6. Penulis Sombong
Aku berjalan memasuki kampus tercinta dengan tegesa-gesa. Berjalan sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Aduh, mampus aku sudah jam setengah 10 pagi. Jadwal menghadap dosen pembimbing kan jam 9 tepat. Aku sudah telat setengah jam. Aku telat gara-gara Gibriel Alexander, tadi malam kan aku baca novelnya sampai jam 12 tepat. Nunggu balasan sms dari sampai setengah 1.
Setelah gagalnya pernikahan sama Aldy, aku memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Aku mau focus mengejar mimpiku yang terbengkalai karena sakitnya cinta. Ruangan dosen pembimbing sudah terlihat oleh bola mataku. Aku semakin mempercepat langkah. Dalam hati aku terus berdoa semoga aku dapat dosen pembimbing yang nggak galak dan mau memaafkanku dating terlambat. Namun di luar dugaan, sesuatu yang tidak kuinginkan malah terjadi.
Bruk!
Aku terjatuh dan buku-buku yang kupegang berserakan di lantai. “Aduh, siapa sih yang nabrak gue segala? Nggak tepat waktunya. Gue kan lagi buru-buru buat menghadap dosen pembimbing,” gerutuku.
Aku masih terduduk berharap orang yang menabrakku minta maaf dan membantu berdiri serta merapikan buku-buku yang berserakan di lantai akibat perbuatannya.
“Ngapain lo masih terduduk? Ngarepin gue bantuin lo berdiri? Sorry, aja layau gue ngelakuin itu,” ujar seseorang di depan. Kata-katanya membuat otakku mendidih. Bukannya minta maaf karena menbarakku eh dia malah berkata kasar.
Aku mendongakkan kepala. Seketika emosiku lenyap begitu saja saat melihat orang yang menabrakku tadi. Secara orang yang menabrakku tadi cowok cakep banget, wajahnya putih bersih blateran Jerman dan Arab gitu, hidungnya mancur, bibirnya manis kok rasanya aku pernah melihat dia ya? Sayangnya aku lupa pernah ketemu dia di mana.
Aku memicingkan mata untuk mengenali wajahnya dengan seksama. Otakku sibuk berpikir keras mencoba mengingat pernah melihat cowok ini di mana sih? 5 menit kemudian, aku berhasil mengingatnya. Tak salah lagi cowok yang ada di depanku adalah Gibriel Alexander, penulis novel Kamu Adalah Cintaku. Benar-benar nggak menyangkan dia kuliah di tempat yang sama denganku.
Aku mengulurkan tangan, “Hay, kamu Gibriel Alexander kan? Kenalin aku Restyani. Aku sangat suka sama novelmu.” Aku memasang senyum paling manis.
Dia hanya menatapku sinis. “Penting gitu kenalan sama lo? Sorry aja ye gue nggak ada waktu.” Setelah berkata demikian Gibriel Alexander, pergi begitu saja dari hadapanku dan tanpa memedulikanku.
Aku masih melongo karena sikap Gibriel Alexander. Baru kali ini aku menemukan penulis sombong. Mentang-mentang berwajah cakep jadi bisa sombong gitu?
“Dasar penulis sombong! Gue doain nggak ada cewek yang mau sama lo dan lo bakal jomblo seumur hidup!” kata-kata sumpah serapah keluar secara spontanitas dari mulutku.
“Res, ngapain lo masih duduk cepetan lo ke ruangan dosen pembimbing lo! Beliau sudah nungguin lo lama. Wajahnya horror banget, sumpah!” ujar Nindya, sahabatku di universitas ini.
Aku menepuk jidatku sendiri baru ingat tujuanku hari ini dating ke kampus adalah menghadap dosen pembimbing. Secepat kilat aku berdiri. “Nin, lo mau bantuin gue nggak?”
“Minta bantuan apa? Lo mau gue temenin buat menghadap dosen pembimbing?”
“Bukan itu. Gue Cuma minta tolong lo buat beresin buku-buku gue yang berserakan di lantai.”
“Kalau soal itu kecil. Biar gue yang beresin! Cepetan lo menghadap dosen pembimbing.”
Aku mengucapkan beribu terima kasih sama Nindya. Aku langsung ngacir, menuju ruangan dosen pembimbing. Di dunia ini nggak semuanya sombong, masih ada orang baik salah satunya Nindya. Beruntung banget dia jadi sahabatku.
***
Bruk!
Aku menjatuhkan tubuh ke pulau kapuk tercinta. Sampai di kamar sudah jam setengah lima sore. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan. Dosen pembimbing mengambek, aku telat menghadapnya 45 menit. Awalnya sih beliau nggak mau jadi pembimbingku tapi kurayu terus dan alhasil hati beliau luluh juga. Ada tapinya, beliau memberi tugas tambahan yang bejibun. Makanya tadi ke took buku dulu mencari buku buat mengerjakan tugas.
Tanpa sengaja aku menyentuh sebuah benda. Benda itu berbentuk segi panjang, kulit bendanya ada timbul-timbul gitu. Rasa penasaran yang tingkat dewa membuat kumeraih benda itu. Astaga, ini kan novel penulis songong itu. Mending sekarang aku buang novelnya. Buat apa menyimpan novelnya jika penulisnya saja tidak menghargai pembaca?
Brak!
Kulemparkan novelnya ke lantai lalu kuberdiri dan mulai menginjak-injak novel. Emang sih dia nggak akan tahu dengan apa yang kulakukan tapi setidaknya ini bisa mengurangi kekesalanku terhadapnya. Gara-gara dia aku jadi telat ke kampus.
Setelah puas menginjak-injak novelnya, kubuka tong sampah yang ada di belakang pintu kamar. Plung! Novelnya berhasil mendarat di tong sampah dengan selamat. Dan sekarang saatnya tidur sore, badanku capek banget. Berharap nggak ketemu Gibriel di alam mimpi. Bagiku bertemu Gibriel merupakan mimpi buruk.
Other Stories
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Flower From Heaven
Setelah lulus SMA, Sekar Arum tidak melanjutkan kuliah seperti dua saudara kembarnya, Dyah ...
Pesan Dari Hati
Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...
Hikayat Cinta
Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...