Tilawah Hati

Reads
462
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Penulis Indah Parasanti

3. Antara Abi Dan Umi

Tujuh tahun berlalu dengan rutinitas yang sama. Hingga akhirnya lulus dari SMA Islam Al-Iman. Ya, dari SD hingga SMA aku sekolah di yayasan yang sama. Setelah sekian lama tidak kudengar perselisihan antara Abi dan Umi, kini kembali terulang. Tidak sengaja pada sepertiga malam aku terbangun karena ada suara notif dari channel Youtube yang aku subscribe. Harusnya aku terbangun karena kesadaranku untuk melakukan sunah salat tahajud. Namun, karena belum membiasakannya. Awalnya ingin melanjutkan tidur, namun karena mendengar suara Abi dan Umi, akhirnya aku menguping dari bilik pintu.
Isi perdebatan mereka adalah perbedaan pendapat mengenai kampus yang akan aku tempati nanti. Abi menginginkan aku kuliah di UIN Jakarta dengan mengambil Jurusan Pendidikan Agama Islam. Sedangkan Umi menginginkan aku kursus di ESMOD Jakarta, sebuah perguruan tinggi Pendidikan Fashion. Aku menyadari, sekarang bukan anak SD lagi, yang harus mengikuti keinginan orangtua. Aku memiliki minat tersendiri. Walau sebenarnya tidak boleh seperti itu. Namun, kucoba memberanikan diri dengan tujuan awal untuk menengahi.
“Abi, Umi. Bolehkah Wina berbicara sesuatu?”
“Boleh Nak,” jawab Abi dengan nada terlihat mengatur napas.
“Wina tahu, apa yang Abi dan Umi inginkan mempunyai tujuan yang baik. Namun, Wina juga mempunyai ketertarikan dan minat pilihan sendiri.”
“Oh, jadi kamu sekarang sudah mulai berani melawan orangtua ya?” bentak Umi.
“Umi! Jangan terlalu keras pada anak kita! Dulu, Windy anak kita yang kedua, sejak kecil memilih untuk mondok di Pesantren Surabaya, karena Umi terlalu keras sama dia. Untungnya Windy memilih jalan yang lurus, yaitu mondok di Pesantren Salafiyah.”
“Terus saja belain anak-anak!” kata Umi seraya memalingkan pandangan muka ke arah samping.
“Abi, Umi. Izinkan Wina memilih kampus dan jurusan yang diinginkan. Wina ingin kuliah di IKJ mengambil jurusan perfilman,” aku mencoba membujuk.
“Aduh…aduh… kamu ingin menjadi artis? Penampilanmu saja masih culun seperti ini. Umi menginginkan kamu kuliah di Jurusan Fashion Designer untuk meneruskan usaha butik Umi. Dan yang paling utama, supaya kelak bisa mendapatkan pendamping hidup yang ganteng, berpenampilan rapi, dan menjadi model di butik kalian nanti. Makanya, kamu juga harus belajar memperhatikan penampilan. Biar banyak yang naksir,” jelas Umi panjang lebar.
“Astaghfirullohal`adziim! Istighfar Umi!” Abi menanggapi dengan nada setengah membentak. Tangan kanan Abi memegang dadanya. Seakan-akan rasa sakit di dada tiba-tiba menghampirinya.
Umi yang mendengar bentakan Abi, langsung menangis dan pergi ke kamar.
“Abi duduk saja ya, tenangkan diri dulu! Wina ambilkan air minum ya,” aku mencoba menenangkan dengan nada lembut kepada Abi. Ya, aku di sekolah terkenal dengan sikap kurang memperhatikan kenyamanan orang lain dengan cara berteriak-teriak di kelas dan marah-marah. Namun, kepada Abi, tidak tahu mengapa, belum pernah berbicara melebihi suaranya. Mungkin, karena Abi juga seorang yang bijaksana dan sudah terbiasa menghadapi orang banyak di Departemen Agama.
Pengetahuan dan wawasan Abi luas. Jadi, apabila Abi berbicara, rasanya selalu menyejukkan. Akupun tidak mungkin untuk membentak atau membantah dengan kasar.
“Wina, sekarang kamu sudah besar. Kamu berhak memilih apa yang disukai. Seperti adikmu yang sudah memiliki pilihan sendiri sejak kecil. O ya, jangan lupa chat atau telepon Ustadznya, untuk mengetahui kabar Windy!”
“Baik Abi. Kemarin terakhir mendapat kabar, Windy akan ujian pembacaan kitab kuning.”
“Ya. Semoga dengan dia mondok di pesantren, perilaku dan akhlaknya semakin baik.
“Aamiin. Maaf ya Abi. Wina tidak seperti Windy yang pintar akan hal agama. Juz Amma pun Wina belum lancar,”lirihku.
“Tidak apa-apa. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Apalagi disertai dengan keseriusan. Atas dasar itu, Abi ingin mendaftarkan kamu di UIN Jakarta. Supaya pengetahuan agama dan umum bisa berjalan beriringan. Ada paman dan tantemu di sana. Jadi, Abi tidak terlalu khawatir untuk melepas kamu. Tapi Abi kembalikan keputusan kepada kamu. Pilihlah kampus dan jurusan yang terbaik menurutmu untuk mendaftar.”
Mendengar alasan dari Abi, akhirnya aku urungkan niat untuk mendaftar di IKJ. Ini kulakukan demi kesehatan Abi. Semenjak perselisihan itu, Abi terlihat sakit-sakitan, dan sering memegang dada sambil meringis.
Seiring waktu, Umi pun menyetujui. Walau masih terlihat seperti kurang ikhlas. Karena ambisi pribadi yang menggebu-gebu.
Selama dua minggu,aku menginap di rumah paman dan tante. Subhanallah, satu hari satu malam berada di rumah ini, rasanya sudah betah. Aku mulai semangat untuk mempersiapkan tes masuk perguruan tinggi di UIN Jakarta. Dua minggu setelah tes, atas izin Allah, aku diterima di kampus ini. Ketika sebelum tes ada tiga pilihan jurusan yang harus diisi. Ingat dengan pesan Abi, akhirnya kujadikan Jurusan pendidikan Agama Islam sebagai pilihan pertama, dan Alhamdulillah, pilihan pertama yang diterima.
Selama masih sekolah, aku tidak pernah memakai kerudung, kecuali apabila ada acara Peringatan Hari Besar Islam di sekolah, dan ketika berangkat mengaji ke pesantren sebagai santri “X”. Selebihnya, pakaian yang sering kugunakan pun pendek-pendek dan tidak bermode.
Segera kukabari Abi dan Umi di Bogor. Berhubung awal perkuliahan akan dimulai satu bulan lagi, mereka menjemputku ke Jakarta untuk pulang ke Bogor.Mempersiapkan pakaian, alat belajar, dan bekal yang lainnya. Sesampainya di rumah, Abi terlihat senang sekali, dan sudah mulai sembuh dari sakitnya. Sedangkan Umi tetap saja seperti biasa. Namun, sebagai anak tetap harus hormat kepada orangtua dan mendoakan kebaikan-kebaikan. Apalagi sekarang aku kuliah di universitas dengan jurusan Pendidikan Agama Islam, serta kampus ini mengedepankan integritas nilai-nilai keislaman dan tantangan global. Harus menjadi manusia modern yang tetap mengedepankan keimanan.
Teringat cita-cita sewaktu kecil. Ingin sekali menjadi guru. Apakah ini jalan untuk mewujudkan cita-cita kecilku tersebut? Pikirku dalam hati. Sebenarnya aku masih bingung. Karena belum istiqomah dalam menggunakan kerudung.

Other Stories
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...

Relung

Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...

Cinta Buta

Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...

Death Cafe

Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...

Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Download Titik & Koma