7. Pesona Ahmad Siddiq
Ketukan pintu terdengar lalu suara laki-laki di luar mengucapkan salam, “Assalamualaikum,” Marthy tergopoh-gopoh bangun dan segera memakai hijabnya. Dia harus menggunakannya karena akan membuka pintu, dan di luar jelas terdengar suara seorang laki-laki.
Dibukanya pintu, di luar nampak seorang laki-laki, manis, memakai baju koko berwarna biru, topi haji biru juga, celana jeans dan bersendal, rupanya akan siap-siap ke masjid. Harum minyak wangi semilir, lembut menyentuh hidungnya.
“Assalamualaikum Bu Marthy, saya paman Teteh Hidayati membawa buku-buku Bahasa Indonesia, siapa tahu mau dipelajari, sekalian soal-soal yang biasa dipakai untuk anak-anak santri. Saya tidak lama, tidak baik saya di sini berduaan dengan Bu Marthy. Perkenalkan nama saya Ahmad Siddiq,” katanya sambil menunduk tidak mau bertatapan.
Nampak seorang laki-laki manis, keren, menunduk tanpa melihat wajah Marthy dan bicara sambil tangannya memberikan buku. Ma syaa Allah… luar biasa, masih ada laki-laki yang seperti ini di Bekasi?
“Baiklah Pak Ahmad Siddiq, waalaikum salam… bukunya saya terima, salam buat Teteh Hidayati ya,” diambilnya buku-buku itu lalu Ahmad berlalu diiringi tatapan mata Marthy sampai punggungnya hilang dari pandangan matanya.
“Hm, keren dan saleh, masih ada yang seperti ini di dunia? Bisik Marthy.
Tidak lama suara azan terdengar dari mushola bawah, Marthy segera mengambil air wudu dan salat magrib .
Setelah selesai salat, Marthy lalu menyiapkan air panas, berniat mandi agar lelah dan penatnya hilang. Mandi air panas, hangat yang mendekati panas buat Marthy rasanya selangit, lupa penat dan lelah, asyik menyabuni sana-sini, mencuci rambutnya membasuh wajahnya dan mengelus semua bagian tubuhnya dengan sabun yang harum baunya.
Dibukanya lemari, dicarinya celana panjang untuk menghangatkan badannya dan baju bertangan panjang. AC di apartemen itu sengaja dia nyalakan semua, anaknya biasa membelikan dia token listrik untuk satu bulan. “Mama jangan segan-segan kalau mau nyalain AC, biar aku yang bayar,” Arya selalu mengingatkan Marthy jika Marthy sering mematikan AC saat udara terik. “Nyalain aja Ma, daripada keringetan,” dia selalu bilang begitu. Alhamdulillah, biar anak-anak tidak kaya raya tetapi perhatiannya pada Marthy begitu besar. Marthy bersyukur untuk itu dan selalu mendoakan anak-anaknya agar hidup bahagia dunia dan akhirat.
Marthy membaringkan tubuhnya lagi di sofa setelah semua selesai, dia berpikir, “Makan apa ya?” Marthy hidup sendiri, kadang ada pembantu setengah harian untuk membantu dia bersih-bersih rumah. Seminggu dua kali.
Di kulkas seingat dia ada telur, daging, kangkung dan bumbu-bumbu,” Hmm masak apa ya, kangkung cah saja kaleee,” celoteh Marthy.
Masih ingin leyeh-leyeh, tapi suara azan isya terdengar lantang, speakernya memang menghadap ke apartemen Marthy, alhamdulillah jadi Marthy selalu bisa mendengar suara azan walau tertidur nyenyak.
Marthy berjalan ke kamar mandi, melakukan wudu sesempurna mungkin, lalu mengambil mukena, menggelar sajadah. Mulai lagi dengan ritualnya, kewajiban muslimah yang dia ikuti tepat waktu.
Marthy tidak terlalu pandai masak tapi sedikit banyak bisa, rasanya menurut teman-temannya not bad, lumayan lah, bisa juga dinikmati, bisa juga nambah nasi. “Teman-teman pelit sekali dengan pujiannya, bilang aja enak,” Marthy gerundel di hatinya.
Ingat ketika dia masak dan Nia ada di apartemennya, “Sambal kamu enak deh Nti (nama kecil di antara teman temannya), lumayan, tampang lumayan, sambal lumayan, kasihan enggak punya pasangan,” kata Nia suatu hari.
“Ah bodo amat gak punya pasangan, aku kan banyak yang sayang, buktinya kamu ada di sini nemenin,” Marthy mencolek wajah Nia dan Nia tertawa-tawa sambil makan pisang goreng yang dihidangkan Marthy saat dia datang.
Marthy sendiri, dia tidak ada suami tapi dia bahagia, walau jelas kalau punya pasangan akan lebih hangat rasanya hidup ini.
Lalu tiba-tiba wajah si manis datang diingatannya lagi, ketika tangannya sedang menyiangi kangkung, “Ahmad Siddiq namanya laki-laki manis itu, pamannya Teteh Hidayati,” Marthy berbicara sendiri. “Dan laki-laki itu menunduk saat bicara padaku, Hmm menunduk kenapa ya? Dia pernah membaca ayatnya, menundukkan pandangan, yang seperti itukah?” Marthy bangga ada seorang laki-laki sekeren itu melakukan hal yang diperintah Allah. Marthy jadi ingin tahu siapa Ahmad Siddiq itu.
Sebentar saja kangkung cah dipiring yang mengepul sudah terhidang Tadi Marthy campurkan irisan tipis daging sapi dan bumbu-bumbu yang lezat. Ikan asin sepat kesukaan Marthy digoreng, sebelumnya Marthy tidak lupa mematikan AC dan membuka jendela lebar-lebar, biar bau ikan asin menyeruak ke mana-mana nanti. Yummy .
Dipasangnya murrotal , Surah Al kahfi, dari Qori Mishary Al Rasyid, Imam Masjidil Haram, surah ke delapan belas, sebaiknya dibaca saat hari Jumat. Sudah berhari-hari mencoba menghafalnya tetapi bolak balik cuma satu ayat yang dia ingat. “Ya Rabb, jangan penuhi ingatanku dengan laki-laki buaya itu, aku harus melupakannya,” bisik Marthy. Tiba-tiba saja Marthy ingat Edo, yang dia sayang selama ini, yang dia harapkan menjadi pasangan di akhir hidupnya yang ternyata tidak seperti yang diharapkannya. Sekilas ingat Edo lalu matanya menatap makanan di atas meja, menggodanya.
Dienyahkannya ingatan pada Edo, baru berapa hari dia memutuskan hubungannya dengan Edo, kadang ada rasa kangen tapi dia tahu bodoh sekali jika dia terus menerus ingat pada Edo, “Tidak bermutu” kata hati Marthy. Lalu diambilnya piring, ditaruhnya nasi setengah centong, kangkung cah dan ikan asin sepat kesukaannya Marthy makan dengan lahap.
Selesai makan yang amat nikmat rasanya, Marthy berkali-kali mengucapkan alhamdulillah. Kebiasaan Marthy saat makan dengan enak akan mengucapkan syukur pada Allah berkali-kali, itu kebiasaan yang Marthy lihat di keluarga ibunya, selalu demikian, mengucapkan syukur berkali-kali. Dan Marthy sekarang mempunyai kebiasaan yang sama.
Dimatikannya DVD recorder yang tadi melantunkan surah Al Kahfi. Dibereskan piring ke dapur, mencuci piring dan duduk kembali di sofa.
Dicarinya surah tentang menundukkan pandangan di Al Qur’an, kalau tidak salah di surah Annur, lalu dibukanya surah Annur ayat 30:
”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur ayat 30).
Hmm si dia itu, makhluk manis yang bernama Siddiq, Ahmad Siddiq itu menundukkan pandangannya sementara dia memelototi Ahmad Siddiq, waduh pasti aku berdosa tadi. Untung dia sudah baca istighfar seratus kali seperti biasanya dia berzikir setelah salat. Marthy merasa malu pada Ahmad Siddiq. Malu juga pada Allah, “Ya Rabb, maafkan aku.”
Marthy tahu dia tidak boleh tidur lebih dari jam sepuluh. Setiap jam tiga dini hari, itu waktu yang tepat laporan pada Yang Maha Kuasa. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 9.30 malam. Sebentar lagi dia harus tidur.
Sebelum tidur Marthy membersihkan wajahnya, mengoleskan pelembab di wajahnya dan mengganti baju dengan baju tidur yang tidak bau bumbu-bumbu bekas masak tadi. Diambilnya wudhu sebelum dia tidur, tak lupa dia mengecek hape-nya, mengomentari di beberapa Whatsapp group kemudian tidur.
Ritual Marthy setelah jam tiga dini hari adalah mengaji, menunggu waktu salat subuh dan mengaji kembali serta menulis.
Marthy seperti juga para sahabat dekatnya di media sosial suka menulis dan dia akan menulis dengan asyiknya setiap setelah salat subuh.
Saat itu baru pukul 7.00 pagi.
Terdengar lagi ketukan di pintu dan suara laki-laki, “Assalamualaikum,” Marthy berlari ke kamar dan mengenakan hijabnya.”Sebentar Pak, sebentar ya,” jawab Marthy “Waalaikumussalam...”
Marthy membuka pintu dan terkejut karena Ahmad Siddiq ada lagi di depan pintu dan menunduk. Matanya tidak melihat kepada Marthy ketika bicara. Saat itu Marthy sudah tahu harus bagaimana, jadi Marthy melihat ke tangan Ahmad Siddiq yang penuh dengan tumpukan buku.
“Maaf Bu Marthy, ini buku anak-anak, diambil dari perpustakaan, siapa tahu mau dilihat-lihat,” kata Ahmad Siddiq sambil menyerahkan tumpukan buku. Matanya sama sekali tidak menatap wajah Marthy, mereka sama-sama menatap buku. Tetapi walau sedikit mengintip, mata Marthy bisa melihat sepatu keds-nya Siddiq yang warna orange, baju kaos tangan panjang warna orange kerahnya putih, pake topi putih. Celananya putih. Biar cuma mengintip dan tidak berani menatap wajah Ahmad Siddiq, tapi Marthy tahu Ahmad siddiq ini keren sekali.
“Mau ke mana Pak Ahmad, keren sekali,” sifat Marthy yang periang tidak tahan mengomentari penampilan Ahmad Siddiq yang memang keren itu.
“Selesaih salat subuh saya biasa lari dari pesantren, ke mana saja maunya kaki saya melangkah,” katanya sambil terdengar tawa yang renyah “Olahraga Bu Marthy, murah meriah, gratis, asal mau aja keringatan,” ujarnya lagi sambil matanya kali ini menatap pintu.
Marthy jadi merasa lucu, dari tadi mereka menahan diri agar tidak berserobok matanya, rasanya konyol kalau sampai akhirnya saling bertatapan.
“Terima kasih ya Pak Ahmad, In syaa Allah kita bertemu lagi, Pak Ahmad mengajar apa?” kata Marthy memberanikan diri.
“Oh, saya kebagian menjadi kepala sekolahnya, Bu Marthy, keponakan saya Teteh Hidayati menjadi wakil kepala sekolah. Kami sekolah yang pengajar dan pekerjanya hampir semua ada hubungan darah,” terangnya.
“Oh, baguslah, salam buat Teteh Hidayati dan semua pengajar dari saya guru baru, saya minggu depan ke sana Pak Ahmad,” saat itu secara tidak sengaja mata mereka saling menatap, Marthy senyum dan Pak Ahmad senyum, manis sekali rasanya senyum mereka saat itu.
“Baik Bu Marthy, saya pamit ya, selamat pagi , Assalamualaikum…” katanya sambil membalikkan badan.
“Hmm boleh kali kalau ngelihat dari belakang,” Marthy menikmati punggung Pak Ahmad yang tadi mengajak senyum manis tanpa sengaja. “Pilihan bajunya keren banget,” kata hati Marthy. Marthy yang memang modis suka sekali melihat Ahmad yang berpakaian modis juga. Lalu Marthy menerawang matanya ke atas “Single gak ya dia?” Hehehehe ke situ malah pikiran Marthy, dasar genit.
Pindah ke Ma’had
Menunggu Minggu depan ternyata terasa lama buat Marthy, dia ingin segera mengajar. Sudah berapa lama dia menganggur sekarang tiba waktunya dia mempunyai pekerjaan lagi, walau gajinya di bawah UMR tapi Marthy yakin Allah akan memberi hikmah pada Marthy setelah dia ikhlas dalam melakukan apa yang Allah sukai.
Senin depannya, waktunya Marthy datang dan mengajar di Ma’Had Al Hidayah.
Anak Marthy, Arya mengantar Marthy sampai ke Ma’had karena Marthy harus membawa barang-barangnya ke sana.
Marthy disambut oleh Pak Ahmad Siddiq sebagai kepala sekolah yang kali ini beliau dan semua pengajar memakai seragam sekolah.
“Silakan bu Marthy, kami di sini siap membantu Bu Marthy, kalau kurang apa silakan bilang pada kami, kami siap setiap saat membantu Ibu biar Ibu betah mengajar di sini,” lanjut Pak Ahmad Siddiq.
“Hmm wajah manis, saleh, siapa yang punya nih?” katanya dalam hati, Marthy melirik Pak Ahmad dan guru guru lain lalu tersenyum.
“Terima kasih penerimaannya, saya akan ingat semua janji ini, kalau saya minta yang aneh-aneh boleh ya,” kata Marthy sambil lagi-lagi tersenyum.
“Palingan saya minta antar ke apartemen saya nih, kalau ada yang mau saya ambil,” serunya lagi.
“ Tenang, ada Pak Ahmad kok, nanti Pak Ahmad mengantar Bu Marthy ditemani Mas Azhar,” Teh Hidayati menerangkan.
Deg, nama itu lagi yang disebut. Marthy jantungnya berdetak kencang. “Si menundukkan pandangan itu lagi yang akan mengantar,” lalu dia tersenyum sendiri membayangkan dia diantar Pak Ahmad.
Memang jika harus ya jadi harus, ternyata HP Marthy yang tadi dia taruh di atas meja nampaknya tertinggal. HP dua buah dan charger-nya. Marthy ada perasaan malu untuk meminta Pak Ahmad mengantar, jadi didekatinya Teteh Hidayati yang sedang berkumpul di ruang guru di sebelah ruang kepala sekolah.
“The, sini deh, Ibu perlu sesuatu,” katanya.
“Apa bu, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya sambil mendekati Marthy.
“HP dan charger saya ternyata tertinggal, bagaimana ya?” katanya sungkan.
“Oh bisa Bu, Pak Ahmad kebetulan mau keluar, silakan Ibu siap siap, biar Pak Ahmad yang antar, nanti Azhar akan mengantar juga. Bisa Bu,” jelasnya pada Marthy.
Pak Ahmad menunggu di tempat parkir, ada Azhar juga anak kelas dua belas Aliyah yang sudah selesai ujian.
Marthy diminta duduk di depan, Pak Ahmad menyupir dan Azhar duduk di belakang.
Kini setelah Marthy tahu tentang Surah Annur ayat 30 soal pria harus menundukkan pandangan, dia juga tahu dengan sendirinya perempuan juga harus sama, menundukkan pandangan. Mana ada aturan itu hanya untuk laki-lakinya sementara perempuan dibiarkan melahap wajah dan badan laki-laki dengan bebas. Tiba-tiba saja lehernya jadi tegang, sepanjang jalan dia tidak berani menolehkan wajahnya ke sebelah kanan arah supir, Marthy jadi salah tingkah sepanjang perjalanan.
Jelas dia tidak mau disebut perempuan tidak beradab. Sehingga ketika mereka harus bicara, Marthy matanya menatap lurus ke depan, sama sekali tidak mau menoleh dan tidak tahu apakah Ahmad sempat menoleh ke kiri, ke arahnya. Marthy jadi ingin segera bertemu dengan teman-temannya dan ingin menceritakan betapa sulitnya menjalankan aturan Islam jika belum biasa, tetapi bangga bisa melakukannya karena setiap perintah Allah tentu ada hikmahnya.
Sampai di depan apartemen tanpa terasa karena sepanjang jalan Marthy sibuk mengatur sikap, dia sudah mulai suka pada Ahmad dan tentu saja dia tidak mau disebut perempuan tidak beradab.
“Nah kita sampai nih Bu Marthy, sejuk ya hawanya di sini, banyak pepohonan seperti di ma’had tempat sekolah anak-anak santri kita,” suara Ahmad mengejutkan Marthy yang sedang melamun, lalu dia menjawab tergagap-gagap, “Ya Pak Ahmad… ya-ya, di ma’had tempatnya sejuk yang bikin kita betah,” jawabnya sambil tetap melihat lurus ke depan.
Terdengar suara renyah Pak Ahmad dan Azhar, lalu Marthy turun dari mobil, Pak Ahmad dan Azhar juga turun bersama-sama, mereka berjalan ke kursi-kursi yang banyak ditaruh di sebelah kolam renang. Marthy pamit, “Pak Ahmad saya pamit ya, naik dulu ke atas, Pak Ahmad kan sudah pernah ke tempat saya ya?” Marthy tersenyum tanpa melihat wajah mereka lalu naik ke apartemennya.
Tidak lama Marthy mengambil hpnya, sebentar saja sudah ada di hadapan Pak Ahmad dan Azhar lagi. Marthy yang selalu keren dan ceria memakai gamis warna ungu dengan syal warna putih berbunga-bunga ungu, sepatu keds putih dan tas besar warna putih, hijab lebar putih. Sunggu menarik dan itu yang membuat dia nampak selalu jauh lebih muda dari usia yang sebenarnya. Marthy usianya lima puluh lima tahun dan semua orang sepakat bilang dia nampak baru empat puluh tahunan, dan Marthy hanya bisa bersyukur pada illahi diberi kesehatan yang baik.
“Bu Marthy kita ke toko buku dulu ya, beli buku buat anak-anak. Ibu gak keberatan kan?” suara Pak Ahmad memecah keheningan, Marthy menjawab, “Enggak lah Pak Ahmad, saya juga bisa sambil melihat-lihat ada buku apa yang bagus,” katanya sambil tertawa kecil.
Azhar ikut tertawa dan mulai mencium sesuatu, kenapa Bu Marthy selalu kikuk ketika bicara dengan Pak Ahmad yang juga tidak punya pasangan? Istri Pak Ahmad sakit thypus dan tidak tertolong. Usia Pak Ahmad lima puluhan, tetapi Age is just a number apalagi Bu Marthy di samping cantik, pandai dan salehah, siapa yang tidak akan tertarik. Azhar bergumam sambil memperhatikan Marthy. Azhar pasti lupa surah Annur ayat 30, namanya juga anak remaja.
Jalan di Bekasi ramai padat, Marthy merasa tenang berjalan dengan Pak Ahmad yang ganteng dan modis, saleh pula. Kali ini Pak Ahmad memakai seragam ma’had warna krem, peci hitam dan celana krem juga. Sepatunya warna cokelat dan tas yang dia bawa cokelat juga. Marthy cuma berpikir, “Bisa juga ya di pesantren ada makhluk seperti ini.”
Sampailah mereka di sebuah mal yang ada toko bukunya, tidak jauh dari apartemen Marthy.
Mal yang teduh ini asri banyak pepohonan. Mereka turun berbarengan, Marthy berjalan bersebelahan dengan Pak Ahmad. “Ada bau parfum, bukan parfum sepertinya after shave lotion. Lotion yang biasa dipakai setelah mencukur jenggot atau menipiskan. Segar baunya. Merk apa ya?” hihi Marthy jadi ikut ribet memikirkan merk After Save Lotion-nya Pak Ahmad. Ah Hidup itu tidak usah ditangisi. Enam bulan yang lalu dia kadang masih menangisi nasibnya di dalam salat malamnya.
Kini semua tentang mantan suaminya yang priyayi yang selalu merasa benar itu tiba-tiba jadi hilang dengan keberadaan Pak Ahmad, apalagi Edo yang harusnya sejak dulu dia tinggalkan, jauh sekali dengan Pak Ahmad. Mereka berdua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Pak Ahmad. Pak Ahmad memang tidak setinggi Edo, tapi ya kelebihan Edo hanya di tinggi badannya. Yang lainnya jeblok, yang ini muda, segar, keren dan ada tambahannya, dia mengerti agama. Laki-laki idaman setiap perempuan.
Diikutinya langkah Pak Ahmad dan Azhar menuju mal yang ada toko bukunya. Semangat Marthy hari itu, Marthy penggemar laki-laki santun yang pandai itu ingin tahu banyak tentang Ahmad Siddiq. Ya, dia tidak punya pasangan tetapi dia harus tahu pasti dulu siapa laki-laki ini.
Masuk ke toko buku besar dengan rak-rak buku yang banyak, Marthy langsung meminta izin pada Pak Ahmad untuk mencari sesuatu yang ada di sana yang bisa dia beli.
“Pak, saya lihat-lihat ke sebelah sana ya, siapa tahu ada yang menarik, nanti bapak panggil saya kalau urusannya sudah beres,” Marthy kali ini terpaksa harus melihat wajahnya, tidak mungkin dia memalingkan wajah seperti di mobil. “Ya Bu Marthy, silakan,” kata Pak Ahmad.
Lalu Marthy melenggang ke arah rak-rak buku mengenai agama, bagian yang paling dia suka. Sebentar saja dia sudah asyik dengan cerita-cerita zaman Rasulullah tentang perjuangannya, rumah tangganya, dakwahnya. Dia suka semua.
Diambilnya sebuah buku yang paling menarik, tentang poligaminya ala Nabi Muhammad SAW. Dia tahu ini ayat Allah yang kontroversial, walau poligami itu halal tetapi manusia masih sering mempertanyakan, terutama perempuan. Dihelanya napasnya, manusia seharusnya yakin bahwa apa yang diatur Allah itu untuk kebaikan. Manusia seharusnya sami’na wa atho’na, mendengar dan patuh.
Terdengar suara langkah kaki, rupanya Pak Ahmad sudah selesai dan mendekat, harum lotion sudah tercium lagi, Marthy menoleh pada arah langkah kaki tadi.
Pak Ahmad sedang melihatinya, wajah manis dengan baju modis kenapa juga sekarang jadi perhatiannya. Padahal baru saja dia luka oleh perbuatan Edo. “Ya Rabb, aku harus melupakan Pak Ahmad, no way, tidak secepat ini,” Marthy marah pada dirinya, dia terbawa suasana.
“Ayuk Bu Marthy kita pulang,anak-anak santri pasti menunggu, Bu Marthy kan belum tugas ya, baru akan mulai minggu depan, sekarang lihat-lihat dulu saja sambil menyiapkan pelajaran,” ujarnya sambil mengajak Azhar yang tangannya penuh dengan kresek berisi buku-buku.
“Oh ya, saya bayar dulu buku saya ya Pak, saya ke kasir dulu,” sahut Marthy.
Kemudian Marthy melangkahkan kakinya ke kasir, membayar buku lalu bergabung dengan yang lain.
Jalan menuju ma’had padat, berdebu dan panas, untung AC mobil itu sangat membantu. Marthy sejak kecil suka sekali membaca di mobil, dia pamit dulu pada Pak Ahmad, “Pak, saya diizinkan baca ya, kalau enggak saya ngantuk,” pintanya.
“Oh silakan Bu, buku apa yang Ibu beli, tampaknya seru ya?” tanyanya.
“Buku tentang poligami, bukan saya ingin dipoligami, Cuma penasaran saja ingin tahu apa isinya,” terang Marthy. Diliriknya Pak Ahmad, yang dilirik tersenyum sambil mengangkat alisnya, kocak.
Other Stories
Tenda Dan Hujan Bercerita
Perjalanan liburan kali ini, terasa lebih istimewa baginya. Selain bahagia berkumpul bers ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
JEJAK SENI BUDAYA DI TANAH BADUY
Dua mahasiswa antropologi dengan pandangan yang bertolak belakang harus mengesampingkan eg ...
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat
Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...