatapan aneh tapi mereka sama sekali nggak bisa mengenali gue. Sekarang gue enaknya kemana ya? Balik ke kelas kayaknya nggak mungkin deh. Mereka pasti bakal curiga. Ah, mending gue ke warung soto yang ada di belakang kampus. Perut gue sudah keroncongan abis lari marathon. Setelah makan baru deh ke took buku lagi.
“Warung Soto, I am coming.”
***
“Kak, habis darimana lo?” Tanya Vindy. Ia menyambut kepulangan gue dengan muka masam. Baru aja gue sampai rumah, sudah ditanya yang macam-macam. Aduh, jadi bingung menjawab pertanyaan Vindy.
“Kak, lo kok malah bengong? Jawab dong pertanyaan gue! Lo habis darimana?” Vindy mengulang pertanyaannya lagi.
“A-anu gue habis dari kampus,” ujar gue berbohong. Gue nggak mungkin bilang ke Vindy kalau gue habis dari toko buku dan bolos kuliah. Bisa-bisa mengomel. Vindy itu sifatnya sama persis kayak almarhumah mama, suka banget mengomel.
“Udah nggak usah bohong ma gue. Gue tahu kok kalau lo tadi bolos kuliah.”
“Kok lo tahu?”
“Ya tahulah. Gue tadi ke kelas lo tapi kata teman lo hari ini lo bolos kuliah. Ya, ampun kakak bentar lagi lo wisuda kalau lo bolos terus ntar nggak lulus gimana? Gue laporin ke pengacara keluarga aja kali ya biar lo rajin kuliah.” Vindy mengomel tanpa ampun. Mana mau ngadu ke pengacara keluarga lagi. Bisa mampus gue kalau ngadu ke pengaca keluarga. Keuangan gue dan Vindy saat ini diatur sama pengacara keluarga gue. Kalau pengacara keluarga tahu gue suka bolos, bisa dipotong uang bulanan gue.
Gue memasang tampang memelas. “Please, Vind lo jangan aduin hal ini ke pengacara keluarga. Gue itu bolos karena ada alasan yang kuat.”
“Satu-satunya alasan yang kuat lo bolos kuliah adalah lo males.”
“Bukan karena males. Lo sotoi deh.”
“Terus karena apa coba?”
“Nih, gue kasih tahu. Tadi gue ke kampus, baru duduk di bangku kelas eh dah banyak cewek mengerubungi gue buat minta tandangan dan foto bareng. Gue kan merinding Vindy ya udah gue cabut aja dari kelas.”
Mata Vindy membulat. “Serius?” Sesaat kemudian wajahnya berubah jadi cerah. “Yes, usaha gue berhasil.”
“Usaha apaan?”
Vindy nggak menjawab pertanyaan gue. Dia malah memberikan sebuah kertas ke gue. “Coba deh lo baca tulisan di kertas ini. Keren kan usaha gue?” Gue meraih kertas yang diberikan Vindy. Mata gue melebar melihat tulisan yang ada di kertas.
Ayo, Pada beli novel kakak gue, Gibriel Alexander judul novelnya Kamu Adalah Cintaku. Kalau lo beli novelnya bisa dapet tanda tangan plus foto bareng. Jika kamu cewek single, umurnya di bawah 25 tahun bakal di pedekate-in kakak gue. Ayo, serbu novelnya di tokobuku terdekat.
Gue memasang wajah murka. “Vindy lo apa-apaan sih? Bikin malu gue aja! Emang lo kira gue nggak laku gitu dipromosiin cara beginian?” sekarang gue yang balik mengomelin dia.
Vindy hanya terdiam. Dalam hitungan detik, ia mengeluarkan senjata andalannya. Apalagi coba selain air matanya? “Kak, maafin Vindy ya? Vindy nggak bermaksud kayak gitu. Niat Vindy Cuma ingin bantuin kakak dalam mempromosikan novel baru dan mencarikan pengganti Helena. Hiks …”
Melihat air mata Vindy gue jadi merasa bersalah sudah mengomel sama dia. Gue memeluk Vindy. “Cup … Cup … Cup, lo jangan nangis lagi ya? Gue nggak marah kok. Gue Cuma shock aja. Besok lo bilang ke teman-teman lo kalau gue nggak nyari cewek lagi.”
“Loh kok gitu? Bukannya kakak jadi penulis tujuannya buat bikin Helena nyesel ninggalin kakak?”
“Itu dulu. Sekarang keadaannya sudah berubah.”
Dahi Helena berkerut, “Maksudnya?”
Gue membisikkan sesuatu ke telinga Helena. Membisikkan tentang sumpah yang gue ucapkan di pantai Segarra. “Ztttt ….Blalala…”
“What? Lo serius ngucapin sumpah itu?”
Gue mengangguk. “Menurut lo gimana Vin?”
“Menurut gue lo mencabut sumpah yang lo ucapkan. Lagipula seorang penulis nggak boleh bersikap kayak gitu sama pembaca. Mereka yang bikin penulis ada.”
“Gue menjilat ludah sendiri dong?”
“Bisa aja seperti itu. Lo nggak mau kan jomblo seumur hidup? Pilihan ada di tangan lo.” Setelah berkata itu Vindy berlalu dari hadapan gue. Dan ia menuju kamar tercintanya.
Gue masih terdiam memikirkan kata-kata Vindy. Benar juga sih kata Vindy, sebagai penulis gue nggak boleh bersikap seperti itu sama pembaca. Mereka yang bikin karya gue laku. “Haruskah gue mencabut sumpah gue?” Kayak gue harus melakukan salat Istikharah dulu deh buat menentukan pilihan.
Ah,ntahlah. Lebih baik sekarang gue masuk kamar dan tidur sebentar. Badan gue capek banget. Seharian habis lari marathon gara-gara dikejar pembaca cewek.
Other Stories
Kating Modus!
Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Kepentok Kacung Kampret
Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...
Dream Analyst
Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...
Sweet Haunt
Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...