1. Kabar Duka Dari Yogya
Alya, gadis muda itu berdiri di salah satu jendela ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta. Ini malam terakhirnya di Indonesia. Perjalanan impiannya akan berawal di sini. Ia masih tak percaya bisa mendapatkan beasiswa dari Universitas Leiden. Kali ini ia mendapat undangan langsung dari Dr. Dimas Pratama, seniornya di kampus UGM dulu.
Pelukan dari ibu dan bapaknya masih terasa hangat. “Jaga diri baik- baik,”pesan bapak dan ibu yang selalu ia dengar bila mau bepergian jauh. “Jangan lupa salat lima waktu,”itu khas ibunya. Tiap kunjungan ke luar negeri, ibu pasti berpesan begitu.
Bandara mulai ramai. Gadis berlesung pipit itu sengaja datang duluan agar bisa menikmati saat terakhirnya. Senyum puas nampak di bibir mungilnya. Ia tidak pernah menyangka bisa melewati proses seleksi beasiswa yang lumayan memeras otak. Alya bersyukur dikaruniai kecerdasan di atas rata-rata. Sekali membaca buku, mantan aktivis kampus itu langsung ingat.
Dara manis itu masih asyik membaca buku, ketika HP-nya berdering. Tanpa melihat pun ia sudah tahu siapa yang menelepon. Tangannya segera memencet tombol hijau.
“Al, pulang sekarang, ya. Mbak Lani koma,” suara ibunya pelan.
“Tetapi, Bu….” Alya langsung menutup bibir dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya bergantianmengenggam HP.
“Ibu mohon,” kalimat terakhir yang ia dengar dari perempuan yang telah melahirkannya.
Untuk sesaat Alya tercenung. Pikirannya melayang ke Mbak Lani, kakak perempuan yang sangat disayanginya. Pertemuan terakhir mereka berjalan sempurna. Kakaknya banyak tertawa. Berulangkali ia mencium perut kakaknya yang sudah buncit.
Tersadar dari lamunannya, perawan Yogyakarta itu segera berdiri. Ia benahi baju dan melirik arloji di tangannya, sudah jam 19.00 WIB. Kepanikan melanda dirinya. Risiko tinggal di kota kecil. Pesawat terbatas. Ia mengusap wajah ayunya. Dengan cepat jari-jarinya langsung membuka aplikasi pemesanan tiket on line. Mata bulat itu langsung membeli tiket yang masih tersisa.
Alya mengambil napas panjang. Kelegaan nampak di wajahnya. Botol minum yang ia bawa langsung diteguk sampai berkurang separuh. Waktunya tidak banyak. Gadis berbaju biru itu segera berdiri, membenahi baju, dan merapikan barang bawaannya. Perlahan ia melangkah ke maskapai nasional untuk membatalkan tiket ke Belanda.
Kesedihan masih membayang di raut ayu gadis itu. Ia sempat terlibat diskusi dengan petugas maskapai yang akan membawanya ke Belanda. Bila boleh memilih, gadis itu tidak akan membatalkan tiket. Apalagi nilai rupiahnya sangat tinggi untuk gadis seusianya. Dara sederhana itu sangat perhitungan soal uang.
Tiket sudah dibatalkan. Alya menyeret kopernya ke pintu masuk yang akan membawa pesawatnya. Matanya menyusuri nomor pintu yang berjejer di sepanjang terminal 3. Ia cocokkan nomer pintu dengan angka yang tertera di tiketnya. Di sana para penumpang sudah berdiri di depan pintu masuk. Alya berdiri paling belakang. Tak lama ia pun masuk setelah pemeriksaan tiket selesai.
Gadis ayu itu dapat tempat duduk di dekat jendela. Usai mematikan ponselnya, ia pun duduk dan memasang sabuk pengaman. Matanya melihat ke luar jendela. Kesibukan di beberapa sudut bandara masih terlihat. Kembali, ia menghirup napas panjang. Baru tadi pagi bersuka dengan kepergiaannya ke Belanda, mata ini kembali berduka.
Suasana pesawat yang tenang.Usai pramugari menyampaikan aturan penyelamatan, Alya pun memejamkan matanya. Sejenak ia bisa tenang. Ia baru bangun ketika pramugara menawarkan minuman dan makanan. Kopi menjadi pilihannya, agar ia bisa terjaga sepanjang perjalanan.
Untuk mengusir sepi, dara itu membaca majalah dan koran yang ada di depannya. Tak lama ia pun selesai membaca majalah dan mencatat beberapa poin tulisan yang ada di dalamnya. Majalah dan koran sudah kembali ke tempat semula. Pramugari pun sudah mengambil sampah dari masing-masing penumpang.
Tak lama kapten memberikan pengumuman pesawat akan mendarat. Senyum terukir di bibir Alya. Lega karena sudah sampai, tanpa aral apa pun.
Udara dingin menyambut kedatangannya di Kota Gudeg. Bergegas ia hidupkan HP-nya begitu sudah di ruang tunggu. Jemarinya lincah memencet tombol yang ada di ponselnya. Beberapa sopir taksi yang menawarkan jasa, ia tolak dengan halus. Pemudi itu masih berusaha menghubungi ibunya.
Panggilan pertama tidak menyambung. Gadis itu melihat nomor yang ada di HP-nya. Ia memastikan nomor yang dihubunginya adalah benar. Tadi pagi ia lupa menanyakan rumah sakit tempat kakaknya dirawat.
Panggilan ketiga baru ibunya menjawab.
“Sudah mendarat, Al?” tanya ibunya.
“Sudah, Bu. Alya langsung ke rumah sakit atau pulang ke rumah dulu?” sahut Alya.
“Ke rumah sakit saja. Mas Nugraha yang akan menjemputmu,” jawab ibu sambil menutup teleponnya.
Sejak dulu gadis itu paling tidak suka dijemput kakak iparnya yang menganggapnya sebagai anak kecil. Postur tubuhnya yang kecil membuat semua orang mengira ia masih SMP. Padahal gelar master sudah dikantonginya. Alya sudah sering protes dengan kedua orangtuanya, ketika ke luar kota atau negeri selalu dijemput oleh Mas Nugraha. Kedua orang tuanya akan menjawab sama. “Kami lebih percaya Nugraha,” dara bungsu itu pun akhirnya mengikuti kemauan bapak dan ibunya. Apalagi Mas Nugraha setiap menjemput pasti bersama Mbak Lani.
Alya menyeret kopernya ke pintu keluar. Mobil Mas Nugraha belum kelihatan. Ia bermaksud untuk menghubungi kakak iparnya itu. Tangannya baru saja akan memencet tombol HP, ketika Mas Nugraha muncul dari arah pintu. Untuk pertama kalinya gadis itu melihat abang iparnya tanpa mbaknya. Ada rasa sedih menyusup di hatinya. Air bening pun hampir ke luar dari kedua matanya. Gadis itu pun segera mengusap mata, menghentikan hujan air mata yang akan turun.
“Maaf, Mas terlambat. Ada beberapa hal yang harus Mas urus,” tangan Nugraha menyalami tangan Alya yang masih mengenggam HP-nya.
“Barangmu, hanya ini?”
Pertanyaan Nugraha menyadarkan lamunan Alya.
“Iya, Mas,” gadis itu kembali diam. Ia membiarkan Nugraha membawakan kopernya yang berwarna biru tua, lalu mengikuti Nugraha menuju tempat parkir.
“Al, kita makan dulu, ya. Mas tahu kamu pasti belum sempat makan. Kita isi perut dulu, baru ke rumah sakit. Sejak siang Mas belum makan. Pikiran Mas tertuju kepada Mbakmu dan si kembar. Pekerjaan pun Mas bawa ke rumah sakit. Tidak enak kalau membolos terus.”
Alya tertegun dengan kalimat panjang kakak iparnya. Matanya mengerjap memandang Nugraha yang asyik menyetir. Kakak iparnya seakan tidak peduli dengan keheranan gadis kecil di sampingnya. Lagu Yogyakarta dari KLA Project terdengar mengiringi perjalanan mereka dari keluar Bandara tahu. Gadis itu sudah tidak sabar ingin memeluk kakak kesayangannya. Adisucipto menuju Malioboro.
Sepanjang perjalanan, Alya enggan bertanya kondisi kakaknya. Ia ingin Mas Nugraha konsentrasi menyetir di jalan raya. Biarlah tanya itu ia simpan sendiri. Toh sebentar lagi ia akan
Other Stories
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...
Hati Diatas Melati ( 17+ )
Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...