Adam & Hawa

Reads
244
Votes
0
Parts
3
Vote
Report
adam & hawa
Adam & Hawa
Penulis Fakhriah Ilyas

Bab 1

Adam duduk manis di kantin kampus. Sesekali dia melihat jam tangannya. Sudah lima belas menit dia menunggu, tapi sosok yang ditunggu belum nongol juga. Tepat di menit kedua puluh masuk seorang gadis manis berjilbab dengan senyum malu-malu mendekat ke arah Adam. Adam menyambut dengan senyum tak kalah manis.
“Tumben lama keluarnya?” tanya Adam.
“Dosennya keasyikan bicara, sampai lupa memberikan tugas untuk persiapan materi minggu depan,” jawab sang gadis lembut.
“Yuk, segera berangkat!” ajak Adam langsung.
“Kemana?”
“Ikut ajalah pokoknya.” Adam berteka teki.
Hawa, nama gadis itu, sudah menjadi kekasih Adam hampir satu tahun belakangan.
Mereka sama-sama semester VI, Adam di fakultas ekonomi, sedangkan Hawa di fakultas sastra. Hubungan mereka tidak mudah dan penuh lika-liku, apalagi Hawa tipe tidak mudah didekati.
Adam mengajak Hawa menghampiri motor yang terparkir di halaman kantin.
“Ini motor siapa?” tanya Hawa.
“Pinjam,” jawab Adam sekenanya. Sebetulnya, itu motornya sendiri yang jarang dia pakai, hanya sesekali dia bawa ke kos dan ke kampus jika ada keperluan penting. Dia lebih suka jalan kaki, mengingat kosannya cukup dekat dengan kampus.
Adam naik dan menyuruh Hawa segera naik di boncengan. Dengan canggung, Hawa duduk menyamping dan berpegangan pada besi di bawah jok. “Memangnya kita mau kemana, sih?”
“Nanti juga kamu tahu.”
“Kalau dikasih tahu sekarang emang kenapa? Sebentar lagi asar lho, kita mau salat di mana?”
“Sabaaaar!” Adam mengendarai motor dengan pelan ke daerah yang sebetulnya tidak begitu jauh dari kampus. Tidak lama kemudian mereka memasuki halaman rumah kecil, dari luar terlihat sangat sepi.
“Ini rumah siapa?” tanya Hawa heran, ragu untuk turun dari motor.
“Mulai hari ini, aku ngontrak di rumah ini. Aku sengaja sedikit menjauh dari kampus dan ngontrak rumah kecil tidak bersama teman-teman, karena aku ingin mulai fokus menyusun skripsi. Kebetulan orang tuaku setuju.”
“Tapi kita nggak akan masuk ke rumah itu, kan? Maaf, aku nggak bisa, karena kita cuma berdua.”
Adam tersenyum kemudian berkata, “Oke, kamu turun sendiri dan masuk ke sana. Aku janji menunggu di sini.”
“Kenapa aku harus masuk? Untuk apa?”
“Karena aku mau minta tolong kamu untuk mengambilkan sesuatu di dalam rumah itu.”
“Apa?”
“Hawa, masuklah dan lihat sendiri barang apa yang harus kamu ambil persis di depan pintu. Please!”
Ragu dan tak mengerti serta heran dengan permintaan Adam, Hawa turun dari motor dan berjalan ke arah rumah. Ketika dia membuka pintu, tiba-tiba terdengar orang-orang bernyanyi serempak
Happy birthday, Hawa
Happy birthday, Hawa
Happy birthday, happy birthday
Happy birthda, Hawa ....
Hawa terpaku di depan pintu. Dia tidak menyangka perhatian Adam begitu besar sampai mengundang sahabat-sahabat baiknya, Rahma, Salsa, Aya, juga ada Fadlan dan Jalal, sahabat baik Adam. Mereka kompak menyiapkan acara ulang tahun yang dia sendiri tidak pernah mengingatnya. Bagi Hawa, hidup bersama ibunya terasa cukup kalau sudah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya pendidikannya.
Adam berdiri di belakang Hawa yang masih terkesima. “Mau berdiri di sini terus? Ayo masuk!”
“Ya Allah, kalian ini repot-repot bikin surprise, ya? Aku harus bilang apa ini?” ucap Hawa sedikit malu dan haru dengan perhatian kekasih dan para sahabatnya. Kemudian dia ikut bergabung duduk mereka yang sudah lebih dulu duduk berkumpul di atas tikar. Senang rasanya sesekali merayakan ulang tahun.
****
Hawa memandang Adam tidak nyaman. Mereka berdua ditinggalkan di rumah Adam dengan kekacauan usai pesta: piring kotor menumpuk, pita confetti bertebaran, dan bekas krim kue di lantai karena tadi Fadhlan menjatuhkan kuenya.
Dengan terpaksa Hawa membantu Adam beres-beres meskipun awalnya dia menolak kalau tidak ada salah satu temannya yang menemani. Tetapi mereka semua punya urusan masing-masing dan Hawa tidak enak memaksa mereka tinggal.
Sementara Adam senang. Sungguh, dia tidak ingin memaksa Hawa, tapi hatinya berharap Hawa mau memutuskan sendiri untuk tinggal, apalagi sebetulnya masih ada kejutan yang ingin dia berikan kepada Hawa.
“Nggak apa-apa ya kamu tinggal dulu beberapa menit di sini, jangan takut, pintunya aku buka kok. Aku punya mukena, persiapan kalau ibuku datang bisa salat di sini.”
Hawa hanya mengangguk, dan segera dia salat asar di ruang tamu Adam karena waktunya sudah cukup terlambat. Setelah itu baru dia akan membantu beres-beres.
Tetapi siapa yang bisa menduga hujan tiba-tiba turun begitu deras, diiringi angin kencang, guntur, dan petir. Hawa terkesiap, begitupun Adam. Mereka terjebak dalam ruangan yang sama di tengah derasnya hujan. Namun, Adam berusaha bersikap setenang mungkin agar Hawa tidak panik.
Hawa telah selesai membereskan sampah yang berserakan, kemudian duduk di tikar, tempat teman-temannya tadi duduk bersama, berharap hujan cepat berhenti dan dia pun bisa cepat pulang. Tidak ada sedikit makanan yang tersisa, karena selain dimakan di tempat, para sahabatnya membawa sisa kue ulang tahun untuk dibawa pulang. Adam duduk di hadapan Hawa.
“Hawa,” panggilnya lirih.
“Ya?”
“Coba pejamkan mata sebentar.”
“Untuk apa?”
“Sebentar aja.”
Hawa mengikuti keinginan Adam. Ketika Adam memintanya membuka mata, di hadapan Hawa sudah tergeletak kado berbentuk kotak sebesar buku tulis. ”Apa ini?” tanyanya.
“Bukalah, kamu pasti suka!”
Dengan tenang Hawa membuka bungkus kado itu. Dia menatap hadiah Adam yang baginya sangat istimewa. Lukisan Hawa berukuran kecil, diberi kata-kata puitis oleh Adam.
Kekasih hatiku,
kebahagianku, selamanya.
Hawa.
Bagi Hawa, kalimat sederhana itu bagai mantra ajaib yang menggugah dirinya untuk menyadari bahwa cinta Adam begitu besar. Semakin hari Hawa semakin merasakan itu. Adam selalu ada untuknya. Dia menemani Hawa melewati hari-hari bersama di kampus, mengajak makan siang bersamnya, kemudian mengantarnya pulang ke kos. Sebelas bulan bersama Adam, telah mengukir berjuta kenangan indah yang sulit dilupakan.
Kenangan itu bukan tentang gelora cintanya, tapi ketulusan kasih sayang Adam yang membuat Hawa merasa nyaman jika bersamanya. Hawa sadar, perhatian Adam menyelimuti hatinya dengan kehangatan cinta yang membara. Tapi, sampai saat ini mereka masih bisa menjaga dan mempertahankan iman mereka sebagai remaja yang sejak kecil sudah diajari untuk taat beragama. Adam, bukan tipe laki-laki yang suka mengumbar cinta secara murahan, begitu pun dengan Hawa. Hubungan yang dibina bersama Adam sekedar saling menunjukkan kasih sayang dengan perhatian yang wajar.
Tapi sore ini, Hawa benar-benar tersanjung dengan segala yang dilakukan Adam. Adam menyiapkan perayaan ulang tahun yang begitu istimewa, juga hadiah lukisan dirinya yang disertai puisi singkat tapi mengandung banyak makna.
“Terima kasih ya, Dam,” ucap Hawa sambil menatap Adam lekat.
“Aku yang terima kasih, karena kamu sudah mau jadi belahan jiwaku, menjadi sumber kebahagiaanku.”
“Ngawur. Aku nggak punya apa-apa yang bisa aku kasih ke kamu.”
“Kamu punya cinta yang tulus. Aku bangga sama kamu Hawa, kamu cantik, pintar, taat beragama,” jawab Adam seraya duduk bersandar ke dinding di samping Hawa. Hawa ingin bergeser, tapi takut Adam tersinggung. Akhirnya dia hanya diam tertunduk.
Sementara magrib telah datang dan gelap mulai menyelimuti malam, tapi hujan tak kunjung reda. Hawa yang masih punya wudhu segera salat magrib di ruang tamu, sementara Adam salat di dalam kamarnya. Setelah itu Hawa kembali duduk di tikar sambil menatap ke luar dan menahan dinginnya angin yang menyeruak masuk ke ruangan bersama nyamuk-nyamuk nakal yang mulai menggigiti kulit. Di luar tampak sepi. Rumah-rumah tetangga yang kebanyakan adalah rumah petakan dan dihuni oleh mahasiswa/mahasiswi juga sepi. Rumah yang dikontrak Adam ini bukan rumah petakan kecil, melainkan rumah yang sedikit lebih besar dibanding rumah-rumah petak yang ada di sekitarnya. Layaknya sebuah rumah, ada ruang tamu, satu kamar, dan dapur yang lumayan luas dibanding rumah petakan. Tempatnya pun agak terpisah sendiri.
Adam keluar dari kamar setelah salat. Dia meminta izin untuk menutup pintu, karena hujan yang terlalu besar membuat airnya menciprat ke rumah. Hawa mengangguk pelan dengan pasrah. Adam kembali duduk bersandar ke dinding di samping Hawa.
“Dingin? Pakai jaketku, ya?” tanya Adam
“Aku mau pulang aja.”
‘’Tapi masih hujan.”
“Nggak apa-apa. Mending kehujanan dari pada kita berduaan di sini.” Adam mendengar suara Hawa bergetar. Jujur, dia sendiri mulai tidak nyaman dengan suasana ini.
“Kalau cuma hujan, aku berani Hawa, tapi angin kencang dan petirnya itu yang bahaya. Nggak enak juga kalau kita keluar dengan keadaan seperti ini. Tunggu sebentar lagi, ya. Kalau petirnya berhenti, kita keluar.”
Hawa mengangguk lagi. Sekian lama mereka hanya membisu, hanyut dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya ada sesuatu yang merayap di kaki Hawa. Hawa langsung berdiri karena kaget, meloncat-loncat sambil berteriak tertahan. “Apa itu? Apa itu?” pekiknya sambil mengibas-ngibaskan rok. Adam ikut berdiri dan membantu Hawa mencari sesuatu yang merayap di kaki Hawa.
Ternyata kecoak, yang kemudian terjatuh. Adam langsung menangkap dan membuangnya keluar. Hawa terlihat pucat. Adam memandangnya, diraihnya tangan Hawa untuk menenangkan. Tangan Hawa sangat dingin dan tubuhnya menggigil. ”Hawa, kenapa? Kamu dingin sekali. Aku bikinkan teh hangat, ya?”
“Nggak usah. Aku nggak apa-apa,” jawab Hawa dan berusaha menarik tangannya dari genggaman Adam. Namun Adam tidak melepaskan genggaman itu. Dia malah mengusap-usap tangan Hawa, untuk memberi kehangatan. Hawa tertunduk malu. Kehangatan yang merasuk ke dalam tubuhnya membuatnya lupa, bahwa dia hanya berdua dengan Adam, yang bukan muhrimnya. Hawa merasakan sesuatu yang lain, yaitu dorongan untuk mengungkapkan bahwa dia sangat mencintai Adam sepenuh hati, sepenuh jiwa.
Adam menangkap sinyal yang bergelora dari tubuh Hawa, pujaan hati yang dikasihinya, yang kepadanyalah selalu ingin dia curahkan kasih sayang dengan segenap jiwa dan raga, tanpa harus ada penghalang apa pun yang membuatnya hanya mampu menyimpan rasa yang meluap itu, entah sampai kapan. Mungkinkah sampai saat ini?
Adam merangkul Hawa, mengajaknya duduk kembali di tikar, berharap tubuh Hawa akan segera hangat kembali. Hawa tak sanggup menolak karena memang dia sangat kedinginan. Pergolakan batin keduanya begitu menyiksa, antara ingin mencurahkan hasrat yang terpendam dengan rasa takut terhadap ganjaran dosa yang akan diterima. Tapi Hawa terhanyut dalam kenyamanan pelukan Adam dan menikmati lembut belaian tanganya. Mereka saling memandang, perlahan Adam mendekatkan wajahnya ke wajah Hawa. Selanjutnya mereka bergelut dalam gejolak hasrat yang begitu menggila
*****
Hawa tersadar ketika semuanya telah selesai, ketika ada rasa sakit di bagian tubuhnya yang paling pribadi, tangisnya pun pecah. Adam terenyak pada desah napas lelah yang tak beraturan. Rasa itu membuatnya ikut menangis, bukan tangis kebahagian, tapi penyesalan. Kenikmatan yang telah membuatnya terbang melayang, kemudian terjatuh dan membuatnya tersadar, bahwa dia belum berhak merasakan itu dari sang kekasih. Tapi semua telah terjadi.
Isak tangis Hawa semakin membuat Adam terpukul. Bagai telah menghancurkan pajangan keramik yang berharga dan indah, tidak ada jalan lain kecuali mempertanggungjawabkannya.
“Hawa, maafkan aku, aku--”
“Ini dosa, Adam. Aku sangat takut.” Hawa berkata sambil menyeka air matanya.
Adam terdiam, kemudian Larut dalam pikiran dan berusaha merenungi apa yang baru saja mereka lakukan. Betul, ini adalah dosa yang besar, sangat besar. Jangankan Hawa, dirinya pun gemetar membayangkan akibat yang akan diterimanya kelak. Tapi semua sudah terjadi, nafsu telah membuatnya alfa pada larangan Sang Pencipta. Dibelainya punggung Hawa yang sedang membenamkan wajah dilutut yang terlipat. Hawa menepis tangan Adam. Tangisannya begitu memilukan.
“Hawa, Jangan menangis, please!”
Hawa tetap menangis, malah semakin tersedu. Rasanya percuma mengatakan apa pun. Pertahanannya jebol, ternyata imannya begitu tipis hingga dengan mudahnya dia melepas pakaian takwanya dan melakukan hal yang paling hina yang tak pernah dibayangkannya selama ini. Pikiran tersebut menimbulkan rasa benci dalam dirinya sendiri. Kini dan selanjutnya, sangat pantas jika dia mendapat julukan orang yang paling munafik, yang berhijab hanya untuk menutupi kelakuannya yang tak bermoral. Andai dia lepas pun tidak mungkin, karena pakaian itu sudah menjadi ciri khas sejak usianya memasuki remaja.
Sementara Adam tahu bahwa apa yang dia lakukan itu sangat salah. Tapi karena cinta apa pun bisa terjadi. Cintanya dengan Hawa begitu bergelora. Baginya tawa Hawa adalah kebahagiaannya dan tangisan Hawa adalah kesedihannya. Tidak ada niat sedikit pun di hati Adam untuk menyakiti Hawa dan mempermainkannya. Apa yang telah dia lakukan bersama Hawa adalah curahan kasih sayang yang teramat dalam, kenapa harus disalahkan? Kenapa harus dianggap sebagai dosa? Hanya karena perbuatan minus upacara sakral, khusu, dan ucapan ijab-qobul atas nama Allah di hadapan penghulu dan para saksi. “Tak cukupkah kukatakan aku mencintainya dalam sujud khusuku kepada-Mu, ya Allah?”
Itu pertanyaan konyol. Sesungguhnya nurani Adam pun berkata lain. Kesalahan tetaplah kesalahan. Dosa tetaplah dosa. Tidak perlu mengkambinghitamkan cinta. Perih ketika menyadari kenyataan bahwa dia telah menjadi pendosa, membuang segala norma yang selama ini dijaga, hanya karena gairah cinta yang begitu meluap dan tak mampu dikendalikannya.
Tiba-tiba Hawa berdiri, memakai jilbab sekenanya dan meraih tas dari atas meja, keluar rumah dan berjalan cepat ke arah jalan raya.
“Mau kemana, Hawa?” tanya Adam sambil sontak berdiri karena kaget dengan tindakan Hawa yang tiba-tiba
Hawa tidak menjawab, malah langkahnya semakin dipercepat menembus gelapnya malam dan hujan yang masih menyisakan gerimis. Wajahnya kelihatan sangat tegang dan pucat dengan airmata yang sesekali masih mengalir di pipinya. Setelah sampai di jalan raya, dia tidak berhenti untuk menyetop mobil, tapi terus melangkah cepat di pinggir jalan dengan arah yang tidak jelas.
Adam yang mengikuti Hawa, berhasil meraih tangannya dan sedikit menahan agar Hawa mau berhenti. “Hawa, kalau begini nggak enak dilihat orang.”
“Lepas Adam, aku mau pulang!” Hawa berusaha melepas tangannya dari genggaman Adam tapi tidak bisa, karena genggaman Adam terlalu kuat.
Beruntung ada taksi kosong yang kebetulan lewat di depan mereka. Adam menyetop taksi dan menyuruh Hawa naik terlebih dahulu setelah itu dia naik dan duduk di samping Hawa.
“Mau ke mana?” tanya sang supir.
“Ke terminal,” jawab Hawa dengan cepat.
“Mau ke mana?” Adam malah mengulangi pertanyaan supir itu.
“Pulang,” jawab Hawa lirih.
“Ke kampung?”
Hawa hanya mengangguk, sementara air mata tak juga berhenti menetes. Namun Hawa berusaha menahan isaknya. Adam hanya diam tertunduk dengan hati bagai disayat sembilu melihat kekasihnya begitu menderita akibat apa yang telah mereka lakukan. Tanpa dia sadari air matanya ikut mengalir.
Tepat ketika Hawa menoleh, dilihatnya Adam sedang menyeka air mata. Tiba-tiba datang kesadaran dalam diri Hawa, tidak seharusnya dia merasa begitu menderita sendirian. Dia tahu mereka berdua bersalah. Bukan cuma dia yang akan menanggung akibatnya, tetapi Adam juga. Tidak adil rasanya jika dia terus meratapi semuanya. Ini bukan kesalahan Adam semata, ini juga kesalahannya. Kalau saja dia tidak menyambut sentuhan-sentuhan mesra Adam, pasti semuanya bisa terkendali.
“Aku mau istirahat di kampung,” katanya kepada Adam.
“Sekarang sudah jam delapan lewat, sampai kampung jam berapa?”
“Pagi.”
Perbicangan yang pelan itu mungkin terasa kaku didengar oleh supir taksi, tapi mereka tidak peduli. Sampai akhirnya mereka tiba di terminal. Adam meminta supir taksi untuk menunggunya, kemudian mengikuti Hawa yang berjalan menuju bus luar kota yang masih menunggu penumpang.
“Hawa, maaf aku nggak bisa ngantar sampai kampung,” kata Adam ketika mereka sudah mendekat ke bus.
Hawa hanya mengangguk.
“Besok aku juga akan pulang ke rumah orang tuaku. Aku akan minta restu untuk menikahi kamu.”
Kali ini Hawa hanya tertunduk.
“Aku janji, apa pun yang terjadi, kita akan menikah,” kata Adam sambil meraih tangan Hawa.
Hawa tetap tertunduk.
“Sekarang masuklah ke dalam bus itu, aku mau balik ke kontrakan. Minggu depan aku berharap kamu sudah kembali ke sini, kita bertemu di rumah kosan kamu, oke?”
Sekali lagi Hawa mengangguk dan menarik tangannya dari genggaman Adam kemudian masuk ke dalam mobil.
Adam memerhatikan Hawa yang sudah duduk di pinggir jendela. Dia melambaikan tangannya, tapi Hawa hanya membalas dengan anggukan pelan dan senyum yang sangat samar. Dengan berat hati Adam berbalik meninggalkan Hawa menuju taksi yang masih menunggu.
Hawa terus mengarahkan matanya ke arah Adam yang berjalan gontai dan kemudian menghilang bersama taksi tadi. Hatinya terasa sangat sakit. Apalagi kalau mengingat janji yang baru saja diucapkan Adam. Menikah? Bagaimana bisa? Adam pernah bercerita kepadanya, bahwa ayah dan ibunya masih sangat kuat memegang tradisi nenek moyang, terutama dalam hal pernikahan. Biasanya mereka akan menikahkan anak-anak mereka dengan kalangan mereka sendiri. Adam memang pernah bilang bahwa dia tidak akan mengikuti tradisi itu, walau untuk itu dia harus berjuang keras.
Hawa merinding membayangkan andai tado adalah pertemuannya yang terakhir dengan Adam. Entah kenapa pikiran itu datang dan membuat hatinya kembali terluka dan air mata kembali keluar tak terbendung. Dia membetulkan jilbab yang tadi dipakainya asal-asalan sekaligus digunakan untuk menyeka airmata. Hawa menarik nafas dalam-dalam. “Ya Allah, ampuni kami dan jangan biarkan kami terpuruk dalam dosa, jangan hukum kami dengan hukuman yang kami tak mampu menanggungnya,” doa Hawa dalam hati yang dilanjutkan dengan istighfar yang tiada henti. Lelah lahir dan batin membuatnya tertidur di dalam bus.

Other Stories
The Unkindled Of The Broken Soil

Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...

Susan Ngesot

Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...

Hantu Kos Receh

Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Kala Cinta Di Dermaga

Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...

Download Titik & Koma