Cinta Di Ujung Asa

Reads
464
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Penulis Fuatuttaqwiyah El-adiba

3. Dilema

Usai dinyatakan wafat oleh dokter jaga tempat Lani dirawat, jenazah pun dibawa pulang untuk dilakukan prosesi selanjutnya. Urusan administrasi rumah sakit sudah diselesaikan oleh bapak yang langsung bekerja cepat. Bapak yang terbiasa mengurus pemakaman tetangga, langsung sigap menghubungi tetangga dan mbah kaum. Sambil menunggu ambulans siap, bapak melihat cucunya dulu. Dikecupnya kedua bayi bergantian, sambil mengucapkan doa untuk mereka. “Nak, ucapkan salam terakhir buat Ibumu. Kakek janji akan menjaga kalian dengan baik.”
Si Kembar sudah bapak letakkan kembali ke ranjangnya. Mereka sama sekali tidak rewel dan tetap tenang. Setelah menitipkan kedua cucunya, bapak pun bergegas ke teras rumah sakit. Di sana ambulans sudah menunggu. Bapak, ibu, dan Nugraha ikut di mobil ambulans. Sedangkan Alya menyetir mobil Nugraha.
Tetangga dan kerabat sudah menanti kedatangan jenazah. Mereka membantu keluarga Alya mengurus semua prosesi pemakaman. Dari mulai memandikan hingga mengantar ke areal pemakaman. Ibu dan Alya berdiri saling menguatkan. Di ujung teras ada bapak yang masih menginstruksi warga kampung.
Mata Alya beralih ke kursi yang tak jauh dari tempatnya duduk. Ia melihat Nugraha menutupi matanya dengan kacamata hitam. Sepertinya kakak iparanya itu tidak mau memperlihatkan matanya yang sembap. Hanya beberapa kali mengusap hidungnya yang merah.
Di sebelah Nugraha duduk ibu mertua kakaknya yang barusan sampai. Keluarga kakak iparnya itu pun mulai berdatangan. Mereka langsung datang ketika mendengar istri Nugraha wafat.
Gadis mungil itu menemani ibunya hingga mengantar Mbak Lani ke tempat peristirahatan terakhir. Sebisa mungkin, ia tidak meninggalkan ibu yang masih terkejut dengan kepergian kakaknya. Berbeda dengan bapak yang terlihat siap dengan kondisi putri pertamanya. Hingga prosesi pemakaman berakhir, bapak tidak menitikkan air mata. Keikhlasan nampak di wajah tua bapaknya. Justru Mas Nugraha yang berulangkali mengelap mata dan hidungnya dengan sapu tangan.
Di depan makam Lani, Alya termangu. Tangannya mengusap wajahnya. Ia menghirup napas panjang sebelum melepaskannya. Sejenak ia memejamkan mata, membayangkan wajah kakaknya.
“Mbak, rasanya baru kemarin kita tertawa bersama. Kuingat engkau menertawaiku yang ingin kuliah di Leiden. Wong ndeso kok pengen koyok bule. Mbok uwis kuliah wae ning UGM, cedhak ngomah lan ibu bapak. Sing takgoleki yo opo tho, Nduk? (Orang desa tapi ingin seperti bule. Kuliah saja di UGM, dekat rumah dan ibu bapak). Apa itu firasatmu, Mbak?” gadis itu mengusap kayu nisan yang tertulis nama kakaknya.
“Al, kita pulang,” ajak ibu.
Alya menggelengkan kepala.
“Ibu duluan saja. Aku masih ingin di sini,” jawabnya. Pandangan gadis itu menyusuri pemakaman. Sudah tidak ada orang. Hanya tinggal ia, juru kunci, dan Mas Nugraha yang masih membaca Yasin di samping kanannya.
“Mbak, aku tidak tahu mengapa sejak dulu kaumenentang keinginanku ke Leiden. Aku berpikir positif saja. Kujadikan ia pemicu. Pada akhirnya, aku bisa menembus Universitas Leiden. Selangkah lagi aku berangkat. Hingga kabarmu yang koma memaksaku pulang,” gadis itu mengambil napas panjang.
“Mbak, aku belum puas bermanja denganmu. Aku masih ingin dipeluk dan merasakan kasih sayangmu. Kenapa secepat ini kita berpisah? Siapa nanti yang akan menyambut kepulanganku di Yogyakarta? Siapa yang akan membuatkan pasrah untukku?” dara itu berusaha menahan tangis yang mulai keluar dari kedua matanya. Sekali lagi ia usap gundukan tanah yang sudah penuh dengan bunga melati dan mawar.
Alya melirik ke samping. Dilihatnya kakak iparnya berdiri. Tangannya menyodorkan sapu tangan yang segera diterima gadis mungil itu.
“Al, ini terakhir kali Mas melihatmu menangis. Jangan bebani istriku dengan air matamu.”
Kalimat dari Mas Nugraha melukai hati Alya. Siapa juga yang mau membebani kakaknya? Salahkan air mata ini saja yang tidak mau kompromi. Ia keluar terus. Muka gadis itu langsung cemberut. Dengan cepat ia usap matanya dengan sapu tangan dan segera dikembalikan pada Nugraha.
“Jorok, ah. Cuci dulu, baru kembalikan ke Mas,” Nugraha mengembalikan sapu tangannya. Tangan Nugraha menarik tangan Alya yang langsung berdiri.
“Kita pulang sekarang. Sebentar lagi magrib dan Mas harus menyiapkan tahlilan.”
Gadis itu pun segera menjajari langkah Nugraha yang lebar-lebar. Sampai di rumah, Alya langsung ke kamar, kemudian mandi. Selesai mandi, dara ayu itu bersiap untuk salat magrib di ruang keluarga. Di sana sudah ramai dengan orang yang akan mengikuti salat Ta’nisul Qabri, salat untuk memintakan ampun mayat, dilanjutkan dengan membaca tahlil yang diikuti oleh ibu-ibu pengajian. Setelah salat isya, baru tahlilan kelompok bapak-bapak.
Malamnya saat semua orang udah terlelap karena kelelahan, mata bening gadis itu masih terjaga. Ia masih bingung melangkah. Pemudi itu mengingat semua perjuangannya menuju Leiden. Dari menulis mimpi, membuat langkah-langkah, hingga melakukannya. Setiap hari ia belajar dengan sungguh-sungguh agar impiannya tercapai. Segala aktivitas yang menghalangi langkahnya, ia singkirkan. Gadis itu lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan kampus. Semua buku dilahapnya. Untuk membahas satu topik masalah, ia membutuhkan sedikitnya 10 buku dari penulis berbeda.
Untuk kali ini haruskah ia mengalah? Keresahan muncul di hatinya. Kepalanya sebentar miring ke kanan. Tak lama kepalanya berubah ke kiri. Gadis itu mencoba untuk tidur. Tulang belulang yang menopang tubuhnya terasa remuk. Kepergian kakaknya membuat jasadnya lemas.
Sudah cukup air mata ia keluarkan. Ketika tadi tahlilan, gadis itu sudah bisa menyapa tamu dengan melepas kacamatanya. Wajahnya masih menampakkan kesedihan, namun perlahan sudah mulai berkurang.
Mengingat Mbak Lani, haruskah keinginannya ia penuhi? Pikiran dara itu kembali menerawang. Terlalu berat memenuhi permintaan mbaknya. Alya mengasuh bayi? Kembar pula!OMG, itu tidak ada dalam kamusnya. Ia lebih baik disuruh membaca 100 buku daripada mengasuh manusia mungil yang begitu lembut itu.
Gadis itu menggelengkan kepalanya berkali-kali. Si Kembar begitu cantik. Semua orang pasti langsung jatuh cinta melihatnya. Perpaduan wajah Mbak Lani dan Mas Nugraha. Kecantikan dan ketampanan bergabung. Tapi aku? Bisakah aku mencintai mereka? Permintaan mbaknya ada-ada saja.
Mata gadis itu masih terjaga. Ia pun berjalan ke meja belajarnya. Netranya menatap foto Universitas Leiden. Tangan mungilnya menyapu foto itu. Apakah mimpiku akan terhenti di sini? Haruskah pupus sebelum berkembang? Ini impianku. Kuliah di salah satu universitas terbaik di dunia. Tak sabar ia menelesuri jalanan di sekitar kampus, menikmati mekarnya tulip, menghabiskan sore di tepian kanal, bersepeda tanpa takut polusi, dan jangan lupakan roti khas Belanda.
Sejak awal kuliah S-1, ketika dosennya, Pak Willy mengenalkan Universitas Leiden, ia langsung jatuh cinta. Semua informasi tentang universitas tersebut pun dicarinya. Dari mulai cara mendapatkan beasiswa, jalan-jalan, perpustakaan, apartemen, tempat makan yang murah, dan biaya hidup di sana. Tidak ada informasi yang terlewat di mata mungilnya itu. Semua tersimpan rapi di otak dan laptopnya. Sepertinya ia sudah cocok menjadi pemandu wisata di Leiden.
Pandangan gadis itu berhenti di peta impian yang dibuat 7 tahun lalu. Miniatur globe, Indonesia, dan Belanda. Ada warna-warna yang menjadi penjelas tujuannya. Ia pun sering menyebutkan Leiden dalam setiap sujudnya. Haruskah semua berakhir, bahkan sebelum kumulai?

Other Stories
Tatapan Yang Tidak Pernah Sampai

Cerpen ini mengisahkan satu tatapan singkat yang menumbuhkan dunia imajinasi, harapan, dan ...

Melupakan

Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?

Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...

Download Titik & Koma