Cinta Buta

Reads
1.6K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Iesye Martini

4. Detektif Pribadi

Marthy mencari nomor telepon indra, temannya yang tinggal sekota dengan Edo di Batam. Terpaksa dia minta Indra jadi detektif, tiba-tiba saja menyeruak sesuatu di benak Marthy. Jangan-jangan Edo membohonginya.
Marthy memang tidak suka chatting dengan laki-laki kecuali ada perlu, kali ini terpaksa dia bercerita kepada Indra tentang Edo, walau sungkan.
Diberikannya foto, alamat, dan ciri-ciri Edo. Tinggi Edo yang 180 cm dan berat 80 kg tidak sulit mencarinya. Marthy ingin Indra mencari tahu apakah Edo betul kecelakaan dan tinggal dengan siapa di Batam.
Di transfernya uang pada Indra secukupnya. Marthy minta jika ada perkembangan dia diberi tahu.
Besoknya belum ada kabar dari Indra, Marthy menunggu dengan hati yang berdebar-debar, siapa sebenarnya Edo? Edwin Syahruddin namanya. Lulusan SMK, usia lima puluh tahun, pernah bekerja di beberapa tempat di Batam. Anaknya tiga, yang besar sudah kuliah di semester tiga, yang nomor dua sekolah SMA kelas dua dan yang bungsu perempuan kelas tiga SMP.
Istrinya seorang guru SD dan mereka dulu tinggal di orang tua si istri. Tetapi menurut Edo kini mereka berpisah, Edo tinggal sendiri di tempat kost jauh dari keluarganya. Perjalanan dari tempat kost Edo ke rumah anak-anaknya sekitar satu jam lebih.
Hari ini akan ada yang private bahasa Inggris pada Marthy, anak usia dua puluh dua tahun yang baru saja lulus dari universitas dan akan melanjutkan kuliahnya ke Amerika. Marthy menyiapkan diri. Anak perempuan itu akan datang jam setengah empat dan Marthy harus salat asar dulu sebelum menerimanya.
Diambilnya air wudu. Pikirannya tercurah ke Edo, kenapa tiba-tiba Marthy merasa ada sesuatu pada diri Edo, bukan seperti Edo yang dulu dia kenal. Marthy merasa Edo seperti orang asing.
Digelarnya sajadah di kamar dia biasa beribadah, apartemen itu punya tiga kamar dan salah satu kamar yang kosong dia pakai untuk mushola. Lalu diangkat tangannya untuk takbiratul ihram, dibulatkan konsentrasinya, mohon pertolongan Allah.
Selesai salat lalu dilipatnya dengan rapi mukena biru muda berenda yang cantik itu, pemberian mantan suaminya yang ternyata tidak seperti yang dia harapkan, laki-laki super matang yang sama sekali tidak nampak matangnya.
Bunyi hape mengalunkan lagu Sunda yang dia cinta karena dia besar di Bandung, sekolah di Bandung sampai selesai universitas, menikah dan mempunyai anak perempuan cantik ya di Bandung juga, jadilah dia perempuan Sunda dengan segala pernak pernik Sunda. Cantik, luwes, lembut dan segudang prestasi yang diraihnya membuat dia tidak sulit mencari pasangan, tetapi entahlah, kenapa dia terantuk pada Edo yang menurut masyarakat kita tidak berkelas seperti Marthy.
Dibukanya pesan dari Indra, panjang nampaknya beritanya:
Dear Mbak Marthy,
Assalamu’alaikum wr.wb.
Aku sudah tahu rumah Edo, sebuah rumah petak berkamar dua, waktu kemarin aku melihat ke sana, ada seorang perempuan berhijab seusia Edo di sana serta anak anak remaja. Nampaknya mereka sekeluarga karena wajah anak-anak itu nampak seperti Edo, cuma aku belum sempat bertanya pada orang sekitar siapa mereka. Ini foto yang tidak terlalu jelas karena dari jauh, tapi masih nampak wajah dan perawakannya.
Nanti aku lanjutkan penyelidikanku ya.
Sabar dan salat adalah penolong kita Marthy.
Indra menutup pesannya.
SEDIH
Dipandangi wajah-wajah di foto yang Indra kirim, wajah-wajah yang ada garis-garis Edo di sana. Yang Edo bilang padanya tidak serumah. Ternyata mereka serumah.
Marthy menghela napas panjang, apa lagi yang Edo sembunyikan? Apakah dia sudah bersatu lagi dengan mantan istrinya atas permintaan anak-anaknya? Rupanya kasih sayang Marthy selama ini tidak cukup bagi Edo untuk melupakan mantan istrinya. Buktinya sekarang mereka sudah berkumpul lagi serumah.
Tiba-tiba butiran air mata meluncur dengan deras dari kedua belah matanya, hatinya sakit, Edo yang disayang ternyata tidak menyayanginya. Pantas dua bulan ini dia tidak pernah menghubungi lewat telepon, ada istri dan anak-anaknya. Tidak mungkin lagi dia melakukan itu di depan mata mereka.
Teringat lagi betapa kata-kata Edo selama ini membuat dia melayang, Marthy lebih tua sekian tahun dari Edo, bahkan sudah bercucu, tetapi Edo tidak mempermasalahkan. Buat Edo, Marthy lah bidadarinya, bunganya, mataharinya, juwitanya, kekasih hatinya. Dua bulan pertama semua nampak baik-baik saja.
Sampai suatu hari: “Aku tidak mungkin menolak keinginan anak-anakku, Sayang, mereka ingin ayah ibunya bersatu lagi dan aku terlalu sayang pada anak-anakku,” suatu saat Edo bercerita.
“Lalu aku akan di kemanakan Edo? Bagaimana cita-cita kita membuat usaha di Jakarta bersama? Lalu perasaanku padamu apakah akan kau abaikan begitu saja?” Marthy menulis dengan putus asa dan kecewa.
“Maafkan aku sayang, aku cinta kamu tetapi anak-anak itu darah dagingku, dan perasaan mereka harus kunomorsatukan, siapa lagi yang akan membela mereka kalau bukan aku ayahnya,” Edo memberi icon menangis lagi dan nun jauh di seberang Pulau Batam, di Jakarta, ada air mata sungguhan, air mata Marthy yang berderai-derai membasahi bajunya.
“Kamu masih tetap kekasih aku yang tersayang, kita masih bisa mengobrol seperti biasa. Jangan khawatir, aku masih akan selalu bersamamu,” Edo berkilah lagi, tetapi saat itu Marthy yakin Edo tidak akan bisa memenuhi janjinya dan ternyata terbukti.
Terbayang wajah Edo yang manis, tinggi tegap badannya, suaranya lembut dan amat santun, idaman banyak perempuan.
Seringkali Marthy cemburu ketika di media sosial, status Edo dikomentari perempuan-perempuan yang berebut perhatian Edo. Sudah sering Marthy bilang kalau perilaku seperti itu tidak pantas lagi dilakukan karena Edo sekarang sudah mempunyai kekasih. Tetapi Edo selalu mengulang dan mengulang lagi kelakuannya, dan Marthy bolak balik protes pada cara Edo yang seperti itu. Padahal salah satu larangan Allah pada laki-laki adalah menundukkan pandangan dan buat kita semua jangan mendekati zina. Kadang Marthy geram pada Edo tetapi Edo selalu bisa meluluhkan hatinya.
SEBAL
“Yang, emang aku bangga punya kekasih dijadikan rebutan?” suatu hari Marthy menulis dan Edo dengan santainya menjawab “Harusnya kamu bangga, artinya kamu perempuan yang berhasil menarik perhatian aku untuk dijadikan kekasih, kamu paling keren di antara mereka semua,” rayu Edo. Dan Edo memenangkan pertarungan yang keberapa kalinya, Marthy menyerah kembali.
Dan hari-hari Marthy dan Edo kembali lagi seperti sediakala, hari-hari yang tidak menguntungkan buat Marthy.
Lelah berpikir tentang Edo, Marthy duduk bersandar di sofa hijaunya, sofa yang dia beli bersamaan dengan dia pindah ke apartemen di sana. Sofa warna hijau daun yang keren, TV layar datar besar ada di depan sofa itu, TV yang tidak pernah sempat dia tonton. Marthy merenungkan nasibnya, dia sepenuhnya mencintai Edo setelah sekian tahun Marthy hidup sendiri, hanya Edo yang bisa menghibur hatinya.
Hpnya berbunyi, diambilnya, dilihatnya, Indra lagi.
Dear Marthy,
Bagaimana keadaanmu? Mudah-mudahan sehat ya.
Aku sudah dapat berita dari rumah Edo, perempuan itu istri dan anak-anaknya. Istrinya mendapat pekerjaan menjadi guru di dekat tempat kontrakan Edo dua bulan yang lalu, anak-anaknya yang tiga orang ingin tinggal bersama orang tuanya. Jadilah mereka berkumpul lagi setelah tiga tahun berpisah.
Edo betul jatuh dari tangga, bukan tangga teratas, dia baru saja menjejakkan kakinya ke anak tangga yang pertama. Dia terpeleset dan kakinya hanya bengkak. Dia masih bisa bekerja seperti biasa walau terpincang-pincang. Istrinya namanya Arsiah, anaknya Eric, Doni, dan yang terkecil Cinta, seorang anak perempuan.
Ini aku kirim foto mereka bersama ketika mereka duduk-duduk di sore hari di luar rumahnya.
Nanti aku sambung lagi ya.
Dari Indra
Berita kemarin masih abu-abu, masih belum jelas semua, sekarang dia tahu pasti bahwa Edo tidak mencintainya. Bukan tidak begitu mencintainya tapi sama sekali tidak mencintainya.
Jika dia mencintainya tidak mungkin dia membiarkan mantan istrinya datang ke tempatnya, bahkan dengan mengangkut semua anak-anaknya.
Dihelanya kembali napas panjang, berurai air matanya, teganya Edo bohong padanya. Tega! Dibantingnya badannya ke sofa favoritnya lalu dia menangis tersedu-sedu, entah apa yang harus dia lakukan. “Marthy kau perempuan bodoh!” teriaknya sambil membantingkan bantal kursi ke lantai. Tetapi Marthy memang perempuan salehah, emosinya cuma sesaat. “Apapun Allah mengaturnya seperti ini, aku harus tawakal. Tidak mungkin Edo bisa seperti itu kalau bukan aku yang memberi kesempatan. Ya Rabb, aku mohon maaf, pasti banyak salahku terlalu memercayai kata-kata Edo. Meyakini cintanya padaku dan semua cerita-cerita bohongnya. Astaghfirullah.”
Marthy setengah berlari ke kamar mandi, dia ingin mengadu pada Allah, mengambil air wudu dan salat. Kini dia akan salat hajat.
Memohon pada Allah agar urusan dengan Edo bisa segera selesai.
Digelarnya sajadah merah kecintaannya, diambilnya mukena cantik yang biasa dia pakai, mulailah dia dengan ritual rohaninya, menggapai ridao Allah dengan segala kebesaran-Nya.
Salat hajat dia tunaikan. Tak lama terdengar lagi suara hp, menandakan ada pesan yang masuk, dia baca:
Dear Marthy,
Mudah-mudahan ini sudah cukup untuk membuatmu berhenti mengharapkan Edo, seminggu yang lalu Edo baru saja membelikan motor bekas buat anaknya yang paling besar dan bisa jadi uangmu yang dipakai untuk membeli motor itu, ini aku foto anaknya di atas motor baru mereka. Kamu dibohongi. Stop thinking about him anymore!
In syaa allah kamu tidak akan bertemu lagi dengan laki-laki yang tega seperti ini lagi. Aamiin.
Wassalam, Indra.
Jelas semua yang sudah Edo lakukan padanya, katanya kakinya patah, tidak berkumpul dengan anak-anaknya dan berpisah dengan istrinya. Semuanya dusta dan kini Marthy akan membuka semuanya pada Edo, bahwa dia laki-laki yang paling tidak berharga di dunia ini.

Other Stories
Mewarnai

ini adalah contoh uplot buku ...

Cinta Kadang Kidding

Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...

Tes

tes ...

Kepingan Hati Alisa

Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...

Filosofi Sampah (catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Download Titik & Koma