8. Ketemu Lo Lagi?
“Vin, sekarang sudah nyampe tujuan ya? Terus sekarang kita ada di mana??” Tanya gue bingung. Pagi-pagi gue diajakin Vindy naik mobil tapi begitu mobil jalan mat ague ditutup memakai kain hitam katanya sih mau memberi kejutan. Dan sekarang mobil berhenti, yang ntah sudah sampai tujuan atau belum.
“Udah.”
“Kalau sudah, bukain tutup matanya dong!”
“Iya sabar bentar lagi. Tinggal beberapa langkah udah benar-benar sampai tujuan.”
“Lo bawa gue kemana sih? Jangan-jangan lo mau jual gue ke preman ya?”
“Astaga, pikiran lo jelek banget sih. Gue itu adik kandung lo, mana mungkin gue jual lo lagipula lo juga gak bakal laku dijual. Udah, lo jangan banyak cincong. Lo jalan aja, bentar lagi lo juga akan tahu kejutannya.”
“Gimana mau jalan mat ague aja ditutup gini? Yang ad ague malah nabrak orang.”
“Oh iya gue lupa. Sini biar gue tuntun lo sampai ke tujuan dengan selamat.”
Vindy menuntun langkahku. Vindy ada-ada aja idenya. Huft, jalan dengan ditutup mata seperti ini rasanya seperti si buta dari gue hantu. Gue jadi nggak sabar ingin melihat kejutan apa sih yang diberikan Vindy?
Tiba-tiba langkah Vindy terhenti. “Kak, kita dah sampai tujuan. Gue buka tutup matanya ya?” Vindy membuka tutup mata. Dalam sekejab tutup mata terlepas. Pelan-pelan gue membuka mata sambil baca Basmalah.
1…2…3
Mata gue terbuka. Awalnya sih penglihatan yang gue lihat masih kabur, maklumlah kelamaan ditutup mata sama si Vindy. Namun beberapa detik kemudian penglihatan kembali normal dan gue sudah bisa melihat dengan jelas.
Gue mengerjap-ngerjap mata nggak percaya dengan apa yang gue lihat. Mulut gue hanya bisa betkata, “Subhanallah, indah banget pemandangannya.” Pemandangan yang gue lihat itu ada pohon kelapa, air warna biru, pasir putih, ditambah orang-orang yang lagi asyik berjemur. Sudah bisa menebak kan gue ada dimana? Ya, gue lagi ada di pantai. Tapi gue nggak tahu ada di pantai mana.
Gue mengingat-ingat lagi kejadian sebelumnya. Oh iya tadi gue pergi jam 8 pagi. Gue melirik jam, ternyata sekarang jam 10 pagi. Berarti perjalanan hanya 2 jam. Sudah pasti sekarang lagi di pantai Anyer.
Ini pertama kalinya gue menginjak pantai Anyer. Aneh, kan orang Tangerang tapi nggak pernah ke pantai Anyer, padahal perjalanan dari Tangerang ke Anyer hanya 1 jam. Dari artikel sebuah situs internet yang gue baca tentang pantai Anyer ini
Di daerah Anyer terdapat Pantai Anyer Terletak 38 km dari Kota Serang. Pantai ini menghadap ke Barat, sehingga kita dapat melihat pemandangan Gunung Rakata (anak Gunung Krakatau yang meledak di tahun 1833).
Di Pantai anyer juga terdapat Mercusuar yang dibangun Belanda tahun 1855 pada masa pemerintahan Willem III dari Belanda yang digunakan untuk membantu pelayaran disekitar Selat Sunda dan Batavia waktu itu.
Tiba-tiba muncullah teman-teman gue di kampus yang ntah dating dari mana asalnya. Salah satu dari mereka membawa kue tar, yang gede banget. Di kue tar itu tertancap lilin, angka 23 dan bertuliskan Selamat Ulang Tahun Gibriel Alexander. “Happy birthday to you … Happy Birtday to you…” ujar mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Astaga, gue baru ingat hari ini hari ulang tahun gue. Vindy memeluk gue. “Kakak, happy birthday ya? Ini lho kejutan yang gue kasih buat lo, lo suka kan? Jangan bilang apa yang gue lakuin salah lagi.”
Gue menggeleng dan memembalas pelukan Vindy. “Kali ini lo nggak salah kok. Justru gue sangat berterima kasih sama lo, lo sudah capek-capek nyiapin kejutan di hari ultah gue.”
“Tiup lilinnya… tiup lilin sekarang juga. Sekarang juga … Sekarang juga.” Ujar teman-teman meminta gue segera meniup lilin.
Gue mendekatkan bibir ke lilin kue tar, bersiapsiap meniup lilin. Eits, sebelum lilin gue tiup gue mengucapkan make a wish dulu dalam hati. “Ya, Allah hamba mohon di usiaku yang ke 23 tahun ini kirimkanlah hamba jodoh, wanita cantik, kulit putih dan tinggi seperti Miss Indonesia dan paling penting dia tulus mencintaiku, setia, ikhlas menerimaku apa adanya.” Di akhir do ague mengucapkan Amien.
“Huh.” Gue meniup lilinnya. Semua teman-teman serta tepuk tangan.
***
Gue berjalan menyisir tepian pantai Anyer, seorang diri. Berjalan sambil mendengarkan lagu melalui earphone. Sehabis acara potong kue dan makan-makan, teman-teman pada sibuk dengan aktifitas masing-masing. Ada yang sibuk pacaran, main gitar bahkan ada yang membangun rumah-rumahan dari pasir. Gue memilih menghindar dari mereka, biar nggak jadi obat nyamuk.
Tubuhku ada di sini tetapi tidak jiwaku
Kosongnya telah kurasakan, kau telah tinggal di hatiku
Di dalam keramaian aku merasa sepi
Sendiri memikirkan kamu
Kau genggam hatiku, dan kau tulis namamu di hatiku
Lagu Dewa 19 berjudul “Kosong” mengalun indah di telinga gue. Lirik lagu tersebut sama persis dengan apa yang gue rasakan saat ini. Tubuh gue ada di pantai Anyer, di sini ramai dengan orang-orang yang lagi berlibur tapi jiwa gue merasa sepi, sepi tanpa adanya seorang kekasih yang menemani gue.
Andai saja Helena masih bersama gue. Pasti hari ini gue merasa ulang tahun yang paling sempurna. Gue dan Helena main rumah-rumah dari pasir, main lari-larian di tepi pantai atau bahkan naik banana boot. Ah, sayang semua itu hanya khayalan. Helena tak mungkin kembali ke pelukan gue.
“Helena, kenapa sih lo ninggalin gue demi cowok nggak jelas asal usulnya?” teriak gue sekencang-kencangnya. Lagi-lagi gue ingat Helena. Ya, dia masih bermain dalam pikiran gue. Gue nggak bisa memusnahkan dia dari pikiran gue.
“Awas!” terdengar suara cewek dari kejauhan. Gue nggak menghiraukan teriakannya. Alhasil kepala gue terhantam bola karet. Gue kira teriakannya itu buat orang lain eh tahunya buat gue. Bola karet lumayan bikin kepala gue nyut-nyutan.
Datanglah seorang cewek berparas cantik, mengenakan rok panjang dan kemeja warna putih membuat penampilannya terlihat anggun. “Mas, maaf ya bolanya kena kepala mas. Adik saya nggak sengaja melempar bola kea rah mas.”
Dahi gue berkerut. Rasanya gue pernah ketemu dia sebelumnya tapi di mana ya? “Astaga! Lo pembaca novel gue yang menabrak gue di kampus kan?” ujar gue setelah berhasil mengingatnya. Cewek di depan gue hanya memamerkan giginya yang putih, lucu juga giginya. 2 giginya bagian depan gede kayak gigi kelinci.
“Kenapa sih gue harus ketemu lo lagi? Setiap gue ketemu lo, gue pasti kena sial!”
Cewek itu cemberut. “Ye, siapa juga yang mana ketemu sama penulis tengik kayak lo. Udah jelek sombong pula!”
“Mata lo katarak ya jadi nggak bisa liat ketampanan wajah gue?”
Di tengah asyiknya berdebat sama cewek menyebalkan di depan gue tiba-tiba gue melihat piring terbang yang dating dari arah selatan. Dengan cepat gue gue menarik tangan cewek menyabalkan ini biar dia nggak kena piringan terbang. Dari novel yang pernah baca, katanya bila kena piring terbang bisa menyebabkan buta, tuli, dan cacat mental.
Sial, kaki gue tersandung batu. Gue sama dia terjatuh bersama. Tubuh cewek menyebalkan ini jatuh tepat di atas tubuh gue. Mata kami pun saling berpandangan. Dilihat dari jarak yang sangat dekat, cewek menyebalkan ini cantik banget. Wajahnya mulus tanpa ada jerawat, bulu matanya lentik dan memiliki bibir yang tipis.
Dia menatap gue tajam. Dari sorotan matanya yang tajam, gue bisa melihat cewek menyebalkan ini mempunyai sifat baik hati, dan suka menolong orang. Sesaat kemudian semburat warna merah tersembul di kedua pipinya. Mungkin juga dia terpesona sama ketampanan wajah gue, dan dia malu sendiri tadi ngatain gue jelek.
Dag…Dig…Dug
Jantungku berdebar-debar seperti gendering yang mau perang. Ya, Allah debaran apa ini? Gue nggak pernah merasakan debaran ini sebelumnya. Saat bersama Helena pun debaran ini nggak pernah ada. Apakah ini yang namanya debaran cinta? Masa iya sih gue jatuh cinta sama orang yang belum gue kenal?
“Cieee … kakak lagi ngapain tuh? Wuih, diam-diam kakak di pantai Anyer menemukan cinta yang baru,” ujar Vindy mengagetkan kami. Cewek menyebalkan ini secepat kilat bangkit dan berdiri. Wajahnya merah merona. Aduh, Vindy ngapain sih ke sini segala ganggu gue aja.
“Calon kakak ipar gue cantik juga. Selera lo tinggi banget, mirip miss Indonesia gitu,” ujar Vindy lagi. Gue melotot kea rah Vindy, memberi isyarat biar dia menjaga mulutnya.
Tingkah cewek menyebalkan semakin aneh. Maklumlah cewek nggak bisa dipuji dikit, geernya langsung keluar. “Maaf, kayak saya harus pamit pulang. Adik saya sudah menunggu. Terima kasih ya sudah menyelamatkan saya dari piring terbang,” ujar cewek menyebalkan itu.
Setelah berkata demikian cewek menyebalkan pergi dari hadapan gue. Gue melongo melepas kepergiannya. Jujur hati gue masih berat berpisah dengannya. Man ague belum sempat menanyakan nama dan nomor HP-nya. Tapi ya sudahlah, kalau memang dia tulang rusuk gue, gue dan dia pasti bakal dipertemukan lagi.
Other Stories
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
Hold Me Closer
Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...
Rumah Malaikat
Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...