Cinta Di Ujung Asa

Reads
405
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
cinta di ujung asa
Cinta Di Ujung Asa
Penulis Fuatuttaqwiyah El-adiba

4. Permohonan Ibu

Kesibukan di rumah Alya masih terlihat. Seperti pagi ini, gadis itu melihat ibu sedang menyalami tamu yang datang melayat. Beberapa wajah ia kenal sebagai teman ibunya. Mereka terlihat sedang berbincang serius, ketika gadis itu datang membawa minuman.
“Anaknya cantik, Jeng. Bisalah jadi menantuku,” kalimat dari teman ibu yang berkerudung warna hijau.
Ibu hanya menanggapinya dengan senyuman. Alya pun segera berlalu dari hadapan ibu dan tamunya. Langkah kakinya terhenti di taman yang terletak di samping kolam ikan. Matanya memandang dedaunan yang mulai mengering. Beberapa helainya luruh di tanah.
Enaknya menjadi daun. Tidak perlu pusing memikirkan semuanya. Aku masih bingung dengan langkah yang akan kuambil.
“Al, dipanggil Ibu,” suara Mas Nugraha membangunkannya dari lamunan.
“Ibu di mana?” tanya Alya setelah nyawanya terkumpul.
“Di kamar,” jawab kakak iparnya yang segera berlalu dari depan gadis itu.
Dara ayu itu pun segera berdiri dan berjalan menuju kamar ibu. Perlahan, diketuknya pintu kamar. Suara ibu terdengar menyuruhnya masuk. Terlihat ibu sedang duduk di atas sofa, ketika ia menghampirinya.
“Ibu memanggilku?” tanya gadis itu setelah menempatkan pantatnya di samping Ibu.
Kepala ibu mengangguk.
“Ada hal yang ingin Ibu sampaikan,” jawab Ibu sambil merangkul pundak anak gadisnya.
Gadis itu menatap ibunya penuh rasa ingin tahu. Ia mendengar ibu menghirup udara dan menghembuskannya perlahan. Sepertinya ada hal berat yang ingin disampaikan oleh perempuan yang telah melahirkannya itu.
“Al, Ibu berharap kamu mendengarkan dengan seksama. Jangan potong ucapan Ibu, hingga Ibu selesai cerita.”
Dara ayu itu mengangguk. Aku jadi penasaran. Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan, Ibu?
“Ini tentang Si Kembar. Barusan, Mas Nugraha menyampaikan keinginan keluarganya untuk membawa mereka ke Tangerang. Nenek Si Kembar ingin mengasuhnya. Hal ini jelas berat bagi Ibu. Kedua bayi itu adalah peninggalan kakakmu. Ibu melihat wajah Lani dalam diri mereka. Rasanya Ibu tidak rela jauh dari cucu Ibu. Mereka cucu pertama dan kedua di keluarga kita. Kelahiran mereka sangat Ibu nanti, sebagai penerus keluarga Wijaya. Kalau Nugraha membawa mereka jauh dari Yogya, Ibu tidak bisa memantau perkembangan Si Kembar. Ibu juga tidak akan sanggup bolak-balik Yogya-Tangerang.”
Untuk sesaat Ibu terdiam. Tangan Ibu memegangi dadanya. Mendung bergelayut di wajah tuanya. Kupegang tangan Ibu erat.
“Ibu tidak mungkin mengambil salah satu dari Si Kembar. Orang zaman dulu memang melakukan itu agar anaknya tidak nakal. Tetapi Ibu ingin mengasuh keduanya. Agar hubungan cucu dan nenek tidak pisah. Ibu belajar banyak dari teman-teman yang sudah terpisah dari cucunya. Mereka jarang dikunjungi cucunya. Berkirim kabar pun tidak. Ibu khawatir hubungan keluarga jadi terputus.”
Gadis itu hanya manggut-manggut.“Mas Nug tidak mungkin melakukan itu,” hiburnya.
“Al, Ibu juga pernah mengatakan seperti itu kepada temanku. Tetapi kenyataan yang terjadi sebaliknya. Begitu anaknya meninggal dunia, cucunya dibawa, putuslah keluarga. Apalagi ketika sang menantu menikah. Semakin jauhlah nenek dengan cucunya,” bantah Ibu dengan suara mulai meninggi.
Dara itu mengelus punggung Ibu. Aku tahu tidak mudah bagi Ibu melepaskan Si Kembar. Walaupun aku belum pernah menjadi nenek. Tetapi aku sering mendengar cerita seorang nenek lebih sayang kepada cucu daripada anak. Aku tahu itu sekarang. Rasa sayang Ibu kepada keponakanku melebihi sayangnya kepadaku. Siap-siap dinomorduakan nih. Pasti Ibu lebih memilih Si Kembar daripada aku.
Alya menatap ibu. Air bening mulai menggumpal di kedua matanya, siap untuk dialirkan.
“Jadi, Ibu mau apa? Mau meminta hak asuh Si Kembar? Atau meminta Mas Nugraha tinggal di sini? Bukankah selamanya bapaknya Si Kembar itu menantu Ibu?”
Ibu memandang putrinya dengan mata meredup.
“Al, untuk saat ini Mas Nugraha belum melakukan apa-apa. Nanti kalau dia bertemu dengan perempuan lain yang mau jadi istrinya, persoalannya akan lain. Pasti Masmu itu tidak akan mau berjauhan dengan anaknya. Kalau Masmu itu dapat istri yang baik, Ibu tidak terlalu khawatir. Tetapi, kalau sebaliknya?” Ibu kembali emosi.
“Ibu, tak baik menuduh menantu seperti itu. Ini kan baru rencana, masih bisa dicegah. Lagian Si Kembar masih bayi. Sangat berisiko membawa Si Kembar dalam perjalanan jauh.”
“Sampai berapa lama? Tiga bulan? Setahun?” Ibu masih emosi.
Gadis itu paham dengan suasana hati ibu. Semua tidak lagi mudah. Baru saja kemarin ibu bahagia karena mau punya cucu kembar, tiba-tiba Mbak Lani koma dan akhirnya wafat. Ibu mana yang tidak akan sedih? Apalagi ini baru hari kedua.
Alya memandang seluruh isi kamar ibu. Aku seperti melihat Mbak Lani duduk di atas ranjang. Bayangannya ketika kami tertawa dan bercanda masih ada di pelupuk mata. Dulu, aku dan mbakku itu sering memukul kepala menggunakan guling. Pukulan yang keras hingga menyebabkan kamar ibu penuh dengan kapas yang berhamburan.’
Di dinding kamar, ada foto keluarga yang dibuat sebelum keberangkatan Alya. Tawa ceria tergambar jelas dari foto yang diambil oleh teman Mbak Lani. Siapa sangka itu foto terakhirku dengan Mbak Lani?
“Apakah Ibu sudah bicarakan dengan Bapak?” tanya Alya setelah mereka lama terdiam.
“Bapak ikut dengan Ibu. Apa pun keputusan Ibu, Bapak pasti mengiyakan,” Ibu tersenyum.
Dari dulu Bapak memang ngemong Ibu. Belum pernah akumelihat Bapak memarahi Ibu. Aku justru melihat pemujaan Bapak terhadap Ibu. Mereka tanpa sungkan menunjukkan kasih sayangnya di depanku dan Mbak Lani. Jadi ingin punya pasangan seperti Bapak. Romantis, penyayang, dan penyabar. Bapakku idolaku.
“Sebaiknya Ibu bicarakan lagi dengan Mas Nugraha. Pasti Mas bisa memberikan solusi. Kasihan juga dengan Si Kembar kalau jadi rebutan antara Ibu dan Tante Diana. Apalagi kalau berita ini sampai menyebar.”
Kalimat Alya membuat Ibu terdiam. Pada dasarnya ia cinta damai. Tetapi, ini menyangkut permintaan Lani sebelum masuk rumah sakit. Anakku yang satu itu ingin ibunya yang merawat Si Kembar. Sepertinya ia sudah punya firasat tidak akan lama di dunia ini. Ia perhatikan seminggu terakhir, Lani sering melamun. Permintaannya pun aneh-aneh. Kakak Alya itu berubah menjadi lebih manja, suka merangkul, dan memeluk. Makanan yang diminta pun yang jarang ia makan. Sayangnya, Ibu tidak menyadarinya.’
“Ibu melamun? Teringat Mbak Lani, ya?” tanya gadis itu sambil menggerakkan kedua tangannya di depan wajah Ibu.
Ibu terlihat kaget. Ia tersenyum menutupi rasa malunya karena ketahuan melamun.
“Tadi sampai mana?” tanya Ibu sambil menatap putrinya.
Gadis itu tersenyum. Tidak menyangka Ibunya akan balik bertanya.
“Inginnya Ibu seperti apa? Biar nanti Al bicara dengan Mas Nugraha juga Bapak,” gadis itu menatap Ibu lekat-lekat. Aku ingin melihat Ibu tersenyum kembali.
“Al, bagaimana kalau kamu menikah dengan Nugraha? Bukankah itu solusi yang tepat?” usul Ibu tiba-tiba. Mata Ibu berbinar ketika menyampaikan hal itu.
Alya langsung menekuk mukanya dan segera berlari ke luar kamar Ibu. Gadis itu butuh sendiri dulu. 

Other Stories
Way Back To Love

Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan  datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...

Mauren, Lupakan Masa Lalu

“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...

Melepasmu Untuk Sementara

Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...

Melupakan

Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...

Dari 0 Hingga 0

Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...

Ruf Mainen Namen

Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...

Download Titik & Koma