Sumpah Cinta

Reads
3.7K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

14. Kabur Adalah Jalan Terbaik

Malam semakin larut. Tak lama lagi fajarpun tiba. Namun mataku tak dapat terpejam. Hatiku gelisah tak menentu. Gelisah karena memikirkan Gibriel. Tadi siang aku bertemu dengannya. Dia kelihatan berantakan, wajahnya pucat, ada bagian hitam di bagian bawah matanya ketika kutanya apa masalahnya dia hanya menjawab dia gelisah dan ketakuta karena terror yang mengancamnya setiap waktu. Astaga, dia berantakan karena aku. Aku lah yang mengirimkan terror untuknya.
Teror dari Nindya harus dihentikan. Aku nggak mungkin membuat Gibriel semakin gelisah dan tertekan. Aku mencintainya. Bola lampu di kepalaku menyala menandakan bahwa menemukan ide cemerlang. Ide tentang menghentikan terror Nindya tapi aku nggak keluar uang sedikitpun. Ide yang muncul di kepalaku adalah kabur sejauh mungkin dari kota ini. Ya, aku tahu kabur merupakan perbuatan pengecut tapi inilah jalan terbaik. Nindya nggak akan pernah bisa melakukan terror sendirian dan lambat laun terror hilang sendirinya.
Aku beranjak dari tempat tidur, lalu membuka lemari pakaian. Kuambil koper besar, dan beberapa potong pakaian. Kumasukkan pakaian-pakaian tersebut ke koper.
Nah, sekarang siap pergi jauh dari kota ini. Sebelum pergi aku menulis surat dulu untuk Gibriel.
Dear Gibriel
Saat kamu membaca surat ini aku sudah pergi jauh dari hidupmu. Perlu kamu ketahui aku mencintaimu tapi aku juga yang membuatmu gelisah. Aku lah yang mengirim terror-teror kepadamu, aku melakukan ini karena terpaksa. Nindya lah dalang terror ini.
Aku mohon maaf atas semua kesalahanku. Aku berharap kamu tidak dendam kepadaku.
By orang yang mencintaimu
Restyani Ananda Putri
Surat yang kutulis ditaruh di meja. Usai itu aku melangkahkan kaki untuk pergi. Selamat tinggal kamarku tercinta.
Ceklek!
Betapa terkejutnya aku ketika membuka pintu kamar. Telah berdiri tegak Nindya di depan pintu kamar. Matanya melotot dan ia membawa sebuah pisau yang tajam. Mampus lah diriku! Aku mundur, tubuhku gemetar saking takutnya.
Nindya terus melangkah maju. “Mau kemana lo? Mau kabur dan mengingkari perjanjian kita?” ujar Nindya.
Aku terus mundur sampai akhirnya aku terpojok di sudut kamar nggak bisa kemana-mana lagi. Nindya tersenyum sinis. Ia berada tepat di depanku. Tangannya tiba-tiba menjambak rambutku. Aku meringis, tapi ia semakin kuat menjambaknya. “Resty, lo nggak bisa seenaknya pergi gitu aja. Lo harus melakukan tugas terakhir dari gue.”
“Tugas apa lagi? Gue sudah melakukan semua yang lo suruh.”
“Vindy sekarang masuk rumah sakit dan tugas terakhir lo adalah menghabisi nyawa Vindy!”
“Lo gila! Bukankah tujuan utama lo hanya bikin Gibriel nyesal karena bersikap kasar sama adik lo?”
“Awalnya memang seperti itu tapi semua berubah, Vindy mengetahui semua rencana kita . Kalau Vindy sadar kita semua bakal masuk penjara.”
“Gue nggak akan pernah mau membunuh Vindy dan menyakiti hati Gibriel. Vindy satu-satunya orang yang disayangi Gibriel.”
Plak!
Sebuah tamparan dari Nindya mendarat di pipiku. “Oh, jadi lo berani menentang kemauan gue? Lo nggak mau melakukannya karena lo cinta sama Gibriel kan?’
Nindya nggak puas hanya menapar dan menjambak rambutku, tangan kanannya kini mencekik leherku.
“Resty, lo mau mati sekarang atau menuruti perintah gue?”
“Pokoknya gue nggak akan mau membunuh Vindy.”
Nindya semakin gusar, tersirat dari tatapan matanya. Tangannya semakin memperkuat cekikan di leherku. Cekikannya membuatku sulit bernapas. Aku hanya bisa pasrah. Jika memang aku harus mati ditangan Nindya, aku rela. Aku hanya berharap mati dalam keadaan khusnul khotimah.
Pandangan mataku mengabur. Aku merasakan sudah dekat. Semoga saat aku membuka mata, aku telah berada di surga bersama dia yang kucinta. “Selamat tinggal dunia, selamat tinggal Gibriel. Aku mencintaimu sampai akhir napasku,” ujarku sebelum menutup mata. Seketika semuanya gelap.
***

Other Stories
Pantaskah Aku Mencintainya?

Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...

Bayang Bayang

Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Cinta Kadang Kidding

Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...

Download Titik & Koma