Bab 2
Adam mengurung diri di kamarnya. Bingung, tidak menyangka akibatnya akan seperti ini. Abi sangat marah ketika mendengar dia ingin menikah dengan gadis pilihannya, gadis yang telah membuat hari-harinya begitu hidup dan bergairah. “Pokoknya, kalau kamu sampai melakukan itu, Abi tidak akan memaafkan kamu sampai Abi mati!” Ucapin Abi yang tegas denga suara yang menggelar masih terngiang di telingga Adam.
Hati Adam begitu terbakar ketika mengingat ucapan itu. Selalu itu ancaman yang Abi keluarkan kepada anak-anak yang coba menentang keputusannya. Syakieb, kakak Adam juga pernah mendapat ancaman yang sama lima tahun lalu. Syakieb pergi dari rumah, memilih cintanya dan mengabaikan jodoh yang dipilihkan orangtuanya. Tiga tahun kemudian dia datang mengunjungi Abi dan Umi membawa gadis kecil berusia dua tahun. Kelucuan gadis kecil itu telah membuat hati Abi dan Umi luluh, kemudian mereka memaafkan Syakieb, tapi tetap tidak menerima istri Syakieb sebagai menantu.
Sekarang ancaman itu ditujukan kepada Adam. Padahal seharusnya mereka belajar dari pengalaman kedua anak mereka, Syakieb yang akhirnya gigih memperjuangkan cintanya. Dan Salma, kakak kedua Adam, memilih hidup sendiri daripada harus menikah dengan orang yang tidak dicintainya.
Adam tidak memedulikan ancaman Abi, dengan tegas dia mengatakan akan tetap menikahi Hawa, walau harus terusir dari rumah, berhenti kuliah, dan siap mencari kerja. Adam melangkah dengan pasti menuju pintu keluar. Namun seketika langkahnya terhenti mendengar teriakan Salma. “Adam! Lihat Umi ...!”
Adam menoleh ke belakang, Dia melihat uminya sudah tergeletak di lantai tidak sadarkan diri. Dia berbalik dan segera membopong uminya ke kamar, sementara Salma dengan cepat memanggil ambulans. Abi terpengarah menyaksikan semuanya. Pembicaraan panas di ruang keluarga telah menimbulkan peristiwa yang mengerikan. Istrinya mendadak terkulai lemas kemudian jatuh ke lantai ketika bermaksud mencegah Adam keluar dari rumah.
Kereta dorong rumah sakit langsung membawa Umi ke ruang ICU. Setelah beberapa lama menunggu hasil pemeriksaan, akhirnya dokter yang keluar dari ruang tersebut mengatakan bahwa Umi harus segera dioperasi dan dipasang ring di jantungnya. Abi tidak perlu berpikir dua kali untuk menyetujui tindakan tersebut dan umi pun siap dioperasi keesokan harinya.
Sekarang di sinilah Adam, di kamar yang tidak lagi memberikan kesejukan baginya, panas. Walau AC distel 18 derajat Celcius. Nafasnya terasa sesak oleh kerinduan kepada Hawa yang begitu mendera. Tapi dirinya juga tidak berdaya melihat tubuh ringkih Umi yang sekarang lagi meregang nyawa. Ini semua semua karena salahnya. Begitulah yang diucapkan Syakieb kepadanya kemarin, waktu dia datang membesuk Umi.
Adam gemetar membayangkan bagaimana jika uminya sampai meninggal. Bagaimanapun dia pernah berjanji untuk membahagiakan Umi. Saat dia akan menjejakkan kaki di universitas, uminya berpesan untuk fokus dengan kuliahnya dan jangan memikirkan hal selain kuliah, apalagi memikirkan untuk menjalin hubungan serius dengan wanita.
“Apa Umi akan memaksa Adam menikah dengan wanita pilihan Umi?” tanya Adam waktu itu.
“Apa Adam berniat menyakiti Umi seperti anak-anak Umi yang lain?” Umi balik bertanya.
Adam tidak menjawab. Saat itu dia tidak terpikir untuk membantah, karena dia belum pernah jatuh cinta. Tapi dia melihat penderitaan Umi yang dikucilkan dari keluarga besarnya, setelah mengecewakan kerabat yang berniat menikahkan anak gadisnya dengan Syakieb, tapi Syakieb lebih memilih si gadis Betawi. Saat itu Adam berjanji untuk tidak akan mengecewakan uminya.
Tapi siapa yang bisa menolak datangnya cinta. Ketika mata dan hati sudah tertuju hanya pada satu arah, menikmati gejolak rasa dalam keharmonisan jiwa, cinta yang melekat di hati jadi sangat berarti. Hawa gadis yang dipujanya, adalah gadis yang tidak hanya cantik, tapi juga cerdas. Kesederhanaan Hawa telah membuat Adam terpikat. Hawa adalah gadis yang dimpikannya. Bagi Adam cinta pertama dan terakhirnya adalah Hawa. Apa yang salah? Kenapa cinta ini harus terbentur pada adat istiadat yang menurut Adam tidak penting, padahal agama sendiri menganjurkan untuk menikah pada pasangan yang seiman, bukan yang seadat.
Adam semakin tidak mengerti ketika Syakieb ikut menyalahkannya. “Kakak sendiri sudah melakukan hal yang sama, kan?” protes Adam kemarin di rumah sakit.
“Waktu itu Umi masih sehat, sekarang Umi kondisinya sudah lemah.”
“Lemahnya Umi berawal dari masalah Kakak, kan?”
Syakieb terdiam. Betul, sejak Umi terkucil dari keluarga gara-gara ulahnya, Umi jadi sering sakit-sakitan, sementara Abi lebih tegar dan tabah. Makanya Syakieb menyesal dan memohon maaf pada Abi dan Umi di tiga tahun perkawinannya. Ternyata pernikahan tanpa restu orang tua sangat tidak enak, itu yang dikatakannya kepada Adam.
“Malah aku ingin bercerai, Dam,” kata Syakieb lirih.
Adam terkejut, setipis itukah cinta Syakieb kepada istrinya? Tapi entah kenapa Adam punya firasat yang lain. Adam merasa andaipun Syakieb ada niat bercerai, pasti bukan karena dia menyesal karena telah menentang Abi dan Umi, tapi ada masalah lain yang tidak ingin dia ceritakan.
Sungguh Adam tidak ingin terpengaruh dengan perkataan Syakieb. Sekarang yang Adam inginkan, Umi segerah sembuh. Selanjutnya, Adam akan kembali memberi pengertian kepada Umi, bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Adam sangat mencintai Umi dan Abi dengan segenap jiwa, tapi Adam juga sangat mencintai Hawa dengan sepenuh hati.
Lelah sekali Adam memikirkan semua itu, apalagi dua hari ini dia menunggu Umi di rumah sakit dengan kondisi yang sangat tertekan, Abi yang tak pernah menyapanya selama di sana, Salma yang selalu menangis, Syakieb yang tidak berhenti menyalahkannya. Sampai akhirnya malam ini Adam memutuskan untuk istirahat di rumah.
*****
Adam terbangun oleh dering telepon di ruang tamu. Dengan mata masih mengantuk dia keluar kamar dan mengangkat telepon tersebut.
“Adam, Umi sudah dipindah ke ruang perawatan, cepatlah ke sini, Umi mau bicara!” Suara Salma terdengar datar.
Adam melihat ke arah jam yang tergantung di atas TV. Sudah jam sembilan siang, rupanya dia tertidur sangat nyenyak dan lama, sampai melewatkan waktu subuh. “Iya, aku segera ke sana.”
Diletakkannya telepon di tempatnya. Ada sedikit rasa lega begitu mendengar kondisi Umi sudah membaik. Dengan segera Adam mandi dan bersiap-siap menuju rumah sakit. Dia juga ingin segera menemui Uminya untuk meminta maaf atas apa yang telah terjadi. Setelah dia yakin uminya baik-baik saja, dia berencana akan segera ke kampus untuk menemui Hawa. Adam berharap Hawa sudah kembali dari kampungnya. Walau sebetulnya hari yang dijanjikan untuk menemui Hawa masih dua hari lagi. Tapi masalah yang sudah dialaminya tiga hari kemarin membuatnya malah semakin merindukan Hawa.
Di ruang Muzdalifah kamar nomor 219, sesuai yang disebutkan Salma tadi di telepon, Adam membuka pintu dan melihat sudah ada beberapa orang yang sedang berdiri mengelilingi Umi, termasuk Abi dan Salma. Adam ragu untuk masuk, takut ruang tersebut jadi semakin penuh. Dia membalikan badannya untuk menunggu di luar saja.Tapi sayang, Salma sudah keburu melihat dan memanggilnya.
“Itu Adam sudah datang!” Salma memberitahukan kepada yang lain.
Mau tidak mau Adam akhirnya masuk juga menghampiri Umi dan menyalami tamu yang membesuknya, ternyata mereka adalah Paman Umar, istri, dan kedua orang anaknya. Ditambah dua orang lagi yang tidak Adam kenal, yang satu memakai kemeja batik dengan surban yang dililit di lehernya, hampir seusia Abi. Sedang yang satu lagi masih agak muda, mungkin sekitar 35 tahunan. Siapa mereka? Tanya Adam dalam hati.
Setelah menyalami semuanya, Adam menyapa Umi dan mencium keningnya. Umi balik menatap dan menahan agar Adam tetap berada di sampingnya. Adam menurut. Hatinya sedikit gelisah, karena suasana di ruangan itu terlihat sangat serius dan hampir tidak ada yang bicara, seakan ada sesuatu yang sudah mereka bicarakan dan Adam tidak tahu. Sekilas Adam melihat Zahra, putri sulung Paman Umar yang dari tadi hanya menunduk di samping adik laki-lakinya yang baru berusia dua belas tahun. Mereka berdiri berseberangan dengan Adam.
“Adam,” panggil Umi dengan suara lemah.
“Ya, Umi,” jawab Adam.
“Kita tinggal menunggu kakakmu, Syakieb. Baru acaranya--kita mulai.”
“Acara apa, Umi?” tanya Adam tak mengerti.
Abi yang mendengar percakapan Umi dan Adam, langsung memotong, “Umi, biar Abi yang bicara dengan Adam. Ayo, Dam, kita bicara diluar!” Masih diliputi tanda tanya Adam mengikuti Abi keluar.
“Kesehatan Umi ada di tangan kamu sekarang,” kata Abi tanpa basa-basi begitu sudah berada di luar ruang ruangan.
“Maksud Abi?”
“Duduklah!” Abi menunjuk ke bangku panjang di ruang tunggu rumah sakit. Mereka duduk berdampingan. “Begini, dua tahun yang lalu Abi dan Umi sudah menjodohkan kamu dengan Zahra, anak Paman Umar. Dan Umi ingin kamu menikah dengannya sekarang juga.”
“Tapi—Abi.”
“Terserah kamu, Adam. Kalau kamu ingin Umi berumur panjang dan bahagia, kabulkan permintaan Umi. Atau mungkin kamu lebih rela Umi hidup menderita atau mati dalam keadaan terluka?” Setelah bicara seperti itu Abi langsung meninggalkan Adam sendiri.
Adam bengong dengan apa yang diucapkan Abi barusan. Dia sama sekali tidak percaya kalau sebentar lagi akan menikah. Pernikahan yang menurutnya konyol, karena tanpa rencana yang matang dan tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Pernikahan macam apa ini? Dan Zahra? Gadis yang selama ini Adam kenal sebagai anak dari Paman Umar--sepupunya Abi--yang rumahnya hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumah Abi, adalah calon istri Adam. Padahal walau mereka masih bersaudara dan rumahnya cukup dekat, mereka jarang bertemu, karena Zahra lebih banyak tinggal di Surabaya, di rumah nenek dari pihak ibunya. Bisa dibilang, Adam sama sekali tidak mengenal karakter Zahra.
Haruskah Adam berlari meninggalkan orang-orang yang berada di dalam ruangan itu? Lantas bagaimana dengan nasib Umi? Bagaimana dengan kesehatannya? Akankah Umi langsung drop kembali? Adam termangu, hatinya bagai teriris sembilu. Pikirannya langsung tertuju pada Hawa yang pasti terguncang mendengar pernikahannya. Adam tiba-tiba sangat lemas, seluruh tubuhnya begitu lunglai, seakan jiwa telah tercabut dari raganya. Berjalanpun tak mampu, apalagi berlari.
“Dam, semua sudah menunggu.” Syakieb yang baru datang menepuk bahu Adam yang sedang tertunduk lesu dan berusaha menyembunyikan tangisnya.
“Dam!” Sekali lagi Syakieb memanggil Adam dengan pelan tapi tegas. Sebetulnya, Syakieb bisa merasakan kepedihan Adam, yang harus membuang semua mimpi indah bersama sang kekasih, melempar semua angan dan harapan dan mengubur hasrat cinta yang bergelora dalam kepedihan.
Adam menarik napas dalam-dalam. Dia bangkit dari duduknya dan melangkah dengan gontai. Syakieb mengiringinya dari belakang. Hawa, maafkan aku. Aku janji akan membicarakan masalah ini secepat mungkin, dan kita akan tetap bersama, apa pun alasannya. Adam berbisik dalam hati.
Ketika dia masuk ke dalam ruangan itu, Umi langsung tersenyum melihat kedatangan Adam. Adam berdiri di ujung tempat tidur, persis berhadapan dengan Umi. Paman Umar, Abi, dua orang laki-laki yang ternyata adalah penghulu dan pegawai pencatat nikah yang di bawa oleh Paman Umar, berdiri di sisi kanan tempat tidur Umi. Yang lain, termasuk Zahra, berdiri di sisi lainnya.
Adam gemetar ketika harus berjabatan tangan dengan penghulu dan diminta mengucap ijab-qabul, ucapannya tersendat-sendat. Yang lain berdiri mematung, ikut menahan nafas, takut kalau-kalau kalimat itu tak bisa terucap dari mulut Adam yang memang terdengar gugup dan kaku. Bagaimana tidak? Karena pada saat bibir harus mengucap kalimat tersebut, pikirannya melayang jauh ke sosok wanita yang sekarang pasti sedang merindukan dan menunggu kepastian darinya.
Bagi Adam, prosesi pernikahan yang baru saja dijalankan itu adalah awal terenggutnya sukma dari tubuh, hidup tak lagi berasa hidup, semua terasa hambar dan hampa, tak bermakna. Hidup Adam yang sesungguhnya adalah bersama Hawa. Adam bertekad akan menemui Hawa sesuai janjinya. Walau kini Adam sudah bukan yang dulu lagi, tapi dia masih punya harapan, bahwa dia tetap akan bisa bersatu dengan Hawa. Toh, dia laki-laki dan agama membolehkan laki-laki memiliki lebih dari satu istri. Atau dia akan bicara baik-baik dengan Zahra, agar Zahra mau membatalkan pernikahan ini. Jika pembatalan dilakukan oleh pihak Zahra mungkin Umi tidak akan terlalu sakit dan tidak akan merasa bersalah seperti waktu perjodohan Syakieb.
Berbeda dengan apa yang dipikirkan Zahra, pernikahannya yang baru saja terjadi itu bagai awal kebahagiaan. Karena sebetulnya selama ini Zahra diam-diam memang mencintai Adam. Hanya saja, sebagai wanita yang terhormat, Zahra menyimpan perasaannya itu di dalam hati. Cukup dia kagumi Adam dari jauh, dan berdoa semoga Allah betul-betul akan menjadikan Adam sebagai jodohnya. Dan hari ini, doanya sudah terkabul walau dengan cara yang tidak enak, tapi egonya berbisik untuk tidak memedulikan masalah lain kecuali bahwa Adam sekarang sudah menjadi miliknya. Zahra berjanji dalam hati akan menjadi istri yang berbakti dan mencurahkan segenap cintanya hanya kepada Adam. Dan tidak akan membiarkan siapapun merebut Adam dari sisinya.
Other Stories
The Unkindled Of The Broken Soil
Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...
Teka-teki Surat Merah
Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Aroma Kebahagiaan Di Dapur
Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...