Epilog
Sebulan kemudian.
Hari demi hari telah kulalui. Selama sebulan terakhir banyak banget aktifitas yang harus kulakukan. Mulai dari fiting baju, foto prawedding, cari percetakan undangan sampai memesan catering. Alhamdulillah, semua berjalan lancer. Hari ini adalah hari yang kutung-tunggu. Apalagi kalau bukan hari akad nikahku bersama Gibriel Alexander.
Acara akad nikah kami sangat sederhana. Dengan mengenakan setelan kebaya putih yang di padukan dengan busana Gibriel berupa celana dan jaz putih. Busana pengantin yang kurang perfect, namun sekali lagi ku tegaskan, hanya untuk mencocokkan dengan warna kulit Gibriel yang putih bersih. Di depan, pak penghulu dan wali nikahku telah siap menunggu. Wali nikahku adalam omku sendiri. Sebab ayahku sudah meninggal dunia sejak aku dilahirkan.
Para tamu undangan yang tak begitu banyak. Hanya keluarga dan kerabat terdekat kami. Tapi ada satu tamu special yang dating di pernikahan ini. Dia adalah Aldy, pria yang pernah mengisi hatiku. Ia dating bersama isteri dan anak tercinta. Aku sudah tidak sakit hati lagi melihatnya sebab aku benar-benar mengikhlaskan Aldy bersama yang lain. Para undangan tak sabar menunggu mempelai perempuan keluar dari kamar rias. Tak jarang kudengar teriakan dari para tamu undangan menanyakan kapan mempelai perempuan akan keluar.
Semua mata tertuju ke arah pintu kamar rias ketika mendapatiku keluar dari tempat tersebut. Dengan digiring bunda tercinta serta tanteku, perlahan kumendekati pak penghulu dan Gibriel dan wali nikahku yang tengah menunggu. Lalu Gibriel membantuku duduk di sebelahnya. Sebelum memulai akad, pak penghulu memberi pengarahan kepada kami. Tentang bagaimana menciptakan keluarga yang sakinah mawadah warrahma. Setelah itu, baru pengarahan pengucapan akad nikah yang akan di lakukan Gibriel.
\"Saya terima nikahnya Restyani Ananda Putri binti Fauzan, dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat di bayar tunai,\" Ucap Gibriel tenang.
\"Bagaimana saksi, Syah?\" tanya pak penghulu memastikan kepada para wali dan saksi nikah.
\"Syah,\" jawab mereka serentak. Lalu pak penghulu membaca sebuah doa agar pernikahannya di ridhoi Allah SWT. sementara para tamu undangan mengamini doa tersebut. Aku pun memakaikan cincin kawin ke jari manis Gibriel, lalu menccium tangannya. Begitu pula sebaliknya Gibriel mengecup keningku.
Tiba-tiba datang seorang wanita dengan tawa sinis. Penampilannya sangat beda dengan tamu undangan yang lain. Rambutnya yang panjang nampak acak-acakan. Dengan celana jeans selutut dan mini T-shirt yang robek di bagian punggungnya. Tawanya terus menggema,membuat seluruh anak adam di tempat itu tercengang. Apalagi ketika mendapati wanita tersebut membawa belati di tangan kanannya.
\"Nindya?\" jeritku terkejut.
\"Kenapa terkejut? Asal lo tau aja Res, kedatangan gua kemari bukan untuk ngucapin selamat atas pernikahan loe, melainkan gua ingin menghabisi nyawa lo!\" teriak Nindya lalu meluncur ke arahku dan menusukkan belati tersebut tepat di ulu hati. Namun...... Sekali lagi, malaikat maut terlalu menyayangiku. Bunda, jatuh tersungkur bersimpah darah. Belati tersebut keji menusuk ulu hati bunda ketika meluncur ke arahku.
\"Bundaaa...!\" teriakku histeris. Wajah bunda kian memucat, darah kental terus mengalir tiada henti.nafasnya mulai tersengal.
\"Sayang, kamu baik-baik ya. Jadilah istri sholehah\" ujar bunda. Ucapanya nampak berat dan terbata.
\"Gibriel, bunda titip Resty. Jaga dia baik-baik\" kalimat terakhir yang terucap dari bibir bunda serasa mengiris hatiku. Sangat berat, aku belum siap untuk kehilangan bunda.
\"Bunda...!.\" teriakku sekali lagi memecah keheningan acara akad nikahku.
\"Hahahaha ...,\" suara tawa itu terdengar ngeri, bagai raungan harimau mengincar mangsa.
\"Gua gak akan berhenti sebelum lo mati!\" teriak Nindya. Aku terkejut bukan main. Tak habis piker mengapa Nindya bisa jadi jahat. Dia yang dulu kuanggap seperti saudara sendiri kini telah berubah menjadi moster yang sangat mengerika. Ia mengarahkan kembali belati tersebut ke perutku. Namun Gibriel berhasil menghalangi aksinya, kemudian merampas belati tersebut dari tangan Nindya. Suasana kembali hening. Seluruh pasang mata tertuju ke arah Gibriel dan Nindya.
Tiba-tiba 5 petugas polisi datang beserta ambulance. Petugas ambulance segera menangani bunda yang telah tergeletak tak bernyawa. Sedangkan petugas polisi segera mengamankan Nindya. Aku tergeletak tak berdaya. Menatap nanar keadaan sekitar.
Doooorr! Terdengar suara pistol meletup di halaman. Seluruh mata tertuju ke sumber suara tersebut. Nindya jatuh tersungkur di lantai. Darah kental mengalir deras dari kepalanya. Rupanya saat petugas polisi hendak memborgol dan menyeretnya masuk ke mobil, dengan tangkas ia merampas pistol dari pinggang salah satu petugas polisi. Mengetahui bahwa dirinya pasti akan di hukum, kemudian ia nekad meledakkan pistol tersebut ke otaknya.
**************
2 tahun kemudian
Aku dan Gibriel berjalan disebuah pemakaman, aku ingin menengok bunda dan Vindy. Vindy, adiknya Gibriel yang sudah meninggal. Kebetulan makam bunda dan Vindy bersebelahan. Sudah lama aku tak menengok mereka, bukan aku melupakannya. Aku hanya sedikit kerepotan akhir-akhir ini. Setelah sampai dimakamnya aku memanjatkan doa yang dipimpin oleh Gibriel, lalu aku menabur bunga di makamnya. Aku mencium batu nisannya.
“Bunda, Vindy gimana kabar kalian? Maaf yah aku gak nengok akhir-akhir ini, bunda sama Ferry tahu kan sekarang aku siapa? Bagaimana repotnya aku ? Aku yakin bunda dan Vindy maklumi itu.. Oia bun, Vindy aku sudah menepati janjiku untuk selalu berbahagia, sekarang dan selamanya aku akan terus bahagia sesuai dengan keinginan Vindy dan bunda,” Batinku dalam hati.
“Ayaaaaaaaaahhhhh…., bundaaaaaaaaaaaa!” teriak seorang anak laki-laki berumur 2 tahun, dia berlari kearah kami.
“Aduhh apa sih kamu ini?” tanya Gibriel sambil meraih tubuhnya. Dia anakku, anakku dan Gibriel. Matanya bulat sepertiku. Hidungnya mancung mirip papanya. Kulitnya seputih susu, tapi rambutnya kriwil seperti pemain bola timnas yang bernama Titus Bonai. Aku waktu hamil suka banget nonton pertandingan timnas. Tiada hal terindah selain saat kumpul bersama keluarga. Mensyukuri atas segala nikmat yang telah tercurah. Dan si kecil yang kini ada dalam dekapan kami adalah anugerah terindah sepanjang masa. Aku menikah diusia 20 tahun, terlalu cepat yah ? memang.
“Aku tunggu lama di sana…, panas lagi, bunda lagi ngapain ?” tanyanya sambil bertolak pinggang, suaranya masih cempreng khas anak 2 tahun.
“Bunda lagi dikuburannya eyang putrid dan tante Vindy nih,” kataku lembut. Dia menatapku sambil duduk dipangkuan ayahnya.
“Tante? orangnya yang itu bukan ?” katanya sambil menunjuk kearah pohon besar yang jaraknya agak jauh dari kami. Aku dan Gibriel memandang kearah yang ditunjuk dia. Aku melihat seorang laki-laki tinggi berpakaian gaun putih lengan panjang, wajahnya putih bercahaya, dia sedang memandang kami dan melambaikan tangannya. Dia adalah Vindy. Pertama kalinya aku melihat Vindy. Aku tersenyum kearahnya. Dia membalas senyumku. Lalu berbalik dan pergi. Aku rasa, itu jawaban atas pertanyaanku tadi. Terima kasih Vindy, aku akan selalu menyayangimu seperti adikku sendiri.
“Yaahh…, tantenya pergi,” kata Rasya menyesal.
“Dia mau kemana yah?” tanyanya lagi pada Gibriel.
“Tantenya mau ke langit,“ jawab Gibriel asal.
“Emang tante punya sayap ?” tanyanya lagi. Aku tersenyum.
“Punya dong, dia kan bidadari kita,” jelas Gibriel.
“Aku juga mau dong punya sayap, supaya bisa terbang..” katanya sambil memeraktekannya.
“Nanti kita semua juga akan punya sayap kayak tante Vindy, tapi belum waktunya,” kata Gibriel masih menjelaskan. Aku tersenyum dan membelai lembut kepala anakku. Lalu kami berdiri dan kembali berjalan pulang.
Rasya Octavianus Putra. Itulah nama anakku, dia sangat mirip seperti Gibriel. Senyumnya, kelakuannya, bahkan bulan lahirnya pun sama dengan Gibriel. Selanjutnya Rasya pun memulai kisah barunya mulai sekarang. Semoga kisahnya semenarik kisah kami. Sampai jumpa, terima kasih.
Other Stories
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Dentistry Melody
Stella ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...