Bahagiakan Ibu

Reads
549
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
Penulis Dwi Ambar Pangesti

3. Anak Berbakat

Dua minggu Faiz sudah berada di rumah. Aktivitas sehari-hari seperti biasa mulai dilakukan. Walaupun sekarang tambah satu aktivitas lagi yaitu berenang. Saran dari dokter, satu minggu sekali, Faiz dilatih untuk berenang. Ayah dan Ibu Faiz membuat jadwal berenang. Mereka dengan tekun melatih buah hatinya. Berawal dari nol, tidak bisa apapun.
Sabtu fajar yang sumringah2. Semua anggota keluarga sibuk sesuai tugasnya masing-masing. Ibu Faiz menyiapkan menu makanan untuk dibawa ke kolam renang. Bapak berjalan ke depan rumah, membersihkan mobil serta mengecek mesin mobil. Faiz bangun habis subuh. Dengan motivasi tinggi untuk berenang, Faiz membantu Ayah membersihkan mobil.
“Yah, apalagi yang perlu dibersihkan?” tanya Faiz sambil ikut-ikutan membersihkan kaca mobil.
“Anak ayah hebat! Selalu mau membantu orang tua!” sanjung Ayah.
Waktu setengah jam begitu cepat. Jarum jam menginjakkan tiap langkah, laksana kilat menerpa mangsa. Cepat dan pasti langkahnya. Hampir jam enam pagi, Ibu sudah selesai menyiapkan bekal makanan untuk dibawa ke kolam renang.
Si kecil Ella sudah dimandikan oleh ibu.
“Ayo, Kak Faiz, tinggal gosok gigi dulu,” Ibu memanggil Faiz dengan suara lembut.
Faiz ke dalam rumah, menuju panggilan Ibu.
“Iya, Bu,” dengan taatnya Faiz mengerjakan perintah ibu.
Setelah selesai mengurusi Faiz, ibu pindah aktivitas membereskan segala yang akan dibawa. Ibu menempatkan makanan ke dalam wadah tupperware. Ibu bolak-balik ke ruang dapur, menyempurnakan bekal makanan yang akan dibawa.
“Udah semuanya siap, Bu?” tanya Ayah sambil berganti baju.
Ayah dan Ibu memasukkan semua bekal ke dalam mobil dengan hati-hati. Faiz menggendong tasnya yang berukuran kecil berwarna biru, bergambar mobil. Pemandangan gotong royong antara Ayah dan Ibu saling kerja sama menjadikan tauladan bagi Faiz. Faiz bangga dilahirkan dari seorang Ibu yang selalu mendidik buah hatinya secara islami. Ella yang baru bisa berjalan beberapa langkah, ikut keluar rumah.
“Ayo, Nak! Naik ke mobil!” seru Ayah sambil membunyikan mobil.
Faiz bergegas masuk ke dalam mobil, diikuti Ibu dan Ella.
“Gak ada yang tertinggal, Bu?” tanya Ayah.
“Insya Allah, udah masuk mobil semua,” jawab Ibu sambil menggeser posisi duduk ke arah tengah.
Dengan membaca doa yang dipimpin oleh Ayah, mobil mulai melaju dengan pelan. Pukul 06.05 menit waktu yang tertera pada jam di mobil. Jarak ke kolam renang kurang lebih 20 km, lumayan agak menghabiskan waktu.
Latihan renang kali ini untuk kedua kalinya semenjak Faiz pulang dari rumah sakit. Minggu lalu baru pengenalan kolam renang.
Kesempatan kali ini, Ayah mau mengenalkan cara masuk ke kedalaman daerah setengah meter.
Di otak Faiz, sudah terbayangkan asyiknya bermain di dalam air. Faiz sedang melamun, tiba-tiba Ayah mengerem dengan mendadak mobilnya.
“Maaf, Ayah ga sengaja!” seru Ayah membela diri.
“Ga pa pa, Yah! Kita baik-baik saja! Cuman tadi kepalaku membentur ini, Yah!” hibur Ibu ke Ayah sembari mengusap kepala.
“Sakit sedikit, Yah!” ledek Faiz ke Ayahnya sambil ketawa.
“Maaf, ya!” ucap Ayah dengan memelas.
Ibu memegang Ella, jadi dia tetap selamat.
Kejadian tadi karena ada seseorang mau menyeberang, sudah diberi tanda lampu mau terus melewati jalan. Raut wajah kelihatan panik. Ayah mengambil keputusan terakhir yaitu menghentikan laju mobil dengan mendadak.
Suasana Kota Bekasi makin terang dibanding tadi saat mau berangkat. Aktivitas di jalan yang dilewati mobil sudah sangat ramai. Jarak kolam renang Bekasi tinggal 2 km.
Ayah lebih serius menyetir mobil. Kejadian tadi membuat hati dan otak Ayah langsung bekerja dengan keras.
Lima menit berlalu, mobil memasuki daerah parkir kolam renang Bekasi.
“Alhamdulillah, kita sudah sampai!” girang Faiz sambil mengambil tas gendongnya yang diletakkan di depannya.
Ibu membukakan pintu mobil belakang, sambil salah satu tangannya mengambil tupperware, tempat nasi.
Sambil menggendog Ella, ibu melangkahkan kaki keluar dari mobil. Diikuti oleh Faiz.
“Hati-hati, Nak!” saran Ibu.
Dengan pijakan kaki girang, Faiz melangkah bersama adik dan kedua orang tuanya ke arah loket karcis. Tas gendong kecil masih setia di punggungnya. karena Ella masih kecil, dia tidak kena hitungan.
“Bang, tiga karcis berapa?” tanya Ayah.
“Satu orang Rp20.000, Pak,” jawab Petugas loket.
Ayah membuka dompetnya.
“Ini Bang!” Ayah menyerahkan uang pembayaran karcis masuk ke petugas.
Petugas langsung membukakan pintu masuk kolam renang Sarang Walet. Ayah, Ibu dan Faiz berjalan masuk ke area kolam renang. Ella masih setia di gendongan ibu. Mereka menuju ruang ganti. Ayah dan Faiz ke ruang ganti laki-laki, Ibu ke ruang ganti perempuan bersama Ella.
Panas matahari mulai datang. Ibu dan Ella berdiri menunggu di depan ruang ganti laki-laki. Ayah belum selesai menggantikan baju renang untuk Faiz.
Beberapa menit tampak Faiz dan Ayah sedang berjalan keluar dari ruang ganti. Dengan langkah gembira nampak dari wajah Faiz.
“Kita ke kolam anak-anak,” ajak Ibu.
Sambil menggandeng tangan Faiz, Ibu, Ella dan Faiz menuju ke kolam renang anak-anak. Ibu, Ella dan Faiz siap masuk ke dalam air. Ayah juga ikutan masuk.
“Gini Nak, kamu latihan ambil napas lagi!” Ayah mencontohkan cara mengambil napas dengan mudah.
Faiz langsung meniru gerakan ayahnya, memasukkan kepala ke dalam air. Ayah memberi aba-aba hitungan.
“1, 2, 3, 4!” baru sampai hitungan ke-empat aba-aba dari Ayah.
Faiz melakukannya berulang kali, hingga aura wajahnya tampak lelah.
“Kalau ga kuat, ga usah dipaksa, Nak!” seru Ayah.
“Iya, Yah,” Faiz berjalan menepi.
Ibu menuntun buah hatinya untuk duduk di tepian kolam. Ella sudah mulai gemetar kedinginan
“Gimana Nak, bisa?” tanya Ibu sambil ikut duduk di samping Faiz.
“Lumayan bisa, Bu,” jawab Faiz dengan napas kelihatan masih capek.
Hawa yang lumayan dingin di air tidak membuat semangat Faiz untuk latihan menjadi kendor. Makin siang, kolam renang makin banyak dipenuhi pengunjung. Pengunjung dari berbagai tingkatan umur, dewasa sampai umuran TK. Ada juga bayi baru beberapa bulan dibawa ke kolam renang.
Ayah berenang sendiri di kolam renang yang dalamnya 3 meter.
Pengunjung meluangkan waktu libur untuk berolahraga. Dengan mengajak anak, suami/istri, bapak/ibu, kakak/adik mengisi liburan dengan olahraga. Sambil bersenda gurau antar anggota keluarga. Sungguh bahagia, selalu bisa berkumpul dengan keluarga.
Ayah mengajak kembali Faiz untuk mencoba bernapas di dalam air.
“Nak, kita ulang lagi, latihan bernapasnya!” seru Ayah sambil masuk ke kolam renang TK.
“Oke, Yah!” jawab Faiz dengan memosisikan diri untuk berdiri di dalam air.
Faiz langsung memasukkan kepalanya ke dalam air. Ayah Faiz menghitung dengan stopwatch. Stopwatch selalu disimpan oleh Ibu. Kali ini bertahan hampir dua menitan.
“Alhamdulillah, udah bisa bertahan lebih lama!” ucap Ayah.
Empat puluh menit sudah terlewati, bersatu dengan air. Bibir Faiz membiru. Faiz mulai merasa kedinginan.
“Nak, udah kedinginan, ya?” tanya Ibu sambil menghentikan gerakan renangnya.
“Ya, Bu!” jawab Faiz sembari menaikkan kaki ke atas daratan.
Ibu dan Ella keluar dari kolam renang sudah lumayan lama. Lalu Faiz mengikuti ibu dan Ella keluar dari kolam renang menuju daratan. Ayah masih berenang satu kali putaran.
Makin siang, makin bertambah pengunjungnya. Kolam renang penuh dengan pengunjung. Begitu ramai suasana.
Faiz, Ella dan Ibu sudah selesai berganti pakaian. Mereka membuka bekal makanan. Sambil menunggu Ayah, bertiga mulai menyantap nasi uduk. Nasi uduk salah satu menu favorit keluarga Faiz.
“Bu, agak banyaklah!” pinta Faiz.
“Ya, Nak!” jawab Ibu sembari tersenyum.
Ella disuapin ibu.
Ayah datang dengan pakaian yang sudah rapi. Siap menyantap hidangan yang disediakan sang istri. Ayah menuju ke satu tempat.
“Wah! Enak sekali!” seru Ayah sambil mengambil posisi untuk duduk berhadapan dengan Faiz dan Ella.
Spontan tangan Ayah mengambil satu piring berisi nasi uduk beserta lauk. Ayah makan menggunakan tangan, tanpa sendok.
“Bu, lezat nasi uduknya!” puji Ayah.
“Alhamdulillah, Yah!” jawab Ibu sambil tersenyum bahagia.
Mereke berempat masih sibuk dengan santapan nasi uduk. Sepuluh menit berlalu. Ibu mulai membereskan perkakas makanan.
Setelah itu, mereka segera menuju pintu keluar.
Raut wajah Faiz gembira sekali. Faiz sudah bisa menguasai pernapasan dalam air.
“Yah, ternyata berenang itu asyik !” ucap Faiz sambil menutup pintu mobil.
“Ya, Nak! Asyik dan bermanfaat bagi kita!” jawab Ayah dengan bangga.
Ayah mulai mengendarai mobil untuk pulang. Dengan hati-hati dan lambat, mobil mulai bergerak. Faiz tidak merasa lelah. Harapan kedua orang tua, Faiz bisa sembuh dari penyakit sesak napas. Semoga usaha mereka diridhoi Allah SWT.
Siang cerah di Bekasi. Semua orang yang dilalui mobil, aktif dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang sibuk berdagang, membersihkan toko, membersihkan rumah, berkendara, memperbaiki mobil, dan masih banyak aktivitas lainnya. Ayah, Ibu dan Faiz terdiam semua. Ella tertidur di pangkuan ibu. Mereka menikmati pemandangan di jalan raya. Posisi duduk Faiz di samping Ibu. Faiz menyenderkan kepala ke bahu Ibu. Baru beberapa saat, ternyata Faiz tertidur.
“Yah, Faiz dan Ella tertidur,” ucap Ibu.
“Capek mungkin, Bu” ujar Ayah sembari memosisikan kaki untuk mengerem mobil karena lampu lalu lintas menyala merah.
Menunggu lampu lalu lintas hijau menyita waktu agak banyak. Satu menit adalah waktu yang sangat berharga. Ayah Faiz tidak membuang waktu itu sia-sia. Murottal Alqur’an selalu dinyalakan.
Ayah kembali menyetir mobil dengan pelan. Mobil diarahkan ke arah Jatirasa. Perjalanan sudah masuk ke kompleks perumahan Jatirasa. Perumahan Jatirasa Bekasi suasananya lebih aman untuk anak-anak. Perumahan Jatirasa terletak di tengah kampung yang agak jauh dari jangkauan kendaraan bermotor dan mobil- mobil besar.
Mobil memasuki area rumah Faiz.
“Nak! Udah sampai rumah,” seru Ibu membangunkan Faiz.
Faiz mulai membuka mata pelan-pelan.
Sore hari mulai datang. Jarum jam menunjuk angka lima, waktu ba’da ashar. Faiz masih asyik menonton tayangan kartun islami. Ella masih mainan lego. Ayah dan Ibu berbaring di samping Faiz dan Ella, setia menemani buah hati. Faiz tersenyum pada adegan yang lucu.
Ayah Ibu selalu memberikan waktu terjadwal bermain game di komputer. Mereka memilah-milah berbagai judul game, game mana yang perlu mereka pilih. Begitu pula pada tayangan TV, mereka selalu mendampingi setiap kali anaknya menonton TV. Prinsip mereka adalah anak titipan Allah SWT, kita wajib menjaga titipan itu.
Kumandang adzan mulai datang dari masjid-masjid terdekat dengan rumah.
“Nak, matikan dulu CD-nya! Ayo, ambil air wudu,” seru Ayah bergegas untuk berwudu.
“Iya, Yah,” Faiz cepat mematikan CD dan mengikuti langkah Ayah mengambil air wudu.
Mereka berdua melangkah ke rumah Allah SWT, tempat sujud semua insan Islami.

Other Stories
The Fault

Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...

Jatuh Untuk Tumbuh

Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...

Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Dua Bintang

Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...

Download Titik & Koma