Sumpah Cinta

Reads
3.7K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

13. Merenung

2 hari lagi seluruh manusia akan meninggalkan tahun 2013 dan mulai memasuki tahun 2014. Kebiasaan yang gue lakuin menjelang akhir tahun adalah merenung. Merenungin apa aja sih yang terjadi di tahun 2013? Kalau 2013 banyak jeleknya, maka di tahun 2014 gue mau memperbaiki kesalahan.
Jika tahun-tahun lalu gue merenung di restoran Segarra, tapi sekarang gue merenungnya di bawah pohon beringin yang letaknya ada di belakang kampus tercinta. Gue mengeluarkan buku agenda dan sebuah pena dari tas. Renungan akhir tahun selalu gue tulis di buku agenda buat kenang-kenangan. Jadi pada saat di baca di tahun mendatang, pasti senyum-senyum sendiri.
Wah, hari cepat banget berlalu tanpa terasa kurang lebih masuk tahun 2014. Selama tahun 2013 banyak banget kejadian yang gue lalui. Di tahun 2013 ada 2 hal yang membahagiakan.
Kedua Novel gue terbit di tahun 2013
Mendadak jadi selebritis di kampus dan punya banyak fans dimana-mana
Gue dipertemukan sama gadis cantik, bernama Restyani Ananda putrid
Namanya hidup ada bahagia pasti ada sedihnya. Begitu pula hidup gue. Gue juga mengalami beberapa kasus di tahun 2013. Antara Lain :
Cewek yang gue cintai ketahuan selingkuh tepat di hari anniversary hubungan ke empat tahun.
Munculnya terror
Gue akui sih kasus 1, dan 2 muncul karena sifat gue yang ceroboh, kurang perhatian sama cewek, judes, gak bisa nahan emosi, dan ceplas ceplos. Berharap tahun 2014 gue bisa mengendalikan diri. Eits, selain itu gue juga punya banyak harapan diantaranya :
Novel go internasional.
Bisa mewujudkan mimpi buka penerbitan mayor yang diberi nama \"Arsha Publishing House\"
Buka Arsha Butik
MENIKAH
Perasaan dari tahun ke tahun harapan yang belum pernah gue wujudin sampai sekarang adalah MENIKAH. (abis belum nemuin putri yang pas di hati). Doain aja biar gue cepat nemuin yang cocok. hihihi
Itulah hasil renungan gue dalam mengingat-ingat apa saja yang terjadi di tahun 2013 yang gue tulis dalam buku agenda.
Tiba-tiba gue merasakan ada yang menepuk pundak gue. “Woy, lagi ngapain nih di bawah pohon beringin segala!” teriak seorang cewek di belakang gue.
“Eh, copot-eh copot …” penyakit latah gue kumat. Gue menengok ke samping ternyata orang yang mengagetkan gue adalah Resty.
Huft, Gue mendengus kesal. Kesal sama diri sendiri. Kenapa coba penyakit latah keluar di hadapan Resty. Gue kan jadi malu ketahuan mempunyai penyakit latah. Resty cekikikan. Gue makin bête aja.
“Kenapa ketawa? Lucu ya cowok latahan?” Tanya gue jutek.
“Sorry, bukan gitu. Aku ketawa karena bukan Cuma aku aja yang latahan saat dikagetin eh ternyata kamu juga gitu.”
“Ya, gitu deh. Abis gimana lagi penyakit latah sudah ada sejak masih kecil.”
“Sama dong. Kamu lagi ngapain?”
“Loh, harusnya aku kali yang nanya ngapain kamu ke tempat ini. Tumben-tumbenan banget.”
“Gue ke sini Cuma buat merenung aja. Merenungin kesalahan-kesalahan yang gue lakuin di tahun 2013 buat perbaikan di tahun 2014. Kamu sendiri ngapain?”
“Sama seperti yang kamu lakukan. Ya, tempat ini memang tempat yang pas banget buat merenung. Di sini kita bisa menemukan kedamaian hati.”
Gue terdiam mendengar ucapan Resty. Semakin lama gue merasa semakin banyak mempunyai persamaan dengan Resty. Persamaan antara gue dan Resty adalah : sama-sama suka ke took buku, sama-sama suka online tengah malam, sama-sama latahan dan terakhir sama-sama suka merenung di akhir tahun. Kata orang sih jodoh kita itu banyak mempunyai persamaan dengan diri kita. Semoga Resty adalah jodoh gue.
Resty menatap mat ague tajam. Tatapan matanya menusuk hati gue terdalam. Ah, gue jadi salang tingkah sendiri. “Dari tatapan matamu kamu itu lagi gelisah. Kamu lagi banyak masalah ya? Kalau punya masalah curhat aja sama aku, siapa tahu aku bisa meringankan bebanmu minimal aku bisa bikin hati kamu lega,” ujar Resty.
“Ah, masa sih? Nggak ada masalah apa-apa kok.” Jawab gue sedikit berbohong. Gue sengaja menyembunyikan masalah terror yang gue alami ke Resty, gue nggak mau menambah beban dia.
“Udah nggak usah bohong. Matamu jelas banget memancarkan aura lagi banyak masalah dan kamu lagi ketakutan. Kalau kamu nggak mau cerita tentang masalahmu biar aku aja yang nebak tentang masalahmu.”
“Emang kamu tahu apa masalahku?” Tanyaku meremehkannya.
“Pasti masalahmu tentang terror yang kamu alami kan?”
“Kok tahu sih? Bapakmu peramal ya?”
Gue menatap mata Resty. Gue merasa ada yang aneh dari ucapan Resty, darimana coba dia tahu gue mengalami terror? Tapi ternyata gue melihat wajah Resty pucat, seperti maling yang ketahuan warga. “Ya, tahulah. Kamu kan sekarang sudah jadi selebritis kampus. Jadi apapun yang kamu lakuin pasti cepat tercium oleh banyak orang. Apalagi dengar-dengar si peneror kirim bangkai tikus di kelas kamu ya?” ujar Resty meyakinkan gue.
Memang sih apa yang diucapkan Resty itu masuk akal. Tapi hati gue kurang percaya dengan ucapannya. Hati gue mengatakan Resty menyembunyikan sesuatu dari gue dan sesuatu itu berhubungan sama terror. Jika Resty hari ini nggak berkata jujur, gue sendiri yang akan mencari tahu kebenarannya.
“Tebakan lo pas banget. Yups, gue gelisah karena memikirkan terror. 23 tahun gue hidup di dunia baru kali ini gue dapat terror.”
“Itulah resiko jadi sukses. Semakin tinggi pohon maka semakin kencang pula angin bertiup. Lovers dan haters adalah 2 hal yang nggak bisa dipisahkan. Kita nggak bisa memaksa orang untuk selalu mencintai diri kita, pasti ada orang membenci kita. Kamu yang sabar aja, yakinlah badai pasti berlalu. Kata smash balaslah haters dengan senyum semangat,” ujar panjang lebar.
Gue setuju 100% dengan apa yang diucapkan Resty. Gue semakin mengaguminya. Dia wanita yang sempurna di mat ague. Gue selalu merasa nyaman berada di drkat Resty. Dia bisa membuat gue lupa akan masalah yang gue hadapi. Tiba-tiba di lubuk hati gue terdalam muncul keinginan untuk melamar Resty hari ini juga. Tapi gue ragu. Tadi gue berencana melamar cewek di tahun 2014. Kalau dipikir-pikir melamar Resty sekarang terlalu cepat, Resty pasti kaget. Mungkin lebih baik melamar Resty tahun 2014 aja kali ya?
Tanpa terasa hari sudah senja. Senja itu indah, tapi sayang waktu kemunculannya hanya sebentar. Gue teringat Vindy. Si Vindy pasti bingung mencari gue. Tadi gue ke tempat ini nggak pamit dulu sama Vindy. Gue mengajak Resty pulang bersama. Resty pun menyetujuinya.
***
“Vin … Vindy!” teriak gue. Namun nggak ada sahutan sama sekali dari dalam. Vindy kemana ya? Gue merogoh saku celana, gue menemukan kunci rumah. Untung gue bawa kunci rumah cepat-cepat gue membuka pintu.
Begitu pintu berhasil terbuka gue berlari menuju kamar Vindy namun Vindy nggak gue temukan di kamarnya. Gue mengecek kamar mandi, tetap nggak menemukan Vindy. Gue panic sendiri, jam segini biasanya Vindy asyik menonton drama Korea kenapa sekarang dia nggak ada di rumah?
“Lo nggak perlu tahu siapa gue. Yang jelas gue pengen lo mundur dari dunia penulis. Kalau lo nggak mau mundur dari dunia tulis, hidup lo akan sengasara dan adik kesayangan lo bakal celaka!”
Kata-kata si peneror terngiang di telinga gue lagi. Astaga, jangan-jangan Vindy diculik. Berbagai firasat buruk menyelimuti hati gue. Gue takut terjadi apa-apa dengannya. Gue teringat HP, aduh begonia gue kenapa dari tadi gue nggak sms Vindy menanyakan keberadaannya.
Gue merogoh saku kemeja untuk mengambil. Setelah HP berada di tangan, gue mengirim sebuah sms untuk Vindy.
To : Vindy
Vind, lo lagi dimana? Cepat pulang, firasat gue nggak enak nih.
Baru beberapa menit sms terkirim HP gue bordering. Ketika melihat layar HP gue kecewa, HP gue bunyi bukan karena dapat sms atau telpon dari Vindy tapi telpon dari nomor yang tidak dikenal. Gue penasaran, dengan orang yang nelpon gue. Gue tekan tombol answer.
“Halo, dengan siapa dan dimana?” Tanya gue ramah. Meskipun gue lagi panic tapi gue harus tetap berkata ramah pada siapapun.
“Kami dari rumah sakit Kasih Ibu, apakah anda mengenal Vindy Putri.”
“Ya, saya kenal. Saya adalah kakaknya Vindy. Ada apa dengan Vindy?”
“Vindy mengalami kecelakaan dia saat ini dirawat di rumah sakit kami.”
“Oke, saya segera ke sana. Sus, tolong berikan perawatabn terbaik buat Vindy.”
Gue mematikan sambungan telepon. Lalu bergegas pergi ke rumah sakit. Gue berharap Vindy baik-baik saja.

Other Stories
Curahan Hati Seorang Kacung

Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...

Bad Close Friend

Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Kepingan Hati Alisa

Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...

Download Titik & Koma