4. Tarbiyah Dan Tilawah
Kelip bintang di langit, menyadarkanku dari lamunan panjang. Membayangkan alur kehidupan yang sudah kujalani hingga saat ini. Sudah kurang lebih tiga puluh menit aku termenung sambil duduk di balkon tempat kos temanku. Ya, semalam aku kehujanan setelah menghadiri seminar tentang hakikat hijab yang disampaikan oleh artis populer yang baru berhijrah.
Berhubung baru mengenal Jakarta, akhirnya paman menyarankan agar aku untuk satu tahun ini tinggal di asrama putri UIN. Batas jam keluar adalah pukul sebelas malam. Walau sampai larut mengikuti seminarnya, tapi aku tidak menyesal, karena isi seminarnya sangatlah bermanfaat bagiku. Apalagi baru dua bulan ini aku di Jakarta.
Bogor adalah tempat kelahiran, wadah menuntut ilmu di sekolah dan di pesantren sebagai santri “X”. Walau belum banyak yang bisa aku dapatkan dan terapkan. Jadi, semenjak di Jakarta,aku hampir tak ingin melewatkan untuk menghadiri berbagai macam seminar.
“Wina!”sapa Nesya.
“I… iiya, Nes.” jawabku. Lamunanku menjadi buyar.
“Win, ayo masuk ke dalam! Di luar udaranya dingin lho. Nanti kamu masuk angin lagi. Kan aku juga yang repot nanti. He…he…” canda Nesya.
“Ah, kamu. Jadi ngga mau ni direpotin?” tanyaku dengan sedikit nada bercanda.
“Ih, Wina, gitu aja baper!” sambil tertawa kecil.
“Nesya mulai deh… bukannya kamu ya yang suka baper? Sebentar-sebentar nangis, ada masalah sama pacar, sedih,” ledekku.
Tiba-tiba Nesya menyahut duluan, padahal aku belum selesai berbicara.
“Daripada kamu, belum punya pacar, we…we…” ledek Nesya.
“Kamu kayak anak kecil ih… aku mau sih punya pacar, tapi setelah menikah, he…” jawabku.
“Eh, Win, memangnya kamu ngga mau punya pacar? Enak lho, kemana-mana ada yang menemani, dan…” belum sempat Nesya melanjutkan pembicaraan, giliran aku memotong pembicaraannya.
“Udah… udah… sekarang kembali ke lap…”
“…top!” sambung Nesya dengan muka agak masam.
“Kamu udah sampai mana pengerjaan tugasnya?” tanyaku pelan.
“Udah sampai judul, he…” jawab Nesya dengan santai.
“Kita kan, tugasnya merangkum dengan kata-kata sendiri dari buku rujukan yang diberikan oleh dosen,deadline-nya minggu depan. Minimal harus sudah membaca satu bab!”
“Santai aja lah, kan ada Mbah Google.”
“Nesya…Nesya…yang dipikirin pacaran mulu sih! Jadi tugas terabaikan. Eh, Nes… udah malam ni, tidur yu!”ajakku.
“Hhoamm…iya,aku juga mulai ngantuk ni.”
“Andaikan sekarang masih pukul tujuh, mungkin sekarang juga aku lanjutkan membaca bukunya. Sayangnya udah pukul satu malam. Lanjut besok aja ah. Eh, by the way, makasih ya udah dikasih tumpangan nginep.”
“Ngga ada yang gratis, bayar…bayar…” canda Nesya.
“Iya gampang, tidur aja dulu, he… aku masih ingin melanjutkan nonton film drama Korea ni. Lagi seru-serunya.”
Tidak lama kemudian, Nesyapun langsung tertidur. Aku melanjutkan lamunan. Kali ini yang aku pikirkan adalah mengenai sosok laki-laki. Apakah benar yang dikatakan oleh Nesya, punya pacar itu bisa membuat bahagia? Tiba-tiba aku dikagetkan dengan nyamuk yang menyentuh dan menggigit kulit tanganku. Ah, ternyata jendela kamar kos belum ditutup. Setelah jendela kututup, aku menyadari, mungkin itu teguran dari Allah bahwa aku harus beristirahat.
Duniaku sekarang berubah, seperti menjadi lebih berwarna. Biasanya hanya mendengarkan perselisihan kedua orangtua atau ribut bersama teman di kelas. Sekarang, malah aku menjadi lebih fokus untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Apakah ini karena faktor lingkungan kampus yang membuatku terdorong lebih semangat untuk belajar. Andaikan Abi tahu perubahanku saat ini. Karena rasa kantuk yang sudah tidak tertahankan, buku yang sebelumnya sedang dibaca, tak terasa sudah terjatuh.
“Kriiiing…kriiiiing…”
Alarm berbunyi, jam menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh menit.
“Win, bangun! Salat tahajud yu!”ajak Nesya. Tapi aku hanya mengubah posisi tidur.
“Iya nanti,” jawabku singkat sambil mata masih terpejam. Namun kembali membenarkan selimut, dan melanjutkan tidur.
Waktu subuh pun tiba. Setelah Nesya duluan yang terbangun kembali, langsung dia mengajak untuk salat subuh berjamaah. Tapi, untuk hal ibadah, aku belum konsisten untuk menjalankannya. Jadi, salat pun kadang tidak di awal waktu. Mungkin membutuhkan proses yang tercipta dari kesadaran diri sendiri, pikirku.
Pepohonan rindang nan hijau, memanjakan retinaku. Taman bunga yang terhampar luas, wanginya seakan-akan berlomba-lomba masuk ke ujung hidungku. Sehingga semerbak harumnya. Semut-semut jalan beriringan sambil menari-nari menyambut hidangan pagi yang sudah dikomandokan oleh pimpinannya. Indahnya pagi ini. Hari ini kuliah masuk pagi pukul setengah delapan. Setelah salat subuh dan menumpang mandi, aku segera pamit kepada Nesya, kembali pulang ke asrama untuk siap-siap kuliah.
Kerudung segiempat, baju dan rok panjang, sepatu karet yang dibeli di ruko samping kampus, dan muka yang polos tanpa make-up. Menggunakan tas selempang berisi binder, alat tulis, dan kumpulan makalah setiap kelompok. Berjalan melewati kompleks dosen dan perumahan warga, melewati masjid, dan menyeberang. Hingga sampailah di lobby Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dengan lantai berjumlah tujuh. Itulah pakaian yang dikenakan dan rutinitas aku setiap pagi hari ketika berangkat menuju kampus.
Di Fakultas yang lainnya, masih bisa menggunakan bawahan celana untuk mahasiswa perempuan. Lain halnya dengan Fakultas Tarbiyah, yang mewajibkan para mahasiswanya untuk mengenakan pakaian rapi layaknya seorang guru yang akan berangkat mengajar. Aku yang tidak terbiasa dengan pakaian yang dikenakan, harus mulai membiasakan diri.
Ketika perjalanan pulang, tepatnya di dalam masjid yang biasa kulewati setiap hari terdengar tilawah Alquran yang sangat merdu. Lantunan tilawah ini, sepertinya tidak asing di telingaku. Oh ya, lantunan ini mirip suara Pak Ridwan. Tapi, Pak Ridwan sudah meninggal. Sekejap pikiranku terhapus karena perut yang berbunyi. Rupanya aku sudah lapar. Langsung saja kucari warung makan terdekat di sekitar masjid.
Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Rembulan Digenggam Malam
Pernah nggak kamu kamu membayangkan suatu hari kamu bangun di 1 Januari, terus kamu diberi ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...