Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap

Reads
1.7K
Votes
11
Parts
12
Vote
Report
Kala menjadi cahaya menjemput harapan di tengah gelap
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap
Penulis Bayu Alfianur

Bab 3 - Pertemuan Dengan Harapan

Minggu pagi, udara terasa lebih segar setelah semalam hujan deras mengguyur kota. Arka berjalan pelan menuju taman kota, tempat ia biasa menenangkan diri. Sejak membaca buku usang yang ia beli dari penjual kaki lima, ada kebiasaan baru: keluar rumah meski hanya sebentar. Ia tahu, mengurung diri terlalu lama hanya membuat pikirannya makin kusut. Di bangku taman yang teduh, ia duduk sambil menatap anak-anak kecil berlarian. Mereka tertawa lepas, seakan dunia begitu ringan. Hati Arka terasa hangat, tapi juga getir ia rindu merasakan hidup yang ringan seperti itu.Saat itulah, seorang pemuda datang membawa kamera DSLR. Rambutnya agak berantakan, wajahnya ceria. Ia menyapa ramah,

 “Permisi, Mas. Boleh saya duduk di sini?”Arka mengangguk singkat.“Nama saya Nara,” pemuda itu memperkenalkan diri sambil tersenyum. “Saya lagi suka hunting foto manusia. Tenang aja, saya nggak akan foto Mas kalau nggak izin.”Arka terkejut, lalu tertawa kecil. Sudah lama ia tak tertawa tulus seperti itu. “Santai aja, saya cuma lagi duduk-duduk.”Percakapan ringan pun dimulai. Dari obrolan singkat, Arka tahu Nara adalah seorang fotografer lepas. Ia sering memotret momen-momen sederhana di jalan, lalu menjual hasilnya ke majalah atau situs online.“Aneh ya,” kata Nara sambil menatap anak-anak yang bermain. “Orang sering cari kebahagiaan jauh-jauh, padahal kadang ada di depan mata. Kayak tawa anak kecil itu gratis, tapi bisa bikin hati lega.”Arka terdiam. 

Kata-kata sederhana itu seperti mengetuk hatinya.Mereka berbincang cukup lama. Entah kenapa, Arka merasa nyaman. Nara punya aura optimis yang menular, berbeda jauh dengan rasa pesimis yang selama ini membelenggunya.Sebelum pulang, Nara sempat berkata, “Saya percaya setiap orang punya ‘cahaya’ masing-masing. Kadang redup, kadang terang, tapi nggak pernah benar-benar padam. Tugas kita cuma menjaganya.”Kalimat itu menghantui pikiran Arka sepanjang hari. Cahaya. Ia tak yakin apakah dirinya masih punya cahaya, tapi kata-kata itu membuatnya penasaran.Beberapa hari kemudian, Arka kembali ke taman, berharap bisa bertemu lagi. Dan benar saja, Nara ada di sana, kali ini sedang memotret seorang kakek penjual balon.“Eh, Mas Arka! Kebetulan ketemu lagi,” sapa Nara.Arka terkejut, “Kamu masih ingat namaku?”“Jelas. Orang yang duduk murung di bangku pojok taman? Mana mungkin lupa,” canda Nara sambil tertawa. Arka ikut tertawa, lebih lepas dari sebelumnya. Hari itu, Nara mengajak Arka berjalan keliling taman. Ia bercerita tentang perjalanannya: pernah gagal kuliah, pernah ditolak berkali-kali saat menawarkan jasa fotografi, bahkan sempat dianggap remeh oleh keluarganya.“Tapi saya pikir, kalau saya berhenti, saya nggak akan pernah tahu apa yang menunggu di depan. Jadi ya, saya terus aja jalan, meski kadang jalannya pincang,” kata Nara sambil mengangkat kameranya.Arka terdiam. Ia merasa kisah Nara seperti cermin bedanya, Nara memilih tetap melangkah, sementara dirinya selama ini hanya terpuruk.Suatu sore, Nara tiba-tiba mengajak Arka ke sebuah komunitas kecil di pinggir kota. Tempat itu sederhana: ruangan sewa dengan kursi-kursi plastik, papan tulis, dan rak buku.“Ini komunitas baca-tulis. Orang-orang di sini pernah jatuh juga dalam hidupnya, tapi mereka saling dukung buat bangkit. Mas mau ikut?” tanya Nara.Awalnya Arka ragu. Ia tak terbiasa bersosialisasi lagi. Namun, akhirnya ia masuk.Di dalam, ia melihat orang-orang dari berbagai latar belakang: ada ibu rumah tangga yang baru bercerai, ada mahasiswa yang depresi karena kuliah, bahkan ada mantan pecandu yang kini rajin menulis puisi. Mereka berkumpul, saling bercerita, saling menguatkan.Seorang perempuan bernama Rani berbagi kisah tentang kehilangan adiknya karena kecelakaan. “Saya sempat ingin menyerah, tapi menulis membuat saya bisa berdamai dengan rasa sakit. Dan di sini, saya merasa nggak sendirian.”Arka mendengarkan dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa banyak orang yang juga berjuang melawan gelapnya masing-masing.Ketika gilirannya berbicara, ia sempat terdiam lama. “Saya… saya nggak tahu harus mulai dari mana. Hidup saya berantakan. Saya kehilangan pekerjaan, ayah saya sakit, dan saya merasa gagal…” suaranya bergetar.Namun, bukannya dihakimi, ia justru mendapat tatapan hangat dari semua orang di ruangan itu. Rani berkata, “Nggak apa-apa. Justru keberanianmu untuk cerita hari ini sudah langkah besar.”Arka menunduk, menahan air mata. Ia merasa diterima, meski dalam keadaan rapuh.Malam itu, sepulang dari komunitas, Arka menulis di catatannya:“Hari ini aku merasa sedikit lebih ringan. Ternyata aku tidak sendirian. Ada orang-orang yang juga terluka, tapi mereka memilih melangkah. Mungkin aku juga bisa.”Ia menutup bukunya dengan senyum kecil. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tidak merasa sendirian.Pertemuan dengan Nara, lalu komunitas itu, menjadi titik balik. Harapan yang semula redup kini mulai berpendar.Arka mulai percaya meski gelap pernah menghimpitnya, cahaya masih ada. Dan kali ini, ia berniat untuk menjaganya.





Other Stories
Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

My 24

Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Kepentok Kacung Kampret

Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Download Titik & Koma