Sumpah Cinta

Reads
3.7K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

15. Sebuah Rahasia Terbongkar

Suasana di kamar pasien itu terasa senyap. Hanya terdengar bunyi jam yang berdetak dan alat-alat rumah sakit. Vindy sedang terbaring lemah di atas ranjang pasien, kepalanya dibalut dengan perban. Ia bagaikan Putri Tidur yang sudah hampir seratus hari tetap setia mengatup kedua matanya. Karena kecelakaan mobil yang menimpanya, dia koma, itulah yang terjadi pada Vindy. Vindy satu-satunya keluarga gue di dunia ini. “Ah, gue benar-benar takut. Gue sangat takut kehilangan dia,” batin gue yang duduk di tepi ranjang Vindy. Sedari tadi gue terus setia duduk di sini, menangis sambil menggengam tangannya.
“Pokoknya gue harus menemukan orang yang menabrak Vindy. Gue nggak akan membiarkan orang itu hidup tenang,” tekat gue.
Gue merogoh saku celana untuk mengambil HP. Gue mau menelpon teman gue yang detektif buat melacak keberadaan orang yang menabrak Vindy.
Kuingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu.
Baru saja gue pengen menelpon eh HP gue bunyi. Gue lihat layar HP, 1 Pesan diterima yang tertulis di layar HP. Klik open untuk membaca pesan itu.
From : Restyani Ananda Putri
Saat kamu membaca surat ini aku sudah pergi jauh dari hidupmu. Perlu kamu ketahui aku mencintaimu tapi aku juga yang membuatmu gelisah. Aku lah yang mengirim terror-teror kepadamu dan aku juga yang menabrak Vindy. Aku melakukan ini karena sakit hati sama kamu, kamu jadi penulis sombong banget. Cacian dan perlakuan kasarmu masih melekat di hatiku. Semoga apa yang aku lakukan bisa menyadarkanmu dan membuat kamu menjadi lebih baik. Selamat tinggal Gibriel.
Emosi gue langsung naik ke atas kepala ketika membaca sms dari Resty. Kedua kalinya gue dipertemukan dengan iblis berwajah bidadari. Gue mulai jatuh cinta dengannya eh dia tega melakukan hal jahat kepada gue. Kenapa cewek-cewek yang gue cintai ngggak ada yang waras?
HP yang gue pegang, gue lempar jauh-jauh.
Prang!
Kepingan-kepingan HP jatuh berserakan di lantai. HP pecah bisa beli yang baru. Nah, kalau hati yang hancur kemana membeli hati yang baru? Semua cewek sama aja. “Mulai detik ini gue nggak akan jatuh cinta lagi.” Gue berketad meneruskan sumpah yang pernah gue ucapkan di Restaurant Segarra.
Hmmm …Resty gue nggak akan biarin dia hidup tenang. Enak aja bikin adik gue koma eh main kabur aja. Gue harus cari dia sampai ketemu. “Vin, doain gue ya agar gue bisa menemukan Resty. Dia orang neror kita selama ini dan dia juga yang menabrak lo. Gue harus bikin hidup dia menderita.” Ujar gue berbicara sama Vindy. Meskipun Vindy koma tapi gue yakin Vindy bisa mendengar ucapan gue.
Gue beranjak dari tempat duduk tapi tiba-tiba gue merasa ada yang menarik tangan gue. Gue menoleh ke samping. Alhamdulillah, do ague dikabulkan. 3 hari koma akhirnya mata Vindy terbuka, ia sadar.
“Alhamdulillah, akhirnya lo sadar juga Vin. Gue panggil dokter dulu ya?”
Vindy menggeleng, “Nggak usah kak. Gue Cuma sebentar kok. Gue mau bicara penting sama lo.”
“Lo kan baru sadar, bicaranya nanti aja ya?”
“Cuma sebentar kok kak. Gue mau bicara tentang sebuah rahasia besar.”
“Rahasia apa?”
“Gue sudah menemukan orang yang neror kita selama ini.”
“Resty orangnya?”
“Bukan. Coba lo baca buku diari yang ada di tas gue. Nah, lo akan menemukan jawabannya. Kak, Resty nggak salah. Sekarang justru Resty dalam bahaya. Lo harus selamatin dia!”
“Oke, kalau emang benar Resty nggak salah gue akan menyelamatkannya.”
Setelah mendengar ucapan gue Vindy tersenyum, lalu tak berapa lama mata Vindy terpejam lagi.
Tiiiiiiiiit…!
Alat pendeteksi denyut nadi berbunyi nyaring. Grafik yang ada di alat itu juga datar. Gue panic. Cepat-cepat gue memencet tombol yang ada di samping ranjang Vindy untuk memanggil dokter. Tak lama kemudian dokter dating bersama suster. Dokter langsung memeriksa Vindy.
“Innalillahi Wa inna Ilaihi Roji’un. Adikmu telah berpulang ke Rahmatullah,” ujar dokter singkat.
“Vindy, jangan tinggalin gue!” jerit gue sekeras-kerasnya. Namun jeritan gue tak mengubah keadaan nggak bisa membuat Vindy bangun kembali. Gue berdoa agar Vindy tenang di alam sana bersama ayah dan bunda.
***
Aku tersadar dari pingsannya. Aku mendapati diri terikat di sebuah kursi dan terkunci dalam suatu kamar kosong, tertutup rapat pula. Aku mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Tadi malam ia mau pergi jauh tiba-tiba Nindya dating untuk menyuruhku membunuh Vindy. Berhubung aku nggak mau akhirnya Nindya mencekik leherku setelah itu nggak ingat apa-apa lagi. Alhamdulillah, Allah masih menyayangiku dan masih mengijinkanku menghirup napas di dunia.
Ruangan ini gelap dan masih berbau cat. Aku berusaha mengorientasikan diri. Kepalaku masih pening dan pikiranku masih belum pulih semuanya.
Aku mulai sadar bahwa kamar ini tidak berjendela. Terdiri atas empat buah dinding. Di atas sana kira-kira sepuluh sentimeter dari langit-langit, ada dua buah lubang ventilasi yang Cuma selebar telapak tanganku. Dari sana masuk sedikit cahaya.
Aku juga merasakan mulut tidak dilakban atau disumpal sapu tangan. Aku jadi berpikir bagaimana reaksi mereka jika diriku berteriak? Apakah mereka akan dating untuk menyiksaku? Kalau begitu sebaiknya aku diam saja tanpa mengingatkan mereka akan kehadiranku di dalam kamar ini. Tapi kalau seandainya ada di orang lain di luar rumah yang bisa menolongku dan aku tidak berteriak bagaimana orang tahu bahwa diriku terkunci dan kamar ini?
Aku mempertajam indera pendengarannya. Rasanya aku tidak bisa menangkap suara apapun dari luar. Apakah di rumah ini tidak ada orang? Atau kah dinding rumah ini terlalu tebal sehingga tidak tembus suara? Kalau aku saja tidak bisa mendengar suara dari luar. Percuma saja aku berteriak.
Mengapa aku terkunci di kamar ini? Kenapa Nindya tidak langsung membunuhku saja? Apakah ia ingin aku mati kelaparan dalam kamar ini? Batinku bertanya-tanya. Bulu kudukku berdiri seketika.
Mati kelaparan bukanlah cara mati yang enak. Banyak penderitaan sebelum ajal menjemputnya. Berapa lama orang bisa mati karena kelaparan? Satu minggu, dua minggu, atau bahkan satu bulan?
Ya, Allah. Jauhkan nasib itu dariku. Jika benar nasibnya memang harus mati di tempat ini biarkanlah aku mati tanpa menderita, doaku dalam hati.
Tapi panggilan pada Allah mengingatkanku. Mengapa aku minta mati tanpa menderita? Mengapa tidak minta hidup? Aku segera mengganti permohonannya, Ya Tuhan selamatkan aku dari mara bahaya ini! Jangan sampai mereka membunuhku.
Tanpa disadarinya air matanya menetes membasahi pipinya. Aku tidak ingin mati. Mengapa aku yang harus mati? Aku tidak pernah berlaku kejam terhadap siapapun. Aku tidak pantas menerima hukuman ini! Mengapa aku dihukum karena kesalahan orang lain? Mengapa orang yang mencelakai Vindy dibiarkan lepas, sedangkan aku yang hanya menguak kejahatan dia justru harus mati? Ya, Tuhan ini tidak adil! Pekikku dalam hati.
Tangisku sekarang tidak lagi hanya air mata yang mengalir dalam kebisuan. Tangisku mengambil bentuk isakan-isakan tajam mengguncang tubuhnku. Akankah ada orang yang akan menyelamatkannya? Aku berharap agar Gibriel Alexander bisa menemukan keberadaanku.
***
Gue meraung-raung di kamarnya Vindy. Gue benar-benar terpukul atas meninggalnya Vindy. Kemarin Vindy masih bercanda sama gue, tapi sekarang dia menyusul ayah dan bunda ke surge. Kenapa sih satu persatu orang yang gue sayang pergi meninggalkan gue? Apakah gue ditakdirkan untuk hidup sendirian?
Pandanganku tiba-tiba beralih pada sebuah buku tebal yang terletak di meja di tepi ranjang, dengan cover berwarna pink bertuliskan “Diary’s Nindya” Kemarin ada seorang kakek-kakek menyerahkan diari ini ke gue kata kakek itu buku diari ini beliau temukan di tempat Vindy kecelakaan.
“Bukan. Coba lo baca buku diari yang ada di tas gue. Nah, lo akan menemukan jawabannya. Kak, Resty nggak salah. Sekarang justru Resty dalam bahaya. Lo harus selamatin dia!”
Gue teringat kata-kata Vindy yang terakhir kalinya, sebelum ia menghembuskan napas terakhir. Apa buku diary ini adalah buku diari yang dimaksud Vindy? Ia segera meraih buku yang sudah membuat rasa penasarannya memuncak, segera ia membuka lembar per lembar.
Diary’s Nindya
Hal 1
Gibriel Alexander, dari awal gue ketemu dia gue sudah kesemsem sama dia. Dia sudah cakep blasteran Jerman dan Arab anak orang kaya pula. Sayangnya dia sudah punya cewek. Dengar-dengar sih bentar lagi dia mau melamar cewek. Gue patah hati. Hmmm … tapi bukan Nindya nama gue kalau nggak bisa naklukin cowok yang gue suka. Apapun yang terjadi pokoknya gue harus bisa dapetin Gibriel.
Hal 2.
Setelah sekian lama gue menunggu akhirnya Gibriel putusan juga sama ceweknya. Ini kesampatan gue pedekate sama Gibriel. Gue harus semangat dapetin cinta Gibriel.
Hal 3
Gila, sekarang Gibriel jadi penulis terkenal. Mana dia sombongnya minta ampun pula. Gue sms dia eh dia malah judes banget bales sms gue. Gue sakit hati. Gue bersumpah akan ngebales perbuatan Gibriel 3 kali lipat.
Hal 4
Yes, gue berhasil nemuin ide buat membalas rasa sakit hati gue sama Gibriel. Ide yang ada di kepala gue adalah meneror dia, dia pasti panic. Nah, gue mucul untuk nenangin dia. Lambat laun Gibriel pasti akan ke semsem sama gue. Kebetulan gue punya teman namanya Resty, dia bisa manfaatkan buat melakukan rencana gue. Dia nggak mungkin bisa nolak, dia banyak hutang budi sama gue.
Hal 5
Gawat! Semua rencana yang gue susun rapi gagal total gara-gara Resty jatuh cinta sama Gibriel. Gue harus merubah rencana baru. Rencana barunya adalah membunuh Gibriel dan Resty. Kalau gue nggak bisa mendapatkan cinta Gibriel mereka berdua harus mati.
Gue menutup buku diari milik Nindya. Apa yang ditulis Nindya sudah cukup membuktikan bahwa Resty tidak bersalah. Hati gue dipenuhi rasa bersalah karena telah memfitnah Resty.
“Sekarang justru Resty dalam bahaya. Lo harus selamatin dia!”
Lagi-lagi kata-kata yang diucapkan Vindy sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya kembali terngiang di telinga gue. Seketika gue tersadar, Resty dalam bahaya. Benar kata Vindy gue harus menyelamatkan Resty.
“Resty, I am Coming. Gue akan dating untuk menyelamatkan lo,” ucap gue sebelum melajukan sepeda motor kesayangan.
***
Gue duduk di bawah pohon kepala. Sumpah, capek banget seharian muter-muter mencari Resty tapi hasilnya nihil. Resty nggak gue temuin keberadaannya. Gue Tanya teman-teman di kampusnya tapi mereka nggak ada yang tahu dimana keberadaan Resty.
“Aduh, Resty lo dimana sih? Gue kangen lo. Ya Allah, selamatkanlah Resty dan pertemukanlah saya dan Resty kembali,” do ague.
Gue teringat buku diary Nindya. Astaga, kenapa gue baru ingat Nindya? Resty pasti disekap Nindya. Semangat gue muncul lagi. Semangat buat menemukan keberadaan Nindya. Pokoknya gue harus bisa menemukan Nindya, kalau sampai gagal gue bakal menyesal seumur hidup.
Cinta kata orang aku jatuh cinta kepada dirimu
Cinta sampai tergila-gila
Terdengar lagu Ungu Berjudul Mabuk Kepayang dari saku celana Gue. Gue sadar bahwa lagu itu merupakan nada dering di HP-nya. Dirogohnya saku celana untuk mengambil benda tersebut. Tak lama kemudian HP telah berada dalam genggaman gue. Dahi gue berkerut ketika melihat layar HP.
Unknown Number
Calling
Cepat-cepat gue menekan tombol answer, siapa tahu aja yang menelpon bisa memberikan petunjuk.
“Halo,” ujar gue singkat.
“Halo juga. Apa benar ini Gibriel Alexander?” Tanya seorang pria di seberang telpon.
“Iya benar, ada apa ya?”
“Saya menemukan gadis cantik di sebuah rumah yang baru dibangun. Kondisinya tergolek lemas.”
Astaga! Jangan-jangan itu Resty. “Oke, pak saya segera ke sana! Tolong kirim alamat rumahnya.”
Tiuut … Tuuut sambungan telpon terputus.
Gue langsung melajukan mobilnya. Sekitar 10 menit Gue tiba di alamat rumah yang diberikan oleh bapak yang menelponnya tadi. Di dalam rumah tersebut gue memang menemukan Resty tapi gue tak menemukan Nindya. Mungkin dia sudah kabur. Tapi syukur lah Resty sudah ditemukan dalam keadaan selamat. Cepat atau lambat yang namanya penjahat pasti tertangkap.

Other Stories
FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Hafidz Cerdik

Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...

Diary Superhero

lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...

Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...

Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...

Download Titik & Koma